Setiap investor yang mengevaluasi saham emiten pasti bertemu satu angka yang selalu muncul di laporan keuangan yaitu earning per share. Metrik ini mengukur laba bersih perusahaan untuk setiap lembar saham beredar dan menjadi salah satu indikator utama dalam menilai kinerja dan daya tarik investasi sebuah emiten.
Kepentingannya terus tumbuh seiring ledakan jumlah investor di Indonesia. Bursa Efek Indonesia mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 14,8 juta pada akhir 2024, hampir tiga kali lipat dibanding 5,1 juta pada 2020. Semakin banyak pihak yang memantau kinerja emiten, semakin penting bagi perusahaan untuk memastikan angka EPS yang dilaporkan akurat.
Artikel ini membahas pengertian earning per share, jenis-jenisnya, rumus dan cara menghitung, faktor yang memengaruhinya, serta perbedaannya dengan rasio keuangan terkait seperti PER dan PBV.
Key Takeaways
Earning per share (EPS) mengukur laba bersih perusahaan per lembar saham beredar dan menjadi indikator utama dalam menilai profitabilitas emiten.
EPS tidak bisa dibaca sendiri, perlu dikombinasikan dengan PER dan PBV untuk menilai apakah harga saham sudah wajar atau belum.
Dalam praktiknya, EPS digunakan investor sebagai acuan perbandingan antar emiten, sinyal beli/jual, dan dasar proyeksi valuasi saham.
Apa Itu Earning per Share?
Earning per share (EPS) adalah laba bersih perusahaan yang dialokasikan untuk setiap lembar saham biasa yang beredar. Angka ini diperoleh dari laporan laba rugi dan menjadi salah satu metrik paling mendasar dalam analisis fundamental saham.
EPS bukan sekadar angka akuntansi. Investor menggunakannya untuk membandingkan kinerja antar emiten, memantau tren profitabilitas dari kuartal ke kuartal, dan menilai apakah harga saham saat ini mencerminkan nilai yang wajar.
Semakin tinggi EPS, semakin besar laba yang dihasilkan perusahaan per lembar saham yang dipegang investor.
Bagi perusahaan, akurasi angka EPS yang dilaporkan sangat penting. Kesalahan pencatatan laba bersih atau jumlah saham beredar langsung berdampak pada EPS yang dibaca publik dan kepercayaan investor terhadap emiten tersebut.
Fungsi Earning per Share
EPS memiliki beberapa fungsi utama yang membuatnya menjadi salah satu rasio yang paling sering dirujuk dalam laporan keuangan perusahaan publik.
1. Mengukur Profitabilitas per Saham
EPS menunjukkan seberapa besar laba yang berhasil dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Angka ini memudahkan perbandingan antar emiten meskipun skala bisnis dan jumlah saham beredar berbeda-beda.
2. Dasar Perhitungan Price to Earnings Ratio (PER)
PER diperoleh dengan membagi harga saham dengan EPS. Tanpa EPS yang akurat, valuasi saham menjadi tidak dapat diandalkan karena PER adalah salah satu tolok ukur utama yang digunakan analis dan investor institusional.
3. Indikator Tren Kinerja Perusahaan
Dengan membandingkan EPS dari kuartal ke kuartal atau tahun ke tahun, manajemen dan investor dapat melihat apakah profitabilitas perusahaan tumbuh, stagnan, atau menurun. Tren EPS yang konsisten naik umumnya menjadi sinyal positif bagi pasar.
4. Alat Transparansi Laporan Keuangan
Bagi perusahaan publik, EPS yang dilaporkan secara akurat dan konsisten mencerminkan tata kelola keuangan yang baik. Kesalahan atau manipulasi angka EPS dapat berdampak pada kepercayaan investor dan reputasi emiten di pasar modal.
Perbedaan EPS, PER, dan PBV
Ketiga rasio ini sering muncul bersamaan dalam analisis saham, namun masing-masing mengukur aspek yang berbeda. Memahami perbedaannya membantu perusahaan dan investor membaca laporan keuangan dengan lebih tepat.
| Rasio | Kepanjangan | Yang Diukur | Rumus |
|---|---|---|---|
| EPS | Earning per Share | Laba per lembar saham | (Laba Bersih - Dividen Preferen) / Saham Beredar |
| PER | Price to Earnings Ratio | Harga saham relatif terhadap laba | Harga Saham / EPS |
| PBV | Price to Book Value | Harga saham relatif terhadap nilai buku | Harga Saham / Nilai Buku per Lembar |
Ketiganya saling melengkapi dalam analisis fundamental. Investor yang hanya melihat EPS tanpa PER berisiko mengabaikan valuasi pasar, sedangkan perusahaan yang hanya fokus pada PBV tanpa memperhatikan EPS bisa kehilangan gambaran tentang efisiensi laba operasionalnya.
Rumus dan Cara Menghitung Earning per Share
Menghitung EPS tidak memerlukan data yang rumit,cukup dua angka dari laporan keuangan perusahaan.
Rumus dasar EPS adalah sebagai berikut.
EPS = (Laba Bersih - Dividen Saham Preferen) / Jumlah Saham Beredar Rata-Rata Tertimbang
Laba bersih diambil dari laporan laba rugi, dividen saham preferen dikurangkan karena angka tersebut tidak menjadi hak pemegang saham biasa, dan jumlah saham beredar menggunakan rata-rata tertimbang sepanjang periode pelaporan, bukan hanya posisi akhir tahun.
Contoh perhitungan
PT Maju Bersama mencatat laba bersih Rp500 miliar pada 2024. Perusahaan membayar dividen saham preferen sebesar Rp20 miliar, dengan jumlah saham beredar rata-rata tertimbang 960 juta lembar.
EPS = (Rp500 miliar - Rp20 miliar) / 960 juta = Rp500 per lembar saham
Artinya, setiap lembar saham yang dipegang investor menghasilkan laba Rp500 selama periode tersebut. Angka inilah yang kemudian dibandingkan dengan harga saham untuk menghitung PER, atau dibandingkan dengan EPS periode sebelumnya untuk melihat tren profitabilitas perusahaan.
Faktor yang Mempengaruhi Earning per Share

Angka EPS tidak berubah sendiri. Ada beberapa faktor dari dalam maupun luar perusahaan yang secara langsung memengaruhi besar kecilnya EPS yang dilaporkan setiap periode.
1. Pertumbuhan Laba Bersih
Faktor paling langsung yang mendorong EPS naik adalah peningkatan laba bersih. Ketika pendapatan tumbuh lebih cepat daripada beban operasional, laba bersih ikut meningkat dan EPS pun ikut naik.
Sebaliknya, kenaikan biaya produksi atau penurunan penjualan yang menekan margin akan langsung terlihat pada EPS periode berikutnya.
2. Jumlah Saham Beredar
Perusahaan yang menerbitkan saham baru untuk mendanai ekspansi akan meningkatkan jumlah saham beredar, sehingga laba yang sama harus dibagi ke lebih banyak lembar saham.
Sebaliknya, buyback saham (pembelian kembali saham oleh perusahaan) memperkecil jumlah saham beredar dan secara otomatis menaikkan EPS meskipun laba tidak berubah.
3. Kebijakan Dividen Saham Preferen
Dividen saham preferen dikurangkan dari laba bersih sebelum EPS dihitung. Perusahaan dengan kewajiban dividen preferen yang besar akan memiliki EPS yang lebih rendah dibandingkan perusahaan dengan struktur modal serupa namun tanpa saham preferen.
4. Efisiensi Operasional dan Pengendalian Biaya
Perusahaan yang berhasil menekan biaya operasional, seperti biaya tenaga kerja, bahan baku, atau overhead, dapat meningkatkan laba bersih tanpa harus menaikkan pendapatan.
Akurasi pencatatan biaya dalam laporan keuangan menjadi sangat kritis di sini, kesalahan klasifikasi biaya langsung berdampak pada angka laba bersih dan akhirnya pada EPS.
Penerapan EPS dalam Keputusan Investasi
EPS bukan angka yang hanya relevan bagi investor individu. Perusahaan publik perlu memahami bagaimana metrik ini dibaca pasar karena interpretasi investor terhadap EPS secara langsung memengaruhi harga saham dan biaya modal perusahaan.
1. Tolok Ukur Profitabilitas Lintas Emiten
Salah satu kegunaan utama EPS adalah memudahkan perbandingan kinerja antara dua perusahaan dalam industri yang sama, terlepas dari perbedaan skala bisnis keduanya. Emiten dengan EPS yang secara konsisten tumbuh dinilai lebih efisien dalam menghasilkan laba per lembar saham yang beredar.
2. Acuan Keputusan Beli atau Jual Saham
Pertumbuhan EPS dari satu kuartal ke kuartal berikutnya umumnya direspons positif oleh pasar. Sebaliknya, penurunan EPS yang tidak disertai penjelasan dari manajemen berisiko memicu tekanan jual dan penurunan harga saham.
3. Input Proyeksi Valuasi Saham
Analis keuangan menggunakan EPS historis dan estimasi EPS ke depan untuk menghitung target harga melalui metode PER. Perusahaan yang mampu memberikan guidance EPS yang realistis dan konsisten tercapai akan lebih mudah membangun kepercayaan investor jangka panjang.
4. Variabel Penting dalam Aksi Korporasi
Setiap aksi korporasi yang mengubah jumlah saham beredar, baik rights issue, akuisisi, maupun buyback, berdampak langsung pada EPS. Tim keuangan perlu memperhitungkan dampak tersebut sejak tahap perencanaan agar laporan keuangan berikutnya tidak menunjukkan penurunan EPS yang mengejutkan pasa
Kesimpulan
Earning per share adalah salah satu metrik paling fundamental dalam analisis kinerja perusahaan publik. Angka ini mencerminkan seberapa besar laba yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar, dan itulah mengapa investor, analis, maupun manajemen selalu menjadikannya rujukan utama dalam menilai profitabilitas.
Memahami EPS tidak cukup berhenti di rumusnya. Perusahaan perlu mengetahui jenis EPS yang dibandingkan, faktor yang memengaruhi pergerakannya, serta posisinya relatif terhadap PER dan PBV agar tidak salah baca atau salah lapor ke pasar.
HashMicro membantu perusahaan mengelola laporan laba rugi dan data keuangan secara real-time, sehingga angka yang menjadi dasar perhitungan EPS selalu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim HashMicro secara gratis sekarang.
FAQ
EPS negatif menandakan perusahaan mencatatkan kerugian bersih dalam periode tersebut. Ini tidak otomatis berarti bangkrut, tapi perlu dicermati lebih lanjut sebelum mengambil keputusan investasi.
Perusahaan publik di Indonesia wajib menyampaikan laporan keuangan setiap kuartal kepada OJK dan BEI, sehingga EPS dapat dipantau empat kali dalam setahun.
Tidak ada angka universal. Yang lebih relevan adalah pertumbuhan EPS dari tahun ke tahun dan perbandingannya dengan perusahaan lain dalam industri yang sama.











