Dalam proses produksi, yang paling membantu tim di lapangan adalah patokan yang jelas. Mulai dari apa yang harus dicek, kapan harus dicek, dan siapa yang bertanggung jawab. Saat patokan ini ada, keputusan kecil seperti melepas work order atau menahan batch karena QC jadi jauh lebih cepat.
Kebanyakan perusahaan akhirnya menilai produksi dari hal-hal yang bisa diukur, seperti ketepatan jadwal, tingkat cacat, dan biaya per unit. Di sisi lain, angka-angka itu hanya akan rapi jika alur kerja dan kontrolnya rapi.
Karena itu, pembahasan berikut akan memetakan tahapan proses produksi sekaligus titik kontrol yang paling sering dipakai untuk menjaga stabilitas output. Tujuannya supaya prosesnya mudah diikuti, mudah diaudit, dan mudah diperbaiki.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa itu Proses Produksi?
Proses produksi merupakan rangkaian kegiatan yang mengubah berbagai masukan sumber daya menjadi barang atau jasa yang memiliki nilai guna lebih tinggi (Handoko, 2011). Dalam proses ini, masukan dapat berupa bahan baku, tenaga kerja, modal, energi, serta teknologi.
Selanjutnya, seluruh masukan tersebut ditransformasikan menjadi output barang atau jasa melalui teknologi proses, yaitu metode atau cara tertentu yang digunakan untuk menjalankan proses perubahan tersebut.
Setiap industri memiliki kegiatan produksi yang berbeda-beda tergantung pada jenis produk yang dihasilkan dan teknologi yang digunakan. Misalnya, dalam industri manufaktur, pengelolaan produksi melibatkan transformasi fisik bahan mentah menjadi produk jadi.
Tujuan Proses Produksi yang Paling Sering Jadi KPI
Tujuan kegiatan produksi adalah mengubah bahan baku menjadi produk jadi melalui berbagai tahapan operasional yang efisien.
- Menekan biaya produksi dengan mengurangi pemakaian bahan, tenaga, dan waktu yang tidak perlu (misalnya cost per unit, varians biaya, produktivitas).
- Meningkatkan nilai output agar produk/jasa punya kualitas dan nilai guna lebih tinggi (misalnya yield, defect rate, return/reject rate).
- Menjaga laba sesuai target melalui kontrol biaya dan pemanfaatan sumber daya yang lebih tepat (misalnya margin, COGM/COGS variance).
- Memastikan ketersediaan produk tepat waktu dan tepat jumlah untuk memenuhi permintaan pasar (misalnya on-time delivery, schedule adherence, service level).
- Mengurangi pemborosan dan limbah agar proses lebih efisien sekaligus menekan biaya (misalnya scrap rate, waste percentage, rework rate).
- Menjaga keselamatan kerja dan K3 agar produksi berjalan stabil tanpa gangguan insiden atau pelanggaran (misalnya incident rate, audit findings).
- Mendorong perbaikan berkelanjutan supaya kinerja produksi meningkat dari waktu ke waktu (misalnya cycle time reduction, improvement completion rate).
Tujuan di atas biasanya digunakan sebagai Key Performance Indicator (KPI) di banyak perusahaan manufaktur.
Karakteristik Proses Produksi
Karakteristik proses produksi ditandai oleh sejumlah aspek penting yang memastikan alur produksi berlangsung konsisten, efisien, serta sesuai standar kualitas yang ditetapkan. Berikut adalah tiga karakteristik proses produksi berdasarkan aspek-aspek di bawah ini:
1. Berdasarkan proses
Terdapat dua jenis karakteristik tahapan produksi berdasarkan prosesnya, yaitu:
- Produksi langsung: Mencakup produksi primer yang memakai bahan langsung dari alam (misalnya pertanian, pertambangan) dan produksi sekunder yang menambah nilai pada bahan yang ada, seperti kayu jadi rumah atau baja jadi jembatan.
- Produksi tidak langsung: Kegiatan produksi yang hanya memberikan hasil dari keahlian atau produk dalam bentuk jasa. Misalnya layanan mekanik, layanan kesehatan, layanan konsultasi, dan lain-lain.
2. Berdasarkan sifat proses produksi
Berdasarkan sifat proses produksi, terdapat empat jenis karakteristik tahapan produksi, yaitu:
- Ekstraktif: Kegiatan produksi dengan mengambil produk secara langsung dari alam. Contohnya tambang batu bara, penangkapan ikan, atau panen hasil perkebunan.
- Analitik: Produksi yang memisahkan satu bahan menjadi beberapa hasil dengan bentuk yang masih mirip. Misalnya minyak mentah yang diolah menjadi bensin, solar, atau kerosin, atau susu yang dipisah menjadi krim dan skim.
- Fabrikasi: Produksi yang membentuk bahan menjadi produk baru yang berbeda dari bahan awalnya. Contohnya kayu menjadi furnitur, besi menjadi rangka, atau kain menjadi pakaian.
- Sintetik: Produksi yang menggabungkan beberapa bahan/komponen menjadi satu produk utuh. Contohnya perakitan motor, elektronik, atau produk kemasan.
3. Berdasarkan jangka waktu produksi
Berdasarkan jangka waktu produksinya sistem produksi dibedakan menjadi produksi terus menerus dan terputus-putus, yaitu
- Produksi terus menerus: Produksi berjalan hampir tanpa henti dengan output yang relatif seragam dan volume besar. Contohnya pabrik gula, pabrik semen, atau produksi kertas.
- Produksi terputus-putus: Produksi yang kegiatannya berjalan tidak setiap saat. Biasanya terpengaruhi oleh perubahan musim, pesanan dan berbagai faktor lainnya. Misalnya konveksi yang menyesuaikan order, produksi makanan musiman, atau workshop yang mengerjakan proyek tertentu.
Risiko kalau dipilih di konteks yang salah
Pemilihan sistem manajemen otomatisasi produksi yang tidak sesuai konteks sering menimbulkan masalah berantai.
Jika perusahaan yang produk dan permintaannya fluktuatif memaksakan produksi terus-menerus, risikonya adalah stok menumpuk, biaya penyimpanan naik, dan banyak barang berisiko kedaluwarsa atau usang.
Sebaliknya, bila perusahaan dengan permintaan stabil dan volume besar memakai produksi terputus-putus, risiko yang muncul adalah throughput rendah, biaya per unit lebih tinggi, dan keterlambatan pengiriman karena seringnya changeover dan penjadwalan ulang.
Pada sisi sifat proses, kesalahan biasanya terjadi saat perusahaan menyamakan kebutuhan kontrolnya.
Misalnya proses sintetik/perakitan tanpa kontrol ketersediaan komponen akan mudah macet di tengah jalan, sementara proses fabrikasi tanpa standar kualitas yang ketat berisiko menghasilkan rework tinggi dan scrap meningkat.
Tahapan Proses Produksi di Pabrik
Perusahaan tentu melalui produksi secara bertahap dan lama kurun waktunya. Namun, secara umum, proses produksi dapat dibagi menjadi lime tahapan produksi, yaitu sebagai berikut:
1. Planning (perencanaan)
Tahap planning merupakan tahapan dalam menentukan beberapa hal dalam proses produksi secara keseluruan. Seperti produk apa yang akan Anda buat, berapa jumlah bahan baku, berapa jumlah biaya produksi, dan berapa jumlah tenaga kerja yang Anda perlukan.
Pada tahap ini, peran PPIC (Production Planning and Inventory Control) sangat penting untuk memastikan bahwa perencanaan produksi dilakukan secara tepat, terkoordinasi, dan sesuai dengan kebutuhan operasional.
2. Routing (penentuan alur)
Routing atau penentuan alur merupakan suatu kegiatan untuk menentukan dan menetapkan urutan kegiatan dari proses ini. Mulai dari pengolahan awal bahan baku, pembentukan, pemolesan, penyelesaian, penjagaan dan pengawasan mutu, hingga pendistribusian barang.
Dalam tahapan pembuatan produk ini, Anda harus menentukan alur secara tepat dan efisien agar produksi dapat berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai dengan yang seharusnya.
3. Scheduling (penjadwalan)
Scheduling atau penjadwalan merupakan salah satu tahapan produksi untuk menentukan dan menetapkan kapan alur produksi harus Anda lakukan setelah menetapkan alur. Dalam pelaksanaannya, penjadwalan mempertimbangkan jam kerja pekerja dan lama dari setiap alur produksi.
Dalam praktiknya, dalam tahapan ini terdapat jadwal utama (master schedule) yang kemudian akan terbagi atau terpecah menjadi beberapa jadwal yang lebih terperinci.
4. Dispatching (perintah untuk memulai produksi)
Dispatching atau perintah untuk memulai proses produksi adalah suatu kegiatan untuk menentukan dan menetapkan suatu proses pemberian perintah untuk memulai alur produksi setelah jadwal produksi Anda tetapkan.
Dalam dispatching, akan tercantum hasil tahapan-tahapan sebelumnya. Mulai dari bahan baku, alur produksi, hingga waktu produksi. Jika tahapan produksi ini dapat berjalan dengan baik, maka proses memproduksi juga pasti akan berhasil.
5. Follow Up (pengawasan)
Fase follow up adalah tahap setelah dispatching untuk memastikan bahwa semua proses produksi berjalan sesuai rencana dan jadwal. Pada tahap ini, pengawasan dilakukan untuk memantau kemajuan produksi, mengidentifikasi masalah dan memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Follow up juga mencakup evaluasi kinerja mesin dan tenaga kerja, serta mengambil tindakan perbaikan jika diperlukan, guna memastikan kelancaran dan efisiensi produksi. Informasi dari laporan biaya produksi perusahaan manufaktur bisa berguna untuk tahap selanjutnya.
Apa Saja Jenis-jenis Proses Produksi?
Jenis-jenis proses produksi dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu yang diperlukan dalam menghasilkan suatu produk.
Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan mengenai jenis-jenis proses produksi yang umum ditemui.
1. Proses produksi jangka waktu pendek
Kegiatan produksi berlangsung dengan cepat dan langsung menghasilkan produk baik barang atau jasa bagi konsumen. Misalnya produksi makanan seperti roti bakar, gorengan, dan lain-lain. Dalam proses ini, konsumen cenderung cepat mendapatkan barang dengan waktu singkat dan hitungan menit setiap produksinya.
2. Produksi dengan jangka waktu panjang
Jenis tahapan produksi ini merupakan kegiatan produksi yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Contoh dari proses ini adalah saat kamu menanam padi ataupun membuat rumah. Pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
3. Produksi secara terus-menerus
Merupakan kegiatan produksi yang melakukan pengolahan bahan-bahan secara berurutan dengan beberapa tahapan dalam pengerjaan hingga menjadi sebuah barang jadi. Contohnya pabrik yang memproduksi kertas, gula, dan lainnya.
Dalam jenis produksi ini, indikator produksi seperti kelancaran alur proses dan stabilitas output sangat penting untuk memastikan efisiensi dan kualitas hasil akhir.
4. Proses produksi selingan
Merupakan kegiatan produksi yang mengolah bahan-bahan baku dengan cara menggabungkannya menjadi suatu barang jadi. Contohnya proses atau tahapan dalam memproduksi mobil, saat bagian-bagian mobil dibuat secara terpisah, mulai dari setir, kerangka, mesin, ban dan yang lainnya.
Setelah seluruh bagian dari mobil lengkap, maka selanjutnya yaitu menggabungkan bagian-bagian mobil tersebut menjadi suatu mobil.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Produksi
Berbagai faktor memengaruhi kapasitas dan kualitas hasil produksi. Empat faktor utamanya antara lain:
1. Sumber Daya Alam (SDA)
Ketersediaan bahan baku, energi, dan kondisi lingkungan menjadi dasar kelancaran produksi. Bahan baku yang stabil dan berkualitas akan mendukung proses yang lebih efisien.
2. Sumber Daya Manusia (SDM)
Kemampuan tenaga kerja dalam mengoperasikan mesin, memahami prosedur, dan menjaga kualitas sangat memengaruhi output. SDM yang kompeten akan membuat proses lebih cepat dan minim kesalahan.
3. Modal
Modal dibutuhkan untuk membeli bahan baku, mesin, teknologi, hingga operasional harian. Semakin kuat modal, semakin besar kapasitas dan fleksibilitas produksi.
4. Teknologi
Pemanfaatan teknologi modern mulai dari otomasi, sistem informasi produksi, hingga pemantauan real-time mampu meningkatkan efisiensi, mengurangi pemborosan, dan menjaga konsistensi kualitas.
Untuk mendukung kebutuhan teknologi ini, banyak perusahaan mulai menggunakan alat seperti aplikasi PPIC untuk perencanaan produksi, dan juga sistem lain seperti Internet of Things (IoT) untuk melihat status mesin produksi secara langsung.
Empat Prioritas Eksekusi agar Proses Produksi Stabil
Agar alur dalam sistem produksi dapat berjalan optimal, Anda bisa melakukan empat hal berikut ini.
1. Menekan downtime mesin lewat perawatan terencana
Prioritas pertama adalah menetapkan perawatan preventif berbasis jam operasi dan riwayat kerusakan, lalu mencatat alasan downtime secara konsisten (misalnya bearing aus, suhu tidak stabil, setting ulang, atau menunggu operator).
Jika penyebabnya jelas, tim bisa memutuskan tindakan yang tepat. Misalnya adalah mesin produksi butuh spare part buffer, pelatihan operator, atau penyesuaian SOP set-up.
2. Rencana produksi dipastikan sudah jelas
Di tahap ini, perusahaan perlu menentukan horizon perencanaan (misalnya 6–8 minggu), membagi jadwal menjadi master schedule dan detail schedule, lalu menetapkan aturan kapan order boleh masuk, kapan jadwal boleh diubah, dan siapa yang berhak mengubahnya.
3. Menjamin material siap produksi
Prioritas ketiga adalah memastikan BOM akurat, kebutuhan material dihitung per batch/work order, dan status material jelas (available, reserved, QC hold, reject). Selain itu, tentukan buffer untuk material kritikal berdasarkan lead time dan supplier yang bervariasi.
4. Mengendalikan biaya produksi di level harian/batch
Terakhir, Anda perlu melacak biaya berdasarkan batch/work order (bahan, tenaga kerja, overhead, scrap/rework) dan membandingkannya dengan standar atau anggaran sejak awal.
Kesimpulan
Memahami proses produksi membantu perusahaan menjaga kualitas, menekan pemborosan, dan memastikan jadwal tetap stabil. Saat tiap tahap dikontrol dengan jelas, risiko keterlambatan dan biaya yang bocor bisa ditekan lebih cepat.
Jika perencanaan sering berubah, material sering telat siap, atau biaya produksi sulit dilacak, manfaatkan konsultasi gratis dengan tim ahli untuk memetakan alur kerja yang berjalan. Dari sana, perusahaan bisa tahu titik masalah utamanya dan dapat rekomendasi perbaikan yang paling masuk akal untuk diterapkan.
Pertanyaan Seputar Proses Produksi
-
Kendala apa saja yang sering dihadapi dalam proses produksi?
Beberapa masalah umum yang sering muncul dalam sistem produksi mencakup kendala dalam mengelola persediaan barang, ketidak-efisienan dalam proses, kekurangan tenaga kerja berkualitas, ketidaksesuaian dengan perkembangan teknologi, dan kurangnya integrasi data dalam sistem produksi.
Baca selengkapnya di sini!
-
Mengapa alur proses produksi itu penting?
Tanpa langkah-langkah dalam proses produksi tersebut, akan sulit bagi kita sebagai konsumen untuk mengakses atau menggunakan produk tertentu. Tahapan ini membentuk dasar bagi proses distribusi hingga produk tersebut dapat digunakan oleh konsumen.
-
Siapa yang melakukan proses produksi?
Individu atau entitas yang terlibat dalam proses produksi disebut sebagai produsen.
-
Apa fungsi dari proses produksi?
Kegiatan produksi berperan dalam menciptakan atau meningkatkan nilai dari suatu produk, termasuk barang atau jasa. Proses produksi mengubah bahan baku yang awalnya tidak memiliki nilai menjadi produk yang memiliki nilai.
-
Apa contoh proses produksi?
Suatu contoh nyata dari kegiatan produksi dalam lingkungan sehari-hari adalah pabrik yang memproduksi tahu dan tempe yang menjadi bahan makanan sehari-hari. Selain itu, pabrik gula juga merupakan contoh kegiatan produksi yang menghasilkan gula pasir.









