CNBC Awards

Apa itu RKS Proyek, Fungsi, Komponen dan Contohnya

Diterbitkan:

RKS Proyek biasanya dicari saat ada dua momen penting, yaitu menyusun dokumen tender dan mengunci acuan kerja sebelum pelaksanaan dimulai. Di tahap ini, semua pihak butuh satu dokumen yang menjawab hal-hal praktis seperti materialnya apa, standar mutunya bagaimana, metode kerja yang boleh dipakai seperti apa, dan batas pekerjaan kontraktor sampai mana.

Secara fungsi, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) membantu menutup celah tafsir yang sering membuat pekerjaan di lapangan berbeda dari ekspektasi owner. Kalau spesifikasi, cara uji mutu, atau ketentuan administrasi ditulis jelas sejak awal, koordinasi jadi lebih cepat dan keputusan tidak bolak-balik.

Di bawah ini, pembahasan akan fokus pada apa itu RKS Proyek, fungsi utamanya, komponen yang wajib ada, dan contoh penerapannya supaya dokumen ini benar-benar bisa dipakai sebagai acuan kerja.

Key Takeaways

  • RKS Proyek adalah dokumen acuan yang mengunci spesifikasi teknis, persyaratan administrasi, dan ruang lingkup pekerjaan dalam proyek konstruksi/pengadaan.
  • Komponen RKS yang kuat bukan hanya lengkap, tetapi punya detail yang bisa dieksekusi seperti standar material, metode kerja, jadwal, dan aturan quality control.
  • Terdapat 3 syarat RKS yang harus dipenuhi di Indonesia, yaitu ketentuan umum, syarat administrasi, dan syarat teknis.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      RKS Proyek Dipakai di Tahap Apa Saja?

      RKS Proyek dipakai sejak tahap perencanaan, lalu menjadi pegangan utama saat proses tender sampai kontrak ditandatangani. Di fase ini, RKS membantu owner dan tim pengadaan menjelaskan standar kerja yang diminta, sehingga kontraktor bisa menghitung penawaran dengan acuan yang sama.

      Begitu proyek berjalan, RKS tetap dipakai sebagai referensi harian untuk memastikan metode kerja, spesifikasi material, dan standar mutu tidak berubah-ubah di lapangan.

      Saat ada perubahan pekerjaan, revisi desain, atau pembahasan klaim, RKS juga sering jadi titik balik untuk memastikan apa yang memang termasuk scope dan apa yang seharusnya masuk variasi/addendum.

      Saat proyek sudah berjalan, versi dokumen, persetujuan, dan catatan perubahan biasanya lebih rapi kalau alurnya ditopang software konstruksi khusus proyek yang bisa melacak revisi dan status dokumen.

      Komponen yang Wajib Ada di RKS Proyek

      rks adalahSupaya RKS tidak berhenti di dokumen yang lengkap, tiap komponen sebaiknya punya detail yang bisa dieksekusi.

      Cara paling cepat menilai kualitas RKS adalah mengecek apakah setiap bagian sudah menjawab apa yang dikerjakan, standar apa yang dipakai, dan bagaimana cara membuktikan hasilnya benar. Baca tabel checklist berikut untuk memastikan kelengkapan RKS Anda.

      Komponen Wajib dalam Dokumen RKS dan Cara Ceknya Cepat
      Komponen Isi Minimal yang Seharusnya Ada Cek Cepat (supaya tidak ambigu)
      Informasi umum Nama proyek, lokasi, pihak terkait, tujuan, ruang lingkup ringkas, serta referensi gambar/dokumen pendukung. Apakah scope ditulis jelas (termasuk yang tidak termasuk) dan ada rujukan dokumen lain yang konsisten?
      Spesifikasi material Jenis material, mutu/grade, standar (mis. SNI), toleransi, serta alur submittal dan approval material. Apakah tertulis grade/standar + toleransi + bukti uji yang dianggap sah?
      Metode pelaksanaan Urutan kerja, metode yang diizinkan, alat/tenaga minimal (jika perlu), serta titik kontrol pekerjaan. Apakah langkah kerja bisa dipakai tim lapangan dan titik inspeksinya jelas (kapan dicek, oleh siapa)?
      Jadwal pelaksanaan Timeline, milestone, dependensi kerja utama, serta aturan perubahan jadwal bila terjadi hambatan. Apakah milestone masuk akal dan ada ketentuan saat perlu percepatan atau terjadi keterlambatan?
      Ketentuan administratif Dokumen wajib, format laporan/BA, mekanisme korespondensi, termin pembayaran, aturan klaim & variasi, serta perizinan yang relevan. Apakah alur dokumen jelas: siapa membuat, siapa memeriksa, siapa menyetujui, dan batas waktunya?
      Quality control Standar mutu, metode inspeksi/pengujian, sampling vs full check, acceptance criteria, serta prosedur NCR/penanganan defect. Apakah acceptance criteria terukur dan ada prosedur jelas jika hasil tidak sesuai?
      Catatan cepat: Kalau satu komponen masih ‘umum’, biasanya interpretasi di lapangan gampang melebar. Pastikan ada angka, standar, dan bukti verifikasi yang bisa dicek.

      Di proyek yang sudah mulai detail, komponen RKS biasanya berjalan bareng dokumen kuantitas dan perhitungan biaya, jadi tim sering menyandingkannya dengan aplikasi RAB untuk bisnis konstruksi agar angka dan spesifikasi tetap satu suara

      Apa yang Jadi Lebih Mudah Kalau RKS Rapi?

      RKS yang rapi tak harus selalu tebal. Justru dokumen yang tertata, lengkap dengan informasi proyek yang Anda butuhkan, yang membuat pekerjaan lebih mudah. Jadi, apa saja yang lebih mudah dengan RKS yang tertata?

      1. Pembahasan tender lebih terarah

      RKS yang menuliskan spesifikasi, standar acuan, dan batas pekerjaan sejak awal membuat sesi klarifikasi fokus pada hal teknis yang benar-benar perlu dipastikan. Poin yang sering diperdebatkan seperti item yang termasuk/di luar lingkup, sudah seragam.

      2. Persetujuan material tidak berputar-putar

      Batas pekerjaan yang termasuk dan tidak termasuk bisa ditulis Saat RKS proyek menyebutkan parameter yang harus dipenuhi (mutu/grade, toleransi, standar uji, dan dokumen pendukung), proses submittal menjadi lebih jelas arahnya. Vendor tahu apa yang harus disiapkan, tim proyek tahu apa yang dinilai, dan revisi berulang biasanya berkurang.

      3. Inspeksi pekerjaan lebih konsisten

      Kalau titik inspeksi dan kriteria penerimaan ditulis tegas, pemeriksaan tidak perlu menunggu penilaian subjektif. Urutan pengecekan menjadi lebih rapi, karena semua pihak tahu kapan diperiksa, apa yang diukur, dan bagaimana hasilnya dinyatakan sesuai.

      4. Ketidaksesuaian lebih cepat ditangani

      Pekerjaan atau material yang tidak sesuai tetap bisa terjadi, tapi tindak lanjutnya tidak perlu melebar. RKS yang rapi umumnya sudah mengarahkan status barang/pekerjaan (misalnya hold/karantina/reject), alur pelaporan, dan bukti yang dibutuhkan sebelum keputusan diambil.

      5. Perubahan pekerjaan lebih mudah diputuskan

      Saat ada permintaan tambahan atau revisi, RKS membantu membedakan mana yang masih termasuk lingkup awal dan mana yang perlu addendum/variasi. Pembahasannya lebih singkat karena rujukannya jelas, bukan tarik-menarik definisi.

      6. Administrasi dan serah terima lebih lancar

      RKS yang menyebut project tracking, format laporan, deliverable per tahap, serta dokumen yang harus dilampirkan membuat proses berita acara dan verifikasi progres lebih tertib. Di tahap akhir, pengecekan juga lebih mudah karena standar mutu dan dokumen buktinya sudah disiapkan sejak awal.

      Struktur Isi RKS Proyek Konstruksi Indonesia

      fungsi rks proyek

      Secara praktik, RKS biasanya dibagi ke tiga kelompok besar: ketentuan umum, persyaratan administratif, dan persyaratan teknis.

      1. Ketentuan umum 

      Bagian ini menjelaskan hal-hal pokok yang menjadi acuan pelaksanaan proyek, antara lain:

      • ruang lingkup pekerjaan dan batasan pekerjaan kontraktor,
      • standar mutu yang digunakan,
      • ketentuan umum pelaksanaan di lapangan,
      • serta garis besar jadwal dan pengaturan waktu pelaksanaan.

      Output yang biasanya dicari dari bagian ini adalah batas ‘termasuk–tidak termasuk’ dan acuan standar, supaya pembahasan scope tidak berulang. Kalau ketentuan umum terlalu umum, yang muncul biasanya debat interpretasi saat pekerjaan sudah berjalan.

      2. Persyaratan administratif

      Syarat administrasi biasanya berisi ketentuan terkait dokumen dan kewajiban administratif, misalnya:

      • perizinan dan legalitas (izin bangunan, status lahan, dsb.),
      • bentuk dan tata cara penyerahan laporan, berita acara, dan korespondensi,
      • kewajiban asuransi dan jaminan (jaminan pelaksanaan, jaminan pemeliharaan, dsb.),
      • serta hak dan kewajiban para pihak dalam hal pembayaran dan klaim.

      Bagian ini biasanya jadi pegangan saat menyiapkan dokumen progres, penagihan, dan administrasi variasi. Kalau administrasinya tidak jelas, pekerjaan bisa jalan tapi dokumen tertinggal, lalu menumpuk di akhir.

      3. Syarat teknis

      Memuat gambar rencana yang disetujui, spesifikasi material dan metode kerja, ketentuan K3, serta pengujian/inspeksi dan quality control.

      Di sini yang paling penting adalah kriteria penerimaan dan cara verifikasinya, supaya keputusan mutu tidak bergantung pada opini. Kalau syarat teknis tidak tegas, rework dan NCR lebih mudah muncul, terutama di pekerjaan yang cepat tertutup.

      Karena RKS menyentuh mutu, waktu, biaya, dan pembuktian pekerjaan, pengelolaannya perlu rapi sejak awal agar perubahan dan penelusuran di lapangan tidak membuang waktu.

      Contoh RKS Proyek

      Berikut kami sajikan contoh RKS proyek sederhana yang bisa langsung Anda gunakan sebagai panduan.

      contoh rks proyekContoh RKS konstruksi di atas memuat rencana pembangunan mall modern di kota Jakarta. Dengan penjelasan deskriptif yang mendetail, RKS di atas akan menjembatani komunikasi antara vendor konstruksi Anda dengan klien.

      Hal yang Membuat RKS Proyek Sering Revisi

      Biasanya, dalam membuat RKS, Anda pasti harus berhadapan dengan revisi. Tapi, apakah Anda tahu apa saja hal-hal yang membuat RKS sering revisi?

      1. Kalimat masih ambigu

      Frasa seperti ‘sesuai kondisi lapangan’ atau ‘material setara’ ditulis tanpa batasan yang jelas. Akibatnya, reviewer sulit memastikan standar yang dipakai dan tim lapangan mudah berbeda tafsir.

      2. Standar acuan tidak spesifik

      RKS menulis ‘mengikuti standar yang berlaku’ tanpa menyebut standar apa yang dirujuk. Saat dicek, bagian ini biasanya diminta dilengkapi karena menjadi dasar inspeksi dan penerimaan hasil kerja.

      3. Kriteria penerimaan belum terukur

      Ada spesifikasi, tetapi tidak disertai acceptance criteria yang bisa diperiksa (misalnya toleransi, kelas mutu, metode pengukuran, atau parameter uji). Ini membuat keputusan QC terlihat tidak konsisten.

      4. Titik inspeksi dan metode uji tidak ditetapkan

      Quality control disebut, namun tidak menjelaskan kapan inspeksi dilakukan, item apa yang dicek, dan bukti yang harus dicatat. Tanpa ini, jejak verifikasi di lapangan cenderung lemah.

      5. Metode ukur volume dan dasar perhitungan progres tidak jelas

      Item pekerjaan ada, tetapi cara mengukurnya tidak tegas (per m², m³, titik, set, atau lumpsum). Di fase progres dan pembayaran, perbedaan interpretasi sering muncul dari sini.

      6. Rujukan tidak konsisten dengan gambar kerja atau BoQ

      Nama item, spesifikasi, atau lingkup pekerjaan di RKS berbeda dengan gambar/BoQ (bill of quantity). Reviewer umumnya meminta sinkronisasi karena dokumen yang tidak selaras akan menyulitkan tender dan pelaksanaan.

      7. Batas pekerjaan pendukung tidak disebutkan

      Hal-hal seperti proteksi area kerja, pekerjaan sementara, pembersihan, pembuangan material, atau uji coba sering tidak ditulis siapa penanggung jawabnya. Bagian ini perlu tegas agar tidak muncul perdebatan saat eksekusi.

      8. Deliverable administrasi tidak lengkap

      RKS meminta laporan atau berita acara, tetapi tidak menjelaskan format minimum, frekuensi, lampiran wajib, dan alur persetujuannya. Dampaknya, dokumen berjalan sendiri-sendiri dan sulit ditelusuri.

      Cara Cek RKS yang Sudah Jadi Dalam 10 Menit

      Jika perlu pemeriksaan cepat, fokus pada hal yang menentukan apakah RKS bisa dipakai, seperti di bawah ini.

      Checklist Cek RKS Dalam 10 Menit
      Tandai poin yang sudah beres. Fokus pada hal yang menentukan RKS siap dipakai.



      Catatan:
      Jika keenam poin ini sudah aman, RKS umumnya siap dipakai. Sisanya tinggal penyelarasan detail dengan gambar kerja dan BoQ.

      Kesimpulan

      RKS (Rencana Kerja dan Syarat-syarat) dipakai sebagai pegangan kerja supaya spesifikasi, metode, jadwal, dan aturan administrasi terbaca sama oleh semua pihak. Selama isinya konsisten dengan gambar kerja dan BoQ, RKS membantu mengurangi revisi, klaim, dan debat saat proyek sudah berjalan.

      Agar RKS benar-benar bisa dipakai di lapangan, fokusnya bukan menambah halaman, tetapi mengunci hal-hal yang bisa diperiksa. Kalau bagian-bagian ini rapi, proses tender sampai pengendalian mutu biasanya lebih tertib.

      Bila diperlukan, konsultasi singkat dengan tim yang terbiasa menangani dokumen proyek juga bisa membantu mengecek konsistensi RKS lebih cepat.

      HashConstructionSuite

      Pertanyaan Seputar RKS Proyek

      • Dokumen RKS itu apa?

        Dokumen RKS (Rencana Kerja dan Syarat) adalah panduan tertulis yang memuat spesifikasi teknis, jadwal, metode pelaksanaan, dan syarat administratif proyek konstruksi.

      • Apa itu PK dalam proyek?

        PK (Pemilik Kerja) adalah pihak yang memberikan mandat pelaksanaan proyek, seperti perusahaan atau individu yang membiayai dan mengawasi hasil proyek.

      • Apa itu SKT dalam proyek?

        SKT (Sertifikat Keterampilan) adalah dokumen resmi yang membuktikan keahlian tenaga kerja dalam bidang konstruksi tertentu sesuai standar nasional.

      • Berapa tahun sekali RKS dibuat?

        RKS dibuat setiap kali proyek baru direncanakan, tidak tergantung waktu tertentu, melainkan sesuai kebutuhan proyek tersebut.

      • Siapa yang menyusun RKS Proyek?

        RKS umumnya disusun oleh konsultan perencana atau tim teknis pemilik proyek, kemudian digunakan oleh kontraktor sebagai acuan pelaksanaan.

      Nabila Zulfa Damayanti

      Content Writer

      Nabila sudah menjadi spesialis yang berpengalaman selama lebih dari 2 tahun dalam bidang penulisan topik ERP. Dalam prosesnya, topik penulisan yang diangkat meliputi implementasi sistem ERP, integrasi proses bisnis, serta pemanfaatan ERP untuk meningkatkan efisiensi dan visibilitas operasional perusahaan.

      William adalah seorang praktisi dengan gelar Bachelor of Computer Science dari Nanyang Technological University Singapore, dengan keahlian mendalam terkait teknologi informasi dan pengembangan sistem. Pengalaman awal dalam bidang teknologi menumbuhkan ketertarikannya terhadap solusi enterprise yang dapat mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis. Selama sepuluh tahun terakhir, William mendalami dunia sistem Enterprise Resource Planning (ERP), yang memperkuat keahliannya dalam arsitektur sistem, implementasi solusi bisnis terintegrasi, serta optimalisasi proses operasional melalui teknologi.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya