Apa Itu Multi Level BOM?
Banyak manajer produksi mengira semua BOM bekerja dengan cara yang sama, padahal anggapan ini sering menjadi sumber masalah dalam perencanaan. Multi Level BOM adalah daftar komponen hierarkis yang memetakan material, sub-rakitan, hingga bahan baku mentah untuk membentuk satu unit produk jadi.
Struktur ini kerap dianalogikan seperti pohon keluarga atau “resep di dalam resep” karena setiap produk dipecah ke dalam beberapa lapisan yang saling terhubung. Pendekatan bertingkat ini membantu tim memahami bagaimana satu komponen bergantung pada komponen lainnya.
Berbeda dari BOM datar, Multi Level BOM menunjukkan hubungan induk–anak antar komponen secara jelas dan logis. Dengan struktur ini, perusahaan dapat menelusuri setiap bagian produk hingga ke level bahan mentah tanpa kehilangan konteks.
Visibilitas yang dihasilkan membuat proses perencanaan, pengadaan, hingga perakitan menjadi lebih terkendali. Risiko salah hitung material dan gangguan produksi pun dapat ditekan sejak tahap awal.
Perbedaan Mendasar Single Level vs Multi Level BOM
Sebelum melangkah lebih jauh, penting bagi para praktisi manufaktur untuk memahami perbedaan esensial antara dua jenis BOM yang paling umum. Meskipun keduanya sama-sama berfungsi sebagai daftar komponen, kedalaman dan kegunaannya sangat berbeda.
Pemahaman ini secara langsung memengaruhi cara perusahaan merencanakan produksi, mengelola inventaris, dan menghitung biaya secara akurat.
| Aaspek Perbedaaan | Single-Level BOM | Multi-Level BOM |
| Struktur & Kedalaman | Bersifat datar (flat). Hanya menampilkan satu level komponen di bawah produk jadi. | Bersifat hierarkis dan bercabang. Menampilkan seluruh tingkatan dari produk jadi hingga bahan baku. |
| Detail Sub-Rakitan | Tidak menampilkan sub-rakitan. Semua dianggap sebagai komponen langsung. | Menampilkan hubungan antara rakitan utama, sub-rakitan, hingga bagian terkecil. |
| Visibilitas | Terbatas. Hanya berfungsi sebagai daftar belanja sederhana. | Penuh (End-to-End). Memberikan gambaran bagaimana tiap bagian saling terkait. |
| Akurasi Biaya | Sulit menghitung biaya di setiap tahap produksi secara spesifik. | Memungkinkan penghitungan biaya yang presisi di setiap level perakitan. |
| Sistem MRP | Tidak memadai untuk sistem Material Requirement Planning yang kompleks. | Menjadi tulang punggung (inti) dari sistem MRP dan ERP yang akurat. |
| Kompleksitas Produk | Cocok untuk produk sederhana (contoh: meja, kursi, barang konsumsi dasar). | Wajib untuk produk kompleks (contoh: mesin industri, otomotif, elektronik). |
| Manajemen Perubahan | Mudah dikelola jika produk jarang berubah. | Membutuhkan ketelitian tinggi namun memudahkan pelacakan jika ada revisi komponen tertentu. |
Komponen Kunci dalam Struktur Multi Level BOM
Untuk membangun sebuah multi-level BOM yang efektif, ada beberapa komponen data standar yang wajib disertakan. Setiap elemen ini memiliki peran krusial dalam memberikan informasi yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami. Ini memastikan semua departemen, mulai dari pengadaan hingga produksi, memiliki pemahaman yang seragam dan akurat.
Kelengkapan dan akurasi setiap komponen ini akan menentukan seberapa andal BOM tersebut sebagai satu-satunya sumber kebenaran (single source of truth). Kesalahan kecil pada satu elemen data, seperti kuantitas atau satuan ukur, dapat memicu efek domino. Masalah ini dapat menyebabkan kekacauan dalam perencanaan produksi, manajemen inventaris, dan perhitungan biaya produk.
1. BOM Level
Ini adalah nomor yang menunjukkan posisi atau tingkatan sebuah komponen dalam hierarki struktur produk. Level 0 selalu merepresentasikan produk jadi (akhir), sementara level 1 adalah sub-rakitan atau komponen langsung di bawahnya. Level 2 adalah komponen dari sub-rakitan di level 1, dan begitu seterusnya hingga level terdalam.
2. Nomor Part (Part Number)
Setiap item, baik itu komponen, sub-rakitan, maupun bahan baku, harus memiliki nomor part yang unik. Nomor ini berfungsi sebagai pengidentifikasi standar di seluruh sistem perusahaan untuk mencegah ambiguitas. Penggunaan nomor part unik memastikan pelacakan yang akurat dari gudang hingga ke lantai produksi.
3. Nama Part (Part Name)
Selain nomor identifikasi, setiap part juga harus dilengkapi dengan nama yang jelas dan deskriptif. Nama ini membantu personel dari berbagai departemen untuk mengenali komponen dengan cepat. Hal ini mempermudah komunikasi dan mengurangi potensi kesalahan tanpa harus selalu merujuk pada nomor part teknis.
4. Deskripsi
Kolom deskripsi menyediakan ruang untuk detail tambahan yang relevan mengenai sebuah part. Informasi ini bisa mencakup spesifikasi teknis, dimensi, warna, jenis material, atau bahkan pemasok yang telah disetujui. Deskripsi yang lengkap sangat membantu tim pengadaan dan tim kontrol kualitas dalam menjalankan tugas mereka.
5. Kuantitas
Komponen ini menunjukkan jumlah unit dari setiap item yang dibutuhkan untuk membuat satu unit dari rakitan induknya (parent assembly). Akurasi pada kolom kuantitas sangatlah krusial untuk perencanaan pembelian bahan baku. Kesalahan pada data ini dapat secara langsung menyebabkan kekurangan atau kelebihan stok yang merugikan perusahaan.
6. Satuan Ukur (Unit of Measure)
Satuan ukur mendefinisikan satuan yang digunakan untuk mengukur kuantitas setiap komponen. Contohnya termasuk buah (each), kilogram (kg), meter (m), atau liter (L). Menstandarkan satuan ukur di seluruh sistem dapat mencegah kesalahan fatal dalam proses pengadaan dan penggunaan material selama produksi.
Mengapa Multi Level BOM Penting untuk Bisnis Manufaktur?
Bagi banyak perusahaan manufaktur, multi level BOM sering dianggap hanya sebagai dokumen teknis, padahal perannya sangat krusial dalam mendukung operasional dan kesehatan finansial bisnis. Dengan visibilitas detail yang dihasilkannya, manajemen dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus menciptakan efek domino positif dari efisiensi biaya hingga kelancaran perencanaan material.
1. Akurasi perhitungan biaya produksi
Multi level BOM memecah struktur biaya hingga ke bahan baku terkecil, sehingga perhitungan HPP menjadi jauh lebih presisi. Data ini membantu perusahaan menetapkan harga jual yang kompetitif sekaligus menjaga profitabilitas.
2. Efisiensi perencanaan kebutuhan material (MRP)
Sebagai dasar MRP, multi level BOM memungkinkan perhitungan jumlah dan waktu pemesanan material secara lebih tepat. Hal ini membantu mencegah keterlambatan produksi akibat kekurangan komponen di tengah proses.
3. Visibilitas dan pelacakan rantai pasok
Struktur hierarkis memudahkan pelacakan jika terjadi masalah pada bahan baku tertentu. Perusahaan dapat segera mengidentifikasi produk terdampak dan mengambil tindakan sebelum masalah meluas ke pelanggan.
4. Konsistensi dan kontrol kualitas produk
Dengan resep produksi yang detail dan terstandar, multi level BOM menjaga kualitas produk tetap konsisten di setiap batch. Tim quality control pun memiliki acuan yang jelas untuk inspeksi di setiap tahap perakitan.
Contoh Praktis Multi Level BOM di Berbagai Industri
Untuk memudahkan pemahaman, multi level BOM dapat dilihat dari penerapannya di berbagai industri dengan karakter dan kompleksitas yang berbeda. Meski konteks produksinya tidak sama, struktur ini mampu memetakan produk dari level tertinggi hingga komponen paling dasar secara jelas.
Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa multi level BOM berfungsi sebagai alat universal dalam manufaktur untuk menciptakan kontrol dan efisiensi. Tanpa struktur hierarkis yang rapi, pengelolaan produksi skala besar akan sulit dilakukan secara konsisten.
1. Industri manufaktur perakitan (contoh: sepeda)
Dalam industri perakitan, struktur BOM mengikuti urutan perakitan fisik produk. Sepeda sebagai level 0 dipecah menjadi sub-rakitan utama di level berikutnya, lalu diturunkan lagi hingga komponen kecil seperti mur dan baut.
2. Industri elektronik (contoh: smartphone)
Pada industri elektronik, multi level BOM mengelola komponen berukuran kecil dengan tingkat kompleksitas tinggi. Smartphone sebagai produk jadi dipecah menjadi modul utama, lalu ke komponen mikro seperti prosesor, memori, dan chip pendukung.
3. Industri makanan dan minuman (contoh: kue black forest)
Di industri makanan, struktur BOM dikenal sebagai resep tetapi tetap bersifat bertingkat. Kue Black Forest dipecah menjadi produk setengah jadi, lalu ke bahan baku mentah seperti tepung, gula, telur, dan cokelat.
Tantangan dalam Implementasi dan Cara Mengatasinya
Meski manfaat multi level BOM sangat besar, proses implementasi dan pemeliharaannya sering kali tidak sederhana, terutama bagi perusahaan yang masih mengandalkan cara manual. Tanpa pendekatan yang tepat, pengelolaan BOM justru berpotensi menimbulkan masalah baru dalam operasional.
Mengatasi tantangan ini membutuhkan kombinasi standar kerja yang jelas, disiplin lintas tim, dan dukungan sistem yang memadai. Tanpa alat yang tepat, struktur BOM yang kompleks akan mudah menjadi sumber inefisiensi dan kesalahan data yang merugikan.
1. Kompleksitas dan entri data manual
Struktur produk yang bertingkat membuat pengelolaan BOM menjadi rumit jika masih dilakukan secara manual. Kesalahan kecil seperti salah input kuantitas atau kode part bisa berdampak besar pada perencanaan produksi.
2. Manajemen perubahan (Engineering Change Management)
Perubahan desain dan komponen adalah hal yang tidak terhindarkan dalam proses manufaktur. Tantangannya terletak pada memastikan setiap perubahan tercatat, disetujui, dan tersampaikan dengan jelas ke seluruh tim terkait.
3. Kurangnya integrasi dengan sistem lain
Penyimpanan data BOM yang terpisah dari inventaris atau pengadaan sering memicu perbedaan data di lapangan. Kondisi ini membuat pengambilan keputusan menjadi lambat dan meningkatkan risiko kesalahan operasional.
Kesimpulan
Multi-level BOM merupakan fondasi penting dalam memastikan perencanaan material, perhitungan biaya, dan kontrol kualitas berjalan secara akurat dan konsisten. Dengan struktur yang jelas dan hierarkis, perusahaan dapat mengurangi inefisiensi, menekan risiko kesalahan produksi, serta menjaga profitabilitas dalam jangka panjang.
Pengelolaan multi-level BOM yang baik membantu bisnis memahami hubungan antar komponen secara menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga produk jadi. Kejelasan struktur ini menjadi kunci untuk menciptakan proses produksi yang lebih terkontrol, efisien, dan berkelanjutan.
Pertanyaan Seputar Multilevel BOM
-
Apa perbedaan utama antara BOM dan resep di industri F&B?
Secara konseptual, keduanya sama. Namun, istilah ‘resep’ lebih umum di F&B dan seringkali menyertakan instruksi pembuatan, sedangkan ‘BOM’ lebih fokus pada daftar komponen. Sistem ERP modern dapat mengelola keduanya dengan fungsionalitas yang sama.
-
Seberapa detail seharusnya sebuah multi-level BOM dibuat?
Tingkat detailnya harus mencapai level komponen terendah yang perlu dikelola secara terpisah di inventaris atau dibeli dari pemasok. Jika sebuah item tidak perlu dilacak individual, item tersebut bisa dikategorikan sebagai bahan habis pakai dan tidak perlu masuk BOM.
-
Apa itu indentured BOM?
Indentured BOM adalah nama lain untuk multi-level BOM. Istilah ‘indentured’ merujuk pada format penulisan yang menggunakan indentasi (jarak menjorok) untuk menunjukkan level hierarki yang berbeda, membuatnya mudah dibaca secara visual.
-
Bagaimana multi-level BOM menangani produk dengan varian?
Sistem ERP canggih dapat mengelola ini melalui fitur configurable BOM (CBOM). Alih-alih membuat BOM terpisah untuk setiap varian, Anda dapat membuat satu BOM utama dengan aturan dan opsi yang memungkinkan sistem secara otomatis menghasilkan BOM yang benar berdasarkan varian produk yang dipilih.
-
Bagaimana multi-level BOM menangani produk dengan varian?
Sistem ERP canggih dapat mengelola ini melalui fitur configurable BOM (CBOM). Alih-alih membuat BOM terpisah untuk setiap varian, Anda dapat membuat satu BOM utama dengan aturan dan opsi yang memungkinkan sistem secara otomatis menghasilkan BOM yang benar berdasarkan varian produk yang dipilih.
-
Bisakah saya mengelola multi-level BOM menggunakan Excel?
Untuk produk yang sangat sederhana mungkin bisa, namun sangat tidak direkomendasikan. Excel rentan terhadap human error, tidak memiliki kontrol versi, dan tidak terintegrasi dengan sistem lain, sehingga penggunaan software ERP manufaktur adalah solusi yang jauh lebih andal.






