Memahami Buku Stok Barang serta Fungsi dan Contohnya
GOLDEN
MONTH
Promo
up to
30%
10 DAYS LEFTLIMITED QUOTA
Klaim Sekarang!Terbatas Untuk 100 Pendaftar

Memahami Buku Stok Barang serta Fungsi dan Contohnya

Memahami Buku Stok Barang serta Fungsi dan Contohnya

Mengelola stok barang harian dengan buku manual masih menjadi praktik umum di kalangan UMKM Indonesia.

Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 65 juta unit usaha dan menyumbang sekitar 61% terhadap PDB nasional. Sebagian besar masih mengandalkan pencatatan manual dalam operasional sehari-hari.

Meski sederhana, pencatatan stok yang rapi berdampak besar pada kelangsungan bisnis. Tanpa catatan yang tertata, risiko kehilangan barang, selisih stok, hingga gagal memenuhi permintaan pelanggan menjadi lebih besar dan dapat menggerus keuntungan usaha.

Key Takeaways

Buku stok barang adalah buku yang mencatat semua pergerakan barang dalam sehari. Catatan ini membantu Anda memantau persediaan Anda.

Buku stok barang berfungsi untuk mengontrol pergerakan barang, mengindari kehilangan aset, dan mendukung proses stok opname

Buku stok barang harian wajib memiliki komponen tanggal transaksi, nama dan kode barang, stok awal, barang masuk, barang keluar, serta saldo stok

Apa itu Buku Stok Barang?

Buku stok barang adalah buku yang mencatat semua pergerakan barang dalam sehari. Dalam setiap gudang, tim akuntansi akan mencatat jumlah barang yang masuk dan keluar. Setiap kali ada transaksi, mereka akan memperbarui catatan secara real-time

Pada akhir setiap periode, seorang auditor akan menggunakan buku ini untuk melakukan stock opname. Dia akan membandingkan data dengan persediaan fisik bisnis Anda. Dengan cara ini, Anda dapat memastikan bahwa jumlah persediaan bisnis Anda tidak melebihi kapasitas.

Fungsi Buku Stok dalam Pengelolaan Inventaris

fungsi-buku-stok-barang

Dalam manajemen persediaan di gudang, Anda harus melakukan pembukuan untuk mengoptimalkan inventaris. Salah satu caranya adalah dengan membuat buku stok. Berikut adalah fungsi buku stok barang dalam mengelola persediaan:

1. Mengontrol pergerakan barang

Buku pencatatan memudahkan Anda untuk memantau stok per gudang. Catatan ini membantu Anda memantau barang masuk dan keluar. Anda dapat mencegah penumpukan aset dan menjaga keakuratan laporan keuangan, seperti laporan laba rugi. 

2. Menghindari kehilangan aset

Pencatatan transaksi yang detail membantu Anda melacak aset tersembunyi. Dengan menggunakan informasi dari buku stok, Anda dapat memantau inventaris Anda dari jauh. Hal ini mengurangi risiko kehilangan barang dan kecurangan. 

3. Mendukung proses stock opname

Pembukuan inventaris mendukung proses stock opname bisnis Anda. Catatan ini memudahkan tim Anda untuk mencocokkan jumlah persediaan dengan data. Melalui itu, Anda dapat menjamin akurasi data dan mendeteksi kesalahan pencatatan. 

Perbedaan dan Contoh Buku Stok Barang vs Kartu Stok Barang

Sebelum kita lanjut, Anda perlu memahami bahwa buku stok barang dan kartu stok barang bukan hal yang sama. Berikut beberapa perbedaan antara buku stok dan kartu stok barang:

Aspek Buku Stok Barang Kartu Stok Barang
Pengertian Buku harian yang mencatat semua transaksi dalam sehari Lembaran yang mencatat semua transaksi per item
Spesifikasi Umum, lebih mengarah ke memberikan gambaran tentang pergerakan persediaan secara menyeluruh Spesifik, setiap kartu mewakili satu item
Format Menggunakan buku besar atau file untuk mencatat pergerakan semua barang Menggunakan kartu atau lembaran untuk mencatat pergerakan satu barang
Tujuan Untuk memantau jumlah dan pergerakan persediaan dalam gudang Untuk memantau jumlah dan gerakan satu produk secara rinci dan individu

1. Contoh Buku Stok Barang

contoh-buku-stok-barang

2. Contoh Kartu Stok Barang

contoh-kartu-stok-barang

Komponen Wajib dalam Buku Stok Barang

Sebuah buku stok barang harian manual harus memiliki komponen-komponen berikut agar pencatatan dapat berfungsi dengan baik:

  • Tanggal transaksi, untuk memudahkan proses audit
  • Nama dan kode barang, untuk memudahkan identifikasi dan pelacakan produk
  • Stok awal, yaitu jumlah aset dalam inventaris sebelum adanya pergerakan barang
  • Barang masuk, menunjukkan jumlah barang yang masuk dalam gudang
  • Barang keluar, menunjukkan jumlah barang yang Anda jual atau gunakan
  • Saldo stok, yaitu jumlah akhir persediaan setelah transaksi 

Cara Membuat Buku Stok Barang Harian Manual

cara membuat buku stok barang manual

Setelah mengetahui komponen penting dalam buku stok barang, Anda perlu memahami cara membuatnya. Ini memastikan bahwa Anda tahu cara melakukan pembukuan persediaan dengan benar. Berikut cara membuat buku stok barang harian secara manual:

1. Initial preparation

Pertama, Anda harus menyiapkan buku induk inventaris Anda terlebih dahulu. Pastikan setiap halaman memiliki kolom untuk mencatat riwayat transaksi masuk dan keluar barang. Selanjutnya, pastikan juga bahwa setiap produk memiliki nama dan kode yang unik. Jangan lupa untuk mencatat stok awal setiap produk dan memberikan kartu stok untuknya. 

2. Pencatatan barang masuk akibat pembelian

Jika Anda menerima produk dari supplier atau pelanggan, Anda perlu segera mencatatnya. Tuliskan kode barang, tanggal penerimaan, jumlah barang yang diterima, dan saldo stok setelah transaksi. Setelah itu, Anda harus memperbarui kartu stok produk tersebut. 

3. Pencatatan barang keluar habis penjualan

Prosesnya masih sama jika Anda menjual atau menggunakan produk. Catat informasi-informasi penting mengenai produk yang baru saja keluar, lalu perbarui kartu stoknya untuk mengurangi jumlah barang dalam gudang. 

4. Rekonsiliasi stok di akhir hari

Setelah bisnis Anda tutup untuk hari itu, Anda harus mengecek inventaris Anda. Pastikan saldo stok Anda sama dengan jumlah stok dalam buku stok barang. Jika tidak, lakukan rekonsiliasi untuk mencari tahu penyebabnya. Ada kemungkinan besar bahwa Anda telah salah mencatat atau menempatkan aset. 

Metode Manual vs. Metode Digital, Mana yang Pas?

sistem-inventaris

Saat Anda pertama kali memulai atau sedang mengembangkan bisnis, Anda perlu memutuskan cara Anda melakukan pembukuan inventaris. Ada berbagai macam sistem yang dapat Anda gunakan. Untuk mengetahui software mana yang cocok untuk bisnis Anda, Anda dapat menggunakan informasi di bawah sebagai referensi:

1. Metode Manual

Pilih program Excel jika Anda menjalankan sebuah UMKM. Metode ini cocok untuk bisnis dengan jumlah kode SKU yang sedikit. Anda tidak akan kewalahan saat menggunakan Excel karena hanya Anda dan mungkin beberapa individu yang memiliki akses ke data perusahaan Anda, jadi membuat laporan stock opname Excel juga lebih mudah.

Namun, metode ini memiliki risiko yang mirip dengan pencatatan manual, yaitu rentan terhadap human error.

2. Metode Digital

Sebaliknya, gunakan sistem manajemen persediaan jika perusahaan Anda memiliki volume transaksi yang besar dan lebih dari satu gudang. Metode ini sepenuhnya digital, dibandingkan dengan metode Excel yang semi-digital. Hal ini memungkinkan Anda untuk mengotomatiskan pembukuan persedian. Selain itu, sistem ini juga dapat merekonsiliasi stok secara otomatis. 

Kesalahan Umum dalam Pembukuan Stok Barang

kesalahan-dalam-pembukuan-stok-manual

Setelah memilih alat untuk mencatat inventaris, Anda perlu menghindari masalah-masalah umum dalam pembukuan stok barang, seperti:

1. Jarang melakukan stock opname

Anda akan kehilangan produk jika Anda tidak melakukan stock opname secara teratur. Data yang tidak sinkron akan mempersulit proses pelacakan aset, sehingga membuat Anda rentan terhadap dead stock. Maka dari itu, lakukan stock opname setiap bulan.

2. Keterangan yang terlalu general

Saat mencatat transaksi, Anda harus rinci. Apabila Anda hanya menulis ‘penjualan’ dan ‘pembelian’, barang retur akan menumpuk di gudang. Anda akan mendapatkan jumlah barang layak jual yang tidak akurat, sehingga melebih-lebihkan nilai aset pada neraca. Untuk alasan ini, tulis keterangan dengan jelas. 

3. Sering menunda pencatatan stok

Buku stok akan menampilkan informasi yang tidak up-to-date jika Anda sering menunda pencatatan. Hal ini bisa membuat Anda mengambil keputusan bisnis menggunakan data yang sudah tidak relevan. Jadi, langsung catat transaksi barang untuk mencegah overselling

4. Tidak memiliki standar UOM

Mencatat transaksi tanpa standar unit of measure akan membingungkan staf Anda. Misalnya, barang A dicatat sebagai satu pack, sedangkan barang B dicatat sebagai satu buah. Jika Anda memiliki faktor konversi yang berbeda-beda, Anda akan kesulitan melacak produk Anda. Oleh karena itu, buat standar UOM untuk semua produk. 

5. Tidak mencatat stok secara konsisten

Anda akan membuat pembukuan yang tidak konsisten jika Anda sering ganti metode pencatatan persediaan. Mereka akan mempengaruhi keakuratan Harga Pokok Penjualan (HPP) dan laporan laba rugi bisnis Anda. Untuk mencegah masalah ini, pilih metode di awal periode dan gunakan itu sampai akhir periode. 

Kesimpulan

Pada dasarnya, buku stok barang harian penting untuk mengelola persediaan secara tertib. Semakin besar volume inventaris, semakin detail pula pergerakan barang yang perlu dicatat agar kontrol stok tetap akurat dalam jangka panjang.

Namun, buku stok sebaiknya disesuaikan dengan skala usaha. Bagi bisnis kecil, buku besar atau spreadsheet Excel sudah cukup memadai. Sementara untuk industri ritel atau manufaktur dengan perputaran barang tinggi, sebaiknya gunakan sistem inventaris yang dapat mengotomatiskan pencatatan.

Jika Anda masih ragu menentukan metode yang paling sesuai, manfaatkan konsultasi gratis bersama tim ahli kami untuk mendapatkan rekomendasi pengelolaan stok yang tepat sesuai kebutuhan dan skala bisnis Anda.

Pertanyaan Seputar Buku Stok Barang

Buku stok barang menjelaskan riwayat transaksi suatu produk secara detail, sedangkan laporan persediaan hanya memberikan gambaran umum mengenai jumlah persediaan dalam periode waktu tertentu.

Buku stok barang harian manual cocok untuk bisnis kecil, UMKM, dan perusahaan baru. Metode pembukuan ini cukup murah karena hanya membutuhkan buku besar atau Excel spreadsheet, sehingga cocok untuk pengecekan stok secara fisik.

Metode pencatatan bergantung pada jenis bisnis yang Anda miliki. Jika bisnis Anda kecil atau memiliki volume transaksi rendah, Anda bisa menggunakan metode periodik. Namun, gunakan metode perpetual jika perusahaan Anda memiliki volume transaksi yang besar atau bergerak dalam industri manufaktur.

Jessica Wijaya

Senior Content Writer

Selama lebih dari 5 tahun sebagai Senior Content Writer, Jessica telah menulis topik yang mengulas tentang bidang inventory dan warehouse management. Keahliannya mencakup penulisan artikel manajemen stok dan persediaan, perencanaan kebutuhan, multi-warehouse management, dan integrasi sistem digital untuk pengelolaan barang.

Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.

Jalankan Bisnis Lebih Mudah Bersama HashMicro

Mulai demo gratis hari ini tanpa komitmen. Dapatkan solusi terbaik untuk bisnis yang lebih efisien.

CTA image