Audit siklus persediaan sering dipandang sebagai proses pengecekan stok biasa, padahal hasilnya sangat memengaruhi akurasi laporan persediaan dan keputusan pembelian.
Ketika catatan stok tidak selaras dengan kondisi fisik, perusahaan bisa kehilangan penjualan karena stok kosong, atau justru menumpuk barang yang tidak bergerak dan menahan arus kas.
Di banyak perusahaan, selisih baru terlihat saat stock opname besar atau menjelang audit tahunan, ketika koreksi sudah menumpuk dan sulit ditelusuri. Audit siklus persediaan mendeteksinya lebih cepat lewat pengecekan berkala, sehingga perbaikan bisa dilakukan sebelum dampaknya melebar.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Memahami Audit Siklus Persediaan: Definisi & Tujuannya
Audit siklus persediaan adalah proses pemeriksaan yang auditor lakukan terhadap seluruh aktivitas yang terkait dengan persediaan dalam sebuah perusahaan. Audit ini bertujuan untuk memastikan keberadaan, keakuratan, dan pengendalian yang efektif terhadap persediaan yang dimiliki perusahaan.
Dalam audit siklus persediaan, auditor akan bekerja sama dengan berbagai departemen yang terkait, seperti departemen akuntansi, gudang, dan pengadaan.
Auditor akan menggunakan teknik audit yang tepat, seperti pengujian substantif, pengujian pengendalian, dan analisis data, untuk mendapatkan bukti yang cukup guna menilai keberadaan dan keakuratan persediaan.
Sebagai rujukan praktik, Standar Audit (SA) 501 menekankan bahwa auditor perlu memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat terkait eksistensi dan kondisi persediaan, termasuk melalui prosedur yang relevan terhadap penghitungan fisik persediaan serta penilaian atas proses pencatatan dan pengendalian hasil perhitungan tersebut.
Manfaat Audit Siklus Persediaan untuk Perusahaan
Fungsi utama dari adanya proses audit siklus persediaan ini yaitu untuk memastikan keakuratan persediaan yang tercatat dalam sistem akuntansi perusahaan.
Dengan memverifikasi ketersediaan persediaan secara fisik dan membandingkannya dengan catatan akuntansi, auditor dapat menjamin bahwa data persediaan yang tercatat adalah benar dan akurat.
Selain itu, audit siklus persediaan juga membantu dalam mengevaluasi efektivitas pengendalian internal yang terkait dengan persediaan. Auditor akan memeriksa apakah ada prosedur dan kebijakan yang memadai untuk mengendalikan persediaan, seperti pengawasan fisik, penghitungan rutin, dan pemisahan tugas.
Selanjutnya, audit siklus persediaan membantu dalam mengidentifikasi risiko dan kesalahan yang terkait dengan audit perusahaan. Auditor akan mengevaluasi risiko kekurangan persediaan, kerugian akibat kecacatan produk, atau ketidakakuratan dalam penghitungan persediaan.
Empat Aspek Akuntansi Biaya dalam Audit Siklus Persediaan
Dalam proses audit siklus persediaan, terdapat empat aspek utama yang berkaitan dengan akuntansi biaya yang perlu Anda perhatikan secara khusus.
Memahami dan mengaudit aspek-aspek ini perlu ketelitian yang tinggi untuk memastikan akurasi dan keandalan informasi biaya yang terkait dengan persediaan perusahaan. Berikut aspek-aspek yang terdapat dalam audit siklus persediaan.
1. Penentuan metode penilaian persediaan
Salah satu aspek penting dalam audit pergudangan atau audit siklus persediaan adalah penentuan metode penilaian persediaan. Metode penilaian persediaan adalah cara yang digunakan perusahaan untuk menentukan nilai persediaan yang ada. baik itu persediaan barang jadi maupun persediaan bahan baku.
Beberapa metode penilaian yang umum auditor gunakan adalah metode FIFO (First In, First Out), LIFO (Last In, First Out), dan metode rata-rata bergerak.
2. Verifikasi pengakuan biaya persediaan
Auditor bertanggung jawab untuk memastikan bahwa biaya persediaan yang tercatat oleh perusahaan mencerminkan pengeluaran yang sebenarnya yang terkait dengan akuisisi, produksi, dan penyimpanan persediaan.
Selain itu, pentingnya verifikasi pengakuan biaya persediaan terletak pada keabsahan dan keakuratan informasi biaya yang terkait dengan persediaan.
Selain itu, auditor juga akan memastikan bahwa biaya persediaan yang tercatat dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Hal ini berarti bahwa biaya persediaan harus diakui ketika mengirim atau mengguanakan persediaan tersebut dalam proses produksi, dan bukan pada saat membeli atau menerima persediaan.
3. Pemeriksaan konsistensi penggunaan metode dan penghitungan biaya
Pemeriksaan konsistensi penggunaan metode dan penghitungan biaya merupakan salah satu aspek penting dalam audit siklus persediaan.
Dalam pemeriksaan ini, auditor akan memastikan bahwa perusahaan telah menggunakan metode yang konsisten dalam menentukan biaya persediaan dan melakukan penghitungan biaya yang akurat.
Pemeriksaan konsistensi penggunaan metode dan penghitungan biaya penting karena dapat mempengaruhi nilai persediaan yang tercatat dalam laporan keuangan perusahaan. Jika metode dan penghitungan biaya tidak konsisten atau tidak akurat, maka nilai persediaan yang terlampir mungkin tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
4. Evaluasi pengendalian internal terkait akuntansi biaya persediaan
Dalam konteks akuntansi biaya persediaan, evaluasi pengendalian internal bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki prosedur dan kebijakan yang memadai untuk mengelola biaya persediaan dengan baik. Hal ini mencakup proses pengendalian yang meliputi penerimaan, penyimpanan, pengeluaran, dan pemindahtanganan persediaan.
Auditor akan melakukan evaluasi terhadap pengendalian internal yang ada untuk menilai efektivitas. Misalnya, auditor akan memeriksa apakah terdapat prosedur yang jelas dalam menerima persediaan baru.
Untuk mempermudah proses ini, penggunaan software akuntansi terpadu dapat menjadi solusi yang efektif dalam mencatat dan memantau pergerakan persediaan secara real-time, sehingga mengurangi risiko kesalahan dan kecurangan dalam pengelolaan persediaan.
Bagaimana Prosedur Analitis Audit Siklus Persediaan?
Prosedur analitis dalam audit siklus persediaan adalah metode yang digunakan oleh auditor untuk mengevaluasi kecukupan, keakuratan, dan integritas persediaan suatu perusahaan. Berikut merupakan prosedur analitis audit siklus persediaan yang dapat Anda pahami dalam pelaksanaannya!
1. Identifikasi data yang relevan
Auditor mengidentifikasi dan menggunakan data yang relevan dalam prosedur analitis. Selain itu, hal ini dapat mencakup data historis persediaan, data penjualan, data pembelian, data produksi, dan data lainnya yang berkaitan dengan persediaan.
2. Perumusan ekspektasi
Merumuskan ekspektasi mengenai angka-angka yang Auditor harapkan atau rasio-rasio yang dapat berguna sebagai indikator dalam prosedur analitis. Selain itu, ekspektasi ini berdasarkan pada data historis, tren industri, perbandingan dengan perusahaan sejenis, atau perkiraan berdasarkan informasi yang tersedia.
3. Pengumpulan data aktual dari proses audit siklus persediaan
Selain itu, auditor mengumpulkan data aktual mengenai persediaan perusahaan yang sedang diaudit. Data ini dapat meliputi jumlah persediaan, harga per unit, biaya produksi, penjualan, dan faktor-faktor lain yang relevan.
Pengumpulan data aktual dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai persediaan dan memperoleh informasi yang relevan dalam proses audit.
4. Analisis data dari proses audit siklus persediaan
Menganalisis data yang terkumpul dengan membandingkannya dengan ekspektasi yang telah dirumuskan sebelumnya. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan yang signifikan antara angka aktual dengan ekspektasi, yang dapat menunjukkan adanya potensi risiko atau masalah dalam persediaan.
5. Investigasi dan penjelasan
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara data aktual dan ekspektasi, auditor melakukan investigasi lebih lanjut untuk memahami penyebab perbedaan tersebut. Auditor dapat melakukan pertanyaan, wawancara dengan pihak terkait, atau pemeriksaan lebih lanjut terhadap dokumen dan rekaman yang berkaitan.
6. Evaluasi hasil
Kemudian auditor mengevaluasi hasil analisis data dan investigasi yang Auditor lakukan. Jika menemukan perbedaan yang signifikan dan tidak dapat perusahaan jelaskan, auditor akan melakukan tindakan lanjutan, seperti memperdalam pemeriksaan atau mengambil langkah-langkah tambahan untuk memperoleh kepastian yang cukup.
Checklist Audit Persediaan yang Komprehensif
Audit persediaan akan jauh lebih efektif jika tim punya acuan yang sama sejak persiapan sampai tindak lanjut. Tanpa checklist, prosesnya mudah melompat-lompat ada data yang terlewat, cut-off yang tidak konsisten, atau temuan yang tidak ditutup dengan aksi perbaikan.
Berikut Checklist Audit Persediaan yang Komprehensif untuk membantu perusahaan menyiapkan audit dengan lebih rapi, menjalankan pengecekan secara konsisten, dan memastikan setiap temuan ditindaklanjuti dengan jelas.
Contoh Temuan Audit Persediaan dan Cara Menanganinya
Bagian ini merangkum temuan yang paling sering muncul saat audit persediaan, lengkap dengan indikasi awal, akar masalah, dan langkah penanganan yang bisa langsung diterapkan. Fokusnya bukan hanya menutup selisih, tetapi memastikan penyebabnya tidak berulang di periode berikutnya.
Temuan 1: Selisih fisik vs sistem (Overstated inventory)
Dalam audit persediaan, salah satu temuan yang paling sering muncul adalah stok di sistem tercatat lebih tinggi dibanding kondisi fisik di gudang. Situasi ini biasanya terlihat saat cycle count atau stock opname, terutama pada SKU yang pergerakannya cepat atau lokasinya padat aktivitas.
Cara menanganinya:
- Lakukan recount terarah pada SKU dan lokasi yang sama untuk memastikan selisihnya valid.
- Terapkan freeze sementara untuk SKU/lokasi terkait agar tidak ada pergerakan selama investigasi.
- Telusuri transaksi kunci (penerimaan, transfer, retur, issue) dan cocokkan dengan bukti dokumen.
- Jika selisih terkonfirmasi, lakukan stock adjustment dengan alasan yang terdokumentasi dan approval yang jelas.
Temuan 2: Slow-moving atau obsolete inventory
Temuan berikutnya adalah persediaan yang bergerak lambat atau sudah tidak relevan dengan kebutuhan bisnis, sehingga menumpuk terlalu lama di gudang.
Dalam laporan audit, ini biasanya terlihat dari nilai persediaan yang besar tetapi tidak berkontribusi pada penjualan/produksi, atau dari item yang sudah mendekati kedaluwarsa, berubah spesifikasi, atau tidak lagi dipasarkan.
Cara menanganinya:
- Buat aging analysis (misalnya 0–90, 91–180, 181–365, >365 hari) untuk menentukan prioritas tindakan.
- Tentukan opsi penanganan: transfer antar lokasi, clearance/bundling, return to vendor, atau write-off sesuai kebijakan perusahaan.
- Review ulang parameter persediaan (min-max, reorder point, lead time) agar pembelian berikutnya tidak mengulang pola yang sama.
- Dokumentasikan keputusan bisnisnya (alasan, persetujuan, dan bukti pendukung) agar proses audit berikutnya lebih jelas.
Temuan 3: Kelemahan pengendalian internal (Weakness in internal control)
Audit juga sering menemukan kelemahan kontrol internal di proses persediaan, misalnya akses gudang dan sistem yang terlalu longgar, atau perubahan data yang tidak memiliki jejak persetujuan. Dampaknya bukan hanya selisih stok, tetapi juga sulitnya menelusuri sumber masalah karena tidak ada pemisahan tugas dan audit trail yang rapi.
Cara menanganinya:
- Terapkan pemisahan tugas minimal antara penerimaan barang, pencatatan, dan persetujuan penyesuaian stok.
- Batasi akses sistem dengan role-based access dan aktifkan approval untuk adjustment, retur, atau perubahan master data.
- Wajibkan bukti pendukung untuk transaksi kritikal (dokumen transfer, bukti retur, foto label/receiving bila perlu).
- Buat kontrol sederhana berbasis laporan: daftar transaksi adjustment terbanyak, retur tidak wajar, atau perubahan master data yang sering.
Kesimpulan
Audit siklus persediaan membantu perusahaan meninjau aktivitas persediaan secara berkala, mulai dari pencatatan hingga pergerakan barang di gudang. Dengan proses yang terstruktur, perusahaan lebih mudah menjaga akurasi data dan memastikan pengelolaan stok berjalan sesuai prosedur.
Selain itu, audit ini bermanfaat untuk memperkuat kepatuhan, mendeteksi potensi kecurangan atau kebocoran, dan mempercepat penelusuran penyebab selisih. Hasilnya, keputusan pembelian dan perencanaan stok bisa dibuat dengan dasar data yang lebih dapat dipercaya.
Jika perusahaan ingin proses audit dan kontrol persediaan berjalan lebih konsisten, pendekatan berbasis sistem dapat membantu melalui pencatatan terpusat, jejak aktivitas yang jelas, dan laporan yang mudah ditelusuri. Untuk memetakan kebutuhan dan opsi yang paling sesuai, Anda dapat memulai dengan konsultasi gratis.
Pertanyaan Seputar Audit Siklus Persediaan
-
Bukti audit meliputi apa saja?
Bentuk bukti audit dapat berupa tulisan, seperti dokumen elektronik dalam format data digital ataupun dokumen fisik kertas. Selain itu, bukti audit juga bisa dalam bentuk tidak tertulis, seperti pengakuan atas hal tertentu atau konfirmasi seseorang atas suatu hal.
-
Mengapa diperlukan audit persediaan?
Mengaudit persediaan penting karena memungkinkan Anda untuk melacak stok yang Anda miliki. Hal ini dapat membantu Anda memesan persediaan baru atau menjadwalkan pengiriman sebelumnya. Anda juga dapat menggunakan audit inventaris untuk menilai kerusakan inventaris Anda atau menemukan sumber kerugian.
-
Kesulitan auditor dalam mengaudit siklus persediaan dan pergudangan antara lain:
a.Merupakan komponen aktiva lancar yang jumlahnya cukup material di neraca. b.Besarnya nilai persediaan langsung mempengaruhi kos barang yang dijual. c.Verifikasi kuantitas,kondisi ,dan nilai persediaan merupakan tugas yang sangat kompleks. d.fisiknya. e.Berbagai macam persediaan menimbulkan kesulitan bagi auditor untuk mengaudit. f.Terdapat beberapa metode penilaian persediaan.









