Memahami Biaya Tenaga Kerja dan Cara Alokasinya
Hashy AI

Kerja Lebih Mudah dengan Hashy AI.

AI dalam sistem bisnis yang tuntaskan semua pekerjaanmu.

Coba Hashy Sekarang

Memahami Biaya Tenaga Kerja dan Cara Alokasinya

Memahami Biaya Tenaga Kerja dan Cara Alokasinya

Biaya tenaga kerja merupakan komponen penting dalam memastikan perusahaan manufaktur tetap dapat menjalankan operasionalnya. Biaya ini berfungsi sebagai gaji tenaga kerja sekaligus dengan komponen tambahannya.

Alokasi biaya tenaga kerja bisa menjadi tantangan jika alokasinya tidak terencana dengan baik dan bisa menyebabkan pengeluaran perusahaan menjadi boros. Menurut studi EY tahun 2022, akurasi pengelolaan biaya tenaga kerja hanya sekitar 80,15% saja. Itu berarti sekitar 1 dari 5 proses yang biayanya berpotensi salah dicatat, dan biaya koreksinya rata-rata US$291 atau sekitar Rp5 juta dari setiap kesalahan yang dibuat. 

Pada artikel ini, Anda akan mempelajari apa pengertian dari biaya tenaga kerja dan juga cara-cara pengoptimalan serta klasifikasi biaya nya dengan lebih mendalam.

Key Takeaways

Biaya tenaga kerja tidak hanya mencakup gaji saja, melainkan juga memasukkan komponen seperti tunjangan karyawan, uang lembur, dan juga insentif dalam perhitungannya.

Iuran jaminan sosial seperti BPJS juga perlu dimasukkan dalam perhitungan biaya tenaga kerja.

Dasar alokasi yang valid menjadi fondasi yang kuat dalam menjamin perhitungan biaya tenaga kerja yang tepat.

Apa Itu Biaya Tenaga Kerja?

Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pembayaran tenaga kerja untuk operasional kegiatan bisnis manufaktur sehari-hari. Pengeluaran ini tidak hanya mencakup gaji pokok pekerja saja, melainkan juga mencakup uang lembur, tunjangan, jaminan sosial, maupun bonus bagi tenaga kerja karena performa mereka.

Dalam akuntansi manufaktur, pengeluaran tenaga kerja langsung biasanya menjadi bagian dari HPP (Harga Pokok Produksi) karena termasuk dalam proses produksi. Sementara itu, biaya tidak langsung seperti beban pembelian bahan baku dimasukkan sebagai pengeluaran operasional.

Apa Saja Komponen Biaya Tenaga Kerja?

Komponen biaya tenaga kerja dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu komponen yang langsung dibayarkan ke pekerja dan juga pengeluaran yang ditanggung perusahaan. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa melihat penjabaran detail nya berikut:

  1. Gaji pokok: Bayaran dasar yang diberikan perusahaan untuk karyawan karena bekerja.

  2. Tunjangan: Biasanya dibayarkan rutin dan tidak bergantung pada kehadiran dan performa harian pekerja. Bentuknya bisa berupa tunjangan tetap seperti uang transportasi dan makan ataupun tidak tetap seperti THR (Tunjangan Hari Raya).

  3. Upah lembur: Tambahan pengeluaran yang menjadi hak pekerja pabrik ketika bekerja melebihi waktu normal melebihi proses produksi, misal saat target produksi sedang tinggi dan tenaga kerja diwajibkan lembur.

  4. Bonus dan insentif: Komponen yang tidak dibayarkan rutin tiap bulan karena lebih bersifat sebagai penghargaan atas performa pekerja. Insentif dibayarkan saat karyawan mencapai target produksi atau karyawan menunjukkan produktivitas yang baik.

  5. Iuran jaminan sosial: Iuran yang dibayarkan ke dinas sosial untuk menjamin kesejahteraan pekerja seperti BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, yang komponennya diambil dari gaji karyawan.

  6. Biaya pelatihan: Semua komponen yang dibelanjakan untuk keperluan pelatihan karyawan masuk sebagai pengeluaran untuk pelatihan karena terhitung sebagai investasi menciptakan armada tenaga kerja yang kompeten untuk perusahaan manufaktur.

  7. Pajak penghasilan pekerja: Regulasi pajak seperti PPh 21 mengatur bahwa perusahaan sebagai pemberi kerja wajib membayar pajak penghasilan yang ditarik juga dari komponen gaji tiap karyawan.

Dengan memahami komponen-komponen di atas, Anda bisa lebih mengetahui gambaran umum dari komponen biaya tenaga kerja yang diperlukan karena pastinya setiap perusahaan punya kebutuhan manufaktur yang berbeda-beda dan unik.

Klasifikasi Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja tidak bisa dianggap sebagai kesatuan pengeluaran besar. Anda perlu membaginya menjadi beberapa klasifikasi untuk memudahkan perincian dan perhitungan biaya ini agar alokasinya sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Klasifikasi pengeluaran tenaga kerja didasarkan dari pengaruhnya terhadap proses produksi dan juga hasilnya yang ditargetkan. Anda bisa memahaminya di bawah ini:

1. Keterkaitannya dengan proses produksi

Biaya jenis ini dibagi menjadi dua, yaitu: 

  • Biaya langsung: Merupakan biaya yang berpengaruh langsung bagi jalannya proses produksi. Pengeluaran ini mencakup biaya kompensasi atas keahlian yang karyawan berikan dalam memproduksi barang. Contoh dari biaya ini yaitu gaji, tunjangan transport atau makan, dan upah lembur.

  • Biaya tidak langsung: Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk staf atau tim pekerjaan yang tidak terlibat secara langsung pada proses kerja tapi ikut mendukung prosesnya. Contohnya yaitu biaya konsultan eksternal dan teknisi eksternal.

2. Pengaruh terhadap volume produksi

Biaya fluktuatif atau variabel yang mengikuti banyaknya produksi yang dihasilkan dalam proses manufaktur. Jika semakin banyak unit yang diproduksi, maka pengeluaran tenaga kerja pun semakin besar, dan juga berlaku sebaliknya. Contohnya seperti insentif karyawan jika memenuhi target dan upah lembur jika jam kerja melebihi jam normal.

Klasifikasi perhitungan biaya tenaga kerja digunakan untuk memastikan apakah jumlah kas perusahaan cukup untuk mengejar target produksi yang dituju. Selain itu, klasifikasi ini juga berperan untuk memperkirakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan kas yang dimiliki perusahaan. Makin banyak pekerja yang dibutuhkan, makin banyak pengeluaran untuk penggajian.

Sementara itu, perencanaan biaya variabel digunakan untuk mengetahui perkiraan kas yang akan dikeluarkan dalam memproduksi barang. Sama seperti penggajian karyawan, semakin banyak barang yang diproduksi maka semakin banyak juga pengeluaran kasnya.

Cara Menghitung Biaya Tenaga Kerja

Menghitung biaya tenaga kerja secara keseluruhan memerlukan strategi yang tepat agar alokasinya sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan dan karyawan juga. Pelajari tipsnya dengan lebih lengkap di bawah:

  1. Kenali dua jenis biaya tenaga kerja: Sebelum menghitung, penting untuk membedakan dua kategori biaya menjadi pengeluaran tenaga kerja langsung (biaya untuk karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi) dan biaya tidak langsung (pengeluaran untuk staf pendukung yang pekerjaannya tidak terkait langsung dengan proses produksi.

  2. Hitung gaji kotor terlebih dulu: Hitung terlebih dahulu total upah yang akan dibayarkan ke seluruh tenaga kerja sebelum dikurangi atau ditambahkan komponen pendukung.

  3. Masukkan biaya tambahannya: Setelah perhitungan gaji kotor didapat, masukkan pengeluaran tambahan seperti bonus dan uang transport atau makan yang menambah jumlah gaji, serta potongan BPJS dan PPh 21 yang mengurangi komponen gaji keseluruhan.

  4. Hitung biaya tenaga kerja tahunan: Untuk mendapatkan gambaran besarnya, Anda perlu menghitung biaya tenaga kerja tahunan untuk merencanakan alokasi pengeluaran yang lebih efisien.

  5. Kalkulasi juga persentase biaya tenaga kerja: Hitung persenan alokasi biaya tenaga kerja untuk mengetahui sehat tidaknya pengeluaran dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

Rumus Biaya Tenaga Kerja

Setelah melihat cara-cara dalam menghitung biaya tenaga kerja, Anda dapat menggunakan rumus-rumus berikut untuk memastikan penghitungan biaya dengan akurat:

Gaji Kotor

Upah Lembur

Biaya Tenaga Kerja Tahunan

Persentase Biaya Tenaga Kerja

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumusnya, Anda juga bisa mencari tahu cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja untuk kebutuhan manufaktur Anda agar alokasinya semakin efisien dan perusahaan tidak rugi karena salah alokasi.

Bagaimana Cara Mengoptimalkan Alokasi Biaya Tenaga Kerja?

cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja hashmicro

Alokasi pengeluaran tenaga kerja perlu dioptimalkan agar lebih efisien dan perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya yang tidak diperlukan yang bisa membuat boros kas bisnis. Berikut cara mengoptimalkannya:

  1. Pastikan dasar alokasinya sudah benar: Pastikan memprioritaskan alokasi yang memang mencerminkan proses produksi, seperti konsumsi sumber daya dan jumlah tenaga kerja yang memang berperan langsung dalam proses produksi. Ini mencegah alokasi biaya yang tidak terlalu penting.

  2. Rapikan proses pencatatan waktu kerja: Penting untuk mendefinisikan waktu kerja yang jelas agar penggajian dan pembayaran tunjangan atau bonus sesuai dengan performa karyawan.

  3. Tentukan standar tenaga kerja: Tetapkan standar tenaga kerja seperti berapa banyak waktu, usaha, dan sumber daya yang diperlukan dalam mencapai target produksi.

  4. Buat forecast kebutuhan tenaga kerja: Berikutnya Anda perlu memperkirakan kebutuhan tenaga kerja untuk produksi dalam satu periode. Ini akan langsung memengaruhi perhitungan biaya tenaga kerja.

  5. Kendalikan lembur: Lembur yang terlalu sering dan dilakukan bersamaan oleh banyak pekerja hanya akan membebani kas perusahaan untuk membayar gaji lembur. Latih karyawan Anda agar mampu bekerja secara efisien dan tidak overtime terlalu sering.

  6. Manfaatkan teknologi otomatisasi: Teknologi seperti software akuntansi dapat mengkalkulasikan besaran biaya tenaga kerja yang diperlukan sesuai dengan jumlah pekerja yang ada dan proses bisnis. Data ini dikompilasi secara real-time dalam software akuntansi.

Kesimpulan

Perhitungan pengeluaran tenaga kerja memang bisa menjadi masalah ketika alokasinya tidak tepat dan malah menimbulkan pemborosan kas perusahaan. Pastikan Anda selalu mencatat ketersediaan tenaga kerja dan juga keperluan produksi yang dibutuhkan untuk mencegah pemborosan ini.


Manfaatkan juga software akuntansi untuk manajemen biaya tenaga kerja agar pencatatan tidak perlu dilakukan secara manual lagi yang rawan kesalahan. Software ini meng update data secara real-time, tiap ada input atau perubahan pada data keuangan, software akan secara otomatis mengubah datanya.

Pertanyaan Seputar Biaya Tenaga Kerja

Tidak ada peraturan resmi di Indonesia yang menetapkan berapa persen biaya tenaga kerja harus dialokasikan. Yang bisa dipastikan yaitu adanya beban tambahan wajib yang menempel pada upah, seperti tunjangan dan juga BPJS.

Metode resmi yang bisa dipakai yaitu metode ABK (Analisis Beban Kerja). Berikut rumusnya yang bisa Anda gunakan. Jika berpatokan pada waktu produksi, rumusnya: (Orang × Waktu) ÷ Hasil (contohnya: 1 pengolah data × 1 jam menghasilkan 5 entri). Jika berpatokan hasil: Hasil ÷ (Orang × Waktu). (contohnya: 1 uraian tugas selesai dalam 2 jam oleh 1 orang analis).

Hitungan hari kerja dalam sebulan yaitu 7 jam sehari dengan 6 hari kerja atau 8 jam sehari dengan 5 hari kerja dengan 20 hari efektif.

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumusnya, Anda juga bisa mencari tahu cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja untuk kebutuhan manufaktur Anda agar alokasinya semakin efisien dan perusahaan tidak rugi karena salah alokasi.

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumusnya, Anda juga bisa mencari tahu cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja untuk kebutuhan manufaktur Anda agar alokasinya semakin efisien dan perusahaan tidak rugi karena salah alokasi.

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumusnya, Anda juga bisa mencari tahu cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja untuk kebutuhan manufaktur Anda agar alokasinya semakin efisien dan perusahaan tidak rugi karena salah alokasi.

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumusnya, Anda juga bisa mencari tahu cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja untuk kebutuhan manufaktur Anda agar alokasinya semakin efisien dan perusahaan tidak rugi karena salah alokasi.

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumusnya, Anda juga bisa mencari tahu cara mengoptimalkan alokasi biaya tenaga kerja untuk kebutuhan manufaktur Anda agar alokasinya semakin efisien dan perusahaan tidak rugi karena salah alokasi.

Upah Lembur

Upah Lembur

Upah Lembur

Upah Lembur

Upah Lembur

Dewi Sartika

Accounting

Dewi Sartika merupakan profesional di bidang akuntansi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam mengelola keuangan perusahaan lintas industri. Sejak awal kariernya sebagai Junior Accountant di sebuah perusahaan distribusi nasional, Dewi telah menunjukkan kemampuannya dalam menyusun laporan keuangan, melakukan rekonsiliasi data, serta mengelola audit internal. Kariernya terus berkembang hingga menjabat sebagai Accounting Specialist di perusahaan multinasional, di mana ia berperan penting dalam implementasi software akuntansi berbasis ERP serta memastikan kepatuhan pada regulasi perpajakan Indonesia.

Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.

Jalankan Bisnis Lebih Mudah Bersama HashMicro

Mulai demo gratis hari ini tanpa komitmen. Dapatkan solusi terbaik untuk bisnis yang lebih efisien.

CTA image