Pemilik proyek membutuhkan performance bond atau jaminan pelaksanaan untuk memastikan eksekusi proyek berjalan lancar.
Jaminan ini penting untuk dipahami jika hendak membangun suatu proyek untuk menjamin pelaksanaan eksekusi proyek oleh kontraktor supaya lebih bertanggung jawab serta memastikan penggantian kerugian yang ditimbulkan dari terlambatnya selesai proyek.
Artikel ini akan membahas detail mengenai performance bond dimulai dari pihak yang terlibat hingga langkah-langkah tepat mengimplementasikannya.
Key Takeaways
Performance bond melindungi pemilik proyek dari risiko kegagalan kontraktor dengan fungsinya dalam menekan kerugian saat kontraktor terlambat atau tidak mampu menyelesaikan proyek sesuai kontrak.
Peran Principal, Obligee, dan Surety membuat tanggung jawab tiap pihak lebih jelas yang dapat mendorong kontraktor lebih disiplin dalam progres proyek.
Jaminan pelaksanaan juga menjadi alat seleksi untuk menilai apakah kontraktor dapat menjalankan proyek sesuai dengan tenggat dan kualitas yang diminta.
Daftar Isi:
Apa yang Dimaksud dengan Performance Bond?
Performance bond adalah jaminan dari pihak ketiga seperti bank atau perusahaan asuransi, untuk memastikan kontraktor menyelesaikan proyek sesuai isi kontrak. Di Indonesia, istilah ini lebih dikenal sebagai jaminan pelaksanaan.
Jika kontraktor gagal memenuhi kewajibannya, jaminan pelaksanaan akan melindungi hak finansial pemilik proyek yang bisa disebabkan oleh keterlambatan penyelesaian proyek oleh kontraktor hingga ekonomi kontraktor yang membuat pembangunan terhambat.
Sebuah studi dari SFAA mencatat bahwa mayoritas pemilik proyek publik menilai surety bond membantu menekan harga kontraktor dengan rata-rata penghematan 3,2%. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi proyek yang memakan biaya miliaran sampai triliunan supaya dana tidak membengkak lagi.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Performance Bond?
Mekanisme jaminan pelaksanaan melibatkan tiga pihak yang saling terikat secara hukum, yaitu principal, obligee, dan surety.
Di bawah ini merupakan peranan, hak, serta kewajiban masing-masing pihak yang Anda dapat pahami:
1. Principal
Principal adalah kontraktor atau vendor yang meminta penerbitan jaminan pelaksanaan setelah memenangkan tender. Tugas utamanya adalah menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak seperti volume pekerjaan sampai spesifikasi teknis yang diperlukan bangunan.
Selain itu, principal juga membayar biaya penerbitan jaminan kepada penjamin untuk memastikan proyek Anda selesai sesuai kontrak. Jika terjadi klaim yang sah, principal tetap bertanggung jawab mengganti dana pemilik proyek berupa bayaran yang sudah dibayarkan penjamin kepada pemilik proyek.
2. Obligee
Obligee adalah pemilik proyek atau pihak penerima jaminan, baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Pihak ini berhak mengajukan klaim jika kontraktor gagal memenuhi kewajibannya sesuai kontrak.
Selama masa pelaksanaan proyek, obligee memegang dokumen jaminan sebagai bentuk perlindungan sampai pekerjaan selesai atau serah terima awal. Dokumen ini juga berfungsi untuk melakukan klaim kerugian semisal principal gagal memenuhi kewajibannya.
3. Surety atau guarantor
Surety atau guarantor adalah pihak penjamin, biasanya bank atau perusahaan asuransi. Sebelum menerbitkan jaminan, mereka akan menilai kondisi dan risiko kontraktor terlebih dahulu.
Jika kontraktor wanprestasi dan pemilik proyek mengajukan klaim, penjamin akan memeriksa validitas klaim sebelum membayarkannya ke obligee. Peran utama surety adalah memberi asuransi bahwa proyek akan mendapat perlindungan finansial jika ada kerugian.
Fungsi Utama dari Performance Bond
Jaminan pelaksanaan yang tertulis jelas memastikan proyek Anda akan terhindar dari risiko penelantaran oleh kontraktor.
Berikut pembahasan mengenai fungsi dan tujuan utama dari performance bond:
- Menekan risiko finansial bagi pemilik proyek: Memberi perlindungan finansial saat kontraktor gagal menyelesaikan proyek. Semisal jika kontraktor pailit atau tidak mampu memenuhi kewajiban jaminan kontrak, kerugian dana pemilik proyek dapat ditanggung.
- Menjadi filter awal untuk memilih kontraktor yang tepat: Berfungsi sebagai tanda awal apakah kontraktor layak dipercaya. Sebelum menerbitkan jaminan, perusahaan penjaminan akan menilai kondisi keuangan dan rekam jejak kontraktor untuk memastikan kontraktor tidak berisiko untuk dipakai jasanya.
- Menjaga kontraktor agar tetap disiplin dalam menyelesaikan proyek: Mendorong kontraktor bekerja lebih disiplin karena kontraktor memahami bahwa kegagalan proyek tidak hanya berdampak pada hubungan dengan pemilik proyek, tetapi juga dapat memicu klaim dan merusak reputasi mereka di mata lembaga penjamin.
- Mendukung kelangsungan proyek, termasuk proyek pemerintah: Proyek pemerinta tidak boleh sampai terganggu atau mangkrak karena dampaknya bisa sampai ke masyarakat, yang tertunda untuk mendapat manfaatnya. Karena itu, pemerintah Indonesia sangat menetapkan kontrol anggaran dan kualitas megaproyek nasional.
Sudah banyak megaproyek yang dilakukan pemerintah mengandalkan performance bond dalam pelaksanaannya. Melalui catatan keuangan WIKA, megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh mengimplementasikan jaminan pelaksanaan di antara bank garansi milik WIKA yaitu Serpan dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Fungsi-fungsi di atas dapat dijadikan pegangan saat memilih kontraktor yang cocok untuk spesialisasi proyek Anda. Berikutnya, Anda dapat memahami secara urut cara mengajukan performance bond bagi kontraktor.
Cara Mengajukan Performance Bond Bagi Kontraktor
Kontraktor perlu memahami langkah mengajukan performance bond yang tepat karena jika jaminan tidak disetujui oleh pihak obligee dan surety, keberhasilan tender kontraktor bisa saja dibatalkan.
Di bawah ini merupakan langkah yang perlu diperhatikan kontraktor agar penerbitan jaminan berjalan lancar:
- Evaluasi kontrak dan kebutuhan jaminan terlebih dulu: Dimulai setelah kontraktor menerima SPPBJ (Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa). Di tahap ini, kontraktor perlu memeriksa klausul jaminan dalam kontrak, termasuk nilai jaminan, mata uang, masa berlaku, dan jenis lembaga penjamin yang diperbolehkan.
- Pilih lembaga penjamin yang sesuai kebutuhan proyek: Setelah itu, kontraktor menentukan apakah akan memakai bank guarantee atau surety bond. Bank guarantee sering dipilih untuk proyek besar karena dinilai lebih kuat dari sisi likuiditas. Namun, opsi ini sering membutuhkan agunan atau pembatasan dana perusahaan.Sementara itu, surety bond umumnya lebih ringan bagi arus kas karena dalam pelaksanaannya tidak selalu berupa jaminan penuh.Penting untuk diingat bagi Anda bahwa tidak ada pilihan yang terbaik karena semua menyesuaikan pada kemampuan finansial kontraktor dan syarat dari pemilik proyek.
- Jalani proses penilaian risiko proyek: Setelah pengajuan masuk, bank atau perusahaan penjaminan akan menilai profil kontraktor melalui proses underwriting. Penilaian ini digunakan untuk melihat reputasi perusahaan, kemampuan teknis, sampai risiko proyek yang akan dikerjakan.Dari sini, lembaga penjamin menilai apakah kontraktor layak menerima jaminan pelaksanaan.
- Bayar biaya serta selesaikan dokumen jaminan: Kontraktor membayar biaya penerbitan jaminan atau dari sudut pandang bank disebut sebagai biaya provisi, sedangkan pada perusahaan asuransi dikenal sebagai premi.Setelah itu, kontraktor menandatangani dokumen pendukung, termasuk perjanjian ganti rugi, lalu jaminan pelaksanaan diterbitkan dalam hardcopy atau softcopy.
- Terakhir, serahkan jaminan dan lakukan verifikasi dokumen: Kontraktor menyerahkan dokumen jaminan kepada pemilik proyek. Setelah menerima dokumen, pemilik proyek biasanya akan memeriksa keasliannya lewat surat konfirmasi atau portal resmi lembaga penjamin untuk mencegah risiko pemalsuan.
Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan, kontraktor sudah dapat memulai pembangunan proyek.
Kesimpulan
Jaminan pelaksanaan merupakan instrumen penting dalam proyek konstruksi karena memberi perlindungan bagi pemilik proyek jika kontraktor gagal menjalankan kewajibannya.
Jaminan ini memastikan proyek yang sudah dibangun akan diselesaikan dengan tepat waktu dan juga kualitasnya sesuai yang diminta.
Meskipun proyek sudah dijamin dengan jaminan pelaksanaan ini, penting bagi Anda untuk tetap aktif menjaga komunikasi ketiga pihak dengan baik karena akan ada saja kendala proyek yang dapat terjadi.
FAQ Seputar Performance Bond
-
Apa yang dimaksud dengan performance bond?
Performance bond atau jaminan pelaksanaan adalah jaminan dari pihak bank atau asuransi untuk memastikan kontraktor menyelesaikan proyek dengan bertanggung jawab sesuai yang tertulis di kontrak. Misalnya, jika kontraktor gagal memenuhi kewajibannya, jaminan pelaksanaan berfungsi sebagai perlindungan finansial bagi pemilik proyek.
-
Berapa persen yang diperlukan untuk biaya jaminan pelaksanaan performance bond?
Penetapan jaminan pelaksanaan oleh pemerintah Indonesia diambil sebanyak 5% dari nilai kontrak atau 5% juga dari HPS atau pagu anggaran jika penawaran tender di bawah 80%.
-
Apa beda surety bond dengan bank garansi?
Surety bond diterbitkan oleh perusahaan penjaminan atau asuransi dan instrumen ini biasanya lebih ringan untuk kontraktor karena tidak selalu membutuhkan blokir dana penuh atau agunan besar, sedangkan bank garansi diterbitkan oleh bank. Umumnya, instrumen ini dinilai lebih kuat oleh pemilik proyek tetapi lebih ketat karena bank bisa menetapkan agunan yang besar.







