Debt Service Coverage Ratio: Rumus, Contoh, dan Cara Hitungnya
Hashy AI

Kerja Lebih Mudah dengan Hashy AI.

AI dalam sistem bisnis yang tuntaskan semua pekerjaanmu.

Coba Hashy Sekarang

Debt Service Coverage Ratio: Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungannya

Debt Service Coverage Ratio: Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungannya

Sebelum menyetujui pinjaman bisnis, bank dan lembaga pembiayaan hampir selalu memeriksa angka Debt Service Coverage Ratio (DSCR). Angka ini menentukan apakah pendapatan operasional bisnis cukup untuk membayar kembali utang yang diajukan.

DSCR dihitung dengan rumus Net Operating Income dibagi Total Debt Service. Di Indonesia, bank umumnya menetapkan syarat DSCR minimal 1,2 sampai 1,5 sebelum mencairkan kredit. Bisnis dan kreditur sama-sama memakai angka ini untuk menilai kelayakan pinjaman dan kesiapan ekspansi.

Simak artikel ini untuk menjelaskan cara menghitung DSCR dari laporan keuangan, cara membaca hasilnya, kesalahan yang sering terjadi, dan cara memantau rasio ini secara berkelanjutan.

Key Takeaways

DSCR mengukur kemampuan bisnis membayar utang, menggunakan pendapatan operasional sebagai dasar perhitungan.

Bank dan kreditur sering menggunakan DSCR, untuk menilai kelayakan pemberian pinjaman bisnis.

Perhitungan DSCR membutuhkan data yang akurat, terutama laba operasional, pokok utang, dan bunga pinjaman

Nilai DSCR di bawah 1 menunjukkan risiko keuangan, karena pendapatan operasional belum cukup untuk menutup kewajiban utang.

Software Akuntansi HashMicro membantu memantau DSCR, dengan laporan keuangan dan arus kas yang terintegrasi secara otomatis.

Apa itu Debt Service Coverage Ratio?

Debt Service Coverage Ratio adalah rasio yang membandingkan pendapatan operasional bisnis dengan total kewajiban pembayaran utang pada periode yang sama. DSCR yang menjawab apakah bisnis mampu membayar utangnya dari hasil operasi, bukan dari menjual aset atau menambah utang baru.

DSCR berbeda dari rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas mengukur besarnya keuntungan, sedangkan rasio DSCR mengukur kapasitas perusahaan membayar utang dari arus kas operasional. Sebuah bisnis bisa untung di laporan laba rugi tetapi tetap gagal bayar jika arus kas operasionalnya tidak cukup menutup cicilan.

Ada tiga kelompok yang memakai DSCR untuk keputusan yang berbeda:

  • Kreditur dan bank memakai DSCR sebagai syarat kelayakan kredit. Berdasarkan DJPK Kementerian Keuangan di Indonesia, bank umumnya menuntut DSCR minimal 1,2 sampai 1,5 sebelum menyetujui Kredit Modal Kerja (KMK) atau Kredit Investasi (KI).
  • Finance team internal memakai DSCR untuk memastikan beban utang tetap proporsional terhadap pertumbuhan pendapatan, terutama sebelum mengajukan pinjaman baru.
  • Investor dan pemegang saham memakai DSCR untuk menilai apakah manajemen mengelola struktur utang tanpa menekan arus kas operasional.

Rumus Debt Service Coverage Ratio

Formula DSCR adalah Net Operating Income dibagi Total Debt Service.

DSCR = Net Operating Income / Total Debt Service

Setiap komponen rumus DSCR diambil dari laporan keuangan yang berbeda:

KomponenPenjelasanContoh DataSumber Laporan
Net Operating IncomePendapatan operasional setelah dikurangi biaya operasionalLaba operasional tahunanLaporan laba rugi
Total Debt ServiceTotal pembayaran pokok utang ditambah bunga dalam satu periodeCicilan pokok + bunga tahunanDebt schedule + arus kas
Pokok utangNilai cicilan pokok yang jatuh tempoCicilan pinjaman bank tahunanJadwal pembayaran utang
Bunga pinjamanBiaya bunga atas pinjamanBunga bank atau leasingLaporan pembayaran pinjaman

Sebagian analis memakai EBITDA sebagai pendekatan pendapatan operasional dalam menghitung DSCR. Pastikan angka yang dipakai konsisten dengan standar laporan keuangan dan format yang diminta kreditur, karena bank kerap menetapkan basis perhitungannya sendiri.

Dari mana mengambil data untuk menghitung DSCR?

Akurasi DSCR ditentukan oleh sumber datanya. Kesalahan memilih sumber data membuat bisnis terlihat lebih mampu atau lebih berisiko daripada kondisi sebenarnya, dan bisa langsung memengaruhi keputusan kredit.

Data yang DibutuhkanSumber LaporanContohRisiko Jika Salah Input
Net Operating IncomeLaporan laba rugiPendapatan operasional dikurangi biaya operasionalDSCR terlihat lebih tinggi/rendah dari kondisi nyata
Pokok utangJadwal pembayaran utang (debt schedule)Cicilan pokok pinjaman tahunanTotal debt service kurang akurat
Bunga pinjamanLaporan pembayaran pinjamanBunga bank atau leasingBeban utang terhitung terlalu kecil
Total Debt ServiceDebt schedule + laporan arus kasPokok utang + bungaKeputusan pinjaman salah

Contoh Perhitungan DSCR

Contoh berikut menunjukkan perhitungan DSCR sebuah perusahaan dengan data keuangan tahunan:

KomponenNilai (Rp)
Pendapatan operasional bersih (NOI)1.200.000.000
Pembayaran pokok utang500.000.000
Pembayaran bunga250.000.000
Total debt service750.000.000
DSCR = Rp1.200.000.000 / Rp 750.000.000 = 1,6

Artinya, pendapatan operasional perusahaan 1,6 kali lebih besar dari total kewajiban utang tahunannya. Perusahaan ini masih punya kapasitas membayar utang. Interpretasi akhirnya menyesuaikan industri, profil risiko, dan kebijakan masing-masing kreditur.

Cara Membaca dan Berapa Nilai DSCR yang Dianggap Sehat?

Nilai DSCR perlu dibaca dengan hati-hati karena tidak ada satu angka ideal yang berlaku untuk semua bisnis. Namun, tabel berikut dapat menjadi panduan awal:

Nilai DSCRInterpretasi
< 1Pendapatan operasional tidak cukup menutup kewajiban utang
= 1Pendapatan operasional pas membayar utang, tanpa ruang aman
1 - 1,25Masih cukup, tetapi ruang aman terbatas
1,25 - 2Lebih sehat untuk mayoritas jenis bisnis
> 2Kapasitas bayar utang kuat; tetap dibaca bersama rasio lain

DSCR yang tinggi tidak selalu berarti bisnis bebas risiko. Perusahaan tetap perlu melihat arus kas, profitabilitas, stabilitas, likuiditas pendapatan sebelum mengambil keputusan keuangan.

Mengapa DSCR Penting bagi Bisnis?

DSCR menentukan apakah bisnis layak mengambil komitmen finansial baru. Rasio ini menunjukkan apakah beban pinjaman masih sejalan dengan pendapatan operasional sebelum perusahaan menambah utang.

Bagi kreditur, DSCR adalah alat utama menilai risiko gagal bayar. Bagi manajemen, DSCR menjawab apakah perusahaan cukup sehat untuk ekspansi, mengambil pinjaman baru, atau menambah aset produktif.

DSCR terhubung langsung dengan evaluasi performa keuangan secara keseluruhan, karena rasio ini mencerminkan kemampuan operasional bisnis menghasilkan pendapatan yang menutup kewajiban keuangannya.

Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi DSCR?

Nilai DSCR naik dan turun mengikuti perubahan pendapatan, biaya, dan struktur utang. Tabel berikut merangkum faktor utamanya:

FaktorDampak terhadap DSCR
Pendapatan operasional naikDSCR meningkat
Beban operasional membesarDSCR menurun
Cicilan pokok bertambahTotal debt service naik, DSCR menurun
Bunga pinjaman naikBeban utang bertambah, DSCR tertekan
Arus kas tidak stabilDSCR sulit diprediksi dan dipantau
Piutang lambat tertagihKemampuan bayar utang terganggu

Karena itu, DSCR tidak cukup dihitung dari satu laporan saja. Perusahaan perlu menghubungkannya dengan laporan arus kas, jadwal pembayaran utang, dan proyeksi pendapatan.

Kesalahan Umum Saat Menghitung DSCR

Kesalahan paling sering dalam menghitung DSCR adalah :

1. Hanya memasukkan bunga pinjaman dan mengabaikan pembayaran pokok utang.

Total debt service mencakup keduanya, dan melewatkan pokok utang membuat DSCR terlihat jauh lebih sehat dari kenyataan.

2. Memakai laba bersih yang salah.

Diperlukan juga penyesuaian komponen non-kas seperti depresiasi dan amortisasi. Angka yang tidak disesuaikan membuat hasil DSCR menyimpang dari kapasitas bayar utang yang sebenarnya.

3. Menghitung DSCR hanya sekali.

Kesalahan ketiga adalah menghitung DSCR hanya saat ingin mengajukan pinjaman. DSCR perlu dipantau secara berkala karena pendapatan, biaya, bunga, dan jadwal utang berubah dari periode ke periode.

Perbedaan DSCR dengan Rasio Keuangan Lain

DSCR sering disamakan dengan rasio keuangan lain, padahal masing-masing mengukur hal berbeda:

RasioMengukur ApaFokus Utama
DSCRKemampuan membayar pokok utang dan bungaKapasitas bayar utang dari pendapatan operasional
Interest Coverage RatioKemampuan membayar bunga sajaBeban bunga
Debt RatioProporsi aset yang dibiayai utangStruktur pendanaan
Cash RatioKemampuan membayar kewajiban jangka pendek dengan kasLikuiditas langsung

DSCR memberi gambaran lebih lengkap dibandingkan dengan ketiga rasio di atas karena mencakup pokok dan bunga sekaligus. Untuk analisis menyeluruh, Anda bisa membaca DSCR bersama rasio solvabilitas.

Cara Meningkatkan Debt Service Coverage Ratio

Perusahaan meningkatkan DSCR dengan memperkuat pendapatan operasional, mengendalikan biaya, dan menyehatkan struktur utang. Saat pendapatan perusahaan naik sementara beban utang tetap, nilai DSCR langsung membaik.

Restrukturisasi utang juga bisa menurunkan tekanan DSCR pada periode tertentu. Negosiasi tenor yang lebih panjang atau bunga yang lebih rendah memperkecil total debt service tahunan, sehingga DSCR ikut naik.

Perlu diketahui, arus kas yang stabil bertujuan untuk menjaga DSCR tetap kuat. Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan ketersediaan kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek agar likuiditas tetap terjaga.

Cara Memantau DSCR dengan Software Akuntansi HashMicro

Dashboard akuntansi HashMicro

Masalah utama dalam menghitung DSCR bukan rumusnya, melainkan menjaga agar angka pendapatan operasional, arus kas, dan kewajiban utang tetap akurat setiap periode. Laporan keuangan yang berantakan menghasilkan DSCR yang menyesatkan keputusan pinjaman.

Sistem akuntansi HashMicro menyatukan laporan laba rugi, arus kas, kewajiban utang, dan laporan keuangan dalam satu sistem terintegrasi. Finance team menghitung DSCR lebih cepat dan memantau perubahan kondisi keuangan secara berkala tanpa menarik data dari banyak file terpisah.

Fitur software akuntansi HashMicro yang mendukung pemantauan DSCR:

  • Laporan laba rugi otomatis dengan menarik angka Net Operating Income secara real-time.
  • Cash Flow Management untuk memantau stabilitas arus kas operasional.
  • Bank & Loan Reconciliation untuk mencatat pokok utang dan bunga secara akurat.
  • Financial Ratio Dashboard untuk menampilkan DSCR dan rasio keuangan lain dalam satu layar.
  • Accounts Receivable Management bisa mempercepat penagihan piutang.
  • Budgeting & Forecasting memproyeksikan DSCR sebelum mengambil pinjaman baru.
  • Multi-level Analytical Reporting untuk membandingkan DSCR antarperiode dan antarentitas.

Sistem terintegrasi software HashMicro juga menyiapkan laporan sebelum pengajuan pinjaman, mengevaluasi rencana ekspansi, dan menilai apakah beban utang masih aman bagi operasional bisnis.

download skema harga software erp

Kesimpulan

DSCR bukan hanya syarat yang diminta bank. Bisnis yang memahami angkanya sendiri bisa menilai kapan waktu tepat untuk ekspansi, bukan sekadar apakah mereka layak mendapat pinjaman.

Yang sering luput: DSCR adalah indikator lagging. Saat angka ini turun ke bawah 1,0, tekanan keuangan biasanya sudah berjalan beberapa bulan sebelumnya.

Menghitung DSCR hanya saat pengajuan kredit artinya membaca situasi terlambat. Suku bunga yang naik atau pendapatan yang stagnan bisa menggeser angka ini secara signifikan dalam satu kuartal.

Pertanyaan Seputar Debt Service Coverage Ratio

FAQ

DSCR adalah rasio yang mengukur kemampuan bisnis membayar kewajiban utang dari pendapatan operasionalnya. Nilainya dihitung dengan membagi Net Operating Income dengan Total Debt Service, yang mencakup pembayaran pokok utang dan bunga dalam satu periode tertentu.

DSCR terutama digunakan untuk Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI). Untuk fasilitas jangka pendek seperti overdraft atau rekening koran, bank biasanya memakai rasio likuiditas. Leasing dan KPR komersial juga memakai DSCR, tapi komponen NOI-nya dihitung berbeda sesuai jenis aset dan instruksi kreditur.

Pertama, restrukturisasi utang yang ada dengan memperpanjang tenor agar cicilan per periode lebih kecil. Kedua, perkuat NOI lewat efisiensi biaya atau peningkatan pendapatan sebelum mengajukan pinjaman baru. Beberapa bank juga menerima proyeksi DSCR ke depan jika ada kontrak atau pipeline pendapatan yang terdokumentasi.

DSCR di bawah 1 berarti pendapatan operasional bisnis tidak cukup menutup total pembayaran pokok utang dan bunga dalam periode tertentu. Kondisi ini menandakan perusahaan berisiko gagal bayar dan biasanya ditolak pengajuan kreditnya.

DSCR menghitung kemampuan membayar pokok utang dan bunga sekaligus, sedangkan interest coverage ratio hanya mengukur kemampuan membayar bunga. DSCR memberi gambaran kapasitas bayar utang yang lebih lengkap dibandingkan dengan interest coverage ratio.

Minimalnya setiap kuartal, atau setiap kali ada perubahan signifikan pada pendapatan, biaya, atau jadwal utang. Banyak bank mewajibkan laporan DSCR tahunan sebagai syarat monitoring fasilitas kredit yang sudah berjalan, jadi pemantauan berkala lebih disarankan daripada hanya saat pengajuan pinjaman.

Oscar Renatha

Point of Sales (POS)

Oscar Renatha adalah profesional di bidang teknologi ritel dengan keahlian pada sistem Point of Sales (POS). Dengan pengalaman lebih dari 8 tahun, ia telah membantu bisnis F&B, retail, dan hospitality meningkatkan efisiensi melalui implementasi POS berbasis cloud yang terintegrasi. Kariernya dimulai sebagai IT Support di perusahaan retail nasional, sebelum berkembang menjadi konsultan POS yang memimpin proyek migrasi sistem manual ke digital. Kini, ia menjabat sebagai POS Specialist di HashMicro, berperan dalam strategi implementasi POS, pelatihan tim operasional, dan integrasi dengan ERP.

HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.

Jalankan Bisnis Lebih Mudah Bersama HashMicro

Mulai demo gratis hari ini tanpa komitmen. Dapatkan solusi terbaik untuk bisnis yang lebih efisien.

CTA image