CNBC Awards

Cara Hitung Analisis Z-Score Altman dan Cara Menafsirkan Hasilnya

Diterbitkan:

Di banyak perusahaan, laporan keuangan sering dipakai sebagai rekap, bukan alat baca risiko. Padahal, beberapa rasio sederhana sudah bisa memberi petunjuk apakah struktur keuangan masih sehat atau mulai rapuh. Analisis Z-Score merangkum beberapa rasio penting ke dalam satu skor agar lebih mudah dipantau dari waktu ke waktu.

Skor Altman tidak menggantikan analisis menyeluruh, tapi berguna untuk membuat pembacaan awal jadi lebih konsisten, apalagi saat harus membandingkan periode yang berbeda.

Bagian berikut akan membahas komponen rumusnya, pilihan model yang sesuai jenis perusahaan, serta cara menafsirkan zona hasilnya secara masuk akal. Tujuannya supaya angka yang muncul bisa diterjemahkan menjadi langkah pengecekan yang jelas.

Key Takeaways

  • Analisis Z-Score adalah metode statistik yang menggabungkan beberapa rasio keuangan untuk memprediksi risiko kebangkrutan perusahaan.
  • Z-score dapat diinterpretasikan lewat aplikasi penghitungan keuangan modern untuk mengelompokkannya ke zona aman, abu-abu, atau bahaya sehingga dapat memudahkan menilai risiko kebangkrutan.
  • Rumus Altman Z-Score terdiri dari lima rasio keuangan utama yang digunakan untuk menilai risiko kebangkrutan perusahaan secara menyeluruh.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu Analisis Z-Score dan Mengapa Penting?

      Analisis Z-Score adalah metode statistik yang menggabungkan beberapa rasio keuangan untuk memprediksi risiko kebangkrutan perusahaan. Dikembangkan oleh Edward Altman, metode ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi bisnis.

      Keunggulan Z-Score terletak pada kemampuannya menilai kesehatan keuangan secara menyeluruh. Dengan menggabungkan aspek likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas, metode ini membantu manajemen mengambil langkah pencegahan lebih awal.

      5 Komponen Utama dalam Rumus Altman Z-Score

      Rumus Altman Z-Score dibentuk oleh lima variabel analisis rasio keuangan (X1 hingga X5) yang masing-masing memiliki bobot berbeda sesuai tingkat signifikansinya. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai kelima rasio tersebut:

      1. Working Capital to Total Assets (X1)

      Rasio ini mengukur likuiditas aset milik perusahaan dengan membandingkan modal kerja bersih terhadap total aset yang dimiliki. Fokus utamanya adalah menilai kemampuan perusahaan dalam mendanai operasional sehari-hari tanpa kesulitan likuiditas. Semakin tinggi rasionya, semakin kecil risiko keuangan perusahaan mengalami kesulitan keuangan jangka pendek.

      2. Retained Earnings to Total Assets (X2)

      Komponen ini mengukur profitabilitas kumulatif yang mencerminkan usia dan kekuatan earning power perusahaan dari waktu ke waktu. Perusahaan yang mapan biasanya memiliki akumulasi laba ditahan yang lebih besar dibandingkan perusahaan baru yang masih berjuang. Hal ini menunjukkan stabilitas finansial yang lebih kuat dalam menghadapi guncangan ekonomi.

      3. EBIT to Total Assets (X3)

      Rasio Earnings Before Interest and Taxes (EBIT) terhadap total aset milik perusahaan dianggap sebagai ukuran produktivitas aset yang paling murni. Ini menunjukkan seberapa efektif perusahaan menggunakan aset-asetnya untuk menghasilkan pendapatan operasional sebelum terbebani pajak atau bunga. Rasio ini sering kali memiliki bobot terbesar dalam menentukan skor akhir.

      4. Market Value of Equity to Book Value of Liabilities (X4)

      Variabel ini mengukur dimensi solvabilitas dengan membandingkan nilai pasar ekuitas perusahaan terhadap total kewajiban atau utangnya. Rasio ini menunjukkan seberapa besar nilai aset perusahaan bisa turun sebelum nilai kewajiban melebihi aset yang ada. Indikator ini sangat penting untuk menilai kepercayaan pasar terhadap ketahanan bisnis Anda.

      5. Sales to Total Assets (X5)

      Dikenal juga sebagai rasio perputaran aset (asset turnover), komponen ini mengukur kemampuan manajemen dalam menghadapi persaingan pasar. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan volume penjualan yang optimal. Semakin tinggi rasionya, semakin efektif strategi manajemen dalam memanfaatkan sumber daya.

      Variasi Model Rumus Z-Score Berdasarkan Jenis Bisnis

      Banyak pemilik bisnis melakukan kesalahan fatal dengan menggunakan satu rumus standar untuk semua jenis perusahaan, padahal karakteristik industri sangat mempengaruhi struktur keuangan. Berikut adalah tiga model rumus Z-Score yang wajib Anda ketahui:

      1. Model orisinal (manufaktur go-public)

      rumus-z-score-1

      Ini adalah rumus asli yang dikhususkan untuk perusahaan manufaktur yang sahamnya diperdagangkan secara publik di bursa efek. Rumusnya adalah Z = 1.2X1 + 1.4X2 + 3.3X3 + 0.6X4 + 1.0X5, dengan penekanan pada nilai pasar. Model ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga saham di pasar modal.

      2. Model revisi z’-score (perusahaan private)

      rumus-z-score-2

      Mengingat perusahaan tertutup tidak memiliki nilai pasar saham yang mudah diakses, variabel X4 dimodifikasi menggunakan nilai buku ekuitas. Rumusnya disesuaikan menjadi Z’ = 0.717X1 + 0.847X2 + 3.107X3 + 0.420X4 + 0.998X5. Ini adalah model yang paling relevan bagi mayoritas UKM dan perusahaan keluarga di Indonesia.

      3. Model z”-score (non-manufaktur)

      rumus-z-score-3

      Model ini menghilangkan variabel X5 untuk menghindari bias pada industri jasa atau dagang yang mungkin memiliki basis aset minim. Rumusnya adalah Z” = 6.56X1 + 3.26X2 + 6.72X3 + 1.05X4, yang lebih fokus pada profitabilitas dan solvabilitas. Model ini sangat cocok untuk industri perbankan, jasa, atau startup di negara berkembang.

      Ingin langsung mempraktikkan rumusnya? Coba hitung Z-Score Anda dengan kalkulator ini.

      Mini Kalkulator

      Altman Z-Score Calculator

      Pilih model, masukkan angka laporan keuangan, lalu lihat skor, zona, dan komponen yang paling “menarik” skor.

      Catatan model:
      Butuh Market Value of Equity (nilai pasar ekuitas) dan Sales.

      Isi angka periode yang sama dengan komponen lain.

      Jangan 0. Dipakai sebagai pembagi utama.

      Ambil dari ekuitas (laba ditahan) pada neraca.

      EBIT = laba operasi sebelum bunga dan pajak.

      Umumnya: harga saham × jumlah saham beredar.

      Total ekuitas pada neraca (nilai buku).

      Jangan 0. Dipakai untuk komponen X4.

      Ambil dari laba rugi pada periode yang sama.


      Skor
      Zona
      Breakdown komponen
      Nilai Xi dan kontribusi bobotnya ke skor akhir.
      Komponen Rumus Nilai Bobot Kontribusi

      Angka ini bersifat indikatif dan perlu dibaca bersama konteks industri, kualitas laporan, serta tren beberapa periode.

      Cara Menginterpretasikan Hasil Nilai Z-Score

      Setelah angka Z-Score keluar, Anda bisa fokus ke tapi indikasi risiko berdasarkan pola rasio keuangan. Klasifikasi zona membantu manajemen membaca urgensi tindak lanjut, terutama kalau skor dipantau berkala (misalnya per kuartal).

      1. Safe zone (zona aman)

      Jika nilai Z-Score perusahaan Anda berada di atas 2.99, maka bisnis Anda dikategorikan berada dalam kondisi finansial yang sehat. Risiko kebangkrutan dianggap sangat rendah dalam jangka pendek maupun menengah. Ini menandakan manajemen aset dan liabilitas berjalan sangat efisien.

      2. Grey zone (zona abu-abu)

      Nilai antara 1.81 hingga 2.99 menunjukkan perusahaan berada di area peringatan atau zona rawan yang perlu diwaspadai. Meskipun belum bangkrut, ada tanda-tanda kerentanan finansial yang jika dibiarkan bisa memburuk dengan cepat. Perusahaan di zona ini harus segera melakukan evaluasi struktur modal.

      3. Distress zone (zona bahaya)

      Nilai di bawah 1.81 adalah sinyal merah yang sangat serius dan menuntut perhatian segera dari manajemen puncak. Perusahaan dengan skor ini memiliki probabilitas tinggi menuju kebangkrutan dalam waktu dekat. Tindakan restrukturisasi keuangan yang drastis sangat diperlukan untuk menyelamatkan perusahaan.

      Hasilnya tetap perlu dibaca bersama konteks bisnis: jenis industri, model perusahaan (public/private/non-manufaktur), dan kualitas data laporan. Jika skor berubah tajam dari periode ke periode, cek dulu apakah ada perubahan pencatatan, koreksi besar, atau pos sekali jalan yang memengaruhi rasio.

      Langkah Praktis Setelah Skor Muncul

      Analisis Z-Score Altman

      Berikut adalah strategi yang dapat Anda terapkan setelah Z-score muncul.

      1. Rapikan komponen modal kerja (X1)

      Cek dulu sumber selisihnya: piutang yang menua, persediaan menumpuk, atau utang usaha yang terlalu cepat dibayar. Setelah itu, rapikan rutinitasnya, antara lain jadwal penagihan yang konsisten, aturan limit kredit pelanggan, dan review stok yang bergerak lambat sebelum belanja ulang.

      2. Periksa pola laba ditahan (X2)

      Lihat tren laba ditahan dari beberapa periode, bukan satu laporan saja. Kalau laba usaha sering habis karena beban non-operasional atau koreksi besar di akhir periode, fokus ke kebijakan yang bikin laporan lebih stabil: disiplin pencatatan biaya, pembatasan pengeluaran yang tidak punya pos jelas, dan evaluasi pengambilan laba pemilik sesuai kemampuan kas.

      3. Cek kualitas laba operasional (X3)

      Masalah umum ada di EBIT yang terlihat tinggi di kertas tapi rapuh di operasional. Bedakan kenaikan laba karena penjualan yang sehat vs karena pos sekali jalan.

      Lalu cek biaya yang paling sering membengkak (logistik, produksi, overtime, retur), dan buat batas kontrol yang sederhana: siapa approve, kapan dibolehkan, dan bukti apa yang wajib ada.

      Perhitungan Z-Score cepat meleset kalau angka neraca/laba rugi belum rapi, misalnya klasifikasi akun berubah, laporan terlambat, atau saldo antar akun belum rekonsiliasi. Karena itu, yang paling penting bukan rumusnya, tapi konsistensi data yang dipakai.

      Kalau tim finance Anda butuh database keuangan yang lebih tertib untuk analisis rasio, sistem akuntansi yang rapi akan membantu. Beberapa perusahaan ternama, seperti Marimas dan Bank of China, memakai Software Akuntansi HashMicro untuk menata transaksi dan laporan, lalu mengambil angka rasio dari laporan yang sama.

      Untuk melihat bagaimana HashMicro dapat membantu bisnis Anda secara nyata, jangan ragu untuk menghubungi kami dan konsultasi gratis.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Analisis Z Score

      • Seberapa akurat prediksi Z-Score?

        Tingkat akurasi model Altman Z-Score berkisar antara 72% hingga 80% dalam memprediksi kebangkrutan dua tahun sebelum kejadian, namun sebaiknya tetap dikombinasikan dengan analisis kualitatif.

      • Apakah startup bisa menggunakan Z-Score?

        Bisa, namun disarankan menggunakan model Z”-Score (Non-Manufaktur) karena startup seringkali memiliki aset fisik yang minim dan struktur modal berbeda.

      • Berapa sering harus menghitung Z-Score?

        Idealnya dilakukan setiap bulan atau minimal setiap kuartal seiring dengan penutupan buku laporan keuangan agar tren penurunan kinerja terdeteksi dini.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya