Slow-moving product adalah sebutan untuk barang-barang di gudang atau inventaris yang perputarannya lambat atau malah diam di tempat karena produk tidak laku. Barang-barang seperti ini dapat menimbulkan masalah pada penyimpanan inventaris jika dibiarkan terus.
Beban yang ditimbulkan dari barang slow-moving berupa beban biaya sewa gudang yang bertambah, kerugian yang dialami perusahaan Anda karena barang telah mencapai masa kedaluwarsa, dan juga menghambat penyimpanan barang baru yang lebih produktif atau fast moving.
Key Takeaways
Slow-moving product adalah stok barang di gudang yang mengendap lama karena potensi penjualannya rendah.
Penghitungan stok menggunakan rumus inventory membantu Anda dalam mengidentifikasi stok yang tidak memiliki prospek penjualan yang bagus.
Barang yang berputar lambat tidak selalu menjadi beban bagi operasional gudang. Ada kondisi yang membuat barang slow-moving tetap perlu dipertahankan, contohnya barang yang memiliki potensi margin tinggi walau jarang berputar.
Daftar Isi:
Kenali Apa Itu Slow-Moving Product
Slow-moving product merupakan istilah yang diberikan pada barang-barang di gudang Anda yang tingkat perputaran atau turnover nya rendah pada satu periode inventaris.
Barang seperti ini biasanya memiliki tingkat perputaran yang rendah karena barang kurang laku di pasaran sehingga menyebabkan barang mengendap di gudang dalam waktu lama. Ciri-ciri barang slow-moving yaitu:
- Barang tersimpan lama di gudang
- Turnover rate barang rendah
- Rata-rata usia stok di gudang mengendap tinggi
- Jumlah stok terlalu tinggi dibanding angka penjualannya
- Permintaan pada barang menurun
Barang-barang slow-moving jika dibiarkan terlalu lama maka akan menimbulkan masalah dalam pengelolaan inventaris Anda dan berdampak negatif pada keuntungan bisnis.
Barang slow-moving dapat menghambat penyimpanan stok barang baru yang mungkin saja berpotensi fast-moving dan juga berpotensi expire sehingga merugikan secara bisnis.
Perbedaan Slow-Moving Stock dengan Fast Moving Stock
| Aspek | Slow-Moving Product | Fast-Moving Product |
|
Tingkat Penjualan |
Rendah, membutuhkan waktu lama agar terjual |
Tinggi, hanya membutuhkan waktu singkat untuk terjual |
|
Perputaran Stok |
Lambat (low turnover) |
Cepat (high turnover) |
|
Permintaan Pasar |
Cenderung fluktuatif (tidak stabil) dan rendah |
Stabil dan tinggi |
|
Risiko Stok |
Penumpukan barang atau overstock |
Kehabisan barang atau stockout |
| Strategi Pengelolaan | Promosi, diskon, atau bundling untuk menarik pelanggan |
Restock secara rutin untuk mencegah kehabisan stok untuk dijual |
Bagaimana Cara Menghitung Stok yang Pergerakannya Lambat?
Stok yang lambat pergerakannya rawan dalam menyebabkan masalah pada pengelolaan inventaris Anda, tetapi seringkali barang slow-moving sulit disadari, apalagi jika jumlah SKU di gudang Anda mencapai ratusan.
Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi stok mana saja yang turnover nya rendah. Anda bisa menggunakan rumus berikut:
Inventory Turnover= COGS / Average Inventory
COGS: Cost of Goods Sold/Harga Pokok Penjualan
Average Inventory: Rata-rata nilai persediaan
Average Inventory= Jumlah Stok Awal + Jumlah Stok Akhir / 2
Langkah selanjutnya yaitu menggunakan rumus Days on Hand seperti di bawah:
Rumus di atas berguna untuk mengetahui mana stok yang paling banyak terjual dan mana yang kurang laku.
Apa Contoh dari Persediaan yang Pergerakannya Lambat?
Produk yang pergerakannya lambat biasanya bukan tanpa alasan mengapa mereka kurang laku. Berikut Anda dapat pahami beberapa kategori produk yang berpotensi mengalami slow-moving:
- Fashion atau apparel: Produk fashion seringkali mengalami turnover yang rendah karena pakaian atau mode sangat dipengaruhi oleh tren. Jika trennya turun, maka pakaian akan tidak laku.
- Retail atau dekorasi musiman: Produk retail dan dekorasi rumah yang mengikuti tren juga terdampak jika trennya turun, menyebabkan barang kurang diminati lagi setelah trennya berlalu.
- Produk mainan: Tren mainan terus bergeser setiap tahun, menyebabkan jika ada mainan tidak laku setelah trennya sudah berlalu.
- Elektronik atau gadget: Perangkat elektronik selalu berinovasi setiap tahunnya menggunakan teknologi terbaru. Jika teknologinya sudah usang dan ketinggalan zaman, stok gadget yang masih belum terjual berpotensi menumpuk di gudang.
- Produk otomotif (kendaraan bermotor): Sama seperti produk gadget, kendaraan bermotor memiliki masa manfaat pada teknologinya. Jika teknologi otomotif sudah tidak relevan, maka motor atau mobil yang belum dijual dealer akan menumpuk.
- Obat-obatan dan alat kesehatan: Obat-obatan dan alkes memiliki masa expire, sehingga jika obat sudah kedaluwarsa, maka bisa menumpuk di gudang.
Dengan mengetahui jenis produk di atas, Anda dapat coba menganalisa produk bisnis Anda sendiri apakah bisa terpengaruh dengan tren yang dapat memengaruhi kecepatan perputaran stok Anda.
7 Strategi Lintas Tim untuk Mengurangi Slow-Moving Product
Pencegahan perputaran barang yang lambat membutuhkan koordinasi antar departemen di perusahaan Anda. Seringkali, stok menumpuk atau lambat bergerak tidak hanya disebabkan oleh tim gudang, tetapi juga proyeksi pembelian yang salah dari departemen lain.
Berikut ini, Anda dapat memahami peranan tiap departemen dalam mencegah slow-moving product:
1. Perbaikan forecast planning pembelian oleh tim procurement perusahaan
Perbaikan pada forecast perencanaan pembelian barang penting dilakukan bagi tim procurement untuk mengetahui barang mana yang potensi penjualannya paling baik dan kurang baik.
Tim procurement Anda wajib melakukan demand forecasting berbasis histori penjualan, tren musiman, dan perubahan pasar agar pembelian cadangan stok dapat memenuhi kebutuhan penjualan yang tertunda.
2. Promosi terhadap barang slow-moving oleh sales
Tim sales Anda perlu memikirkan strategi seperti promosi atau bundling untuk menarik pelanggan membeli produk yang kurang diketahui.
Ini meningkatkan chance pada produk slow-moving Anda agar terjual dan tetap menghasilkan keuntungan bagi bisnis.
3. Visibilitas stok harus dibuat lebih akurat oleh tim gudang
Seringkali stok slow-moving tidak disadari oleh tim gudang karena pencatatan dan proses stock opname yang tidak rapi. Jika status stok tidak diketahui, maka potensi kerugian perusahaan tidak dapat diidentifikasi.
Tim gudang Anda perlu menerapkan sistem stock opname yang lebih terstruktur dan jelas agar pelacakan seluruh stok di gudang menjadi efisien dan potensi slow-moving dapat diketahui lebih mudah.
4. Biaya stok lambat harus dimasukkan oleh tim finance
Perkiraan biaya yang dihabiskan untuk membeli stok sering dianggap hanya sebagai modal untuk mengisi gudang, padahal sebenarnya data biaya ini juga dapat digunakan untuk membuat perkiraan prospek barang bisnis.
Tim finance perlu memproyeksikan bahwa modal yang dikeluarkan untuk pengadaan stok benar-benar bisa memenuhi ROI (Return on Investment) dan potensi keuntungannya baik.
5. Penerapan Standar Operasional Perusahaan yang baik oleh pihak manajemen
Standar Operasional Perusahaan sering dianggap sebagai formalitas saja, padahal perannya sangat menentukan kualitas pengambilan keputusan pengadaan barang inventaris.
Pihak manajemen perusahaan Anda perlu menetapkan SOP yang jelas dalam pengadaan gudang untuk mencegah overstock barang yang potensi return nya kecil.
6. Buat rapat review SKU lintas tim secara rutin
Tim sales, marketing, procurement, gudang, dan finance perlu mengecek secara rutin SKU yang usianya sudah lama dan membandingkan selisih forecast dengan kondisi penjualan yang sebenarnya.
Ini membantu dalam mengidentifikasi barang yang berpotensi menjadi dead stock sehingga langkah antisipasi dapat diambil dengan lebih cepat.
7. Pindahkan stok ke lokasi atau channel yang prospeknya lebih tinggi
Terkadang, beda daerah bisa menyebabkan suatu item menjadi lambat perputarannya karena perbedaan tren barang daerah yang satu dengan yang lainnya.
Strategi pemindahan barang dari satu lokasi gudang ke lokasi gudang lainnya dapat diterapkan untuk meningkatkan peluang terjualnya slow-moving product, mencegah terjadinya dead stock.
Kerja sama seluruh departemen memastikan penanganan slow-moving goods dengan lebih baik dan mencegah dead stock secara tidak langsung.
Kapan Slow-Moving Product Justru Harus Dipertahankan?
Meskipun slow-moving stock sering dianggap sebagai liabilitas atau menjadi beban bagi gudang, pada kenyataannya ada kondisi di mana slow-moving stock tidak bisa disingkirkan begitu saja.
Anda dapat mempelajari keadaan di mana slow-moving product harus dianggap krusial setelah ini:
- Produk mendukung penjualan produk lain: Produk yang bertindak sebagai pelengkap produk utama atau menggantikan produk utama jika habis.
- Produk yang tetap dibeli pelanggan meskipun tidak rutin: Produk seperti ini penjualannya memang lambat, tapi jaminan terjualnya stabil.
- Produk yang memiliki margin tinggi: McKinsey menunjukkan contoh bahwa penanganan pada spare-parts inventory yang lambat perputarannya dapat menaikkan revenue dengan gross margin lebih dari 60%.
- Produk musiman yang trennya selalu kembali: Produk yang sifatnya sementara tapi rutin setiap tahunnya (contohnya dekorasi Imlek, Idul Fitri, atau Natal) hanya dormant sementara, tapi jaminan penjualannya tetap tinggi.
Optimalkan Pemantauan Slow-Moving Stock dengan Software Stok Barang
Memantau stok barang secara manual menggunakan spreadsheet dan metode stock opname tradisional bisa memakan waktu yang lama dan juga berisiko terjadinya kesalahan dalam pencatatan status barang yang ada.
Penggunaan software stok barang yang terintegrasi dengan barcode pada tiap SKU (Stock Keeping Unit) akan sangat membantu Anda dalam melihat analisis dan insight barang mana saja yang laku dan juga yang angka penjualannya kurang.
Ini membantu manajemen gudang Anda mengidentifikasi setiap prospek item pada gudang Anda.
Kesimpulan
Barang slow-moving masih sering menjadi penyebab perusahaan mengalami kerugian dan pertumbuhan profit yang lambat. Jika barang lambat dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan risiko overstock dan juga penurunan profit yang semakin parah karena barang fast moving tidak bisa distok.
Penting bagi manajemen perusahaan Anda untuk senantiasa mengidentifikasi dan menerapkan SOP yang jelas dan terukur mengenai pengelolaan stok barang dan di-briefing ke seluruh departemen perusahaan.
Analisis tren barang juga penting dilakukan bagi tim gudang Anda untuk memperkirakan potensi slow dan fast moving pada inventaris Anda.
FAQ Seputar Slow-Moving Product
-
Apa perbedaan slow-moving dan dead stock?
Slow-moving stock adalah barang-barang yang pergerakannya lambat tetapi sebenarnya masih memiliki potensi penjualan. Sedangkan, dead stock adalah barang-barang yang sudah hampir tidak memiliki potensi penjualan dan juga hampir tidak pernah bergerak.
-
Apa yang terjadi jika persediaan terlalu tinggi?
Jika persediaan inventaris jumlahnya terlalu tinggi di gudang malah bisa menyebabkan stok menumpuk serta menambah beban biaya sewa gudang untuk barang yang belum tentu laku dan bisa menyebabkan kerugian bagi bisnis.
-
Apa saja kerugian yang bisa timbul jika stok terlalu banyak?
Stok yang terlalu banyak dapat mengganggu cash flow karena nilai uang tertahan dalam barang, biaya sewa gudang naik, serta ada risiko markdown harga penjualan karena pemberlakuan diskon untuk mengosongkan gudang.
-
Apakah persediaan yang lebih tinggi atau lebih rendah lebih baik?
Tidak ada yang lebih baik, karena jumlah persediaan sangat bergantung bagi kebutuhan bisnis Anda. Semisal jika barang yang bisnis Anda jual laku dan prospeknya baik, persediaan yang tinggi atau banyak akan berguna untuk cadangan. Sebaliknya, jika barang yang Anda jual kurang laku, persediaan yang lebih rendah akan mengurangi risiko slow-moving atau dead stock.







