Dalam setiap bisnis, selalu ada biaya yang harus dibayar meskipun jumlah produksi naik atau turun. Biaya tersebut dikenal sebagai fixed cost atau biaya tetap.
Fixed cost adalah pengeluaran perusahaan yang nilainya konstan dalam periode tertentu, seperti sewa gedung, gaji karyawan tetap, atau premi asuransi. Menariknya, sekitar 70% dari total pengeluaran usaha pada bisnis jasa dan manufaktur bisa berasal dari biaya tetap, yang menunjukkan pentingnya perhitungan ini.
Memahami biaya tetap penting karena menjadi komponen utama dalam analisis keuangan, seperti menghitung titik impas (break-even point). Pengusaha harus mengetahui kapan pendapatan akan menutup biaya tetap dan variabel untuk mencapai laba.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Fixed Cost?
Fixed cost atau biaya tetap adalah pengeluaran perusahaan yang nilainya tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan naik maupun turun. Biaya ini tetap harus dibayar dalam periode tertentu, terlepas dari aktivitas bisnis yang dilakukan.
Dalam praktiknya, biaya tetap sering muncul dalam bentuk biaya sewa gedung, gaji karyawan tetap, premi asuransi, atau pajak properti. Biaya ini biasanya bersifat jangka panjang sesuai kontrak atau perjanjian, sehingga jarang berubah dalam waktu singkat.
Memahami ini penting karena komponen ini membentuk struktur biaya perusahaan bersama dengan biaya variabel. Analisis yang tepat atas fixed cost membantu manajemen mengatur anggaran, menjaga arus kas, dan memastikan profitabilitas tetap stabil.
Jenis Fixed Cost
Berikut adalah tabel ringkasan ketiga jenis fixed cost:
| Jenis Fixed Cost | Ciri Utama | Contoh |
|---|---|---|
| Discretionary Fixed Cost | Bisa dikurangi/dihentikan sementara tanpa langsung memengaruhi laba | Pelatihan karyawan, kegiatan CSR, sponsorship acara, seminar tahunan |
| Committed Fixed Cost | Biaya wajib karena kontrak/investasi, tidak bisa dihapus | Sewa gudang, gaji pegawai tetap, asuransi, pajak properti |
| Separable Fixed Cost | Bisa dipisahkan antar divisi/cabang untuk evaluasi efisiensi | Sewa kantor cabang, biaya listrik divisi, anggaran tetap tiap departemen |
Sementara itu, ada tiga jenis fixed cost yang dapat Anda ketahui:
1. Discretionary fixed cost
Discretionary fixed cost adalah biaya tetap yang sifatnya fleksibel, bisa dikurangi atau dihentikan sementara tanpa langsung memengaruhi laba bisnis. Biaya ini biasanya dipangkas ketika perusahaan menghadapi masalah arus kas dalam jangka pendek.
Contohnya termasuk program pelatihan karyawan, kegiatan CSR, seminar tahunan, atau sponsorship acara. Jika kondisi keuangan sudah membaik, pengeluaran ini biasanya dikembalikan agar daya saing bisnis tetap terjaga.
2. Committed cixed cost
Committed fixed cost adalah biaya tetap yang wajib dibayar perusahaan, terlepas dari kondisi keuangan. Biaya ini muncul karena adanya kontrak jangka panjang atau investasi besar yang sudah dilakukan.
Misalnya sewa gudang, gaji pegawai tetap, penyusutan mesin produksi (termasuk sebagai biaya overhead pabrik), asuransi, atau pajak properti. Biaya ini tidak bisa begitu saja dihapus karena menyangkut keberlangsungan operasi perusahaan.
3. Separable fixed cost
Separable fixed cost adalah biaya tetap yang bisa dipisahkan ke dalam unit atau divisi tertentu dalam perusahaan. Masing-masing bagian memiliki porsi biaya tetap sendiri, meskipun tetap berhubungan dengan aktivitas perusahaan secara keseluruhan.
Contohnya, biaya sewa gedung kantor cabang yang berbeda-beda, biaya listrik untuk tiap divisi produksi, atau anggaran tetap tiap departemen pemasaran. Dengan pemisahan ini, manajemen lebih mudah mengevaluasi efisiensi tiap unit kerja.
Karakteristik Utama Fixed Cost
Fixed cost memiliki beberapa karakteristik utama yang membedakannya dari biaya variabel. Berikut penjelasannya:
1. Tidak tergantung volume produksi
Biaya tetap nilainya konstan dalam rentang aktivitas tertentu, artinya tidak berubah meski jumlah barang atau jasa yang diproduksi naik maupun turun. Namun, pada skala produksi yang jauh lebih besar, fixed cost bisa meningkat karena kebutuhan fasilitas baru.
2. Dibayar secara periodik
Biaya tetap biasanya dibayarkan secara rutin sesuai perjanjian atau aturan akuntansi, misalnya bulanan, kuartalan, atau tahunan. Contohnya sewa gedung, gaji tetap, premi asuransi, atau penyusutan aset.
3. Penting untuk perencanaan keuangan
Fixed cost menjadi dasar perhitungan break-even point (BEP) dan perencanaan profitabilitas. Dengan memahami fixed cost, manajemen dapat memperkirakan jumlah penjualan minimum yang harus dicapai agar bisnis tidak merugi.
Perbedaan Fixed Cost vs Variable Cost
Dalam akuntansi, biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan profitabilitas perusahaan.
Fixed cost adalah biaya yang tetap tidak berubah, meskipun ada perubahan dalam jumlah produk yang dihasilkan atau dijual. Contoh biaya tetap termasuk sewa gedung, gaji karyawan tetap, dan asuransi.
Sebaliknya, variable cost berubah seiring dengan volume produksi atau penjualan. Semakin banyak produk yang diproduksi, semakin besar biaya variabel yang dikeluarkan. Beberapa contoh biaya variabel meliputi bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan komisi penjualan.
| Aspek | Fixed Cost | Variable Cost |
|---|---|---|
| Pengaruh terhadap Produksi | Tidak terpengaruh oleh volume produksi | Berkaitan langsung dengan volume produksi |
| Contoh | Sewa, gaji karyawan tetap, asuransi | Bahan baku, tenaga kerja per unit, komisi penjualan |
| Fluktuasi Biaya | Tidak berubah, tetap | Fluktuatif, berubah sesuai produksi |
| Pengaruh pada Laba | Berdampak pada keuntungan meskipun tidak ada produksi | Meningkat seiring dengan peningkatan produksi |
| Fleksibilitas Pengelolaan | Kurang fleksibel, biaya tetap harus dibayar | Lebih fleksibel, dapat disesuaikan dengan kebutuhan |
Contoh Fixed Cost dalam Perusahaan
Berikut adalah beberapa jenis biaya tetap yang umumnya harus dikeluarkan perusahaan, terlepas dari kondisi penjualan atau volume produksi:
1. Gaji karyawan
Gaji pokok termasuk dalam biaya tetap karena jumlahnya tidak berubah meski pendapatan perusahaan naik atau turun. Perusahaan wajib membayarnya sesuai perjanjian kerja. Bonus atau insentif biasanya dicatat terpisah, sehingga tidak mengubah status gaji sebagai fixed cost.
2. Biaya sewa
Sewa gedung, ruko, ruang kantor, maupun peralatan tertentu masuk dalam pengeluaran rutin. Nominalnya telah ditetapkan dalam kontrak dan harus dibayar secara rutin sesuai jadwal, meskipun bisnis sedang mengalami penurunan.
3. Premi asuransi
Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi juga dikategorikan sebagai biaya tetap. Hal ini penting untuk melindungi aset bisnis dari risiko seperti kebakaran, kerusakan, atau bencana lain.
4. Pajak properti
Pajak bumi dan bangunan (PBB) atau pajak properti dibayarkan secara berkala, biasanya setahun sekali. Jumlahnya relatif konstan selama tidak ada perubahan nilai atau luas aset.
5. Biaya promosi tertentu
Kegiatan pemasaran seperti iklan cetak, brosur, atau kampanye rutin dapat masuk dalam biaya tetap, terutama bila dilakukan dengan kontrak berkelanjutan. Namun, beberapa di antaranya bersifat diskresioner sehingga bisa dipangkas sementara ketika arus kas terganggu.
6. Tagihan utilitas
Pengeluaran untuk listrik, air, atau internet termasuk biaya rutin yang harus dikeluarkan. Meski nilainya bisa sedikit fluktuatif, keberadaannya konstan dan wajib dibayar demi kelancaran operasional.
7. Amortisasi
Amortisasi merupakan pembebanan biaya atas aset tidak berwujud, seperti hak paten atau lisensi, selama masa berlakunya. Biaya ini tercatat secara periodik hingga hak tersebut habis.
8. Beban legal
Perusahaan juga perlu menanggung biaya administrasi dan legalitas, seperti pembuatan izin usaha atau pengurusan dokumen hukum lain. Semua ini termasuk biaya tetap.
9. Depresiasi (Penyusutan aset)
Depresiasi adalah alokasi biaya penyusutan atas aset berwujud seperti mesin, kendaraan, atau bangunan. Umumnya dicatat sebagai fixed cost, meski kadang dipandang sebagai mixed cost karena berkaitan dengan tingkat pemakaian.
10. Beban bunga
Jika perusahaan memiliki pinjaman bank atau kredit lain, bunga yang dibayarkan secara periodik juga masuk dalam biaya wajib. Nilainya ditetapkan di awal perjanjian sehingga tidak berubah mengikuti kondisi bisnis.
Cara Menghitung Fixed Cost
Setelah memahami apa itu biaya tetap, langkah berikutnya adalah mengetahui cara menghitungnya. Ada dua metode sederhana yang bisa digunakan:
1. Menggunakan Rumus
Rumus Menghitung Biaya Tetap:
Biaya Tetap = Total Biaya Produksi – (Biaya Variabel per Unit × Jumlah Unit Produksi)
Dengan rumus ini, pastikan:
- Bedakan dengan jelas mana yang termasuk biaya tetap dan mana yang variabel sejak awal.
- Hitung dulu hasil perkalian biaya variabel per unit dengan jumlah unit produksi, baru kurangi dari total biaya produksi.
2. Menjumlahkan Seluruh Komponen Biaya Tetap
Cara lain adalah dengan langsung menjumlahkan semua pengeluaran yang sifatnya tetap. Pendekatan ini lebih praktis jika data sudah terpisah di laporan keuangan.
Supaya tidak bingung, ikuti langkah-langkah berikut:
1. Buat daftar semua biaya
Langkah awal adalah menyusun daftar lengkap seluruh pengeluaran perusahaan. Catat secara detail dalam periode yang sama (bulanan atau tahunan). Daftar ini bisa mencakup sewa, gaji, utilitas, pajak, hingga biaya pemasaran.
2. Pisahkan biaya tetap dan variabel
Setelah daftar dibuat, bedakan mana yang bersifat tetap dan mana yang variabel. Misalnya:
- Tetap: gaji karyawan Rp50 juta, sewa fasilitas Rp10 juta, utilitas Rp5 juta.
- Variabel: bahan baku Rp20 juta, ongkos kirim Rp5 juta, pengemasan Rp2 juta.
3. Jumlahkan biaya tetap
Tambahkan semua item yang termasuk biaya tetap. Dari contoh di atas, total fixed cost = Rp50 juta + Rp10 juta + Rp5 juta = Rp65 juta per bulan.
Kesimpulannya, biaya tetap adalah pengeluaran yang tidak berubah meskipun volume produksi naik atau turun. Nilainya bisa berubah di masa depan, tapi dalam satu periode anggaran tetap konstan.
Memahami Proporsi Fixed dan Variable Cost dalam Struktur Biaya
Mengelola biaya dalam bisnis memerlukan pemahaman yang jelas tentang proporsi fixed cost dan variable cost. Setiap jenis biaya memainkan peran penting dalam perencanaan keuangan perusahaan.
Dalam banyak bisnis, fixed cost biasanya lebih dominan, namun variable cost juga sangat memengaruhi profitabilitas.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana kedua biaya ini mempengaruhi struktur biaya perusahaan, berikut adalah infografis yang menunjukkan pembagian rata-rata fixed cost dan variable cost dalam sebuah bisnis.

Studi Kasus: Pengelolaan Biaya Tetap melalui Sistem Akuntansi di PT. Telkom Indonesia
PT. Telkom Indonesia, perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia, memiliki biaya tetap yang signifikan, seperti sewa tower, gaji karyawan tetap, dan biaya pemeliharaan infrastruktur. Pengelolaan biaya tetap yang efisien sangat penting untuk menjaga kelancaran operasional dan profitabilitas perusahaan.
Dengan implementasi sistem akuntansi berbasis cloud yang terintegrasi, Telkom Indonesia dapat memantau biaya tetap secara lebih efisien. Sistem ini memungkinkan pembukuan otomatis, optimasi pengeluaran, dan penyediaan laporan keuangan yang transparan.
Sebagai hasilnya, Telkom Indonesia dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam pengelolaan biaya tetap, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Kesimpulan
Biaya tetap adalah komponen dasar dalam menjalankan bisnis yang umumnya ditetapkan melalui kontrak atau jadwal tertentu. Untuk mengelola biaya ini dengan efektif, terutama pada perusahaan skala besar, diperlukan sistem yang dapat memantau dan mengelola pengeluaran secara lebih terstruktur.
Pengelolaan keuangan yang terintegrasi kini menjadi solusi yang dapat membantu perusahaan memantau arus kas dan mengoptimalkan pengeluaran dengan lebih akurat dan transparan.
Untuk memahami lebih lanjut bagaimana mengelola biaya tetap dan keuangan bisnis secara lebih efisien, jangan ragu untuk menghubungi kami untuk konsultasi gratis. Kami siap membantu Anda menemukan solusi yang tepat.





