CNBC Awards

Panduan Lengkap Deposit in Transit untuk Akurasi Kas

Diterbitkan:

Istilah deposit in transit sering muncul dalam dunia akuntansi dan pengelolaan kas, terutama bagi tim keuangan dan pemilik bisnis yang ingin laporan tetap sinkron. Konsep ini menjelaskan posisi dana yang sudah dikirim namun belum tercatat oleh bank pada periode yang sama.

Situasi tersebut kerap menjadi sumber selisih saldo saat proses rekonsiliasi dilakukan. Tanpa pemahaman yang tepat, perusahaan bisa salah menilai kondisi kas sebenarnya dan mengambil keputusan finansial yang kurang akurat.

Melalui pembahasan ini, anda akan mempelajari definisi, penyebab, serta cara mencatat dana dalam proses dengan benar. Penjelasan juga mencakup pendekatan praktis untuk menjaga konsistensi laporan dan meningkatkan visibilitas arus kas secara menyeluruh.

Key Takeaways

  • Dalam akuntansi, Deposit in Transit berarti kas atau cek yang sudah diterima dan dibukukan internal, namun belum divalidasi atau diposting oleh bank.
  • Mekanisme Pencatatan melibatkan penyesuaian saldo bank dalam rekonsiliasi untuk mencerminkan dana yang sedang dalam proses kliring.
  • Pengelolaan sering dihadapkan pada kendala berupa kesalahan manual, verifikasi yang tidak tepat waktu, dan kemungkinan perubahan data keuangan secara tidak sah.
  • Konsep setoran dalam perjalanan menjadi semakin dinamis berkat dukungan teknologi pembayaran yang mempercepat proses penyelesaian dana.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Definisi dan Konsep Dasar Deposit in Transit

      Deposit in transit atau setoran dalam perjalanan adalah dana yang sudah diterima dan dicatat perusahaan tetapi belum muncul di rekening bank pada tanggal yang sama. Kondisi ini menimbulkan selisih saldo sementara antara catatan kas internal dan saldo resmi bank.

      Situasi tersebut terjadi karena adanya jeda waktu (time lag) pemrosesan transaksi oleh sistem perbankan. Perusahaan mencatat dana saat diterima, sementara bank masih perlu waktu untuk verifikasi, kliring, atau pemrosesan terutama untuk setoran ATM, cek, atau transaksi di luar jam operasional.

      Deposit in transit berbeda dari pendapatan yang belum dicatat (accrued revenue) karena keduanya memiliki makna akuntansi yang tidak sama. Setoran dalam perjalanan adalah dana yang sudah ada dan diserahkan ke bank, sedangkan pendapatan belum dicatat adalah hak perusahaan yang belum diterima dan biasanya diverifikasi melalui prosedur audit seperti cash opname.

      Perspektif Akuntansi vs. Perspektif Perbankan

      Dari sudut pandang perusahaan, setoran dalam perjalanan diperlakukan sebagai kas yang setara dengan uang di tangan. Karena itu jumlahnya sudah dimasukkan dalam neraca saldo sebagai aset lancar dan dianggap likuid untuk operasional meski bank belum merilis dana.

      Sebaliknya, dari perspektif bank dana tersebut belum diakui sebagai kewajiban sampai proses kliring selesai. Bank hanya menampilkan dana di kredit rekening setelah validasi cek atau perhitungan fisik selesai, sehingga rekonsiliasi bank perlu dilakukan berkala agar angka kedua pihak selaras.

      Penyebab Utama Terjadinya Deposit in Transit

      Memahami akar penyebab terjadinya setoran dalam perjalanan membantu manajemen keuangan dalam mengantisipasi selisih saldo dan merencanakan arus kas dengan lebih baik. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkan timbulnya deposit in transit dalam operasional bisnis sehari-hari:

      • Waktu Cut-Off Bank: Setiap bank memiliki batas waktu (cut-off time) untuk memproses transaksi pada hari yang sama. Setoran yang dilakukan setelah jam tersebut (misalnya pukul 15.00) biasanya akan diproses dan dicatat pada hari kerja berikutnya.
      • Setoran Akhir Pekan dan Hari Libur: Transaksi bisnis sering kali berjalan 24/7, terutama di sektor ritel. Uang tunai atau cek yang diterima dan disetorkan pada hari Jumat sore, Sabtu, atau Minggu, serta pada hari libur nasional, baru akan diproses oleh bank pada hari kerja pertama setelah libur.
      • Proses Kliring Cek: Penggunaan cek sebagai alat pembayaran masih umum dalam transaksi B2B. Cek dari bank yang berbeda dengan bank penerima memerlukan proses kliring antarbank yang bisa memakan waktu 1 hingga 3 hari kerja sebelum dana efektif masuk ke rekening.
      • Setoran Melalui ATM atau Night Depository: Fasilitas night depository memungkinkan bisnis menyetorkan uang di luar jam kerja bank. Namun, kantong setoran ini baru akan dibuka dan dihitung oleh petugas bank pada pagi hari kerja berikutnya, menyebabkan jeda pencatatan.
      • Keterlambatan Sistem Pembayaran Digital: Meskipun transaksi digital terkesan instan, penyedia layanan pembayaran (payment gateway) sering kali memiliki jadwal penyelesaian (settlement) dana ke rekening pedagang yang tidak real-time, misalnya H+1 atau H+2.

      Pemahaman tentang cut off date sangat penting untuk mengelola perbedaan waktu pencatatan transaksi. Perusahaan harus menetapkan kebijakan pengakuan periode yang jelas karena kesalahan menentukan batas waktu, terutama untuk transaksi akhir bulan yang baru tercatat bank di bulan berikutnya, dapat mendistorsi laporan posisi keuangan.

      Mekanisme Pencatatan dalam Rekonsiliasi Bank

      Rekonsiliasi bank adalah proses membandingkan saldo kas menurut catatan perusahaan dengan saldo pada rekening koran bank. Dalam proses ini, deposit in transit menjadi item penyesuaian (reconciling item) penting karena tanpa komponen ini saldo tidak akan bisa seimbang.

      Secara teknis, setoran dalam perjalanan adalah penambah saldo bank. Rumus dasar rekonsiliasi untuk sisi bank adalah:

      Saldo Akhir Bank (per Rekening Koran) + Deposit in Transit – Cek Beredar (Outstanding Checks) +/- Kesalahan Bank = Saldo Bank yang Disesuaikan

      Contoh Studi Kasus Perhitungan

      Mari kita lihat ilustrasi konkret untuk memahami bagaimana mekanisme ini bekerja dalam praktik nyata:

      PT Logistik Nusantara menutup buku kas pada tanggal 31 Maret. Berikut adalah data yang tersedia:

      • Saldo kas menurut buku besar perusahaan: Rp 150.000.000.
      • Saldo menurut rekening koran bank per 31 Maret: Rp 135.000.000.
      • Pada tanggal 31 Maret sore hari, staf keuangan menyetorkan uang tunai hasil penjualan harian sebesar Rp 20.000.000 melalui mesin setor tunai, namun transaksi tersebut tercatat di sistem bank tertanggal 1 April.
      • Terdapat cek senilai Rp 5.000.000 yang dikeluarkan perusahaan untuk pembayaran vendor namun belum dicairkan oleh vendor tersebut (outstanding check).

      Untuk melakukan rekonsiliasi, akuntan akan melakukan penyesuaian sebagai berikut:

      1. Mulai dari Saldo Bank: Rp 135.000.000.
      2. Tambah Deposit in Transit: Karena uang Rp 20.000.000 sudah menjadi hak perusahaan dan sudah disetorkan, namun belum diakui bank karena masalah waktu, maka saldo bank harus ditambah. (Rp 135.000.000 + Rp 20.000.000 = Rp 155.000.000).
      3. Kurangi Outstanding Check: Cek senilai Rp 5.000.000 adalah pengurang yang belum dicatat bank. (Rp 155.000.000 – Rp 5.000.000 = Rp 150.000.000).
      4. Hasil Akhir: Saldo bank yang disesuaikan menjadi Rp 150.000.000, yang kini sesuai dengan saldo buku besar perusahaan.

      Tanpa memperhitungkan setoran dalam perjalanan, perusahaan mungkin akan salah mengira bahwa ada uang yang hilang sebesar Rp 15.000.000 atau menganggap pencatatan bank yang salah, padahal ini murni masalah perbedaan waktu pencatatan.

      Dampak Signifikan Terhadap Laporan Keuangan

      deposit in transit

      Deposit in transit bukan sekadar angka rekonsiliasi karena berdampak langsung pada penyajian laporan keuangan, khususnya neraca. Kas adalah aset paling likuid sehingga penyajiannya harus akurat karena memengaruhi berbagai rasio keuangan.

      Jika setoran dalam perjalanan tidak diidentifikasi dengan benar, perusahaan bisa melaporkan kas terlalu rendah saat hanya mengandalkan rekening koran atau gagal mendeteksi penyimpangan bila dana ternyata tidak pernah masuk bank. Ketepatan saldo kas sangat penting untuk menghitung aset operasional bersih dan menilai efisiensi, sama pentingnya dengan memahami komponen seperti net operating asset.

      Bagi perusahaan yang bergantung pada arus kas cepat, keterlambatan pengakuan dana dapat memengaruhi keputusan manajerial. Manajer bisa menunda pembayaran utang karena saldo bank terlihat belum cukup padahal dana sudah disetor, yang berisiko merusak hubungan pemasok atau memicu denda keterlambatan.

      Tantangan, Risiko, dan Kesalahan Umum dalam Pengelolaan Setoran 

      Meskipun konsepnya sederhana, pengelolaan setoran dalam perjalanan di lapangan sering kali menghadapi berbagai tantangan kompleks yang dapat merugikan perusahaan jika tidak dimitigasi dengan baik.

      1. Risiko Kecurangan (Fraud)

      Skema penipuan yang sering terjadi pada setoran dalam perjalanan adalah teeming and lading atau lapping. Dalam praktiknya, karyawan menggunakan pembayaran Pelanggan A untuk kepentingan pribadi lalu menutupinya dengan pembayaran Pelanggan B di hari berikutnya, memanfaatkan jeda waktu deposit untuk menyembunyikan manipulasi dana.

      Untuk mencegahnya, perusahaan wajib menerapkan pemisahan tugas secara ketat. Penerima uang tidak boleh merangkap sebagai pencatat piutang atau pelaku rekonsiliasi bank, serta perlu diberlakukan cuti wajib dan pemeriksaan auditor bulanan agar pola penipuan terdeteksi sejak dini.

      2. Kesalahan Manusia (Human Error)

      Kesalahan pencatatan manual seperti transposition error atau kekeliruan tanggal masih menjadi sumber selisih dalam laporan keuangan. Contohnya, setoran Rp 1.500.000 yang tercatat Rp 1.050.000 dapat menyebabkan perbedaan saldo yang tersamarkan oleh transaksi lain apabila rekonsiliasi tidak dilakukan secara rinci per item.

      Selain itu, cut-off error terjadi ketika penerimaan kas akhir bulan dicatat pada periode berikutnya. Praktik ini melanggar prinsip akrual dan membuat saldo kas serta piutang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga perlu dikendalikan melalui jurnal penyesuaian yang disiplin atau sistem pencatatan otomatis berbasis waktu transaksi.

      3. Kompleksitas Volume Transaksi

      Bagi perusahaan ritel dengan ratusan gerai, melacak setoran dalam perjalanan dari setiap titik penjualan (POS) bisa menjadi mimpi buruk logistik. Setiap gerai mungkin menyetor ke cabang bank yang berbeda dengan waktu cut-off yang bervariasi, membuat proses konsolidasi data menjadi sangat rumit dan rentan kesalahan.

      Perusahaan perlu menerapkan strategi pengendalian biaya yang ketat dalam proses akuntansi untuk mengatasi beban administratif yang memakan waktu dan biaya. Prinsip pengelolaan biaya operasional yang efisien tidak hanya berlaku pada produksi, tetapi juga pada administrasi keuangan agar kerugian akibat kesalahan atau pengelolaan kas yang tidak optimal bisa diminimalkan.

      Relevansi Deposit in Transit di Era Pembayaran Digital

      Transformasi digital telah mengubah lanskap pembayaran secara drastis. Pertanyaannya, apakah konsep deposit in transit masih relevan ketika banyak transaksi dilakukan secara cashless? Jawabannya adalah: Sangat relevan, namun dengan bentuk yang berbeda.

      Di era modern, deposit in transit sering kali bermanifestasi sebagai “Dana dalam Penyelesaian” (Funds in Settlement). Ketika pelanggan membayar menggunakan kartu kredit, dompet digital (e-wallet), atau QRIS, uang tersebut tidak langsung masuk ke rekening bank perusahaan detik itu juga. Dana tersebut ditampung sementara oleh Payment Gateway atau Acquirer.

      • Siklus Settlement (T+N): Sebagian besar penyedia layanan pembayaran menerapkan sistem T+1 (transaksi hari ini cair besok) atau bahkan T+3 untuk kartu kredit internasional. Selama periode T hingga dana cair, uang tersebut secara akuntansi adalah deposit in transit.
      • Batch Processing: Banyak sistem Point of Sales (POS) mengirimkan data transaksi dalam satu batch di akhir hari. Jika batch tersebut dikirim lewat tengah malam atau mengalami kegagalan koneksi, rekonsiliasi otomatis akan menunjukkan selisih yang harus diperlakukan sebagai setoran dalam perjalanan.
      • Biaya Layanan (MDR): Tantangan tambahan di era digital adalah adanya potongan biaya Merchant Discount Rate (MDR) yang langsung dipotong dari setoran. Perusahaan mencatat penjualan bruto (misal Rp 100.000), namun bank mentransfer nilai bersih (misal Rp 99.300). Selisih ini sering kali membingungkan staf keuangan yang mengira ada setoran yang belum lengkap, padahal itu adalah biaya administrasi.

      Perbedaan Deposit in Transit dengan Outstanding Checks

      Dalam menyusun rekonsiliasi bank, dua istilah yang paling sering muncul dan berlawanan arah adalah Deposit in Transit dan Outstanding Checks (Cek Beredar). Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar tidak salah menempatkan pos penyesuaian.

      Aspek Pembeda Deposit in Transit Deposit in Transit
      Definisi Uang masuk yang sudah dicatat perusahaan, belum dicatat bank. Cek keluar yang sudah dicatat perusahaan, belum dicairkan penerima.
      Sifat Arus Kas Penerimaan Kas (Cash Inflow). Pengeluaran Kas (Cash Outflow).
      Perlakuan di Rekonsiliasi Menambah saldo bank. Mengurangi saldo bank.
      Penyebab Utama Keterlambatan proses bank atau waktu setoran. Keterlambatan penerima cek dalam mencairkan dana.
      Risiko Pencurian kas sebelum disetor (Lapping). Kekurangan dana saat cek akhirnya dicairkan.

      Kesalahan umum yang sering terjadi adalah akuntan pemula menukar posisi kedua item ini, yang mengakibatkan selisih rekonsiliasi menjadi dua kali lipat lebih besar. Oleh karena itu, identifikasi sumber transaksi (apakah uang masuk atau uang keluar) adalah langkah pertama yang krusial.

      Strategi Mengelola Deposit in Transit Secara Efektif

      deposit in transit

      Untuk meminimalkan kebingungan dan risiko yang terkait dengan setoran dalam perjalanan, perusahaan perlu mengadopsi prosedur operasional standar yang ketat dan memanfaatkan teknologi.

      1. Penyetoran Harian (Daily Deposit)

      Terapkan kebijakan untuk menyetorkan semua penerimaan kas pada hari yang sama. Jangan menahan uang tunai di brankas kantor terlalu lama. Semakin cepat uang disetor, semakin cepat statusnya berubah dari deposit in transit menjadi dana efektif. Ini juga mengurangi risiko kehilangan akibat pencurian fisik di lokasi bisnis.

      2. Transisi ke Rekonsiliasi Bank Harian dengan Teknologi Otomatis

      Rekonsiliasi bank bulanan tidak lagi memadai bagi bisnis yang bergerak cepat. Praktik terbaik adalah rekonsiliasi harian melalui integrasi host-to-host antara sistem ERP dan rekening koran, sehingga selisih atau cek kosong dapat terdeteksi dalam hitungan jam dan arus kas lebih cepat dipulihkan.

      Otomasi ini juga mendukung penerapan intelligent matching rules untuk mencocokkan transaksi secara otomatis meskipun terdapat perbedaan kecil pada deskripsi. Dengan begitu, beban kerja manual tim keuangan berkurang signifikan dan fokus dapat dialihkan pada pengecualian (exceptions) yang benar-benar membutuhkan analisis manusia.

      3. Pemisahan Tugas (Segregation of Duties)

      Untuk mencegah fraud, orang yang bertugas menerima uang dan menyetorkannya ke bank tidak boleh orang yang sama dengan yang melakukan rekonsiliasi bank. Pemisahan fungsi ini memastikan bahwa jika ada setoran dalam perjalanan yang fiktif atau tertunda secara tidak wajar, pihak independen (staf rekonsiliasi) dapat mendeteksinya dan melaporkannya kepada manajemen.

      Implementasi Sektoral: Tantangan dan Strategi di Berbagai Industri

      Meskipun konsep deposit in transit berlaku secara universal dalam akuntansi, dampak praktis dan cara penanganannya sangat bervariasi tergantung pada model bisnis perusahaan. Memahami nuansa ini sangat penting bagi manajer keuangan untuk merancang prosedur pengendalian internal yang tepat sasaran dan efisien.

      1. Industri Ritel dan F&B:

      Dalam industri ritel, volume transaksi harian sangat tinggi dengan beragam metode pembayaran seperti tunai, kartu debit, dan QRIS, sementara nilai per transaksi relatif kecil. Deposit in transit menjadi kejadian rutin, terutama karena perbedaan cut-off time antara jam operasional toko yang panjang dan batas waktu pemrosesan setoran oleh bank.

      Untuk mengatasinya, perusahaan perlu memisahkan pencatatan penjualan per shift dari pencatatan setoran bank melalui integrasi POS dan ERP. Sistem harus mencatat kas sebagai “Kas di Tangan” atau “Kas Belum Disetor” secara real-time dan memindahkannya ke akun bank setelah validasi, agar selisih dapat ditelusuri secara akurat.

      2. E-Commerce dan Bisnis Digital

      Di perusahaan e-commerce, konsep deposit in transit menjadi lebih kompleks karena melibatkan pihak ketiga seperti Payment Gateway. Pembayaran pelanggan tidak langsung masuk ke rekening perusahaan, melainkan tertahan di settlement account dan baru dicairkan dalam skema T+1 hingga T+3 sesuai perjanjian layanan.

      Dalam konteks ini, setoran dalam perjalanan berbentuk data digital yang merekap ribuan transaksi kecil menjadi satu transfer lump sum yang sering kali telah dipotong MDR. Tanpa sistem auto-reconciliation berbasis ID transaksi, tim keuangan akan kesulitan memastikan seluruh dana penjualan telah diterima secara lengkap.

      3. Manufaktur dan Distribusi B2B

      Berbeda dengan ritel, industri manufaktur dan distribusi menangani transaksi yang lebih sedikit tetapi bernilai besar. Deposit in transit umumnya muncul saat cek fisik telah diterima dan diakui sebagai pelunasan piutang, namun masih menunggu proses kliring antarwilayah atau antarbank.

      Implikasinya berkaitan langsung dengan manajemen rantai pasok dan akurasi modal kerja. Jika dana dianggap tersedia sebelum kliring selesai, perusahaan berisiko menerbitkan pesanan bahan baku atau pembayaran tanpa likuiditas yang cukup, sehingga pemantauan status kliring harian menjadi KPI yang wajib diawasi.

      Langkah Implementasi Sistem Kontrol dan Metrik Kinerja

      Mengelola setoran dalam perjalanan bukan hanya sekadar tugas administratif, melainkan bagian dari strategi manajemen kas. Implementasi sistem kontrol yang efektif memerlukan langkah-langkah terstruktur yang didukung oleh pengukuran kinerja yang jelas.

      1. Penyusunan SOP Pencatatan dan Penyetoran

      Langkah pertama adalah menetapkan kebijakan tegas bahwa setiap penerimaan kas diakui saat diterima, bukan saat disetorkan ke bank. Perusahaan juga harus menetapkan batas maksimal penyetoran, misalnya 1×24 jam, untuk meminimalkan risiko penyalahgunaan dan memastikan jeda deposit in transit hanya disebabkan oleh proses perbankan.

      2. Metrik dan KPI Utama (Key Performance Indicators)

      Untuk mengukur efektivitas pengelolaan kas, perusahaan perlu memantau Average Clearing Time sebagai indikator kinerja pengelolaan arus kas harian. Metrik ini menunjukkan rata-rata waktu setoran berubah dari tercatat di buku menjadi tersedia di bank, dan kenaikan mendadak tanpa alasan jelas dapat menjadi sinyal risiko dalam kontrol internal keuangan.

      KPI lain yang krusial adalah Unreconciled Item Aging untuk memantau lamanya deposit in transit menggantung dalam rekonsiliasi. Item yang melebihi 3–5 hari kerja harus segera diinvestigasi, dan sistem ERP modern dapat mengatur peringatan otomatis agar tim keuangan dapat melakukan intervensi dini sebelum tutup buku.

      Masa Depan Rekonsiliasi: Menuju Real-Time Accounting

      Menjelang 2025 dan seterusnya, pengelolaan kas bergerak ke arah Real-Time Treasury yang menuntut visibilitas instan atas posisi dana. Inisiatif seperti Bank Indonesia melalui BI-FAST memungkinkan transfer 24/7 dengan biaya rendah, sehingga potensi deposit in transit akibat jeda sistem perbankan semakin berkurang.

      Meski demikian, selama masih ada selisih waktu antara pencatatan internal dan konfirmasi eksternal bank, konsep deposit in transit tidak akan sepenuhnya hilang. Peran AI dalam sistem ERP akan semakin penting untuk memprediksi waktu efektif dana berdasarkan pola historis, sehingga cash forecasting menjadi lebih presisi dan proaktif.

      Contoh implementasi terlihat pada Sompo Insurance Indonesia yang memanfaatkan software akuntansi terintegrasi untuk mempercepat rekonsiliasi premi dan settlement bank. Sistem tersebut memungkinkan pencocokan otomatis mutasi rekening dengan data polis, sehingga mengurangi transaksi menggantung dan beban verifikasi manual.

      Dampaknya, proses closing menjadi lebih cepat dengan visibilitas kas yang lebih akurat di seluruh cabang. Selain meningkatkan efisiensi operasional, penggunaan sistem akuntansi berbasis ERP juga memperkuat kontrol internal dan meminimalkan risiko selisih pencatatan.

      Kesimpulan

      Deposit in transit adalah fenomena akuntansi yang tampak sepele tetapi punya dampak besar terhadap akurasi laporan keuangan dan pengambilan keputusan bisnis. Memahami perbedaan waktu pencatatan antara perusahaan dan bank membantu manajemen menghindari salah interpretasi saldo kas sekaligus menjaga keandalan rekonsiliasi.

      Pengelolaan yang buruk dapat membuka celah kesalahan, keterlambatan keputusan, bahkan risiko fraud, terutama jika volume transaksi tinggi atau proses masih manual. Karena itu perusahaan perlu menerapkan SOP ketat, pemisahan tugas, serta pemantauan KPI agar setiap selisih dapat dilacak dan diselesaikan dengan cepat.

      Di era pembayaran digital, konsep ini tetap relevan meski bentuknya bergeser menjadi dana settlement yang menunggu pencairan. Dengan dukungan otomasi, integrasi sistem, dan analitik real-time, perusahaan dapat meningkatkan visibilitas arus kas sekaligus meminimalkan risiko selisih sehingga pengelolaan likuiditas menjadi lebih presisi.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Deposit in Transit

      • Apa perbedaan utama antara deposit in transit dan outstanding check?

        Perbedaan utamanya terletak pada arah arus kas dan efeknya terhadap saldo bank. Deposit in transit adalah uang masuk (setoran) yang sudah dicatat perusahaan tapi belum dicatat bank, sehingga menambah saldo bank dalam rekonsiliasi. Sebaliknya, outstanding check adalah uang keluar (pembayaran) yang sudah dicatat perusahaan tapi belum dicairkan penerima, sehingga mengurangi saldo bank dalam rekonsiliasi.

      • Apakah deposit in transit dianggap sebagai kecurangan?

        Tidak, deposit in transit itu sendiri adalah kejadian normal akibat perbedaan waktu proses (timing difference). Namun, deposit in transit sering dimanfaatkan untuk menyembunyikan kecurangan seperti lapping atau kiting jika tidak dipantau dengan ketat. Oleh karena itu, auditor selalu memeriksa validitas setoran dalam perjalanan di akhir periode.

      • Berapa lama biasanya deposit in transit akan cair atau kliring?

        Waktu kliring bervariasi tergantung metode setorannya. Setoran tunai di teller biasanya cair di hari yang sama. Setoran lewat ATM atau night deposit di akhir pekan biasanya cair di hari kerja berikutnya. Untuk cek antarbank, proses kliring bisa memakan waktu 1 hingga 3 hari kerja. Transaksi kartu kredit/debit biasanya memiliki settlement time 1-2 hari kerja.

      • Bagaimana cara mencatat deposit in transit dalam jurnal akuntansi?

        Sebenarnya, deposit in transit tidak memerlukan jurnal penyesuaian di buku besar perusahaan karena transaksi tersebut SUDAH dicatat oleh perusahaan saat penerimaan kas terjadi. Deposit in transit hanya perlu dicatat sebagai item penyesuaian di sisi ‘Bank’ dalam kertas kerja rekonsiliasi bank untuk menyamakan saldo.

      • Mengapa deposit in transit penting bagi auditor?

        Bagi auditor, deposit in transit adalah area risiko tinggi untuk penggelembungan aset (overstatement of cash). Auditor akan melakukan ‘cut-off testing’ untuk memastikan dana yang diklaim sebagai setoran dalam perjalanan benar-benar masuk ke rekening bank pada awal periode berikutnya dan bukan merupakan dana fiktif yang dibuat untuk mempercantik laporan keuangan.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya