Demotivasi Kerja Karyawan: Penyebab dan Cara HR Mengatasinya
GOLDEN
MONTH
Promo
up to
30%
10 DAYS LEFTLIMITED QUOTA
Klaim Sekarang!Terbatas Untuk 100 Pendaftar

Demotivasi Kerja Karyawan: Penyebab dan Cara HR Mengatasinya

Demotivasi Kerja Karyawan: Penyebab dan Cara HR Mengatasinya

Apakah tim Anda mulai menghindari komunikasi di luar jam kantor? Apakah mereka hanya mengerjakan tugas seadanya? Karyawan Anda mungkin sedang mengalami demotivasi kerja.

Demotivasi kerja adalah hilangnya motivasi di kalangan karyawan dalam lingkungan kerja. Mereka yang mengalami ini umumnya menjadi tidak terlibat dalam pekerjaannya atau disengaged. McKinsey (2023) menemukan bahwa disengagement dapat menelan biaya 90 juta dolar per tahun. Perusahaan dapat mengurangi biaya tersebut sampai 56 juta dengan memprioritaskan enam faktor, mulai dari peningkatan kompensasi hingga perbaikan dalam pengembangan karir. 

Rencana untuk memotivasi kembali pekerja harus disesuaikan dengan akar penyebab masalahnya. Misalnya, rencana untuk mengatasi demotivasi akibat beban kerja yang berlebihan tidak akan mengatasi demotivasi kerja yang bersumber dari manajemen. Maka dari itu, Anda harus mengetahui penyebab umum demotivasi kerja dan cara mengatasinya.

Key Takeaways

Demotivasi kerja adalah hilangnya antusiasme dan motivasi di tempat kerja akibat banyak hal, seperti atasan langsung dan rekan kerja.

Periksa tanda-tanda demotivasi kerja sebelum menyusun rencana peningkatan motivasi kerja.

Setelah mengatasi demotivasi kerja, Anda perlu menjaga dan meningkatkan motivasi karyawan Anda agar tidak berulang.

Apa itu Demotivasi Kerja?

Demotivasi kerja adalah hilangnya antusiasme dan motivasi di tempat kerja, umumnya disebabkan oleh banyak hal, seperti atasan atau rekan kerja. Hal ini dapat menyebabkan tingkat produktivitas rendah dan absensi tinggi. Jika tidak ditangani, pekerja Anda akan berhenti secara diam-diam dan tingkat turnover karyawan Anda akan meningkat. Secara tidak langsung, masalah ini mengakibatkan hilangnya pengetahuan perusahaan dan reputasi bisnis yang negatif. 

Demotivasi yang tidak terkelola memiliki dampak negatif terhadap perusahaan Anda, seperti:
  • Tingkat produktivitas yang rendah,
  • Kualitas pekerjaan menurun,
  • Pekerja lain ikut terdemotivasi,
  • Lingkungan dan suasana kerja yang negatif,
  • Tingkat absensi yang tinggi,
  • Quiet quitting,
  • Employee turnover rate yang tinggi,
  • Turunnya kinerja dan profitabilitas bisnis,
  • Hilangnya pengetahuan perusahaan akibat keluarnya karyawan,
  • Image dan reputasi bisnis buruk.

Saat mengelola demotivasi kerja, penting untuk membedakannya dengan burnout dan kinerja rendah. Meskipun mereka berurusan dengan penurunan kinerja karyawan, ketiga komponen ini memerlukan tingkat keterlibatan HR yang berbeda:

AspekDemotivasi kerjaBurnoutKinerja rendah
TandaStaf masih memiliki energi, tetapi mereka tidak menggunakannya untuk mengerjakan tugasEnergi pekerja habisHasil yang tidak konsisten, sering melewati deadline, membuat lebih banyak kesalahan, dan responnya menjadi lebih lambat
Penyebab umumMasalah di tempat kerja, seperti atasan yang buruk dan beban kerja yang tidak realistisStres akibat beban kerja yang besar bersama kurangnya waktu istirahatBeberapa hal, mulai dari kurangnya skills hingga rendahnya motivasi
Peran HRHR mengidentifikasi penyebab dan menangani masalahHR tidak memiliki kewenangan untuk mengidentifikasi burnout, hanya orang yang berkualifikasi saja. Namun, HR dapat merujuk pekerja kepada tenaga profesional.HR mengidentifikasi penyebab dan menangani masalah

Ciri-Ciri Karyawan Demotivasi Kerja

tanda-tanda-demotivasi-kerja

Demotivasi kerja pada karyawan memiliki beberapa ciri utama, yaitu:

  • Kualitas menurun, tetapi kuantitas masih sama saja: Pekerja mulai mengerjakan tugas hanya sebatas standar minimum. Meskipun pekerjaan selesai tepat waktu, kualitasnya menurun.
  • Pekerja berhenti berpartisipasi dalam rapat: Karyawan berhenti berbagi ide dan mengajukan pertanyaan selama rapat berlangsung.
  • Tingkat partisipasi karyawan minim: Pekerja menunjukkan sedikit antusiasme dalam melibatkan diri di tempat kerja. Misalnya, dengan menghindari kolaborasi dan mengurangi respons terhadap permintaan atau pesan.
  • Tren izin dan keterlambatan meningkat: Pekerja mulai datang terlambat, serta lebih sering mengambil waktu libur atau mengajukan izin.
  • Karyawan menolak tugas dan pelatihan tambahan: Staf mulai menolak tugas dan tanggung jawab tambahan di luar deskripsi pekerjaan mereka. Selain itu, mereka juga menolak pelatihan tambahan.
  • Interaksi sosial menurun: Karyawan mulai menjauhkan diri dari rekan kerjanya. Contohnya, dengan melewati acara sosial di kantor dan menghindari percakapan informal.
  • Quiet quitting: Staf menunjukkan sedikit minat terhadap pengembangan karir dan berhenti membicarakan rencana karir dalam jangka panjang.

Cara Mengukur Demotivasi Kerja di Perusahaan Anda

Sebelum menyusun action plan, Anda sebaiknya menilai tingkat motivasi dalam tenaga kerja Anda:

1. Indikator awal

Sebelum memutuskan apa pun, cek indikator-indikator berikut:
IndikatorMaksudCara Mengukur
Absenteeism rateTingkat ketidakhadiran pekerja(hari karyawan absen di bulan tersebut / hari kerja karyawan sebulan) x 100
Employee participation rateTingkat partisipasi karyawan sukarela(jumlah partisipan / jumlah karyawan yang bisa mengikuti acara) x 100
Employee turnover rateTingkat karyawan yang berhenti selama periode waktu tertentu(jumlah karyawan yang meninggalkan perusahaan / jumlah rata-rata karyawan) x 100
Task completion rateTingkat keberhasilan penyelesaian pekerjaan dalam durasi waktu tertentu(jumlah tugas yang diselesaikan / jumlah tugas yang diberikan) x 100
Voluntary overtime rateTotal jumlah lembur sukarela(jumlah lembur sukarela / total jam kerja) x 100

Selain metrik di atas, bandingkan kualitas kerja pekerja Anda dari bulan lalu. Hal ini menjadi ambang awal dalam menentukan apakah intervensi diperlukan.

2. Pulse survey

Adakan pulse survey untuk mengevaluasi sentimen pekerja dan tingkat kepuasan mereka. Lakukannya secara berkala, tetapi tidak terlalu sering agar mereka tidak mengalami survey fatigue. Selain itu, anonimkan survei supaya responden Anda tidak takut untuk bersikap jujur.

3. Stay interview

Manajer perlu mengadakan one-on-one meeting dengan karyawan mereka untuk mendapatkan feedback guna perbaikan. Interview ini memberikan pekerja kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan frustasi mereka. Manajer juga dapat meningkatkan leadership dan management-nya melalui feedback yang diterima.

Penyebab Demotivasi Kerja yang Harus Diketahui HR

Menurut McKinsey (2023), enam faktor utama yang mendorong disengagement dalam tempat kerja adalah kompensasi yang tidak memadai, kurangnya pekerjaan yang bermakna, kurangnya fleksibilitas dengan tempat kerja, kurangnya peluang pengembangan karir, orang yang tidak suportif, dan lingkungan kerja yang tidak aman. Berdasarkan asal-usulnya, berikut penyebab penurunan kinerja karyawan:

1. Dari atasan

  • Favoritisme: Sikap pilih kasih dapat menciptakan rasa ketidakadilan. Hal ini bisa menyebabkan konflik di tempat kerja. Untuk menangani ini, atasan sebaiknya menetapkan orang yang sesuai dengan jobdesk.
  • Leadership buruk: Kepemimpinan yang buruk dapat menurunkan produktivitas dan moral karyawan. Hal ini berarti HR harus memberikan pelatihan kepemimpinan kepada manajer yang bermasalah atau mengganti mereka jika tidak ada peningkatan.
  • Micromanagement: Micromanagement dapat meningkatkan stres, yang berdampak pada hubungan kerja dan produktivitas karyawan. Susunlah delegation framework dan buat manajer memusatkan kembali fokus mereka kepada hasil kerja.

2. Dari beban kerja dan sistem

  • Beban kerja tidak realistis: Beban kerja yang berat dan target yang tidak realistis bisa mendorong karyawan untuk melakukan pekerjaan seminimal mungkin. Periksa dan distribusikan ulang beban kerja supaya setiap anggota mendapatkan pembagian yang adil.
  • Tidak ada career pipeline yang jelas: Kurangnya peluang pengembangan karir dan jenjang karir yang jelas akan memengaruhi semangat karyawan. Mereka tidak akan bekerja keras bila mereka tahu karirnya akan stagnan. Maka dari itu, buat jenjang karir lebih transparan.
  • Tugas berulang: Selain kompensasi yang tidak cukup, faktor utama lain yang berkontribusi terhadap hilangnya engagement adalah kurangnya pekerjaan yang bermakna (McKinsey, 2023). Anda dapat menangani ini dengan mengotomatiskan tugas rutin.
  • Work-life balance tidak seimbang: Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi meningkatkan risiko stres dan burnout. Bisnis harus menetapkan batasan yang wajib diikuti dan diterapkan oleh manajemen.

3. Dari kompensasi dan pengakuan

  • Kurangnya pengakuan: Memberikan pengakuan hanya saat mencapai target besar dapat membuat karyawan merasa tidak dihargai. Hal ini juga berlaku bila manajemen tidak mengakui dan mengapresiasikan kontribusi mereka. Jadi, susun employee recognition program yang sesuai dengan budaya perusahaan Anda.
  • Gaji di bawah standar industri: Bersamaan dengan kompensasi yang tidak memadai, upah yang rendah dapat menurunkan motivasi karyawan. Dalam kasus ini, Anda perlu melakukan salary benchmarking, lalu meninjau ulang struktur upah. Hasil analisis ini akan menjadi bukti saat pembahasan dengan manajemen.

4. Dari sesama rekan kerja

  • Konflik di tempat kerja: Konflik dengan rekan kerja dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak kondusif dan meningkatkan stres. Adakan diskusi bersama dan segera cari titik temu untuk mencegah situasi memburuk.
  • Pekerja lain juga kehilangan motivasi: Demotivasi kerja dapat menular dari satu pekerja yang apatis ke rekan-rekan kerjanya. Dalam situasi seperti ini, Anda harus meningkatkan motivasi seluruh anggota tim. Periksa alasan di balik demotivasi mereka dan tangani masalahnya secara nyata.

Cara Mengatasi Demotivasi dan Penurunan Kinerja Karyawan

demotivasi-kerja

Apabila Anda sudah mengidentifikasi akar penyebab demotivasi kerja, saatnya untuk menangani masalah tersebut. Berikut cara mengatasi karyawan yang tidak produktif:

1. Identifikasi penyebab masalah

Sebelum menyusun rencana, konfirmasikan terlebih dahulu bahwa karyawan tersebut memang terdemotivasi. Jika demikian, identifikasi penyebab masalahnya lewat analisis survei dan wawancara. Akar penyebab hilangnya motivasi akan memengaruhi action plan dan solusi yang efektif dalam mengatasinya. Anda dapat merujuk pada bagian di atas untuk alasan demotivasi kerja dan cara mengatasinya.

2. Implementasi rencana peningkatan motivasi karyawan

Susun action plan sesuai dengan penyebab masalah hilangnya motivasi. Misalnya:
KelompokSolusi
Atasan langsungBerikan pelatihan kepada para manajer
Beban kerja dan sistemOtomatisasi pekerjaan yang berulang, redistribusi beban kerja, serta tingkatkan transparansi terkait jenjang karir dan peluang pengembangan karir dalam perusahaan
Kompensasi dan pengakuanPerbaiki transparansi seputar gaji dan kompensasi, serta tingkatkan nominal gaji dan insentif ke standar industri
Sesama rekan kerjaAdakan acara team building, terapkan sistem komunikasi yang efektif, tetapkan code of conduct, serta tetapkan peran kerja dan tanggung jawab dengan jelas

3. Pantau dan ukur perubahan

Sepakati satu indikator untuk pengukuran dan jangan lacak terlalu banyak metrik. Anda perlu menetapkan tolak ukur dan goal yang realistis. Selanjutnya, siapkan sistem pelacakan, seperti spreadsheet atau sistem HRIS dengan KPI dashboard. Hal ini akan mempermudah pelacakan pengembangan karir karyawan.

4. Review hasil di siklus berikutnya

Tinjau hasil action plan pada periode berikutnya untuk melihat apakah ada peningkatan atau tidak. Lalu, bandingkan ukuran indikator sekarang dengan ukuran sebelumnya. Hal ini akan menentukan langkah selanjutnya. Bila ada kemajuan, lanjutkan rencananya. Akan tetapi, Anda mungkin perlu menentukan apakah rencana memerlukan perubahan atau perpanjangan jika pekerjanya menunjukan sedikit atau tidak ada perubahan sama sekali.

Cara Menjaga dan Meningkatkan Motivasi Karyawan

Setelah memulihkan motivasi tenaga kerja, Anda harus memeliharanya. Berikut cara meningkatkan semangat karyawan dalam perusahaan Anda:

1. Monitor tingkat motivasi pekerja secara berkala

Pantau motivasi karyawan Anda secara rutin. Ukur tingkat moral mereka lewat pulse survey dan stay interview. Kemudian, manfaatkan feedback mereka untuk memperbaiki masalah dan meningkatkan sistem perusahaan.

2. Implementasikan employee engagement strategy

Menurut Gallup (2026), hanya 25% karyawan di Asia Tenggara yang engaged dengan pekerjaannya. Jadi, terapkan employee engagement strategy untuk meningkatkan kinerja dan tingkat kepuasan mereka. Susun program pengakuan (recognition program) dan berikan performance incentive sebagai bentuk penghargaan bagi karyawan. Selain itu, simak pandangan dan kekhawatiran pekerja Anda agar mereka merasa didengarkan.

3. Tingkatkan transparansi terkait karir karyawan

Susun dan komunikasikan career development plan kepada tenaga kerja Anda. Rencana ini akan memotivasikan karyawan dengan menunjukkan mereka bahwa perusahaan mendukung pengembangan karir mereka.

4. Perbaiki budaya kerja perusahaan

Pekerja bisa kehilangan motivasi akibat sistem perusahaan yang buruk, mulai dari lingkungan kerja yang tidak suportif hingga work-life balance yang tidak seimbang. Untuk mengatasi masalah ini, Anda sebaiknya mempertimbangkan penerapan pengaturan kerja yang fleksibel dan program kesehatan kerja. Namun, dalam kasus ekstrem, Anda mungkin perlu memecat karyawan yang bermasalah.

5. Otomatiskan tugas berulang

Salah satu penyebab umum demotivasi kerja adalah beban kerja yang tidak realistis dan tugas yang bersifat repetitif. Perusahaan dapat mengurangi tugas berulang dengan mengotomatiskannya lewat sistem, sekaligus mendukung keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi.

Untuk meringankan beban tim HR, Anda sebaiknya mengimplementasikan aplikasi personalia terbaik untuk mengotomatiskan proses dan mengelola SDM.

Kesimpulan

Demotivasi kerja dapat menurunkan kinerja karyawan. Pekerja yang tidak termotivasi lebih cenderung absen dan menghasilkan tugas berkualitas rendah. Hal ini juga berkontribusi terhadap lingkungan kerja yang lebih negatif, yang dapat meningkatkan tingkat turnover karyawan.

Jika Anda tidak mengetahui tingkat motivasi karyawan, pertimbangkan untuk memeriksa indikator awal. Hal ini akan membantu Anda menyelesaikan masalahnya sejak awal. Anda juga dapat mengidentifikasi penyebab demotivasi kerja dan solusi apa yang harus Anda pikirkan. Jadi, solusi yang Anda terapkan cocok dengan masalah dan tidak kosmetik saja.

Pertanyaan Seputar Demotivasi Kerja

Tidak ada angka pasti terkait waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan motivasi karyawan. Durasinya bergantung pada penyebab masalah, pekerja Anda, serta dukungan yang Anda berikan untuk membantu mereka.

Review kebijakan absensi perusahaan, lalu bicaralah dengan karyawan yang bermasalah untuk mencari tahu mengapa mereka sering bolos atau mengambil cuti. Hal ini akan membantu Anda mengidentifikasi apakah alasan mereka valid, dan apakah karyawan itu memerlukan tindakan disipliner atau tidak.

Tinjau ulang kebijakan keterlambatan. Kemudian, cari tahu kenapa mereka sering terlambat. Ada berbagai alasan yang dapat diterima untuk terlambat masuk kantor. Jadi, Anda perlu memahami situasinya guna menentukan apakah mereka memerlukan fleksibilitas atau tindakan disipliner.

Anda perlu mengatasi masalahnya sejak dini dan identifikasi penyebab karyawan bermasalah. Coba dengarkan karyawan, lalu berikan feedback kepadanya. Apabila tidak ada perkembangan, terapkan tindakan disiplin.

Reno Wicaksana

Human Resource Management (HRM)

Reno Wicaksana memiliki pengalaman lebih dari 9 tahun di bidang Human Resource Management. Latar belakang akademis dan profesionalnya membuat Reno terbiasa memandang HR bukan hanya dari sisi administratif, tetapi juga sebagai strategi penting untuk meningkatkan kinerja dan keterlibatan karyawan. Saat ini, Reno berperan sebagai HRM Specialist di HashMicro dengan fokus pada penerapan sistem HRM berbasis ERP. Ia terlibat dalam perancangan kebijakan SDM, optimalisasi proses HR, serta memastikan pengambilan keputusan strategis selalu didukung oleh data yang akurat.

Jessica adalah seorang pakar yang memiliki gelar Bachelor of Science (BSc) dalam Psychology dari University of London yang didukung oleh pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan dinamika organisasi. Latar belakang psikologi ini memberikan keahlian khusus dalam memahami motivasi karyawan, mengelola pengembangan talenta, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di dalam tim.. Selama sembilan tahun terakhir, Jessica mendalami bidang Human Resource Management, mengembangkan keahlian dalam strategi rekrutmen, pengelolaan kinerja, pengembangan organisasi, serta implementasi kebijakan HR yang mendukung budaya kerja positif dan pertumbuhan perusahaan.

HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.

Jalankan Bisnis Lebih Mudah Bersama HashMicro

Mulai demo gratis hari ini tanpa komitmen. Dapatkan solusi terbaik untuk bisnis yang lebih efisien.

CTA image