Obsolete inventory sering jadi pembunuh diam-diam arus kas karena stok menumpuk tanpa nilai jual dan baru terlihat saat audit. Akibatnya, modal kerja tertahan dan kerugian sulit dihindari.
Dilema antara menambah stok untuk antisipasi permintaan dan risiko barang usang makin besar jika data gudang tidak akurat. Dengan Software Inventory HashMicro, Anda bisa memantau pergerakan stok dan mendeteksi item berisiko usang lebih cepat dalam satu sistem.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Obsolete Inventory?
Obsolete inventory adalah persediaan yang sudah melewati siklus hidupnya dan tidak lagi memiliki permintaan pasar, sehingga nilainya turun dan sering berujung pada write-off. Stok bisa menjadi “usang” bukan hanya karena rusak, tetapi juga karena tren berubah atau produk tergantikan versi baru.
Agar tidak salah langkah, bedakan obsolete dari overstock atau slow-moving lewat inventory aging dan pergerakan SKU.
Dengan HashMicro, umur stok dapat dipantau real-time melalui laporan aging dan alert otomatis, sementara pencatatan penurunan nilai dapat diselaraskan dengan PSAK 202 (eks PSAK 14) berbasis NRV.
Penyebab Utama Terjadinya Obsolete Inventory
Memahami akar masalah adalah langkah pertama yang krusial dalam mitigasi risiko kerugian stok di masa depan. Seringkali, perusahaan hanya fokus pada cara membuang stok usang tanpa memperbaiki proses hulu yang benar.
Berikut adalah detail faktor penyebab yang paling sering terjadi di berbagai industri modern.
1. Kesalahan dalam demand forecasting
Ketergantungan pada data manual atau intuisi semata sering kali menghasilkan prediksi permintaan yang meleset jauh dari realita pasar.
Hal ini memicu risiko over-purchasing, di mana barang dibeli dalam jumlah besar namun gagal terserap pasar sesuai ekspektasi waktu.
Penggunaan sistem yang canggih dengan fitur forecasting berbasis data historis sangat diperlukan untuk meminimalisir celah kesalahan ini.
2. Perubahan tren pasar dan siklus hidup produk
Faktor eksternal seperti perubahan selera konsumen atau rilis teknologi baru dapat membuat produk lama menjadi tidak relevan secara instan.
Industri seperti elektronik dan fashion adalah sektor yang paling rentan terhadap risiko keusangan produk yang sangat cepat ini.
Kelincahan atau agility dalam merespons sinyal pasar menjadi kunci agar perusahaan tidak terjebak menimbun barang yang sudah ketinggalan zaman.
3. Kurangnya visibilitas sistem manajemen gudang
Sistem inventaris yang terfragmentasi atau masih berbasis kertas sering menyebabkan ketidakakuratan data stok atau inventory discrepancy.
Ketidaktahuan manajer terhadap posisi stok tua di gudang sering kali menjadi alasan utama barang tersebut “terlupakan” di sudut gudang.
Akibatnya, barang baru terdeteksi saat sudah kadaluarsa atau rusak, sehingga kerugian tidak dapat dihindari lagi.
Dampak Negatif Obsolete Inventory bagi Bisnis
Obsolete inventory dapat menimbulkan kerugian langsung melalui write-off sekaligus memboroskan biaya gudang dan operasional, karena stok usang tetap memakan ruang yang seharusnya dipakai barang fast-moving. Berikut dampak negatif obsolete inventory:
1. Beban biaya penyimpanan (carrying costs)
Biaya penyimpanan atau carrying costs akan terus berjalan meskipun barang tersebut hanya diam berdebu di dalam gudang Anda. Komponen biaya ini meliputi sewa gudang, asuransi, listrik untuk pengondisian suhu, hingga gaji staf yang mengelola stok tersebut. Menyimpan barang usang pada dasarnya sama dengan membayar sewa mahal untuk penyewa yang tidak membayar uang sewa sama sekali.
2. Gangguan cash flow dan likuiditas perusahaan
Modal kerja yang terikat pada stok mati tidak dapat diputar kembali untuk investasi produktif atau biaya operasional harian. Kondisi ini secara langsung memukul likuiditas perusahaan, membuat bisnis sulit bernapas saat membutuhkan dana tunai cepat. Ketidakmampuan merespons peluang pasar baru karena dana yang “macet” di gudang adalah biaya peluang yang sangat mahal.
3. Penurunan margin keuntungan dan nilai aset
Keberadaan stok usang sering kali memaksa perusahaan melakukan diskon besar-besaran atau bahkan pemusnahan total aset. Tindakan ini secara langsung akan menggerus margin keuntungan bersih dalam laporan laba rugi periode berjalan. Selain itu, penurunan nilai aset persediaan juga akan memperburuk rasio keuangan perusahaan, yang bisa berdampak negatif pada penilaian kredit atau investasi.
Perlakuan Akuntansi untuk Obsolete Inventory (Jurnal & Write-Off)
Dalam akuntansi, persediaan usang (obsolete inventory) perlu dievaluasi sesuai PSAK 202 (eks PSAK 14) Persediaan, yaitu dinilai pada nilai terendah antara biaya perolehan dan Nilai Realisasi Bersih (NRV).
Jika barang masih dapat dijual, perusahaan melakukan write-down hingga NRV. Jika barang sudah tidak memiliki nilai ekonomis atau tidak dapat dijual, nilai tercatatnya dapat diturunkan hingga nol (praktiknya sering disebut write-off).
Pencatatan yang tepat penting untuk menjaga kewajaran laporan keuangan, mencegah aset overstated, dan memastikan dokumentasi yang kuat saat audit maupun pemeriksaan pajak.
1. Konsep write-down vs write-off dalam persediaan
Write-down dilakukan ketika barang masih bisa dijual namun dengan harga di bawah biaya perolehan, sehingga nilainya diturunkan ke harga pasar.
Sedangkan write-off dilakukan ketika barang benar-benar rusak, kadaluarsa, atau tidak laku sama sekali sehingga nilainya menjadi nol.
Prinsip ini mengacu pada metode Lower of Cost or Net Realizable Value (LCNRV) untuk memastikan aset tidak dicatat melebihi nilai yang dapat dipulihkan.
2. Contoh jurnal akuntansi untuk obsolete inventory
Untuk mencatat penghapusan stok, Anda perlu mendebit akun beban dan mengkredit akun persediaan atau cadangan penurunan nilai. Jurnal umumnya adalah: Debit: Beban Kerugian Penurunan Nilai Persediaan dan Kredit: Persediaan Barang Dagang. Pencatatan ini akan langsung mengurangi laba bersih pada periode berjalan, namun membersihkan neraca dari aset yang tidak produktif.
Strategi Efektif Mengatasi Obsolete Inventory
Mengatasi obsolete inventory membutuhkan strategi penjualan yang tepat dan keputusan cepat agar kerugian tidak terus membesar. Semakin lama ditunda, semakin tinggi biaya penyimpanan dan semakin kecil peluang recovery modal, sementara ruang gudang tetap terkunci.
Karena itu, prioritaskan langkah dari yang paling menguntungkan hingga opsi terakhir seperti pemusnahan, sesuai jenis produk, kondisi barang, dan peluang pasar yang tersisa. .Berikut adalah langkah-langkah taktis yang dapat segera Anda terapkan.
1. Strategi bundling dan diskon agresif
Salah satu cara efektif adalah mengemas produk usang dengan produk best-seller dalam satu paket bundling yang menarik.
Teknik ini memanfaatkan popularitas barang laku untuk mendorong keluarnya barang mati tanpa merusak persepsi harga produk utama. Selain itu, penerapan diskon agresif atau flash sale khusus cuci gudang juga bisa menjadi solusi cepat untuk menghasilkan uang tunai.
2. Remarketing atau repurposing produk
Pertimbangkan untuk memodifikasi atau memasarkan ulang produk ke segmen pasar yang berbeda, misalnya dari pasar ritel ke pasar B2B atau grosir.
Dalam industri tertentu seperti elektronik, komponen dari produk usang mungkin masih memiliki nilai jual tinggi jika dijual terpisah sebagai suku cadang. Kreativitas dalam melihat fungsi lain dari produk usang bisa menyelamatkan nilai aset Anda.
3. Likuidasi, donasi, atau pemusnahan (disposal)
Jika barang benar-benar tidak laku dijual, opsi likuidasi ke pihak ketiga atau donasi untuk kegiatan CSR bisa menjadi pilihan bijak. Donasi sering kali memberikan manfaat pajak tertentu dan membangun citra positif perusahaan di mata publik.
Namun jika barang berbahaya atau rusak total, pemusnahan sesuai regulasi lingkungan adalah jalan terakhir yang harus ditempuh demi kepatuhan hukum.
Cara Mencegah Obsolete Inventory dengan Teknologi
Mencegah terjadinya obsolete inventory jauh lebih baik dan murah daripada harus mengatasinya saat sudah menjadi masalah besar. Teknologi manajemen inventaris modern memegang peranan kunci dalam memberikan visibilitas dan kontrol penuh atas pergerakan stok Anda. Dengan sistem yang tepat, Anda bisa mendeteksi potensi stok mati jauh sebelum barang tersebut benar-benar kehilangan nilainya.
Di era digital tahun 2025 ini, mengandalkan spreadsheet manual untuk manajemen stok adalah risiko bisnis yang terlalu besar untuk diambil. Automasi proses dapat menghilangkan blind spot yang sering menyebabkan penumpukan barang yang tidak terdeteksi oleh manajemen. Berikut adalah bagaimana aplikasi stok barang untuk enterprise dapat membantu Anda.
1. Pemanfaatan fitur stock aging analysis
Laporan stock aging atau umur persediaan adalah fitur krusial yang membantu manajer mengidentifikasi barang yang sudah terlalu lama mengendap di gudang. Dengan rekomendasi inventory software untuk manajemen stok dari HashMicro, Anda bisa memantau durasi penyimpanan setiap SKU. Hal ini memungkinkan tim sales untuk segera membuat promo khusus bagi barang yang mendekati batas waktu usang.
2. Integrasi data penjualan dan pembelian
Integrasi antara modul penjualan dan pembelian dalam sistem ERP mencegah terjadinya overstocking akibat komunikasi yang buruk antar departemen. Data penjualan yang terhubung langsung memberikan sinyal kepada tim procurement untuk mengerem pembelian barang yang trennya sedang menurun. Keseimbangan ini menjaga level stok tetap optimal sesuai dengan permintaan pasar yang sebenarnya.
3. Otomatisasi notifikasi low stock dan expiry Date
Bagi industri yang memiliki barang dengan masa kadaluarsa seperti F&B atau farmasi, fitur pelacakan expiry date adalah penyelamat utama. Sistem modern dapat memberikan notifikasi otomatis jauh hari sebelum barang kadaluarsa kepada manajer gudang dan tim penjualan. Peringatan dini ini memberikan waktu yang cukup untuk menjual barang tersebut sebelum benar-benar harus dimusnahkan.
Sistem Early Warning untuk Mencegah Stok menjadi Usang
HashMicro menyediakan sistem ERP terintegrasi yang dirancang khusus untuk mengotomatisasi dan menyederhanakan proses bisnis, termasuk mitigasi risiko inventory usang, seperti yang diterapkan oleh Morin pada HashMicro.
Dengan solusi yang komprehensif, perusahaan dapat mengatasi tantangan seperti visibilitas stok yang buruk, kesalahan peramalan permintaan, dan kerugian akibat barang kadaluarsa yang sering tidak terdeteksi.
Melalui modul Inventory Management System yang canggih, HashMicro membantu bisnis memantau pergerakan stok secara real-time dan akurat.
Sistem HashMicro dirancang dengan integrasi penuh antar modul, sehingga data dari berbagai departemen seperti akuntansi, inventaris, pembelian, dan penjualan dapat saling terhubung.
Fitur Software Inventory HashMicro:
- Stock Aging Analysis: Memantau durasi penyimpanan setiap barang di gudang untuk mengidentifikasi stok yang bergerak lambat sebelum menjadi usang.
- Automated Forecasting: Memprediksi kebutuhan stok di masa depan berdasarkan tren data historis untuk mencegah pembelian berlebih (overstocking).
- Expiry Date Tracking: Melacak tanggal kadaluarsa produk secara otomatis dan memberikan notifikasi dini untuk prioritas penjualan (FEFO).
- Multi-Warehouse Management: Mengelola stok di banyak lokasi gudang secara terpusat untuk memudahkan rotasi barang antar cabang.
- Inventory Valuation Reports: Menyajikan laporan penilaian persediaan secara real-time untuk membantu keputusan write-off atau strategi diskon.
Dengan HashMicro, perusahaan Anda dapat meningkatkan efisiensi operasional, transparansi data stok, dan otomatisasi proses bisnis yang lebih baik. Untuk melihat bagaimana solusi kami dapat membantu bisnis Anda mencegah kerugian stok secara nyata, jangan ragu untuk mencoba demo gratisnya sekarang juga.
Kesimpulan
Obsolete inventory bisa menggerogoti keuangan karena menambah biaya penyimpanan, menahan arus kas, dan memicu kerugian dari barang yang tidak lagi bernilai jual. Jika tidak ditangani cepat, stok usang berubah dari aset menjadi beban.
Pencegahan paling efektif dimulai dari data stok yang akurat dan respons yang cepat terhadap perubahan permintaan. Dengan Software Inventory HashMicro, Anda bisa memantau pergerakan stok dan mengidentifikasi barang berisiko usang lebih dini dalam satu sistem.
Ingin mencegah stok usang dengan alert stock aging dan expiry? Lihat free trial alur monitoring dan clearance rule di sistem inventory HashMicro sekarang.
Pertanyaan Seputar Obsolete Inventory
-
Apakah Obsolete Inventory Bisa Dijual Kembali?
Ya, obsolete inventory masih bisa dijual kembali meskipun dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga normal. Strategi penjualan bisa melalui pasar likuidasi, penjualan ke pihak ketiga, atau sebagai barang scrap (rongsokan) untuk memulihkan sebagian nilai.
-
Apa Bedanya Write-Off Dan Write-Down Dalam Inventory?
Write-down dilakukan ketika nilai pasar barang turun di bawah biaya perolehan namun masih memiliki nilai jual, sehingga nilai aset dikurangi. Sedangkan write-off dilakukan ketika barang sudah tidak memiliki nilai jual sama sekali atau rusak total, sehingga nilainya dihapus sepenuhnya dari buku aset.
-
Bagaimana Cara Menghitung Rasio Obsolete Inventory?
Rasio obsolete inventory dapat dihitung dengan membagi total nilai persediaan usang dengan total nilai persediaan keseluruhan, lalu dikalikan 100%. Angka rasio yang semakin kecil menunjukkan manajemen inventaris yang semakin sehat dan efisien.
-
Apakah Obsolete Inventory Termasuk Aset Atau Beban?
Secara teknis, obsolete inventory awalnya tercatat sebagai aset persediaan di neraca. Namun, ketika diidentifikasi sebagai usang dan tidak bernilai, nilainya akan dipindahkan menjadi beban kerugian pada laporan laba rugi melalui proses write-off.









