Tahukah Anda berapa banyak karyawan yang saat ini diam-diam mencari pekerjaan lain tetapi tetap bekerja seperti biasa? Sebagian besar HR baru mengetahui jawabannya ketika surat pengunduran diri sudah diajukan.
Padahal, eNPS adalah metode sederhana yang dapat membantu perusahaan mengukur loyalitas karyawan sekaligus mendeteksi potensi turnover lebih awal.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari apa itu eNPS, cara menghitungnya, benchmark skor eNPS yang baik serta langkah yang dapat dilakukan HR untuk memanfaatkan hasil survei guna meningkatkan retensi dan keterlibatan karyawan.
Key Takeaways Kirim survei eNPS otomatis ke seluruh karyawan, hasil terkumpul real-time tanpa rekap manual. Pantau tren skor eNPS per tim dan departemen untuk pengambilan keputusan HR berbasis data. Identifikasi akar masalah ketidakpuasan lebih awal sebelum berujung pada turnover yang mahal.
Daftar Isi:
Apa itu eNPS?
Employee Net Promoter Score (eNPS) adalah metode survei yang digunakan perusahaan untuk mengukur tingkat loyalitas dan kepuasan karyawan terhadap tempat mereka bekerja. Berbeda dengan survei engagement yang umumnya terdiri dari banyak pertanyaan eNPS hanya menggunakan satu pertanyaan inti sehingga lebih sederhana, cepat, dan mudah dianalisis.
Konsep eNPS diadaptasi dari Net Promoter Score (NPS) yaitu metode yang dikembangkan oleh Fred Reichheld pada tahun 2003 untuk mengukur loyalitas pelanggan terhadap suatu merek atau perusahaan.
Seiring waktu, pendekatan tersebut diterapkan dalam dunia Human Resources (HR) untuk membantu perusahaan memahami bagaimana persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja dan seberapa besar kemungkinan mereka bertahan di perusahaan.
Manfaat eNPS bagi HR dan Perusahaan
eNPS tidak hanya berfungsi untuk mengukur tingkat loyalitas karyawan, tetapi juga membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola sumber daya manusia. Berikut beberapa manfaat eNPS yang dapat dirasakan perusahaan:
1. Deteksi dini risiko turnover
Skor eNPS dapat menjadi indikator awal adanya potensi turnover. Jika banyak karyawan memberikan penilaian rendah atau menunjukkan ketidakpuasan, perusahaan memiliki kesempatan untuk mencari penyebabnya dan melakukan perbaikan sebelum mereka memutuskan mengundurkan diri.
2. Menjadi dasar pengambilan keputusan HR yang lebih objektif
Keputusan terkait pengelolaan karyawan sebaiknya tidak hanya mengandalkan intuisi atau penilaian atasan. Data eNPS memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai pengalaman dan kepuasan karyawan sehingga kebijakan HR dapat disusun berdasarkan data yang terukur.
3. Memantau perkembangan kepuasan karyawan dari waktu ke waktu
Dengan melakukan survei eNPS secara berkala perusahaan dapat membandingkan hasil dari satu periode ke periode berikutnya. Cara ini membantu HR mengetahui apakah tingkat loyalitas karyawan meningkat, menurun atau tetap stabil setelah diterapkannya kebijakan tertentu.
4. Mengidentifikasi divisi yang membutuhkan perhatian
Hasil eNPS dapat dianalisis berdasarkan departemen atau tim. Jika suatu divisi memiliki skor yang jauh lebih rendah dibandingkan divisi lain, perusahaan dapat melakukan evaluasi lebih lanjut untuk menemukan penyebabnya dan menentukan langkah perbaikan yang tepat.
5. Mengevaluasi efektivitas program HR
Perusahaan dapat menggunakan eNPS untuk menilai dampak berbagai inisiatif HR seperti peningkatan benefit maupun perubahan kebijakan kerja. Perubahan skor dari waktu ke waktu dapat menjadi indikator apakah program tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi karyawan.
6. Meningkatkan employer branding
Karyawan yang puas cenderung lebih bersedia merekomendasikan perusahaan sebagai tempat bekerja kepada orang lain. Rekomendasi tersebut dapat memperkuat employer branding secara alami sehingga membantu perusahaan menarik kandidat berkualitas sekaligus membangun citra positif di pasar tenaga kerja.
Cara Menghitung Skor eNPS
Menghitung Employee Net Promoter Score (eNPS) cukup sederhana. Setelah seluruh karyawan mengisi survei langkah berikutnya adalah mengelompokkan jawaban ke dalam tiga kategor yaitu Promoters, Passives, dan Detractors.
Dari hasil tersebut, perusahaan dapat menghitung skor eNPS untuk mengetahui tingkat loyalitas karyawan. Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:
eNPS = % Promotor − % Detraktor
| Detraktor = skor 0–6 | Pasif = skor 7–8 | Promotor = skor 9–10 |
Simulasi 1:
- 60 karyawan nilai 9-10 (Promotor) = 60%
- 25 karyawan nilai 7-8 (Pasif) = 25%
- 15 karyawan nilai 0-6 (Detraktor) = 15%
- eNPS = 60% – 15% = +45 (Baik)
Simulasi 2:
• 30 Promotor (30%), 30 Pasif (30%), 40 Detraktor (40%)
• eNPS = 30% – 40% = –10 (Perlu tindakan segera)
Panduan HR: Cara Melaksanakan Survei eNPS yang Benar
Survei eNPS tidak hanya sekedar memberikan satu pertanyaan kepada karyawan. Agar hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi perusahaan, HR perlu memastikan proses survei dilakukan secara terstruktur, anonim, dan konsisten. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
1. Tentukan tujuan survei
Sebelum survei dimulai tentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai. Misalnya untuk mengukur loyalitas karyawan, mengevaluasi dampak kebijakan baru, atau mengetahui penyebab meningkatnya turnover. Tujuan yang jelas akan memudahkan HR dalam menganalisis hasil dan menentukan langkah perbaikan.
2. Gunakan pertanyaan eNPS yang standar
Gunakan pertanyaan utama yang telah menjadi standar eNPS, yaitu:
“Seberapa besar kemungkinan Anda merekomendasikan perusahaan ini sebagai tempat bekerja kepada teman atau keluarga?”
Karyawan diminta memberikan nilai dari 0 hingga 10. Agar memperoleh wawasan yang lebih mendalam, tambahkan satu pertanyaan lanjutan seperti, “Apa alasan Anda memberikan nilai tersebut?”
3. Jaga kerahasiaan jawaban karyawan
Karyawan akan lebih jujur ketika merasa identitas mereka aman. Oleh karena itu, pastikan survei dilakukan secara anonim dan jelaskan bahwa hasilnya hanya digunakan sebagai bahan evaluasi perusahaan bukan untuk menilai individu.
4. Tentukan waktu survei secara konsisten
Lakukan survei secara berkala misalnya setiap kuartal atau setiap enam bulan. Jadwal yang konsisten membantu perusahaan membandingkan hasil dari waktu ke waktu dan melihat perubahan tingkat kepuasan karyawan.
5. Analisis hasil berdasarkan divisi atau kelompok
Selain menghitung skor eNPS secara keseluruhan analisis juga hasil berdasarkan departemen, lokasi kerja, atau masa kerja karyawan. Pendekatan ini membantu HR menemukan area yang membutuhkan perhatian lebih spesifik.
5 Kesalahan Umum HR Saat Merespons Hasil eNPS
Hasil eNPS akan lebih bermanfaat jika diikuti dengan langkah yang tepat. Namun, masih banyak perusahaan yang melakukan kesalahan dalam mengelola hasil survei sehingga potensi perbaikannya tidak maksimal. Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
- Tidak melakukan tindak lanjut setelah survei: Jika tidak ada tindakan nyata setelah survei, karyawan dapat menganggap proses tersebut hanya sebagai formalitas dan enggan memberikan masukan pada survei berikutnya.
- Bersikap defensif terhadap skor rendah: Skor yang rendah sebaiknya dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem kerja, bukan mencari pihak yang harus disalahkan.
- Hanya fokus pada Detractors dan mengabaikan Passives: Karyawan dalam kategori Passives memiliki potensi besar untuk menjadi Promoters jika perusahaan berhasil meningkatkan pengalaman kerja mereka.
- Tidak menganalisis hasil per departemen: Skor rata-rata perusahaan belum tentu mencerminkan kondisi setiap divisi. Analisis per departemen membantu HR menemukan area yang membutuhkan perhatian lebih.
- Tidak melakukan survei secara konsisten: eNPS akan lebih bermakna jika diukur secara berkala, sehingga perusahaan dapat memantau tren kepuasan karyawan dan mengevaluasi efektivitas kebijakan yang diterapkan.
Solusi HRIS untuk Survei eNPS yang Efisien dan Otomatis
Melaksanakan survei eNPS secara manual seringkali memerlukan waktu yang tidak sedikit, mulai dari membagikan kuesioner, mengumpulkan respons, hingga menghitung skor dan menyusun laporan. Seiring bertambahnya jumlah karyawan, proses tersebut juga menjadi lebih rumit dan beresiko menimbulkan kesalahan.
Untuk mengatasinya, perusahaan dapat menggunakan HRIS yang telah dilengkapi fitur survei karyawan. Dengan sistem ini, HR dapat mengirim survei secara otomatis, mengumpulkan respons dalam satu platform, menghitung skor eNPS secara instan, serta memantau hasilnya melalui dashboard yang mudah dipahami.
Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah Software HRIS HashMicro. Sistem ini membantu perusahaan mengelola survei karyawan secara lebih efisien, sekaligus menyimpan seluruh data dalam satu sistem yang terintegrasi.
Kesimpulan
eNPS merupakan metode yang sederhana namun efektif untuk mengukur loyalitas dan kepuasan karyawan. Melalui satu pertanyaan utama, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai pengalaman kerja karyawan, mendeteksi potensi turnover lebih dini, serta mengevaluasi efektivitas berbagai program HR berdasarkan data yang objektif.
Agar hasilnya memberikan dampak nyata, survei eNPS perlu dilakukan secara konsisten, dianalisis dengan tepat, dan ditindaklanjuti melalui kebijakan yang relevan. Proses tersebut akan lebih mudah jika didukung oleh sistem yang mampu mengotomatiskan pengelolaan survei dan pelaporan.
Jika Anda ingin menjalankan survei eNPS secara lebih efisien sekaligus mengelola data karyawan dalam satu platform Software HRIS dapat menjadi solusi yang tepat. Jadwalkan demo gratis sekarang dan lihat bagaimana sistem ini membantu HR mengambil keputusan terbaik.
Pertanyaan Seputar eNPS
-
Berapa nilai eNPS yang baik?
Jika di atas 0 sudah positif, 10–30 tergolong baik, 30–50 sangat baik, dan di atas 50 dikategorikan excellent.
-
Apa perbedaan eNPS dan NPS?
NPS (Net Promoter Score) mengukur kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan perusahaan. eNPS mengukur loyalitas karyawan terhadap perusahaan sebagai tempat kerja. Metodenya sama, targetnya berbeda: NPS untuk pelanggan eksternal, eNPS untuk karyawan internal.
-
Seberapa sering perusahaan harus mengukur eNPS?
Idealnya setiap 3–6 bulan sekali. Pengukuran terlalu sering berisiko menimbulkan survey fatigue, sementara terlalu jarang membuat data kehilangan relevansinya. Banyak tim HR memilih siklus kuartalan agar bisa memantau dampak program secara berkala dan responsif.






