Seberapa jauh bisnis Anda benar-benar mulai menghasilkan keuntungan? Jika masih ragu, Break Even Point (BEP) dapat digunakan sebagai acuan awal untuk melihat titik saat pendapatan sudah mampu menutup seluruh biaya operasional.
Secara umum, BEP memuat perhitungan yang mengaitkan biaya tetap, biaya variabel, harga jual, dan pendapatan. Dari angka ini, pelaku usaha dapat menyusun strategi harga, menetapkan target penjualan, serta menilai dampak perubahan biaya atau volume penjualan terhadap profit secara lebih objektif.
Karena itu, memahami komponen biaya dan cara menghitung BEP dengan tepat menjadi langkah penting sebelum menjadikannya dasar pengambilan keputusan bisnis.
Daftar Isi:
Key Takeaways
|
Apa itu Break Even Point (BEP)?
Break Even Point (BEP) adalah perhitungan untuk mengetahui jumlah penjualan yang diperlukan agar bisnis mencapai titik impas atau balik modal. Dari angka ini, Anda bisa melihat kapan perusahaan mulai berpotensi menghasilkan laba.
Pada titik ini, bisnis tidak mengalami rugi maupun untung. Karena itu, menghitung BEP penting agar pemilik usaha dapat merencanakan strategi penjualan yang lebih tepat demi mencapai keuntungan.
Tahukah Anda?
Dengan dukungan sistem akuntansi berbasis AI, Anda dapat membuat invoice kapan saja dengan mudah dan menggunakan berbagai template.
Klik untuk detailnya!
Fungsi Break Even Point
Setelah memahami konsep dasarnya, berikut fungsi Break Even Point dalam membantu pengambilan keputusan bisnis.
1. Menentukan jumlah produksi yang dibutuhkan
Perhitungan BEP memberikan gambaran mengenai berapa unit produk yang harus dijual agar perusahaan bisa menutup seluruh biaya. Dari sini, manajemen dapat menetapkan target produksi yang sesuai untuk mencapai titik impas.
2. Mengarahkan strategi dan proses kerja
Setelah mengetahui target produksi, perusahaan bisa menyesuaikan strategi operasional. Misalnya, menambah tenaga kerja, meningkatkan kapasitas mesin, atau mencari bahan baku yang lebih efisien agar tujuan keuangan tercapai.
3. Menganalisis perubahan keuntungan
Harga produk yang berfluktuasi dapat memengaruhi besar kecilnya laba. Dengan BEP, perusahaan bisa lebih mudah memahami hubungan antara harga, volume penjualan, dan laba, karena ketiganya saling terhubung dalam perhitungan garis linier.
4. Mengantisipasi potensi kerugian
Selain membantu melihat peluang laba, BEP juga berguna untuk mengukur risiko kerugian. Jika terjadi penurunan harga jual, perusahaan dapat segera memperkirakan dampaknya terhadap titik impas dan menyiapkan langkah pencegahan.
Manfaat Analisis Break Even Point (BEP)
Analisis Break Even Point (BEP) bukan sekadar alat untuk mengetahui kapan bisnis balik modal. Lebih dari itu, BEP menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan yang strategis, terutama dalam hal efisiensi biaya, proyeksi keuangan perusahaan, dan pengelolaan risiko.
Beberapa manfaat utama analisis BEP antara lain:
- Menentukan volume penjualan minimum: menghitung jumlah produk atau jasa yang harus dijual untuk menutup seluruh biaya tetap dan variabel.
- Memproyeksikan potensi laba: setelah melewati titik impas, margin kontribusi per unit akan langsung menambah laba bersih.
- Mengukur kesehatan struktur biaya: membandingkan BEP dengan kapasitas produksi atau permintaan pasar untuk melihat apakah biaya tetap terlalu tinggi.
- Menganalisis sensitivitas perubahan: memahami dampak fluktuasi harga, biaya, atau volume penjualan terhadap profitabilitas.
- Mendukung perencanaan keuangan: menjadi acuan dalam menentukan target penjualan, menyusun anggaran, dan merancang strategi investasi jangka menengah.
Komponen dalam Break Even Point (BEP)
Terdapat tujuh komponen yang berkontribusi terhadap nilai BEP perusahaan Anda:
1. Biaya tetap (fixed cost)
Fixed cost adalah biaya yang tetap konstan terlepas dari perubahan dalam proses produksi. Perubahan yang dimaksud adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi barang dari waktu ke waktu. Contoh biaya tetap adalah penyusutan, tenaga kerja, sewa bangunan atau gudang.
2. Biaya variabel (variabel cost)
Biaya variabel adalah biaya yang nilainya bervariasi per unit. Terjadinya perubahan biaya karena seiring volume kapasitas produksi yang dapat berubah dalam menanggapi permintaan pasar.
Volume produksi dengan variabel cost berkaitan karena jika satu meningkat, yang lain akan mengikuti. Contoh biaya variabel termasuk listrik, bahan baku, dan transportasi.
3. Harga jual (price)
Cara menghitung BEP perihal harga jual adalah dengan menjumlah semua biaya terkait dengan produksi item ditambah nilai keuntungan atau margin yang akan perusahaan peroleh. Biasanya, penentuan harga jual per unit terjadi setelah produksi.
4. Pendapatan (revenue)
Dalam bisnis, pendapatan berasal dari terjadinya penjualan produk. Untuk menghitung keuntungan, kalikan harga jual dengan jumlah produk yang dijual. Perusahaan membutuhkan nilai pendapatan untuk memperkirakan pendapatan periode mendatang berdasarkan margin dan/atau variasi margin dan unit dan harga.
5. Biaya campuran (mixed cost)
Biaya campuran adalah kombinasi antara biaya tetap dan variabel, di mana nominal dasar tetap dibayarkan meskipun tidak ada produksi. Saat produksi berlangsung, biaya ini meningkat sesuai dengan jumlah output, seperti tagihan listrik dan bahan bakar.
6. HPP (Harga Pokok Penjualan)
HPP mencerminkan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang, setara dengan titik impas atau break even point. Nilai ini menjadi dasar untuk menentukan harga jual produk, di mana margin laba belum ditambahkan.
7. Margin laba
Margin laba adalah tambahan keuntungan di atas HPP yang menentukan berapa besar profit yang akan diperoleh perusahaan. Pemilik bisnis bebas menentukan margin ini berdasarkan target keuntungan dan harga jual produk di pasar.
| Komponen | Deskripsi Singkat | Contoh |
|---|---|---|
| Biaya Tetap (Fixed Cost) | Biaya yang tidak berubah meski volume produksi naik/turun. | Sewa, gaji tetap, penyusutan |
| Biaya Variabel (Variable Cost) | Biaya yang berubah proporsional terhadap jumlah unit yang diproduksi. | Bahan baku, listrik per unit, transportasi |
| Harga Jual (Price) | Harga per unit yang ditetapkan perusahaan (biaya + margin). | Harga jual produk per unit |
| Pendapatan (Revenue) | Total pemasukan dari penjualan (harga × jumlah unit). | Total penjualan per periode |
| Biaya Campuran (Mixed Cost) | Biaya yang mengandung elemen tetap dan variabel sekaligus. | Tagihan listrik (dasar + pemakaian) |
| Harga Pokok Penjualan (HPP) | Total biaya langsung untuk memproduksi barang, sebelum margin. | Biaya produksi per unit |
| Margin Laba | Tambahan keuntungan yang ditetapkan di atas HPP. | Persentase keuntungan per unit |
Baca juga: Software Akuntansi HashMicro sebagai Solusi Terbaik
Rumus dan Langkah-langkah Menghitung Break Even Point (BEP)
Cara menghitung BEP (Break Even Point) dalam rupiah sebenarnya dapat Anda lakukan dengan BEP (jumlah unit) = Total Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit).
Dalam praktik penyusunan laporan keuangan dan evaluasi kinerja, terdapat tiga cara menghitung BEP, yaitu berdasarkan unit, nilai jual, dan mata uang.”
1. Cara menghitung BEP per unit
Keterangan:
- FC : Fixed Cost / Biaya Tetap.
- P: Price per unit / Harga per unit.
- VC: Variable Cost / Biaya Variable.
Fixed Cost (FC) = Rp 100.000.000
Price per Unit (P) = Rp 50.000
Variable Cost per Unit (VC) = Rp 30.000
Hitung:
100.000.000 ÷ (50.000-30.000) = 5.000
Cara menghitung break even point adalah dengan membagi biaya tetap dengan margin kontribusi per unit. Margin kontribusi per unit dihitung dengan mengurangi harga jual per unit dari biaya variabel per unit.
Selain itu, nilai margin kontribusi dapat dihitung dengan mengurangi total penjualan keseluruhan dari biaya variabel.
2. Rumus BEP nilai penjualan
Keterangan:
- CMR = Contribution Margin Ratio (rasio margin kontribusi, menunjukkan persentase penjualan yang jadi kontribusi menutup biaya tetap)
- P = Price per Unit (harga jual per unit)
- VC = Variable Cost per Unit (biaya variabel per unit)
Diketahui:
- Fixed Cost (FC) = Rp 120.000.000
- Margin Kontribusi per Unit: 20.000
- BEP= 120.000.000:20.000=6.000
Jika Anda tahu berapa banyak unit yang harus bisnis jual untuk menutupi biaya produksi, Anda dapat mengalikan angka itu dengan biaya per unit.
3. Perhitungan BEP rupiah
atau
Keterangan:
- BEP (unit) = hasil perhitungan break even point dalam jumlah unit
- P = Price per Unit (harga jual per unit)
- FC = Fixed Cost (biaya tetap total)
- CMR = Contribution Margin Ratio
Guna memperdalam pemahaman Anda, berikut adalah contoh analisa BEP yang bisa Anda ikuti dan pahami bersama.
Contoh Analisa Break Even Point
Raka adalah akuntan manajerial di PT Wangi, produsen parfum. Ia menghitung biaya tetap bulanan seperti sewa tempat, gaji staf, dan pajak properti dengan total Rp 100.000.000.
Untuk setiap botol parfum, biaya variabel produksinya Rp 20.000 (bahan, kemasan, dan tenaga produksi), lalu parfum dijual seharga Rp 100.000 per botol. Maka titik impasnya dihitung sebagai berikut:
BEP = Biaya Tetap / (Harga Jual – Biaya Variabel)
BEP = Rp 100.000.000 / (Rp 100.000 – Rp 20.000)
BEP = Rp 100.000.000 / Rp 80.000 = 1.250 botol
Artinya, PT Wangi perlu menjual 1.250 botol agar balik modal. Setelah lewat angka itu, penjualan berikutnya mulai masuk ke grafik keuntungan CVP.
Apa Sajakah Faktor yang Membuat Break Even Point Perusahaan Naik?
BEP ibarat “garis aman” bisnis Anda. Saat beberapa kondisi berubah, garis aman ini ikut terdorong naik, artinya Anda perlu menjual lebih banyak unit agar tetap balik modal.
Beberapa faktor yang menyebabkan BEP Anda naik adalah:
1. Permintaan naik, tapi operasional ikut membengkak
Penjualan yang meningkat memang kabar baik, tetapi sering diikuti biaya tambahan seperti lembur, penambahan shift, biaya distribusi, atau stok bahan baku yang lebih besar. Jika biaya-biaya ini naik lebih cepat dari margin per produk, BEP ikut terdorong ke atas.
2. Biaya produksi naik, sementara harga jual sulit ikut naik
Ini situasi yang paling sering bikin pelaku usaha “seret napas”. Saat bahan baku, kemasan, ongkos kirim, atau biaya tenaga kerja naik, margin per unit mengecil, sehingga Anda butuh menjual lebih banyak untuk menutup biaya tetap yang sama.
3. Peralatan atau proses produksi bermasalah
Ketika mesin rusak, maintenance mendadak, atau alur produksi tersendat, output turun sementara biaya tetap tetap jalan (sewa, gaji, listrik minimum). Akibatnya target penjualan untuk balik modal menjadi lebih berat.
Kesimpulan
Dengan memahami break even point, Anda bisa mengetahui batas minimal penjualan agar bisnis tidak merugi. Dari sini, Anda lebih mudah menetapkan target omzet yang realistis dan melihat seberapa besar beban biaya yang perlu dikendalikan.
Agar hasilnya sesuai, pastikan biaya tetap dan biaya variabel tercatat dengan rapi, kemudian uji BEP dengan beberapa skenario sederhana.
Jika Anda ingin menghitung BEP dengan lebih cepat dan konsisten, Anda juga bisa menjadwalkan sesi konsultasi untuk melihat alur perhitungannya secara langsung. Dengan begitu, Anda dapat mengambil keputusan berbasis angka, bukan sekadar asumsi.
Pertanyaan (FAQ) Seputar Break Even Point
-
Apakah break even point harus tinggi atau rendah?
BEP merujuk pada kondisi di mana suatu organisasi tidak mengalami keuntungan atau kerugian, karena semua biaya telah ditutupi. Analisis break even point sangat penting untuk memahami keterkaitan antara biaya variabel, biaya tetap, dan pendapatan.
-
Bagaimana jika BEP tinggi?
Penetapan harga jual yang lebih rendah akan mengurangi margin kontribusi per unit dan meningkatkan jumlah unit yang diperlukan untuk mencapai BEP. Penurunan harga jual ini bisa terjadi akibat pemberian diskon yang signifikan atau rendahnya permintaan.
-
Berapa rasio break-even yang ideal?
Dalam transaksi pinjaman, pemberi pinjaman biasanya akan menetapkan persyaratan rasio impas, namun syarat tersebut dapat bervariasi tergantung pada pemberi pinjaman dan jenis properti. Secara umum, rasio yang ideal berada di bawah 85%.







