Kerusakan spare part pada produk otomotif dapat berdampak langsung pada kualitas produksi, efisiensi operasional, dan reputasi perusahaan. Bagi manajer hingga C-Suite isu ini menjadi risiko operasional bisnis. Melalui artikel ini, Anda akan menemukan tips praktis untuk mencegah kerusakan spare part secara lebih terstruktur.
Dengan dukungan teknologi seperti software manufaktur perusahaan dapat meningkatkan kontrol, visibilitas, dan akurasi pengambilan keputusan. Simak pembahasan berikut hingga akhir untuk mendapatkan insight yang dapat langsung diterapkan dalam operasional bisnis Anda.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Penyebab Terjadinya Kerusakan Spare Part pada Produk Otomotif?
Dalam sektor industri otomotif, produk yang dihasilkan adalah kendaraan bermotor, baik mobil, motor, bus, dan lain-lainnya. Keduanya memiliki komponen atau spare part yang berbeda. Hal ini menyesuaikan dengan desain bentuk dan fungsi masing-masing.
Misalnya, mobil memiliki filter kabin yang berfungsi untuk menghilangkan bau tidak sedap dan membuat udara di dalamnya lebih segar. Komponen ini tentu tidak dimiliki oleh motor karena desain motor tidak memerlukan ruang seperti halnya mobil dan kendaraan roda empat atau lebih lainnya.
Setiap spare part memiliki fungsinya tersendiri. Fungsi tersebut kemudian membentuk satu kesatuan yang dirakit menjadi sebuah produk otomotif. Untuk sampai ke tangan customer, Anda perlu memastikan bahwa setiap spare part memiliki kualitas tinggi agar tidak mengubah nilai jual produk.
Baca juga: Mengapa Software Manufaktur Penting untuk Produktivitas Pabrik Mobil?
Namun, adanya kerusakan spare part yang dikirim oleh pihak supplier dan sudah terlanjur masuk dalam proses procurement tidak bisa Anda hindari. Pada industri manufaktur, kejadian ini pasti pernah atau bahkan sering Anda temukan.
Lalu, apa penyebabnya? Secara garis besar, terdapat tiga penyebab mengapa kerusakan spare part dapat terjadi pada bisnis otomotif Anda. Berikut adalah penjelasannya:
1. Peralatan mesin yang kurang mendukung
Penyebab kerusakan spare part salah satunya adalah karena peralatan yang kurang mendukung proses produksi. Bisa saja karena kinerja mesin menurun atau memang perlu adanya upgrade mesin lantaran hasil produksi komponen tidak optimal. Maka, penting bagi produsen otomotif untuk selalu mengontrol mesin agar dapat mengurangi kerusakan fungsi spare part.
Baca juga: 7 Tips Tingkatkan Efisiensi di Pabrik Manufaktur Anda
2. Rendahnya kualitas bahan
Komponen produk otomotif menggunakan berbagai jenis bahan baku, seperti plat, baja, plastik, karet, dan timah. Tentu untuk memperoleh produk spare part yang bagus, produsen perlu memasok bahan baku dengan kualitas yang tinggi pula.
Jika tidak, sudah pasti produk otomotif Anda akan sulit bersaing dengan kompetitor yang mengutamakan mutu spare part penyusunnya.
3. Human error pada proses produksi spare part
Human error menjadi penyebab kerusakan spare part selanjutnya. Setiap operasional dalam pabrik otomotif perlu mengutamakan ketelitian kerja sesuai dengan SOP yang berlaku. Meskipun demikian, terjadinya human error tidak bisa terelakkan.
Faktor inilah yang dapat memengaruhi produksi sehingga dapat menimbulkan kerusakan spare part. Anda dapat menggunakan sistem manufaktur berteknologi canggih agar kemungkinan human error mampu diminimalisir.
Untuk mendapatkan kalkulasi biayanya, Anda dapat mengunduh software manufaktur dari HashMicro.
Tips Kontrol Kerusakan Spare Part pada Produk Otomotif dengan Menggunakan Software Manufaktur
Kerusakan spare part pada industri otomotif akan menjadi hambatan besar dalam menjaga retensi customer. Sebab, sudah pasti kualitas produk otomotif Anda juga akan buruk. Dampaknya, customer tidak lagi mempercayakan produk Anda untuk mereka beli. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Pada bulan Juni dan Agustus 2020, beberapa perusahaan mobil terpaksa melakukan recall atau penarikan ribuan unit untuk mereka perbaiki kembali. Letak permasalahannya ditemukan pada komponen dalam fuel pump yang tidak bekerja secara maksimal.
Di tahun yang sama, produk otomotif motor Yamaha juga pernah melakukan recall karena tuas rem untuk fungsi sinyal lampu rem belakang terindikasi bermasalah. Jika masalah terjadi pada komponen-komponen krusial yang langsung berkaitan dengan keamanan kendaraan, tentu pemakaiannya akan sangat membahayakan pengemudi.
Oleh karena itu, pengecekan sangat penting Anda lakukan untuk menghindari kerusakan spare part hingga risiko yang lebih fatal lainnya.
Baca juga: Software Manufaktur HashMicro sebagai Solusi untuk Mengefisienkan Proses Produksi Pabrik Mobil
Perketat Quality Control (QC) merupakan langkah yang perlu Anda implementasikan pada bisnis otomotif. Quality Control atau pengendalian mutu merupakan proses untuk memperbaiki kualitas sesuai standar dengan mengecek semua komponen dan produk.
Menurut Agus Ahyari (1985), terdapat tiga pendekatan untuk melakukan QC yang baik, antara lain pendekatan bahan baku, proses produksi, dan produk akhir perusahaan. Melalui Software Manufaktur Terintegrasi dari HashMicro, Anda dapat mempermudah proses QC secara cepat dan akurat.
Sistem ini mampu mendeteksi tingkat kerusakan spare part dan produk sehingga proses produksi di lantai pabrik dapat berjalan lancar. Dengan begitu, Anda tidak perlu lagi repot menjalankannya secara manual yang jelas hanya akan memakan waktu.
Sebagai penyedia layanan ERP terandal, HashMicro memiliki tim yang expert dalam menggabungkan solusi dan kebutuhan industri otomotif. Sistem ini mampu merampingkan workflow pabrik dari hulu hingga hilir sehingga kinerja menjadi lebih efisien. Berikut adalah fitur utama Hash Manufacturing Automation:
1. Up to date system

Fitur pertama memiliki fungsi dalam Quality Control management yang memberikan akses kepada user untuk melakukan kontrol mutu semua barang, baik suku cadang maupun produk akhir. Jika terdeteksi adanya kerusakan, sistem akan melacak perbaikan untuk menghindari risiko yang ditimbulkan.
Fungsi lainnya berkaitan pula dengan pembaharuan barang yang tercatat melalui integrasi data. Keakuratan stok bahan dan produk merupakan salah satu kunci sukses pada manajemen warehouse bisnis otomotif. Mengacu pada fitur forecasting demand, jumlah produksi di-setting agar tidak terlalu banyak maupun sedikit.
Baca juga: Quality Control: Manfaat dan Pentingnya dalam Sektor Industri
2. Penjadwalan otomatis
Sistem manufaktur HashMicro mampu melakukan penjadwalan produksi berdasarkan data penjualan untuk menghindari kekurangan produk pada dealer atau showroom.
Ketersediaan barang akan terdeteksi melalui proses pelacakan Work in Progress (WIP) secara komprehensif. Dengan otomatisasi prosesnya, Anda dapat memperoleh informasi akurat demi menunjang kelancaran produksi.
3. Kontrol biaya produksi
Ketersediaan komponen dan material dapat terpenuhi dengan fitur Bill of Material (BOM) yang terintegrasi dalam sistem ERP untuk manajemen spare part, sehingga pemantauan kebutuhan bahan baku dari setiap Purchase Order pelanggan dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
Selain itu, sistem membantu meningkatkan cashflow industri otomotif melalui pencatatan harga pokok produksi yang komprehensif, sehingga perusahaan dapat mengendalikan dan menekan anggaran produksi secara optimal.
Kesimpulan
Kerusakan spare part pada produk otomotif merupakan sesuatu yang akan merugikan perusahaan Anda. Bagaimana tidak? Risiko yang ditimbulkan adanya kualitas produk yang buruk juga berimbas pada keberlangsungan bisnis otomotif Anda. Maka dari itu, Anda perlu mengantisipasinya dengan melakukan Quality Control.
Namun, jika pengawasan mutu juga tidak Anda terapkan dengan tepat maka hasilnya pun sama saja. Dengan fitur Quality Control Management dalam Software Manufaktur terbaik dari HashMicro, Anda mampu menjalankan QC dengan baik.
Semua prosesnya terotomatisasi melalui sistem berteknologi AI sehingga hasilnya pun lebih akurat. Dapatkan demo gratis sekarang untuk maksimalkan produktivitas pada pabrik otomotif Anda!
Pertanyaan Seputar Spare Part
-
Apa peran teknologi dalam pengelolaan spare part manufature?
Teknologi membantu meningkatkan visibilitas stok, akurasi data, dan perencanaan pengadaan spare part. Penggunaan sistem terintegrasi memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.
-
Apa risiko jika spare part manufature tidak terkelola dengan baik?
Risikonya meliputi downtime produksi, kerusakan mesin, peningkatan biaya perawatan, dan penurunan kualitas produk akhir.
-
Kapan spare part manufature perlu diganti?
Spare part perlu diganti saat mendekati akhir umur pakai, menunjukkan penurunan performa, atau berdasarkan jadwal perawatan preventif.






