CNBC Awards

Memahami Metode FIFO dalam Akuntansi & Stok

Diterbitkan:

Pernahkah Anda merasa bingung mengapa stok lama menumpuk di gudang sementara barang baru habis terjual lebih dulu? Masalah ini sering terjadi dan berdampak langsung pada arus kas serta potensi kerugian akibat barang kedaluwarsa. Tanpa strategi aliran barang yang jelas, risiko pembengkakan biaya operasional akan semakin sulit dihindari.

Dalam dunia manajemen persediaan dan akuntansi, metode FIFO (First-In, First-Out) hadir sebagai solusi standar untuk menjaga kualitas aset dan akurasi laporan laba rugi. Saya akan mengajak Anda memahami konsep ini secara mendalam, mulai dari mekanisme teknis hingga simulasi perhitungannya agar bisnis Anda dapat berjalan lebih efisien.

Key Takeaways

  • Metode FIFO adalah metode manajemen persediaan di mana barang yang pertama kali masuk ke gudang akan menjadi barang yang pertama kali dijual atau digunakan untuk menghindari penurunan nilai atau kerusakan fisik.
  • Mekanisme dan cara kerja FIFO memiliki penerapan yang berbeda di manajemen gudang dan laporan keuangan.
  • Selain FIFO, terdapat metode LIFO (Last-In, First-Out) dan Average yang memiliki karakteristik serta dampak yang berbeda-beda.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu FIFO (First-In, First-Out)?

      FIFO adalah metode manajemen persediaan di mana barang yang pertama masuk akan menjadi yang pertama dijual atau digunakan. Pendekatan ini mengikuti alur fisik barang secara alami dan membantu mencegah penurunan kualitas atau kerusakan pada stok lama.

      Dalam akuntansi, FIFO mencatat biaya persediaan tertua sebagai Harga Pokok Penjualan (HPP) terlebih dahulu. Dampaknya, nilai persediaan akhir di neraca mencerminkan harga yang lebih baru, sehingga membantu menjaga akurasi laporan keuangan.

      Penerapan metode ini sangat krusial dalam menjaga akurasi pengelolaan persediaan barang dagang agar laporan keuangan tetap valid.

      Mekanisme dan Cara Kerja Metode FIFO

      Memahami mekanisme FIFO tidak hanya soal teori, tetapi bagaimana alur ini diterapkan secara disiplin dalam operasional harian. Proses ini melibatkan sinkronisasi antara tim gudang yang menangani fisik barang dan tim keuangan yang mencatat nilainya. Berikut adalah penjabaran penerapannya dalam dua aspek utama bisnis.

      1. Penerapan dalam Manajemen Gudang (Logistik)

      Dalam logistik, stok lama ditempatkan di posisi paling mudah dijangkau agar dipakai lebih dulu. Cara ini menjaga rotasi persediaan tetap lancar serta mencegah barang menumpuk hingga rusak atau usang, sehingga kerugian akibat dead stock bisa ditekan.

      2. Penerapan dalam Laporan Keuangan (Akuntansi)

      Secara akuntansi, saat terjadi penjualan, biaya dari unit yang paling awal dibeli akan diakui sebagai beban. Walau barang yang keluar bisa saja diambil secara acak, aliran biayanya tetap mengikuti urutan pembelian, yang berdampak langsung pada perhitungan HPP di laporan laba rugi.

      Simulasi dan Cara Menghitung FIFO dengan Contoh Kasus

      Agar Anda mendapatkan gambaran yang lebih konkret, mari kita lihat simulasi perhitungan sederhana menggunakan metode FIFO. Bayangkan sebuah toko elektronik yang menjual laptop dengan data transaksi sebagai berikut:

      • Persediaan Awal: 10 unit @ Rp5.000.000
      • Pembelian 1: 15 unit @ Rp5.200.000
      • Pembelian 2: 20 unit @ Rp5.500.000
      • Penjualan: 30 unit

      Berdasarkan prinsip FIFO, 30 unit yang terjual akan mengambil biaya dari stok terlama terlebih dahulu. Urutan perhitungannya adalah menghabiskan 10 unit persediaan awal, kemudian 15 unit dari pembelian pertama, dan sisanya 5 unit dari pembelian kedua. Berikut adalah detail perhitungan HPP-nya:

      • 10 unit x Rp5.000.000 = Rp50.000.000
      • 15 unit x Rp5.200.000 = Rp78.000.000
      • 5 unit x Rp5.500.000 = Rp27.500.000
      • Total HPP: Rp155.500.000

      Setelah penjualan tersebut, sisa persediaan akhir di gudang adalah 15 unit yang berasal dari pembelian kedua (seharga Rp5.500.000 per unit). Nilai total persediaan akhir yang akan tercatat di neraca adalah Rp82.500.000. Perhitungan manual seperti ini bisa sangat rumit jika volume transaksi mencapai ribuan per hari.

      Perbedaan Utama FIFO, LIFO, dan Average

      Selain FIFO, terdapat metode LIFO (Last-In, First-Out) dan Average yang memiliki karakteristik serta dampak berbeda terhadap laporan keuangan. Pemilihan metode ini harus disesuaikan dengan regulasi pajak dan strategi bisnis yang dijalankan.

      1. Metode FIFO (First-In, First-Out)

      Metode ini menghasilkan nilai persediaan akhir yang tinggi karena dinilai berdasarkan harga pembelian terbaru yang biasanya lebih mahal saat inflasi. Konsekuensinya, laba kotor perusahaan akan terlihat lebih besar dibandingkan metode lain. Metode ini adalah yang paling disarankan oleh standar akuntansi global (IFRS) dan regulasi perpajakan di Indonesia.

      2. Metode LIFO (Last-In, First-Out)

      LIFO mengasumsikan barang terakhir masuk adalah yang pertama keluar, sehingga HPP dihitung dari harga terbaru. Saat inflasi, metode ini dapat menekan laba kotor dan beban pajak, tetapi sering tidak diizinkan dalam pelaporan pajak karena dianggap tidak mencerminkan aliran stok yang wajar.

      3. Metode Average (Rata-Rata)

      Metode average menghitung biaya rata-rata dari seluruh persediaan yang tersedia untuk dijual. Cara ini membantu menstabilkan laba dan nilai persediaan karena tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga, serta banyak dipilih karena perhitungannya lebih sederhana.

      Banyak perusahaan menggunakan metode rata-rata tertimbang ini karena kesederhanaannya dalam perhitungan harian.

      Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Metode FIFO

      FIFO memang populer, namun bukan berarti tanpa celah yang bisa memengaruhi strategi finansial perusahaan. Berikut adalah analisis objektif mengenai keuntungan dan tantangan penerapannya.

      1. Keuntungan bagi Bisnis

      FIFO membuat nilai persediaan di neraca lebih relevan dengan harga pasar terkini. Metode ini juga membantu mengurangi risiko barang usang atau kedaluwarsa karena rotasi stok lebih terjaga, serta sering dinilai positif oleh investor karena menunjukkan potensi laba yang lebih tinggi.

      2. Tantangan yang Perlu Diantisipasi

      Saat inflasi tinggi, FIFO dapat membuat laba terlihat lebih besar sehingga beban pajak meningkat. Selain itu, adanya perbedaan antara pendapatan saat ini dan biaya lama yang lebih rendah bisa menimbulkan distorsi pada gambaran profitabilitas jika tidak dianalisis dengan cermat.

      Kesimpulan

      Metode FIFO membantu bisnis menjaga alur persediaan tetap sehat sekaligus menghasilkan pencatatan keuangan yang lebih relevan dengan kondisi pasar terkini. Pendekatan ini menyelaraskan pergerakan fisik barang dengan aliran biaya dalam laporan keuangan.

      Dibanding metode lain, FIFO memberikan gambaran nilai persediaan akhir yang lebih aktual, meskipun bisa membuat laba terlihat lebih tinggi saat inflasi. Karena itu, pemilihannya perlu disesuaikan dengan strategi pajak dan tujuan pelaporan keuangan perusahaan.

      Dengan pengelolaan yang disiplin antara tim gudang dan keuangan, FIFO dapat meningkatkan akurasi stok sekaligus kredibilitas laporan keuangan. Dukungan sistem yang terintegrasi juga sangat membantu agar perhitungan berjalan otomatis dan minim kesalahan.

      Pertanyaan Seputar Metode FIFO

      • Apakah metode FIFO diperbolehkan untuk pelaporan pajak di Indonesia?

        Ya, metode FIFO dan Average adalah dua metode penilaian persediaan yang diakui dan diperbolehkan oleh Undang-Undang Pajak Penghasilan di Indonesia. Sebaliknya, metode LIFO tidak diperkenankan untuk kepentingan pelaporan pajak fiskal.

      • Apa perbedaan mendasar antara FIFO dan FEFO?

        FIFO berfokus pada barang yang pertama kali dibeli atau diproduksi untuk dijual lebih dulu, sedangkan FEFO (First Expired, First Out) memprioritaskan barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat untuk dijual lebih dulu. FEFO sering digunakan bersamaan dengan FIFO pada industri farmasi dan makanan.

      • Kapan sebaiknya perusahaan tidak menggunakan metode FIFO?

        Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan ulang penggunaan FIFO jika beroperasi di industri dengan fluktuasi harga bahan baku yang sangat ekstrem dan ingin menekan beban pajak saat inflasi tinggi, meskipun hal ini mungkin terbentur regulasi pajak setempat.

      Nur Fi'llia Nugrahani

      Content Writer

      Nuri adalah seorang spesialis dalam bidang inventory management dengan pengalaman 3 tahun. Berfokus pada penulisan yang mengangkat topik pengelolaan stok, pengendalian persediaan, dan implementasi sistem inventory digital untuk menjamin efisiensi operasional bisnis.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya