CNBC Awards
×

Kerja Lebih Tenang di Bulan Ramadan!

Diskon 20% untuk Semua Modul!*

Manfaatkan promo spesial ini dan pastikan bisnis tetap lancar selama Ramadan!

Sisa Waktu --:--:--

*hanya untuk 100 klaim pertama

MRO Inventory dan Perannya dalam Menjaga Operasional Perusahaan

Diterbitkan:

MRO inventory adalah persediaan pendukung yang membantu aktivitas maintenance, repair, dan operasional perusahaan tetap berjalan lancar. Meski tidak masuk ke produk jadi, keberadaannya tetap penting dalam kegiatan sehari-hari.

Namun, banyak perusahaan masih lebih fokus pada bahan baku dan stok barang jual. Akibatnya, item MRO sering kurang terpantau, padahal keterlambatan pengadaannya bisa mengganggu operasional.

Karena itu, MRO inventory perlu dikelola dengan lebih terstruktur. Pengelolaan yang tepat membantu perusahaan menjaga ketersediaan stok, menekan pemborosan, dan mendukung efisiensi kerja.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu MRO Inventory?

      MRO inventory adalah persediaan barang yang digunakan untuk kegiatan maintenance, repair, and operations dalam perusahaan. Barang-barang ini mendukung kelancaran operasional dan proses produksi, tetapi tidak menjadi bagian dari produk jadi.

      Contohnya meliputi suku cadang mesin, pelumas, alat kerja, alat pelindung diri (PPE), serta perlengkapan kebersihan dan operasional lainnya.

      Keunggulan MRO Inventory

      Banyak perusahaan berfokus menekan biaya bahan baku karena nilainya paling besar dan paling mudah terlihat di laporan.

      Padahal, pengeluaran operasional kecil yang berkaitan dengan MRO inventory juga dapat membebani perusahaan jika tidak dikelola dengan rapi, terutama karena pembeliannya sering terjadi berulang dan tersebar di banyak bagian.

      Biaya seperti suku cadang, pelumas, alat kerja, bahan pembersih, hingga perlengkapan keselamatan sering dianggap pengeluaran rutin biasa.

      Namun, ketika pencatatannya lemah, stok tidak terpantau, dan pembelian dilakukan tanpa kontrol yang jelas, biaya-biaya ini bisa menumpuk menjadi beban operasional yang sulit dilacak sumber kebocorannya.

      Beberapa bentuk pemborosan MRO inventory yang sering tidak langsung disadari antara lain:

      1. pembelian barang yang sama berulang karena stok sebenarnya masih ada, tetapi tidak tercatat dengan baik
      2. pengadaan mendadak dengan harga lebih tinggi karena perusahaan baru sadar stok sudah habis saat dibutuhkan
      3. penyimpanan barang berlebih yang jarang dipakai hingga berisiko usang atau rusak di gudang
      4. penggunaan alat atau material tanpa pemantauan, sehingga konsumsi aktual lebih besar dari kebutuhan
      5. biaya perawatan yang meningkat karena suku cadang atau perlengkapan pendukung tidak tersedia tepat waktu

      Karena itu, MRO inventory tidak seharusnya dipandang sebagai persediaan pelengkap yang nilainya kecil. Justru, pengelolaan yang tertata membantu perusahaan mengendalikan biaya tak terlihat, menjaga efisiensi pengadaan, dan mencegah pengeluaran rutin berkembang menjadi pemborosan jangka panjang.

      Contoh MRO Inventory

      Alat kerja

      Alat Kerja

      Obeng, tang, kunci inggris, bor, dan alat teknis lain untuk perawatan serta perbaikan.

      Suku cadang

      Suku Cadang

      Bearing, valve, gear, belt, dan komponen lain yang mendukung kesiapan mesin.

      Pelumas

      Pelumas

      Oli, grease, coolant, dan cairan pendukung untuk menjaga performa aset tetap optimal.

      PPE

      PPE

      Helm, sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung untuk mendukung keselamatan kerja.

      Barang habis pakai

      Barang Habis Pakai

      Kain lap, bahan pembersih, seal tape, dan item operasional yang dipakai rutin.

      Item monitoring

      Item Monitoring

      Label, checklist, dan perlengkapan pencatatan untuk kontrol stok dan maintenance.

      Contoh MRO inventory mencakup berbagai barang yang digunakan untuk mendukung aktivitas maintenance, repair, dan operasional perusahaan. Item-item ini tidak menjadi bagian dari produk jadi, tetapi tetap dibutuhkan agar pekerjaan teknis, perawatan aset, dan aktivitas harian perusahaan berjalan lancar.

      Karena cakupannya cukup luas, MRO inventory biasanya terdiri dari beberapa kategori berikut:

      1. Suku cadang mesin: Contohnya bearing, gear, belt, valve, motor, dan filter. Item ini digunakan saat perusahaan melakukan perbaikan atau penggantian komponen pada mesin dan peralatan kerja.
      2. Pelumas dan bahan pendukung perawatan: Contohnya oli mesin, grease, cutting fluid, cairan pendingin, dan bahan kimia pembersih. Barang-barang ini membantu menjaga performa mesin agar tetap optimal dan tidak cepat aus.
      3. Alat kerja dan perkakas: Contohnya obeng, kunci inggris, tang, bor, palu, dan alat ukur. Peralatan ini dibutuhkan teknisi atau staf operasional untuk menjalankan perawatan dan perbaikan.
      4. Peralatan keselamatan kerja: Contohnya helm, sarung tangan, masker, kacamata pelindung, ear plug, dan sepatu safety. Meskipun tidak terkait langsung dengan output produksi, item ini penting untuk menjaga keamanan tenaga kerja.
      5. Perlengkapan kebersihan dan fasilitas: Contohnya cairan pembersih, sapu, kain lap, desinfektan, dan kantong sampah. Barang ini mendukung kebersihan area kerja dan membantu menjaga standar operasional perusahaan.
      6. Perlengkapan operasional kantor atau gudang: Contohnya label, tinta printer, kertas, baterai, dan lampu. Item seperti ini sering digunakan untuk menunjang aktivitas administrasi, penyimpanan, dan operasional internal.

      Dari contoh tersebut, terlihat bahwa MRO inventory tidak hanya terbatas pada spare part mesin.

      Karakteristik MRO Inventory

      MRO inventory memiliki karakteristik yang berbeda dari bahan baku maupun barang jadi karena fungsinya lebih berfokus pada penunjang aktivitas operasional.

      Item-item ini memang tidak dijual kembali atau diolah menjadi produk utama, tetapi tetap dibutuhkan agar proses kerja, perawatan aset, dan aktivitas pendukung perusahaan berjalan.

      Berikut beberapa karakteristik utama MRO inventory:

      1. Tidak menjadi bagian dari produk jadi: MRO inventory digunakan untuk mendukung proses kerja, bukan untuk diolah menjadi barang yang dijual. Contohnya seperti pelumas, alat kerja, sarung tangan, atau suku cadang mesin.
      2. Pemakaiannya cenderung tidak selalu rutin:  Tidak semua item MRO digunakan setiap hari dalam jumlah tetap. Beberapa hanya dipakai saat ada perawatan, perbaikan, inspeksi, atau kebutuhan operasional tertentu.
      3. Jenis itemnya sangat beragam:  MRO inventory mencakup banyak kategori, mulai dari spare part, bahan pembersih, alat pelindung diri, sampai perlengkapan teknis dan fasilitas kerja. Karena variasinya tinggi, pengelolaannya sering lebih kompleks dibanding stok biasa.
      4. Nilai per item bisa kecil, tetapi total biayanya dapat besar:  Banyak barang MRO terlihat murah jika dilihat satuan, namun pembelian berulang dari banyak jenis item dapat membentuk pengeluaran operasional yang cukup signifikan.
      5. Berhubungan langsung dengan kelancaran operasional:  Ketika item MRO yang dibutuhkan tidak tersedia, pekerjaan maintenance, perbaikan, atau aktivitas pendukung bisa tertunda. Dampaknya, operasional perusahaan ikut melambat meskipun bahan baku utama masih tersedia.
      6. Sering tersebar di banyak bagian atau lokasi:  MRO inventory biasanya tidak hanya disimpan di satu gudang, tetapi juga bisa berada di ruang maintenance, area produksi, workshop, atau cabang tertentu. Kondisi ini membuat pencatatan stoknya lebih rentan tidak sinkron.
      7. Rentan menumpuk atau justru tidak terpantau: Karena penggunaannya tidak selalu konsisten, beberapa item MRO bisa tersimpan terlalu lama tanpa dipakai, sementara item lain malah habis tanpa terdeteksi lebih awal. Ini yang membuat kontrol stok MRO perlu lebih teliti.

      Perbedaan MRO Inventory dan Inventory Produksi Utama

      MRO inventory adalah persediaan pendukung yang digunakan untuk maintenance, repair, dan operasional perusahaan. Sementara itu, inventory produksi utama adalah persediaan yang dipakai langsung dalam proses pembuatan produk dan biasanya menjadi bagian dari hasil akhir.

      Perbedaan keduanya terlihat dari fungsi, pola penggunaan, dan dampaknya terhadap operasional. Agar lebih jelas, berikut ringkasannya:

      Aspek MRO Inventory Inventory Produksi Utama
      Fungsi Mendukung maintenance, repair, dan operasional Digunakan langsung untuk menghasilkan produk
      Hubungan dengan produk jadi Tidak menjadi bagian dari produk akhir Menjadi bagian dari proses atau hasil produksi
      Pola penggunaan Sesuai kebutuhan operasional dan perawatan Mengikuti rencana dan volume produksi
      Contoh Pelumas, suku cadang, alat kerja, PPE Bahan baku, komponen, bahan setengah jadi
      Dampak jika stok habis Menghambat perawatan dan operasional Mengganggu atau menghentikan produksi

      Tips Mengelola MRO Inventory

      Pengelolaan MRO inventory mencakup proses pembelian, penyimpanan, distribusi, hingga pengisian ulang stok dengan biaya yang tetap terkendali. Tujuannya adalah memastikan item penting selalu tersedia saat dibutuhkan, tanpa membuat perusahaan menumpuk stok berlebih yang memakan ruang dan anggaran.

      1. Tentukan item MRO yang paling krusial bagi operasional

      Perusahaan perlu mengidentifikasi barang-barang MRO yang mendukung aktivitas inti sehari-hari. Item yang berkaitan langsung dengan kelangsungan operasional sebaiknya selalu tersedia agar proses kerja tidak terganggu.

      2. Lakukan audit dan pengecekan stok secara berkala

      Audit membantu perusahaan mengetahui apakah stok MRO yang dibutuhkan masih tersedia, sekaligus menemukan barang yang sudah usang, berlebih, atau tidak lagi diperlukan. Pengecekan fisik secara rutin juga penting untuk menjaga akurasi data persediaan.

      3. Pilih pemasok yang andal dan sesuai kebutuhan

      Pengelolaan MRO inventory juga dipengaruhi oleh kualitas supplier. Memusatkan pembelian pada beberapa pemasok strategis dapat membantu menyederhanakan proses pengadaan, tetapi perusahaan tetap perlu mempertimbangkan kualitas produk, kecepatan pengiriman, konsistensi layanan, dan biaya logistik.

      4. Perkirakan kebutuhan berdasarkan pola penggunaan

      Perusahaan sebaiknya memantau pola pemakaian MRO inventory, termasuk kemungkinan lonjakan kebutuhan pada periode tertentu. Dengan begitu, pembelian dapat disesuaikan agar stok tetap cukup tanpa meningkatkan biaya penyimpanan secara berlebihan.

      5. Gunakan inventory software untuk memantau stok secara lebih akurat

      Inventory software membantu perusahaan mencatat pergerakan barang, memantau ketersediaan stok, dan mengetahui kapan item tertentu perlu diisi ulang. Dengan sistem yang lebih terstruktur, perusahaan dapat mengurangi risiko kehabisan stok, pembelian ganda, dan penyimpanan barang yang tidak efisien.

      MRO inventory mungkin tidak menjadi bagian dari produk jadi, tetapi perannya tetap penting dalam menjaga operasional perusahaan agar tetap stabil, efisien, dan siap menghadapi kebutuhan harian maupun perawatan mendadak.

      SoftwareITInventory

      Pertanyaan Seputar MRO Inventory

      • Siapa yang biasanya bertanggung jawab atas MRO inventory di perusahaan?

        Tanggung jawab MRO inventory biasanya melibatkan beberapa tim, seperti maintenance, gudang, procurement, dan operasional. Dalam praktiknya, koordinasi antardivisi penting agar stok tetap tersedia, data tetap akurat, dan kebutuhan perawatan tidak terlambat dipenuhi.

      • Apa risiko jika perusahaan menyimpan terlalu banyak stok MRO?

        Stok MRO yang berlebihan dapat membuat modal tertahan, ruang penyimpanan cepat penuh, dan beberapa item berisiko usang atau rusak sebelum digunakan. Kondisi ini juga menyulitkan perusahaan membedakan item yang benar-benar aktif dipakai dengan stok pasif yang jarang bergerak.

      • Apakah MRO inventory perlu dipantau dengan software?

        Ya, software membantu perusahaan memantau ketersediaan stok, riwayat penggunaan, dan kebutuhan pengisian ulang dengan lebih akurat. Ini penting karena item MRO biasanya tersebar di banyak lokasi dan sering sulit dikendalikan jika hanya dicatat manual.

      • Bagaimana cara mengetahui item MRO mana yang paling kritis?

        Item MRO yang paling kritis biasanya ditentukan dari dampaknya terhadap kelangsungan operasional, frekuensi penggunaan, dan seberapa besar risiko jika stoknya habis. Perusahaan umumnya memprioritaskan suku cadang penting, perlengkapan keselamatan, dan barang pendukung maintenance yang dibutuhkan untuk menjaga aset tetap berfungsi.

       

      Nur Fi'llia Nugrahani

      Content Writer

      Nuri adalah seorang spesialis dalam bidang inventory management dengan pengalaman 3 tahun. Berfokus pada penulisan yang mengangkat topik pengelolaan stok, pengendalian persediaan, dan implementasi sistem inventory digital untuk menjamin efisiensi operasional bisnis.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya