Apa itu Emergency Leave, Ketentuan, dan Cara Mengajukannya
GOLDEN
MONTH
Promo
up to
30%
10 DAYS LEFTLIMITED QUOTA
Klaim Sekarang!Terbatas Untuk 100 Pendaftar

Apa itu Emergency Leave, Ketentuan, dan Cara Mengajukannya

Apa itu Emergency Leave, Ketentuan, dan Cara Mengajukannya

Emergency leave adalah izin yang diberikan perusahaan ketika karyawan menghadapi situasi darurat yang tidak bisa direncanakan. Di Indonesia, istilah ini lebih dikenal sebagai cuti mendadak atau izin darurat.

Berbeda dari cuti tahunan, emergency leave tidak diatur dalam satu pasal khusus. Sebagian situasinya tercakup dalam Pasal 93 UU No. 13 Tahun 2003, sementara sisanya bergantung pada kebijakan perusahaan (sumber: JDIH Kemnaker).

Ketidakjelasan ini sering membuat perlakuan berbeda antar divisi untuk situasi yang serupa. Artikel ini membahas pengertian emergency leave, situasi yang termasuk di dalamnya, ketentuan upah, serta cara mengajukannya.

Key Takeaways

Emergency leave adalah izin untuk situasi mendesak yang tidak bisa direncanakan, dan cakupannya berbeda dengan cuti tahunan maupun izin sakit.

Sebagian situasi seperti pernikahan, kelahiran anak, atau kematian keluarga inti sudah dijamin undang-undang dan tetap dibayar, sisanya bergantung pada kebijakan perusahaan.

Alur pengajuan yang jelas mulai dari pemberitahuan awal, dokumen pendukung, hingga persetujuan tertulis membuat keputusan izin konsisten dan catatan kehadiran tetap akurat.

Apa Itu Emergency Leave?

Emergency leave adalah izin yang diberikan perusahaan kepada karyawan saat menghadapi situasi darurat yang tidak dapat direncanakan. Di Indonesia, istilah ini lebih dikenal sebagai cuti mendadak atau izin darurat.

Sifatnya berbeda dari cuti pada umumnya karena pengajuannya tidak bisa dilakukan jauh hari. Karyawan biasanya baru memberi kabar di hari yang sama, bahkan beberapa jam sebelum jam kerja dimulai. Karena itu, penilaiannya lebih bergantung pada kondisi yang dihadapi, bukan pada ketersediaan kuota cuti.

Perbedaan Emergency Leave, Cuti Tahunan, dan Izin Sakit

  1. Emergency leave: diajukan mendadak karena situasi darurat. Status upah dan pemotongan cuti tahunan bergantung pada jenis situasinya dan kebijakan perusahaan.
  2. Cuti tahunan: hak istirahat berkala yang diatur Pasal 79 UU No. 13 Tahun 2003. Diajukan jauh hari, dibayar penuh, dan memotong saldo cuti karyawan.
  3. Izin sakit: diajukan karena kondisi kesehatan karyawan sendiri, umumnya disertai surat keterangan dokter, dan tidak memotong saldo cuti tahunan.

Perbedaan ini penting dipahami sejak awal karena kesalahan mengategorikan izin sering berujung pada saldo cuti yang terpotong tanpa dasar. Ketentuan lebih lengkapnya bisa dilihat pada pembahasan aturan jam kerja karyawan yang berlaku di Indonesia.

Situasi yang Termasuk Emergency Leave

Tidak semua kondisi mendesak otomatis dikategorikan sebagai emergency leave. Umumnya, perusahaan mengakui situasi yang benar-benar tidak dapat diantisipasi dan menuntut kehadiran karyawan secara langsung. Berikut situasi yang paling sering masuk kategori ini.

  1. Kematian anggota keluarga. Situasi ini termasuk yang dijamin undang-undang dengan durasi dan status upah yang sudah ditentukan. Pembahasan lengkap mengenai ketentuannya bisa dilihat pada artikel compassionate leave.

  2. Kecelakaan atau sakit mendadak anggota keluarga inti. Karyawan perlu mendampingi pasangan, anak, atau orang tua yang dirawat di rumah sakit. Karena sifatnya tidak terduga, perusahaan umumnya memberi izin lebih dulu dan meminta dokumen pendukung menyusul.

  3. Kondisi darurat medis karyawan sendiri. Berbeda dari izin sakit biasa yang direncanakan lewat pemeriksaan dokter, kondisi ini terjadi tiba-tiba dan membuat karyawan tidak mungkin hadir bekerja pada hari itu.

  4. Bencana alam atau kondisi darurat di tempat tinggal. Banjir, kebakaran, atau kerusakan rumah yang membuat karyawan harus mengurus keselamatan keluarga dan tempat tinggalnya. Situasi ini sering berlangsung lebih dari satu hari.

  5. Keadaan mendesak yang berkaitan dengan anak. Misalnya anak mengalami kecelakaan di sekolah atau membutuhkan penanganan medis segera. Umumnya diberikan dalam durasi pendek karena sifatnya penanganan sesaat.

  6. Situasi mendesak lain sesuai kebijakan perusahaan. Beberapa perusahaan memperluas cakupannya untuk kondisi seperti pencurian, kecelakaan di perjalanan, atau urusan hukum mendadak. Cakupan ini sepenuhnya bergantung pada peraturan internal masing-masing.

Cakupan situasi tersebut sebaiknya dituliskan secara jelas dalam peraturan perusahaan agar keputusan tidak bergantung pada penilaian masing-masing atasan.

Cara Mengajukan Emergency Leave

Prosedur pengajuan emergency leave perlu diketahui seluruh karyawan sejak awal masuk kerja, karena dalam kondisi darurat mereka tidak punya waktu mencari tahu alurnya. Berikut langkah yang umum diterapkan.

1. Beri kabar secepatnya kepada atasan langsung. 

Sampaikan kondisi yang terjadi dan perkiraan lama ketidakhadiran melalui telepon atau pesan, tanpa perlu menunggu dokumen lengkap.

2. Sampaikan perkiraan durasi ketidakhadiran

Perkiraan ini membantu atasan mengatur pengalihan pekerjaan, dan bisa diperbarui jika kondisinya berkembang di luar dugaan.

3. Lengkapi pengajuan formal setelah kondisi memungkinkan

Isi formulir atau ajukan lewat sistem HR dengan kategori izin yang tepat agar pencatatannya tidak tertukar dengan cuti tahunan.

4. Lampirkan dokumen pendukung bila diminta

Surat keterangan rumah sakit, surat keterangan kematian, atau bukti lain yang relevan umumnya boleh menyusul setelah karyawan kembali bekerja.

5. Pastikan pengajuan tercatat dan disetujui secara tertulis

Persetujuan lisan rentan menimbulkan selisih paham di kemudian hari, sehingga sebaiknya tetap dikonfirmasi melalui sistem atau email.

Alur ini sebaiknya dicantumkan bersama aturan jam kerja karyawan dalam dokumen kebijakan perusahaan agar mudah diakses kapan saja.

Kesimpulan

Emergency leave adalah izin untuk situasi mendesak yang tidak bisa direncanakan. Sebagian situasi dijamin undang-undang dan tetap dibayar, sisanya bergantung pada kebijakan perusahaan.

Masalah biasanya muncul bukan dari situasinya, melainkan dari aturan yang tidak tertulis. Akibatnya, kasus yang sama bisa diputuskan berbeda oleh atasan yang berbeda dan karyawan menilai perusahaan tidak adil.

Jika Anda ingin menata kebijakan emergency leave sekaligus mengelola seluruh pengajuan cuti dalam satu sistem, dapatkan konsultasi gratis bersama tim HashMicro. Software HRM HashMicro dapat menyesuaikan aturan cuti perusahaan Anda dan memastikan perhitungan upah tetap akurat.

CobaGratis

FAQ

Tergantung kebijakan perusahaan. Untuk situasi yang sudah dijamin undang-undang, izin diberikan terpisah dan tidak memotong cuti tahunan. Di luar itu, banyak perusahaan memilih membebankannya ke saldo cuti tahunan, dan aturan ini sebaiknya ditulis jelas dalam kebijakan cuti.

Untuk situasi yang diatur undang-undang seperti pernikahan karyawan, kelahiran anak, atau kematian anggota keluarga inti, upah tetap dibayar penuh sesuai ketentuan hari yang berlaku. Situasi lain di luar daftar tersebut bergantung sepenuhnya pada kebijakan internal perusahaan.

Dalam kondisi mendesak, karyawan cukup memberi kabar secepatnya lewat kanal resmi, lalu melengkapi pengajuan formal beserta dokumen pendukung setelah situasi terkendali. Perusahaan sebaiknya menetapkan batas waktu penyusulan dokumen agar catatan kehadiran tetap rapi.


Emergency leave adalah izin yang diberikan perusahaan kepada karyawan ketika menghadapi situasi darurat yang tidak dapat direncanakan, seperti kecelakaan, sakit mendadak anggota keluarga, atau kondisi mendesak lain yang menuntut kehadiran langsung. Di Indonesia, istilah ini lebih sering disebut cuti mendadak atau izin darurat.

Aulia Kholqiana

CW Fulltime

Aulia telah menjadi spesialis yang sudah berpengalaman selama lebih dari 2 tahun di bidang Human Resource Management (HRM). Penulisan artikel berfokus pada pengelolaan siklus hidup karyawan, penilaian kinerja, penggunaan sistem HRIS, dan program pengembangan karyawan, sehingga dapat memberikan solusi bagi peningkatan performa perusahaan.

Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.

Jalankan Bisnis Lebih Mudah Bersama HashMicro

Mulai demo gratis hari ini tanpa komitmen. Dapatkan solusi terbaik untuk bisnis yang lebih efisien.

CTA image