CNBC Awards

Apa itu Harga Perolehan dan Cara Penghitungan yang Tepat

Diterbitkan:

Bagi pelaku UMKM, membeli aset seperti laptop kerja, mesin produksi kecil, atau kendaraan operasional sering dianggap cukup dicatat sesuai harga beli. Sementara itu, di perusahaan yang lebih besar, aset yang sama bisa melibatkan biaya tambahan seperti pengiriman, instalasi, hingga pengujian sebelum benar-benar digunakan.

Perbedaan skala inilah yang sering membuat pencatatan harga perolehan dipahami secara berbeda di tiap bisnis. Padahal, baik UMKM maupun perusahaan besar tetap perlu mencatat nilai aset berdasarkan biaya yang benar-benar dikeluarkan sampai aset siap digunakan, bukan hanya angka di faktur pembelian.

Dengan memahami apa itu harga perolehan dan cara penghitungan yang tepat, perusahaan dapat mencatat aset secara lebih realistis sejak awal. Pendekatan ini membantu bisnis dari berbagai skala menjaga konsistensi laporan keuangan dan menghindari koreksi di kemudian hari.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu Harga Perolehan?

      Apa Itu Harga Perolehan? Ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai harga perolehan:

      • Wit dan Erhans, 2000:82

      Menurut pakar bernama Wit dan Erhans, harga perolehan adalah biaya keseluruhan yang tertambah dengan harga beli suatu aset. Harga tersebut harus perusahaan siapkan untuk memiliki aset dan merawatnya agar bisa kita operasikan sesuai dengan fungsinya.

      • Haryono Jusup, 2005:155

      Menurut pakar bernama Haryono Jusup, harga perolehan adalah keseluruhan biaya yang perusahaan korbankan untuk menyiapkan aktiva tetap yang siap untuk mereka pakai. Kemudian aktiva tetap itu terolah dengan baik, sehingga menghasilkan kembali pendapatan yang akan perusahaan terima.

      Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa harga perolehan adalah total biaya yang harus dicatat perusahaan dalam laporan keuangan sebagai nilai awal aset tetap. Informasi ini menjadi dasar penting untuk penilaian aset, perhitungan penyusutan, serta evaluasi kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan.

      Kapan Biaya Tidak Boleh Dimasukkan ke Harga Perolehan?

      Biaya berikut tidak boleh dimasukkan ke dalam harga perolehan aset karena tidak berkaitan langsung dengan proses menyiapkan aset hingga siap digunakan:

      • Biaya perawatan rutin dan perbaikan setelah aset digunakan
      • Biaya operasional harian yang timbul selama pemakaian aset
      • Biaya akibat kesalahan internal, keterlambatan, atau penggunaan yang tidak efisien
      • Biaya pelatihan karyawan setelah aset mulai dioperasikan
      • Biaya administrasi umum yang tidak berhubungan langsung dengan perolehan aset

      Memisahkan biaya-biaya tersebut membantu perusahaan mencatat nilai aset secara lebih akurat dan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku, sekaligus mendukung penerapan metode pencatatan akuntansi yang konsisten dalam laporan keuangan.

      Cara Menghitung Harga Perolehan

      harga perolehan

      Terdapat berbagai cara menghitung harga perolehan, berikut penjelasannya:

      1. Pembelian tunai

      Umumnya, perhitungan harga perolehan dilakukan dengan menentukan harga pembelian bersih setelah dikurangi potongan tunai dan ditambah berbagai biaya terkait. Dalam konteks ini, perusahaan juga dapat memperhatikan selisih harga pembelian bahan baku untuk memantau perbedaan antara harga aktual dan harga anggaran.

      Untuk lebih jelasnya, contoh perhitungan tunai harga perolehan adalah:

      PT.Jaya Abadi membeli mesin untuk operasional dengan harga Rp45.000.000. Selain itu, harus menyiapkan biaya pemasangan atau instalasi mesin tersebut sebesar Rp4.000.000. Ditambah lagi dengan asuransi yang harus ada untuk penyediaan mesin itu sebesar Rp400.000.

      Perhitungan harga perolehan adalah:

      Harga Perolehan = harga mesin + biaya instalasi + asuransi

      Harga perolehan = 45.000.000 + 4.000.000 + 400.000

      = Rp49.400.000

      Nanti yang akan tercatat di jurnal adalah Mesin Pabrik (Debit) 49.400.000 – Kas (Kredit) 49.400.000.

      2. Pembelian kredit

      Di perusahaan, tentunya transaksi akan sering terjadi pada pembelian kredit, namun jika perusahaan tidak memiliki dana yang cukup. Munculnya pembelian kredit yang perusahaan lakukan dengan periode pembayaran tertentu akan beserta dengan bunga pembelian. Biasanya minat ini terjadi dalam transaksi eksplisit atau implisit.

      Dalam transaksi, kepentingan eksplisit adalah penerapan bunga secara transparan dalam informasi pembelian kredit. Namun, bunga implisit adalah bunga yang jumlahnya tidak kita ketahui, dengan pasti pada saat melakukan transaksi pembelian secara kredit. Untuk menghitung harga akuisisi, biasanya transaksi bunga ini tidak kita hitung karena merupakan pengorbanan dana dari pembeli.

      3. Wesel bunga

      Ada juga catatan bunga yang dapat perusahaan gunakan untuk pengadaan aset tetap. Penggunaan catatan bunga biasanya berguna untuk membeli aset atau aset dalam jumlah besar.

      Perusahaan akan membayar setengah aset dari harga awalnya atau kita bisa menyebutnya biaya dimuka. Sisa pembayaran harga akuisisi tersebut nantinya, perusahaan lakukan sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam not of interest.

      Metode pembayaran ini dapat menguntungkan perusahaan yang membutuhkan aset tetap dengan cepat dan dapat membayar tanpa harus mengkredit. Namun, dana yang mereka siapkan juga harus mencukupi.

      Seperti ini cara menghitungnya:

      Perusahaan A membeli alat berat untuk pabrik sebesar Rp 90.000.000 dengan tunai. Uang pendahulu yang perusahaan berikan adalah Rp45.000.000. Perusahaan sepakat akan membayar sisanya dengan wesel bunga sebesar 10% yang jangka waktu bayarnya hingga satu tahun.

      Perhitungan harga perolehan adalah:

      • Alat berat pabrik (debit) 90.000.000 – Kas (Kredit) 45.000.000 – Wesel (Kredit) 45.000.000
      • Perusahaan perlu menghitung harga perolehan tersisa yang dibebankan dengan bunga. Perhitungannya adalah begini:

      Bunga Wesel = 45.000.000 x 10%

      Bunga Wesel = Rp4.500.000

      • Lalu, pencatatan yang akan tertulis di jurnal penyesuaian adalah:

      Utang Wesel (Debit) 45.000.000 – Bunga (Debit) 4.500.000 – Kas (Kredit) 49.500.000

      • Jadi, sisa yang perlu perusahaan keluarkan adalah Rp49.500.000.

      4. Menerbitkan saham

      Seringkali pebisnis memilih untuk membeli aset tetap mereka untuk properti mereka sendiri dengan dana yang berasal dari perusahaan.

      Mungkin properti, pabrik dan peralatan yang terkelola secara mandiri tidak akan timbul karena pembelian, atau ketentuan kepada pihak lain tidak terikat oleh kontrak atau kontrak pengembangan lainnya. Oleh karena itu, perusahaan biasanya akan mengalokasikan dana dan biaya untuk kebutuhan operasional perusahaan saja.

      Pengeluaran perusahaan akan mencakup biaya gaji tenaga kerja, biaya bahan dasar, dan biaya overhead. Biaya overhead ini akan masuk juga dalam biaya listrik, peralatan, persediaan, air dan biaya asuransi. Dengan mengalokasikan dana tersebut, perlu juga memperhatikan distribusi, misalnya biaya pengembangan atau aset dengan biaya overhead.

      5. Milik sendiri

      Untuk aset tetap tertentu, perusahaan akan selalu memberikan biaya secara teratur atau ketika dibutuhkan. Biaya ini dapat perusahaan keluarkan tanpa menghadirkan transaksi yang melibatkan pihak lain.

      Ini sangat umum. Perusahaan masih mengeluarkan biaya karena merupakan salah satu hal yang harus dilakukan untuk mendukung bisnis. Kalaupun tidak ada transaksi, pencatatan rapi tetap dilakukan. Semua dana yang digunakan oleh perusahaan harus dilaporkan secara transparan.

      Jenis aset tetap yang masuk ke dalam perhitungan ini adalah biaya overhead, upah bagi pekerja yang bekerja di perusahaan, biaya untuk menyediakan bahan baku, dan sebagainya. Biaya yang sering berubah adalah biaya overhead. Di sini pencatatan biaya harus Anda lakukan sejelas mungkin agar total harga jelas.

      Biaya ini dapat kita klasifikasikan menurut jenisnya. Akuntan biasanya memahami cara mendistribusikan biaya ini sesuai dengan kategori mereka. Namun, pemilik bisnis juga tidak perlu bingung tentang berbagai nama biaya ini.

      Kesimpulan

      Harga perolehan menjadi dasar penting dalam pencatatan aset karena mencerminkan seluruh biaya yang dikeluarkan hingga aset siap digunakan. Dengan memahami komponen biaya yang boleh dan tidak boleh dimasukkan, perusahaan dapat mencatat nilai aset secara lebih akurat dan konsisten.

      Bagi perusahaan yang ingin meninjau kembali pencatatan aset dan metode perhitungannya, diskusi awal dengan pihak yang memahami praktik akuntansi dapat membantu memperjelas kebutuhan internal. Pendekatan ini memberi ruang bagi perusahaan untuk mengevaluasi perhitungan harga perolehan secara lebih tepat sebelum mengambil langkah lanjutan.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Harga Perolehan

      • Apakah harga perolehan hanya mencakup harga beli aset?

        Tidak, harga perolehan juga mencakup biaya lain yang dikeluarkan hingga aset siap digunakan, seperti biaya pengiriman, instalasi, dan pajak tertentu.

      • Apakah biaya perawatan aset termasuk harga perolehan?

        Tidak, biaya perawatan yang timbul setelah aset digunakan dicatat sebagai beban operasional, bukan bagian dari harga perolehan.

      • Mengapa perhitungan harga perolehan harus dilakukan secara tepat?

        Karena harga perolehan menjadi dasar pencatatan aset dan perhitungan penyusutan, sehingga kesalahan perhitungan dapat memengaruhi laporan keuangan perusahaan.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya