Return on Investment atau biasa disingkat ROI adalah metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan yang diterima perusahaan dari investasi pada barang atau strategi bisnis tertentu. Jika Anda menghitung ROI dan persentase yang didapat semakin tinggi, berarti profit yang didapat semakin baik.
Dalam hal ini, pabrik makanan memerlukan perhitungan ROI yang tepat guna karena bisnis makanan sangat bergantung pada tren dan angka permintaan yang di mana potensi keuntungannya bisa beragam. Perhitungan Return on Investment yang akurat mencegah profit yang didapat kurang dari modal yang dikeluarkan. Pada pabrik makanan, peran ROI di sini meminimalisir kerugian dari penjualan makanan yang salah tren.
Riset IDC melalui Aptean pada tahun 2022 mencatat bahwa produsen makanan & minuman pengguna cloud ERP untuk menghitung ROI meningkatkan profit sebesar 6.3%, yang di mana semakin tepat perhitungan ROI maka akan semakin baik bagi perkembangan untung perusahaan.
Key Takeaways
Return on Investment adalah angka tingkat pengembalian modal dalam bentuk persen untuk mengukur potensi balik modal dari investasi yang dilakukan perusahaan. Investasinya bisa dalam bentuk mesin produksi maupun kebijakan strategis.
Dengan menghitung ROI, profitabilitas dapat dihitung secara objektif karena memiliki dasar angka yang jelas, yang membantu dalam pengambilan keputusan investasi untuk bisnis industri makanan Anda.
Lama balik modal tidak bisa ditentukan menggunakan patokan yang ada karena kembali lagi pada kompleksitas bisnis dan proses produksi makanan Anda.
Daftar Isi:
Apa Itu Return on Investment dalam Bisnis Makanan dan Contohnya?
Return on Investment atau tingkat pengembalian investasi merupakan rasio yang mengukur seberapa besar untung sebuah investasi, baik itu bentuk aset maupun keputusan strategis, dibandingkan biaya awal atau modal yang dikeluarkan untuk memperolehnya. ROI berbeda dengan keuntungan. Jika keuntungan adalah penghasilan yang didapat perusahaan, maka ROI adalah melihat apakah investasi bisa balik modal atau payback.
Dalam konteks pabrik makanan, angka ROI digunakan untuk melihat apakah kira-kira strategi penjualan makanan dimulai dari pengadaan stok sampai ke tahap penjualan yang menguntungkan dan hanya sedikit produk yang dibuang karena kedaluwarsa. Semakin tinggi angka tingkat kembalinya investasi, berarti investasi pada produk makanan yang dituju semakin baik. Cara menghitung ROI ialah dengan menggunakan rumus berikut:
Jika dilihat dari konteks manufaktur produk pangan, Anda bisa lihat contoh berikut:
Sebuah pabrik roti membeli software seharga Rp100 juta. Dalam setahun, software membantu menghemat biaya operasional sebesar Rp150 juta dari berkurangnya bahan baku yang terbuang.
Perhitungan ROI sebagai berikut:
ROI= (Rp150.000.000 ÷ Rp100.000.000) × 100%
ROI= 150%
Jadi, perhitungan di atas memiliki arti setiap Rp1 diinvestasikan ke software dan setiap Rp1.5 kembali sebagai keuntungan dalam setahun.
Pentingnya Perhitungan Return on Investment dalam Perusahaan
Angka pengembalian investasi menjadi dasar bagi keputusan produksi makanan yang penting bagi pabrik atau industri makanan Anda. Selain itu, penghitungan ROI dalam manufaktur makanan memiliki beberapa manfaat berikut yang bisa Anda pelajari:
- Menjadi alat ukur profitabilitas yang objektif: Return on Investment mengubah perkiraan profitabilitas investasi yang tadinya hanya didasarkan asumsi menjadi lebih objektif dengan hasil angka yang dihitung berdasarkan komponen bisnis manufaktur makanan. Ini membantu perusahaan mempertimbangkan investasi pada strategi atau mesin apa yang paling efektif untuk keuntungan perusahaan.
- Sebagai dasar keputusan pengambilan strategi manufaktur: Angka ROI yang didapat berdasar penghitungan komponen industri makanan membantu dalam pengambilan keputusan manufaktur bahan makanan agar produk yang dibuat dapat menghasilkan keuntungan yang baik.
- Berguna untuk mengukur kinerja divisi manufaktur: Jika angka ROI yang didapat rendah, berarti kemungkinan ada yang kurang dari kinerja divisi manufaktur Anda. Ini dapat dijadikan dasar untuk merombak dan memperbarui Key Performance Indicator produksi atau cara kerja karyawan Anda agar meningkatkan ROI dan keuntungan ke depannya.
- Untuk mengalokasikan anggaran dengan lebih akurat: Dengan ROI, perusahaan tahu anggaran sebaiknya dialokasikan ke mana yang krusial dan bermanfaat bagi perkembangan manufaktur.
- Sebagai risk management untuk menghadapi situasi penjualan yang tidak menentu: Menghitung Return on Investment sebelum berinvestasi pada suatu aset membantu perusahaan mencegah potensi risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari, apalagi di industri makanan yang sifatnya fluktuatif atau mengikuti tren.
Baca Juga: Asset Risk Management untuk Perlindungan Aset Jangka Panjang
Kekurangan ROI bagi Bisnis
Meski menjadi alat bantu yang krusial dalam pengambilan keputusan bisnis, ROI juga memiliki kelemahan pada penerapannya, antara lain:
- Kurang transparan dengan faktor waktu: Tingkat pengembalian investasi hanya bisa memperkirakan besaran keuntungan, tetapi tidak bisa memprediksi lama waktu yang diperlukan untuk mencapai besaran profit tersebut. Contohnya, angka ROI 50% yang meskipun terdengar bagus, tapi secara realistis tidak diketahui berapa lama yang dibutuhkan hingga angka ROI mencapai 50%, apakah 3 hari atau 3 tahun?
- Tidak ada metode penghitungan yang baku: Hasil ROI sangat bergantung pada komponen apa saja yang dimasukkan dalam hitungannya. Anggap saja satu pabrik hanya menghitung biaya implementasi software untuk manfaat operasional, sedangkan produsen makanan lainnya juga memasukkan biaya pelatihan karyawan sehingga menyebabkan perhitungan ROI sangat bervariasi dan sulit menentukan mana ROI yang “benar” dan “buruk”, semua kembali pada keputusan bisnis Anda.
- Tidak spesifik dalam menjabarkan risiko: ROI hanya memfokuskan pada penerimaan balik modal melalui besaran keuntungan yang didapat dari setiap penjualan produk makanan. Tingkat risiko tidak bisa dijabarkan oleh besaran angka Return on Investment sehingga Anda perlu mempertimbangkan mengintegrasikan penghitungan kembali investasi dengan risk management yang baik agar keduanya bisa berjalan bersamaan untuk memastikan pengambilan investasi yang lebih berguna.
- Manfaat tak berwujud susah diukur: Manfaat tak berwujud tidak bisa di-scale oleh angka ROI karena hanya berfokus pada persenan tingkat keuntungan. Contohnya seperti jika penerapan strategi perawatan seperti breakdown maintenance atau preventive maintenance, ROI hanya bisa memberikan gambaran keuntungan yang didapat akibat dari lama downtime untuk perbaikan, tetapi tidak mendeskripsikan penurunan kinerja pekerja akibat downtime ini.
Memahami kelemahan-kelemahan ROI di atas membantu Anda dalam mempertimbangkan apa saja yang perlu dipikirkan agar operasional pabrik bisa selaras dengan manajemen risiko dan potensi keuntungan untuk mencapai angka ROI yang ditargetkan.
Berapa Lama Balik Modal di Industri Makanan?
Balik modal atau payback period adalah jumlah waktu yang diperlukan agar investasi suatu strategi/barang menghasilkan arus kas bersih untuk menutup besar modal yang dikeluarkan di awal dan ini belum termasuk keuntungan penjualan. Payback ini tidak bisa ditentukan lama baliknya karena sangat bergantung pada keadaan bisnis makanan Anda.
Menurut riset dari Financial Models Lab, payback period usaha makanan menengah membutuhkan waktu sekitar 28 bulan atau 2.3 tahun, sedangkan untuk industri yang besar dengan investasi alat berat yang mahal membutuhkan waktu sampai 4-5 tahun. Besaran ini tidak dapat dijadikan patokan langsung bagi bisnis Anda karena setiap bisnis makanan memiliki kompleksitas dan tantangan yang berbeda juga yang dapat memengaruhi ROI.
Agar lebih tepat perhitungannya, Anda dapat menggunakan rumus payback period di bawah ini:
Contoh pabrik makanan:
Biaya investasi software: Rp200.000.000
Penghematan per tahun (susut bahan baku turun + lembur staf berkurang): Rp100.000.000
Payback Period= Rp200.000.000 ÷ Rp100.000.000 = 2 tahun
Jika arus kas pabrik Anda tidak seragam, Anda bisa menggunakan rumus berikut:
Sebuah pabrik makanan berinvestasi pada software seharga Rp250 juta. Penghematan biaya operasionalnya: Rp80 juta di tahun pertama, Rp90 juta di tahun kedua, dan Rp100 juta di tahun ketiga.
Sampai akhir tahun kedua, total penghematan baru Rp170 juta dan belum menutup modal. Di tahun ketiga, penghematan Rp100 juta membuat sisa modal Rp80 juta tertutup setelah 0.8 tahun.
Payback Period= 2 + (Rp80.000.000 ÷ Rp100.000.000) = 2,8 tahun (≈ 2 tahun 9 bulan)
Artinya, modal investasi software industri makanan ini balik dalam waktu sekitar 2 tahun 9 bulan.
Selanjutnya, Anda dapat mempelajari faktor apa saja yang memengaruhi tingkat Return on Investment dan kaitan dengan lamanya balik modal.
Komponen ROI pada Konteks Pabrik Makanan
Berikut Anda dapat pahami apa saja yang memengaruhi Return on Investment pada pabrik usaha makanan:
- Pengurangan susut dan limbah bahan baku makanan: Hal-hal seperti forecasting barang yang tidak akurat dapat memengaruhi tingkat penyusutan produk makanan dan juga limbah yang semakin menumpuk. Produk makanan dapat membusuk jika terlalu lama mengendap di gudang dan ini akan memperkecil tingkat penerimaan ROI Anda. Maka, pastikanlah untuk selalu melakukan peramalan permintaan produk dengan tepat.
- Manajemen kedaluwarsa: Pemantauan stok rutin dan pengecekan expiry date membantu dalam menjaga perputaran inventory yang sehat karena jika produk makanan tidak terjual dan kedaluwarsa, ini akan menurunkan tingkat ROI Anda karena investasi pada aset (dalam hal ini produk makanan) tidak berhasil diuangkan atau menarik pelanggan lebih banyak lagi.
- Akurasi inventaris: Akurasi dalam forecasting yang efektif bisa memangkas pemborosan yang dapat menurunkan penerimaan pengembalian investasi. Anda bisa terapkan metode FEFO (First-Expired, First-Out) dalam pengelolaan inventory gudang Anda untuk memastikan tidak ada barang yang tidak terjual karena sudah masuk masa expired.
- Efisiensi tenaga kerja dan downtime: Hambatan seperti tenaga kerja yang kurang efisien dalam bekerja dan mesin pabrik yang sering downtime dapat mengurangi output produksi makanan yang berdampak negatif pada profitabilitas yang didapat dan berefek buruk pada penerimaan ROI secara bertahap. Pastikan Anda dan tim manajemen perusahaan memiliki KPI yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan agar staf manufaktur Anda mengerti target yang harus dicapai dalam produksi. Investasi pada mesin pabrik yang berkualitas dan reasonable secara biaya pembelian dan maintenance karena juga berdampak pada tingkat ROI yang diterima di depan.
- Konsistensi mutu makanan: Ini juga perlu menjadi perhatian karena jika mutu produk makanan Anda konsisten, maka customer akan puas dengan kualitas produk yang diberikan oleh perusahaan Anda. Ini juga berarti tidak ada produk makanan yang perlu dibuang karena menyimpang dari kualitas yang dicek oleh tim QC (Quality Control).
- Kepatuhan pada regulasi yang ada: Di Indonesia, kualitas dan kesehatan bahan pangan diatur ketat oleh BPOM atau Badan Pengawas Obat dan Makanan. PerKa BPOM No. 22 Tahun 2017 menegaskan bahwa product recall dapat dilakukan jika produk ditemukan membahayakan atau mengganggu kesehatan. Maka itu, jika sewaktu-waktu produk Anda terkena recall karena tidak memenuhi syarat ini, potensi keluarnya modal akan jadi lebih banyak dan ini buruk bagi penerimaan Return on Investment tiap produk yang Anda jual.
- Tingkat perputaran aktiva operasi: Asset turnover mengukur seberapa efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya. Hal ini dapat dilihat dari operational asset perusahaan seperti kas, mesin produksi tergantung jenis makanan, dan bangunan pabrik akan menentukan hasil akhir Return on Investment.
- Margin profit: Margin profit adalah rasio antara laba bersih dengan penjualan bersih, yang di mana besarannya akan memengaruhi tingkat ROI. Profit margin memiliki komponen-komponen seperti harga bahan baku, seberapa efisien proses produksi, dan risiko downtime, yang dapat menurunkan kecepatan dan kualitas produksi yang bisa berdampak pada ROI.
Faktor-faktor di atas penting untuk diperhatikan karena berperan dalam perhitungan angka ROI.
Fitur yang Dapat Memaksimalkan Return on Investment
Terdapat beberapa fitur yang bisa bermanfaat untuk memaksimalkan metode Return on Investment dalam sistem Enterprise Resource Planning (ERP) untuk pabrik makanan dan minuman, berikut adalah beberapa fitur tersebut:
| Fitur ERP | Manfaat untuk ROI |
|---|---|
| Business Intelligence (BI) | Meningkatkan analisis data, membuat skenario “what if”, serta membantu deteksi penyebab masalah untuk perkiraan ROI lebih akurat. |
| Advanced Workflow | Menyederhanakan proses kerja dengan otomatisasi, mengurangi manual work, dan meningkatkan efisiensi tim. |
| Forecasting | Membuat prediksi berbasis data penjualan & inventaris untuk menghindari pemborosan maupun kekurangan stok. |
| Production Planning | Menyeimbangkan bahan baku & permintaan, mencegah overstock/kekurangan, serta meningkatkan efisiensi produksi. |
| Expiration Management | Melacak kedaluwarsa bahan, memberi peringatan proaktif agar barang diprioritaskan sebelum rusak. |
| Trade Management | Memberi fleksibilitas harga dengan algoritma optimalisasi perjanjian untuk meningkatkan pendapatan & ROI. |
| Advanced Pricing | Mendukung multi-level pricing, diskon fleksibel, dan strategi harga khusus untuk industri makanan & minuman. |
Berikut ini pembahasan lebih lanjut fitur ERP terhadap ROI:
1. Business Intelligence (BI)
Fitur ini berfungsi untuk meningkatkan kemampuan pengumpulan dan analisis data. Sehingga memungkinkan Anda membuat model skenario “bagaimana jika” untuk mengamati perubahan dalam variabel tertentu yang dapat mempengaruhi hasil Anda.
Fitur ini membuat perkiraan Return on Investment menjadi lebih baik dan membantu mendeteksi penyebab masalah yang terjadi.
2. Advanced Workflow
Fitur ini dapat menyederhanakan proses pekerjaan Anda yang rumit. Selain itu juga meningkatkan efisiensi dengan mengotomatiskan perkembangan tugas. Bahkan fitur ini menghilangkan kebutuhan proses bekerja secara manual, seperti memberikan pengingat saat tiba waktunya bagi tim berikutnya untuk mengambil alih.
3. Forecasting
ROI akan terjadi dengan fitur ini yang memungkinkan Anda membuat perkiraan dengan cepat berdasarkan data riwayat penjualan dan tingkat inventaris saat ini. Selain itu juga membantu Anda untuk menghindari pemborosan sumber daya dan kekurangan persediaan.
4. Production Planning
Fitur production planning pada ERP (Enterprise Resources Planning) membantu perusahaan pabrik makanan menyeimbangkan pasokan bahan baku dengan permintaan secara lebih akurat. Sistem ini memungkinkan pemesanan persediaan dilakukan tepat waktu, sekaligus memastikan kebutuhan produksi terpenuhi tanpa risiko overstock atau kekurangan bahan.
Selain itu, fungsi perencanaan produksi mendukung penyesuaian cepat terhadap perubahan pesanan, sehingga bisnis tetap responsif menghadapi dinamika pasar. Dengan pengelolaan terintegrasi dari sistem ERP, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperoleh Return on Investment (ROI) yang lebih optimal.
“Saya melihat fitur production planning pada ERP sangat efektif dalam mengurangi pemborosan biaya dan memastikan setiap investasi dalam produksi memberikan hasil yang maksimal.”
— Jennifer Santoso, Head of Finance and Accounting
5. Expiration Management
Mengingat banyak bahan jadi dalam industri makanan yang mudah rusak, fitur ini bermanfaat untuk melacak kedaluwarsa item dalam inventory Anda. Aplikasi manajemen kedaluwarsa juga dapat mengeluarkan peringatan proaktif saat barang mendekati akhir jendela kelayakannya sehingga dapat diprioritaskan untuk digunakan sebelum rusak.
6. Trade Management
Software makanan dan minuman dibuat untuk menghitung konfigurasi optimal dari perjanjian Anda, dan membuat Return on Investment yang nyata bagi pendapatan Anda.
7. Advanced Pricing
Fitur ini memungkinkan Anda melampaui skenario penetapan harga standar dan mengakomodasi nuansa tertentu yang unik untuk industri makanan. Ini memungkinkan penetapan harga beberapa tingkatan yang mencakup kelompok pelanggan yang berbeda, dan memungkinkan fleksibilitas yang besar dalam metode diskon.
Kesimpulan
ROI yang baik tercapai jika kebijakan produksi makanan di pabrik Anda memiliki KPI yang jelas dan efisien dalam menentukan alur kerja produksi, target banyak produksi dan kualitasnya, serta karyawan yang bekerja dengan efektif. Hal-hal tersebut secara tidak langsung akan memengaruhi tingkat pengembalian modal karena menyangkut pada besaran keuntungan pada investasi.
Jangan hanya pikirkan angka persenan pengembalian modal saja, tetapi Anda juga perlu memikirkan faktor-faktor yang tidak dapat di-scale ROI seperti manajemen risiko dan forecast tren barang untuk menjamin tingkat pengembalian investasi yang lebih akurat dan sesuai target yang dituju bisnis manufaktur makanan Anda.
FAQ Seputar ROI Pabrik Makanan
-
Apakah ROI 40% itu bagus di bisnis makanan?
Ya, ROI sebesar 40% tergolong sangat baik bagi bisnis makanan, karena biasanya ROI dengan angka ini tercapai jika susut bahan baku turun, produk kedaluwarsa berkurang, dan juga penghematan operasional benar-benar terjadi karena karyawan dapat mengimplementasikan perangkat kerja, contohnya software, yang dapat menghemat operasional.
-
Apakah alokasi aset 70/30 lebih baik dari prinsip 60/40?
Tidak ada satupun prinsip yang mutlak lebih baik karena dalam penghitungan ROI tiap perusahaan akan berbeda-beda hasilnya karena kembali lagi ke profil risiko dan jangka waktu yang diharapkan untuk kembalinya ROI. Prinsip 60/40 baik bagi bisnis yang sudah berkembang karena untuk mempertahankan aset yang sudah stabil (misal 60% biaya untuk ekspansi bisnis dan 40% biaya untuk menjaga perawatan mesin pabrik). Metode 70/30 berguna bagi bisnis baru yang ingin berkembang (misalnya 70% alokasi anggaran untuk ekspansi usaha dan 30% untuk maintenance aset).
-
Apa beda ROI dengan ROE (Return on Equity)?
ROI digunakan untuk mengukur timbal balik dari investasi yang dilakukan perusahaan, misalnya investasi pada software ERP (Enterprise Resources Planning) yang berdampak pada berkurangnya barang yang terbuang, sedangkan ROE mengukur timbal balik hasil dari ekuitas pemegang saham. Sederhananya, ROI digunakan untuk menilai kelayakan suatu investasi dan ROE berfungsi untuk menilai performa suatu perusahaan.
-
Apa saja faktor yang menentukan ROI software di industri makanan?
Faktor-faktor yang menentukan ROI software pada industri makanan meliputi TCO (Total Cost of Ownership), kesesuaian fitur yang dibutuhkan oleh industri, tingkat adopsi karyawan, serta skala penghematan operasional industri makanan.





