Rata-rata, bisnis yang buruk dalam mengelola persediaan dapat kehilangan hingga 11% dari pendapatan tahunan mereka. Angka tersebut cukup besar untuk diabaikan begitu saja.
Bahkan secara global, distorsi inventaris akibat kelebihan stok, kekurangan stok, dan penyusutan diperkirakan merugikan bisnis hingga $1,6 triliun setiap tahunnya.Yang lebih mengejutkan, 43% bisnis kecil sama sekali tidak melacak persediaan mereka.
Di sinilah pentingnya memahami konsep average inventory. Dengan menghitung rata-rata persediaan secara berkala, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam mengelola stok.
Key Takeaways
Average inventory adalah metode perhitungan untuk mengestimasi jumlah persediaan dalam periode tertentu agar perusahaan bisa menjaga stok tetap seimbang.
Average inventory membantu menjaga arus kas karena perusahaan dapat menekan biaya penyimpanan dan mengurangi stok yang menumpuk terlalu lama.
Demand forecasting, stock opname, dan software inventory membantu perusahaan mengelola average inventory dengan lebih akurat dan efisien.
Daftar Isi:
Apa Itu Average Inventory?
Average inventory adalah metode perhitungan yang digunakan untuk mengestimasi jumlah suatu barang dalam rentang waktu tertentu. Perhitungan ini dilakukan dengan mencatat jumlah persediaan pada awal periode, lalu membandingkannya dengan jumlah persediaan di akhir periode.
Hasil perhitungan tersebut membantu perusahaan dalam menentukan jumlah stok yang ideal guna memenuhi permintaan pasar, sehingga kondisi understocking dapat dihindari. Di sisi lain, perhitungan ini juga berperan dalam mencegah pemborosan biaya penyimpanan akibat kelebihan stok atau overstocking.
Dengan demikian, melakukan perhitungan average inventory secara rutin dapat membantu perusahaan mengoptimalkan pengelolaan inventaris, terutama dalam hal efisiensi biaya, peningkatan penjualan, dan kepuasan pelanggan.
Tujuan Average Inventory
Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui penerapan strategi average inventory dalam supply chain management, antara lain:
1. Mendapatkan Wawasan yang Lebih Dalam
Penerapan average inventory bertujuan untuk memperluas pemahaman perusahaan terkait pengelolaan persediaan secara keseluruhan. Dengan metode ini, perusahaan dapat mengukur berbagai data penting lainnya, seperti inventory turnover ratio dan average inventory period.
2. Merencanakan Pengelolaan Persediaan di Masa Depan
Selain itu, average inventory juga bertujuan sebagai acuan strategis dalam menyusun rencana pengelolaan persediaan untuk periode mendatang. Berbekal data yang telah dihitung, perusahaan mampu mengidentifikasi kebutuhan pengadaan barang sesuai dengan permintaan pasar, sekaligus menjaga efisiensi biaya penyimpanan inventaris.
Rumus Menghitung Average Inventory
Untuk menghitung average inventory, hanya dibutuhkan dua data utama, yaitu jumlah persediaan pada awal periode dan jumlah persediaan pada akhir periode. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Average Inventory = (Persediaan Awal + Persediaan Akhir) / 2
Apabila perusahaan ingin membandingkan average inventory antar periode, misalnya selama tiga bulan dalam satu kuartal kerja, maka perhitungan cukup dilakukan per bulan, kemudian hasilnya dijumlahkan dan dibagi sesuai jumlah bulan yang diperhitungkan.
(Bulan 1 + Bulan 2 + Bulan 3) / 3
Contoh Perhitungan Average Inventory
Misalkan PT Maju Bersama adalah sebuah perusahaan distributor elektronik. Pada kuartal pertama tahun 2024, perusahaan mencatat data persediaan sebagai berikut:
| Periode | Persediaan Awal | Persediaan Akhir |
| Januari | 500 unit | 300 unit |
| Februari | 300 unit | 450 unit |
| Maret | 450 unit | 200 unit |
Langkah 1 — Hitung average inventory per bulan:
- Januari: (500 + 300) / 2 = 400 unit
- Februari: (300 + 450) / 2 = 375 unit
- Maret: (450 + 200) / 2 = 325 unit
Langkah 2 — Hitung average inventory per kuartal:
(400 + 375 + 325) / 3 = 366,7 unit
Artinya, rata-rata persediaan PT Maju Bersama selama kuartal pertama tahun 2024 adalah sekitar 366–367 unit. Data ini kemudian dapat dijadikan acuan dalam merencanakan kebutuhan pengadaan barang pada kuartal berikutnya agar pasokan tetap stabil dan biaya penyimpanan dapat dikendalikan.
Apa Hubungan Average Inventory dengan Cash Flow?
Pada dasarnya, jumlah rata-rata persediaan berbanding lurus dengan besaran biaya penyimpanan yang harus ditanggung perusahaan. Semakin banyak stok yang menumpuk, semakin tinggi pula pengeluaran yang timbul.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengukur seberapa lama stok bertahan di gudang sebelum akhirnya menghasilkan pendapatan.
Hal ini dapat dihitung menggunakan metode Days Inventory Outstanding (DIO), yang memberikan gambaran sejauh mana efektivitas manajemen persediaan suatu perusahaan.
Days Inventory Outstanding = (Average Inventory / Penjualan Bersih Tahunan) x 365
Semakin rendah nilai DIO yang diperoleh, semakin besar pula free cash flow yang tersedia bagi perusahaan, sehingga dana tersebut dapat dialokasikan untuk keperluan investasi maupun peningkatan produktivitas operasional.
Tantangan Mengelola Average Inventory
Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi akurasi perhitungan rata-rata persediaan di setiap periodenya, sehingga penerapannya tidak selalu mudah dilakukan.
1. Tren Pasar yang Fluktuatif
Hampir setiap bisnis memiliki periode tertentu di mana volume penjualan mengalami perubahan yang signifikan. Sebagai contoh, penjualan kue cenderung menurun selama bulan Ramadhan, namun melonjak drastis menjelang hari raya Lebaran.
Lonjakan penjualan semacam ini otomatis mendorong kebutuhan stok yang lebih tinggi, sehingga berpengaruh langsung terhadap hasil perhitungan average inventory pada periode tersebut.
2. Tidak Menggambarkan Keseluruhan Faktor
Perhitungan rata-rata persediaan memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi berbagai faktor eksternal yang turut memengaruhi jumlah stok.
Faktor-faktor tersebut umumnya mencakup dinamika yang terjadi di dalam industri, kondisi stabilitas ekonomi secara umum, hingga strategi yang diterapkan oleh para pesaing bisnis.
Cara Mengelola Average Inventory dengan Efektif
Terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan dalam pengelolaan inventaris, antara lain:
1. Menerapkan ABC Analysis
ABC analysis dalam pengelolaan inventaris berfungsi untuk menilai tingkat kepentingan masing-masing produk berdasarkan nilainya, kemudian menyusunnya secara berurutan dari yang paling prioritas hingga yang paling rendah sesuai kebutuhan bisnis.
2. Menerapkan Strategi Minimum Order Quantity (MOQ)
MOQ berperan dalam menetapkan batas minimum pesanan dari pelanggan. Strategi ini sangat berguna untuk mengoptimalkan efisiensi pesanan, terutama dari konsumen B2B yang membeli dalam jumlah kecil namun berpotensi menguras sumber daya perusahaan secara signifikan.
3. Meningkatkan Akurasi Demand Forecasting
Demand forecasting adalah pendekatan yang memanfaatkan data penjualan dari periode sebelumnya sebagai dasar prediksi tren permintaan di periode mendatang.
Dengan demikian, risiko understocking maupun overstocking yang dapat berdampak negatif pada pendapatan perusahaan dapat diminimalkan.
4. Melakukan Perhitungan Inventaris Secara Berkala
Salah satu strategi jangka panjang yang dapat dilakukan adalah dengan rutin melaksanakan stock opname. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga inventory accuracy, sekaligus mendeteksi adanya ketidaksesuaian data maupun potensi tindakan ilegal dalam pengelolaan stok.
5. Menunjang Pekerjaan dengan Software Inventory
Saat ini, semakin banyak perusahaan dari berbagai industri yang mulai mengadopsi software inventory guna memperlancar pengelolaan stok secara menyeluruh.
Kesimpulan
Average inventory merupakan metode perhitungan yang berperan penting dalam membantu perusahaan mengelola persediaan secara optimal, menjaga arus kas tetap sehat, serta merencanakan pengadaan barang dengan lebih akurat.
Namun, penerapannya tetap perlu didukung oleh strategi yang tepat, seperti demand forecasting, stock opname berkala, dan pemanfaatan software inventory, agar pengelolaan inventaris dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Pertanyaan Seputar Average Inventory
-
Apakah average inventory cocok digunakan untuk bisnis musiman?
Ya, tetapi perusahaan perlu membacanya bersama pola penjualan musiman agar hasilnya tidak disalahartikan. Jika permintaan berubah tajam pada periode tertentu, average inventory sebaiknya dibandingkan dengan data musiman, bukan dilihat sebagai angka rata-rata biasa.
-
Seberapa sering average inventory perlu dievaluasi?
Frekuensinya bergantung pada kecepatan pergerakan stok dan kompleksitas operasional bisnis. Perusahaan dengan rotasi barang tinggi biasanya perlu mengevaluasinya lebih rutin agar keputusan pembelian dan penyimpanan tidak tertinggal dari kondisi aktual.
-
Apakah average inventory bisa dipakai untuk menilai efisiensi tiap kategori produk?
Bisa, terutama jika perusahaan memisahkan perhitungan berdasarkan kategori, merek, atau jenis barang. Cara ini membantu tim melihat produk mana yang bergerak cepat, mana yang terlalu lama tertahan, dan mana yang perlu strategi stok berbeda.
-
Kapan average inventory sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan?
Average inventory tidak cukup jika perusahaan sedang menghadapi lonjakan permintaan, promosi besar, atau gangguan pasokan yang membuat stok berubah sangat cepat. Dalam kondisi seperti itu, bisnis perlu memadukannya dengan data penjualan, lead time, dan status stok real-time agar keputusan lebih akurat.






