Pernahkah pengajuan kredit usaha Anda ditolak bank hanya karena laporan keuangan dianggap tidak layak atau berantakan? Ini adalah realita yang sering dihadapi oleh ribuan pelaku UMKM di Indonesia. Masalah utamanya terletak pada ketidakmampuan menyajikan data finansial sesuai standar akuntansi yang diakui secara nasional.
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) hadir sebagai solusi dari masalah tersebut. Memahami dan menerapkan standar ini adalah langkah strategis untuk menaikkan kelas bisnis Anda di mata investor dan kreditur.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu SAK EMKM? Memahami Standar Akuntansi Khusus UMKM
SAK EMKM adalah standar akuntansi yang disusun khusus untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah. Standar ini diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam menyusun laporan yang transparan namun tetap sederhana.
Filosofi utama dari standar ini adalah penggunaan konsep biaya historis (historical cost) yang lebih mudah dipahami daripada nilai wajar. Anda hanya perlu mencatat aset dan kewajiban sebesar harga perolehannya tanpa perlu melakukan revaluasi setiap tahun. Hal ini membantu pemilik bisnis tanpa latar belakang akuntansi untuk tetap patuh pada aturan.
Penerapan standar ini secara efektif berlaku sejak 1 Januari 2018 dan terus relevan hingga kini. Bagi entitas yang belum memiliki akuntabilitas publik yang signifikan, standar ini adalah pedoman wajib. Dengan mengikuti aturan ini, laporan keuangan Anda akan memiliki bahasa yang sama dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Kriteria Entitas yang Berhak Menggunakan Standar SAK EMKM
Tidak semua perusahaan diperbolehkan atau diwajibkan menggunakan standar ini dalam pelaporan keuangannya. SAK EMKM dirancang spesifik untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan, seperti melantai di bursa saham. Kriteria-kriteria yang merujuk pada definisi UMKM terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008, kriteria ini dibagi berdasarkan jumlah aset dan omzet tahunan usaha.
| Komponen | Penjelasan |
|---|---|
| Usaha Mikro | Memiliki aset maksimal Rp50 juta dan omzet maksimal Rp300 juta. |
| Usaha Kecil | Memiliki aset Rp50 juta–Rp500 juta dengan omzet Rp300 juta–Rp2,5 miliar. |
| Usaha Menengah | Memiliki aset Rp500 juta–Rp10 miliar dengan omzet Rp2,5 miliar–Rp50 miliar. |
Jika bisnis Anda berada dalam rentang angka tersebut, maka SAK EMKM adalah standar yang paling tepat untuk digunakan. Namun, jika bisnis Anda tumbuh melampaui batas Usaha Menengah, Anda wajib beralih ke SAK ETAP atau SAK Umum.
Penting untuk melakukan evaluasi berkala terhadap posisi bisnis Anda agar tidak salah dalam memilih pedoman akuntansi yang berlaku umum.
Tiga Komponen Utama Laporan Keuangan Menurut SAK EMKM
Berbeda dengan SAK Umum yang menuntut lima jenis laporan, standar ini hanya mewajibkan tiga komponen utama. Penyederhanaan ini bertujuan agar pelaku UMKM dapat fokus pada informasi yang paling relevan bagi pengguna laporan.
1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Laporan ini menyajikan potret kondisi keuangan entitas pada tanggal tertentu, biasanya di akhir periode akuntansi. Di dalamnya tercakup informasi mengenai aset (harta), liabilitas (utang), dan ekuitas (modal) pemilik. Penyajiannya harus sistematis untuk menunjukkan keseimbangan posisi debit dan kredit serta likuiditas perusahaan.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan Laba Rugi memberikan informasi mengenai kinerja keuangan entitas selama satu periode pelaporan penuh. Komponen ini mencatat seluruh pendapatan yang diperoleh dan beban yang dikeluarkan dalam menjalankan bisnis. Selisih antara pendapatan dan beban akan menunjukkan apakah bisnis Anda mengalami laba atau justru menderita kerugian.
3. Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK)
CALK adalah bagian yang sering diabaikan, padahal fungsinya sangat krusial untuk menjelaskan angka-angka dalam laporan. Bagian ini berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang digunakan dan informasi tambahan yang tidak tertera di neraca atau laba rugi. Contohnya adalah rincian penyusutan aset tetap atau penjelasan mengenai utang jangka panjang.
Tips Praktis Agar Laporan Keuangan Anda Dilirik Investor
Berikut adalah penjelasan lengkap terkait tips-tips agar laporan keuangan anda dilirik investor:
1. Pastikan Likuiditas Bisnis dalam Kondisi Sehat
Laporan keuangan sesuai standar SAK EMKM adalah fondasi utama, tetapi isinya juga harus mencerminkan kondisi usaha yang sehat. Perhatikan rasio likuiditas, yaitu Aset Lancar dibagi Utang Lancar, dan usahakan nilainya berada di atas 1. Ini menunjukkan bisnis Anda mampu memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aman.
2. Jaga Profitabilitas Tetap Positif dan Bertumbuh
Rasio profitabilitas harus tetap positif serta menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Investor umumnya tertarik pada bisnis dengan Gross Profit Margin yang stabil atau naik. Karena itu, kendalikan biaya operasional agar laba bersih (Net Profit) tetap optimal.
3. Sajikan CALK Secara Transparan dan Informatif
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) harus menjelaskan pos-pos penting secara jelas dan terbuka. Hindari menyembunyikan kewajiban atau masalah keuangan di balik angka. Transparansi dan kerapian penyajian data menjadi kunci untuk membangun kepercayaan dari bank maupun investor.
Mengapa Bisnis Anda Wajib Beralih ke SAK EMKM Sekarang
Banyak pemilik bisnis menganggap bahwa pencatatan sederhana di buku kas sudah cukup untuk operasional harian. Namun, hal ini sering kali menjadi penghambat ketika bisnis ingin melakukan ekspansi atau membutuhkan suntikan dana eksternal.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, perusahaan dengan laporan terstandarisasi dapat memiliki peluang persetujuan kredit 3 kali lebih besar dibandingkan yang tidak. Transisi ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bisnis Anda. Berikut adalah alasan krusial mengapa Anda tidak boleh menundanya lagi.
1. Mempermudah Akses Pembiayaan dan Kredit Perbankan
Bank mewajibkan laporan keuangan sesuai SAK EMKM agar data bisnis dapat dipercaya dan mudah diverifikasi. Tanpa standar ini, pihak kreditur akan kesulitan menilai kesehatan usaha, sehingga pengajuan pinjaman berisiko ditolak.
2. Dasar Pelaporan Pajak yang Akurat dan Patuh Regulasi
Laporan keuangan menjadi acuan perhitungan pajak badan usaha. Penerapan standar yang tepat membantu menghindari kesalahan hitung, denda, serta memudahkan rekonsiliasi saat pelaporan SPT Tahunan.
3. Alat Pengambilan Keputusan Bisnis yang Lebih Objektif
Laporan keuangan standar menyajikan data nyata tentang profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas. Informasi ini membantu manajemen mengevaluasi kinerja serta menyusun strategi bisnis dengan lebih tepat.
Tantangan Menyusun Laporan SAK EMKM Secara Manual
Meskipun standarnya sudah disederhanakan, praktik penyusunan laporan keuangan secara manual tetap memiliki risiko tinggi. Penggunaan spreadsheet seperti Excel sering kali menyebabkan kesalahan rumus (formula error) yang fatal. Satu kesalahan input di jurnal umum bisa menyebabkan ketidakseimbangan saldo hingga ke laporan akhir.
Waktu yang terbuang untuk rekapitulasi data transaksi juga menjadi kendala utama bagi pengusaha yang sibuk. Anda harus mengumpulkan nota fisik, mencatatnya satu per satu, dan memindahkannya ke buku besar secara manual. Proses ini sangat rentan terhadap human error dan sering kali membuat laporan keuangan terlambat disajikan.
Tantangan lainnya adalah kesulitan dalam melacak arus kas secara real-time jika pencatatan tidak terintegrasi. Tanpa sistem yang otomatis, pemilik bisnis sering kali buta terhadap posisi keuangan harian mereka. Hal ini bisa berakibat fatal pada pengambilan keputusan mendadak yang membutuhkan data akurat saat itu juga.
Perbedaan Mendasar Antara SAK EMKM dengan SAK ETAP
| Aspek Perbandingan | SAK EMKM | SAK ETAP |
|---|---|---|
| Dasar Pengukuran Aset | Menggunakan biaya historis secara penuh | Masih memperbolehkan penggunaan nilai wajar untuk beberapa aset |
| Kompleksitas Akuntansi | Lebih sederhana dan mudah diterapkan | Lebih kompleks dalam pengakuan dan pengukuran |
| Laporan Arus Kas | Tidak wajib disajikan | Wajib disajikan |
| Laporan Perubahan Ekuitas | Tidak wajib disajikan | Wajib disajikan |
| Pengungkapan dalam CALK | Sederhana, tidak menuntut detail risiko atau estimasi kompleks | Lebih rinci dan mencakup pengungkapan risiko serta estimasi akuntansi |
| Kebutuhan Keahlian Teknis | Bisa disusun sendiri oleh pemilik usaha | Sering membutuhkan bantuan akuntan atau konsultan |
Kesimpulan
SAK EMKM hadir sebagai standar akuntansi sederhana yang membantu UMKM menyusun laporan keuangan transparan tanpa proses rumit. Dengan pendekatan biaya historis dan hanya tiga laporan utama, pelaku usaha dapat lebih mudah memenuhi kewajiban pencatatan sekaligus menjaga kredibilitas bisnis di mata bank dan investor.
Penerapan SAK EMKM juga membuka akses pembiayaan, mempermudah pelaporan pajak, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Laporan yang rapi, likuiditas sehat, profitabilitas stabil, dan CALK yang transparan menjadi faktor penting agar bisnis dinilai layak dan terpercaya.
Meski lebih sederhana dibanding SAK ETAP, penyusunan laporan secara manual tetap berisiko menimbulkan kesalahan dan keterlambatan informasi. Karena itu, penggunaan sistem digital terintegrasi menjadi langkah strategis agar pelaporan keuangan lebih akurat, efisien, dan siap mendukung pertumbuhan usaha jangka panjang.
Pertanyaan Seputar Standar SAK EMKM
-
Apakah SAK EMKM Wajib Bagi Semua UMKM?
SAK EMKM wajib diterapkan oleh entitas mikro, kecil, dan menengah yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan. Tujuannya adalah untuk keseragaman pelaporan keuangan agar mudah dipahami oleh pihak eksternal seperti bank.
-
Kapan Waktu Yang Tepat Beralih Dari SAK EMKM Ke SAK ETAP?
Anda harus beralih ke SAK ETAP atau SAK Umum jika bisnis Anda telah melampaui kriteria omzet dan aset UMKM sesuai UU. Transisi juga diperlukan jika perusahaan berencana untuk go public atau menerbitkan instrumen utang di pasar modal.
-
Apa Sanksinya Jika UMKM Tidak Memiliki Laporan Keuangan Standar?
Meskipun tidak ada sanksi pidana langsung, tidak memiliki laporan standar akan menyulitkan akses ke pinjaman bank dan hibah pemerintah. Selain itu, risiko pemeriksaan pajak menjadi lebih tinggi karena data keuangan dianggap tidak kredibel.






