Tahukah Anda? Harga yang tidak fleksibel dapat merugikan bisnis Anda, terutama di pasar yang bergerak cepat. Tanpa menerapkan dynamic pricing, Anda bisa kehilangan peluang untuk memaksimalkan pendapatan, bahkan saat permintaan sedang tinggi.
Seperti yang kita ketahui bersama, berbisnis di era yang semakin canggih tidaklah mudah. Perusahaan yang tidak menggunakan sistem akuntansi untuk menetapkan harga dengan benar dapat menghadapi tantangan dalam menjaga daya saing.
Harga yang stagnan membuat produk atau layanan Anda kurang menarik daripada pesaing yang sudah memanfaatkan strategi harga fleksibel. Lalu, bagaimana cara strategi dynamic pricing dapat membantu Anda menghindari kerugian tersebut?
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Dynamic Pricing?
Dynamic pricing adalah strategi penetapan harga yang fleksibel, di mana harga produk atau layanan dapat berubah-ubah berdasarkan permintaan pasar, waktu, ketersediaan stok, atau perilaku pelanggan.
Perusahaan menggunakan algoritma dan data real-time untuk menentukan harga terbaik, sehingga mereka bisa memaksimalkan keuntungan atau merespons perubahan pasar dengan cepat.
Strategi ini umum digunakan oleh industri seperti e-commerce, transportasi, perhotelan, dan maskapai penerbangan. Ada berbagai strategi penetapan harga seperti penerapan cost based pricing untuk efisiensi biaya dan zone based pricing sebagai alternatif strategi lain.
Namun, melalui fleksibilitas penentuan harga pokok produksi ini, Anda dapat menaikkan harga saat permintaan tinggi dan menurunkannya saat sepi, agar tetap kompetitif dan menarik pelanggan secara efektif.
Jenis-Jenis Dynamic Pricing
Dynamic pricing strategy memiliki dua metode yang umum perusahaan gunakan. Kedua metode tersebut adalah time-based pricing dan segment-based pricing yang akan kami jelaskan berikut ini:
1. Time-based pricing
Dalam strategi dynamic pricing ini, Anda menetapkan harga berdasarkan waktu tertentu, seperti musim, hari, atau bahkan jam. Misalnya, harga tiket pesawat cenderung lebih mahal saat libur panjang karena permintaan meningkat.
Umumnya, bisnis memanfaatkan pola waktu ini untuk mengatur harga secara dinamis demi keuntungan optimal.
2. Segment-based pricing
Kali ini, harga Anda sesuaikan berdasarkan segmen pelanggan yang berbeda, seperti pelajar, pelanggan loyal, atau pengguna baru. Anda dapat menggunakan data pelanggan untuk menawarkan harga yang paling sesuai dengan karakteristik dan daya beli masing-masing segmen.
Strategi ini mampu mendorong konversi lebih tinggi. Ini berarti, Anda akan mampu menciptakan pengalaman belanja yang lebih relevan dan mendorong loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Keuntungan Menggunakan Dynamic Pricing
Dynamic pricing menawarkan berbagai keuntungan bagi Anda yang ingin meningkatkan efisiensi penjualan dan profitabilitas. Beberapa keuntungan tersebut meliputi:
1. Meningkatkan profit margin
Perusahaan dapat menetapkan harga tertinggi saat permintaan sedang tinggi tanpa kehilangan minat pembeli. Hal ini memungkinkan bisnis memperoleh margin keuntungan yang lebih besar secara strategis. Dengan optimasi harga yang tepat, setiap transaksi menghasilkan nilai yang maksimal.
2. Menyesuaikan harga secara real-time
Dynamic pricing memungkinkan perusahaan merespons perubahan pasar secara instan. Perubahan seperti fluktuasi permintaan atau pergerakan kompetitor dapat segera diikuti dengan penyesuaian harga. Hasilnya, keputusan harga menjadi lebih relevan dan berbasis data aktual.
3. Mengelola permintaan dan penawaran
Perusahaan dapat mengatur harga untuk mengendalikan laju penjualan saat stok terbatas atau berlebih. Saat produk menipis, harga bisa dinaikkan untuk memperlambat pembelian dan menghindari kekosongan stok. Sebaliknya, saat stok menumpuk, harga bisa diturunkan untuk mempercepat perputaran barang.
4. Menarik berbagai segmen pelanggan
Harga dapat disesuaikan berdasarkan profil pelanggan seperti loyalitas, lokasi, atau status keanggotaan. Strategi ini memungkinkan penawaran yang terasa lebih personal dan relevan bagi setiap segmen. Dengan begitu, peluang konversi dan kepuasan pelanggan meningkat secara signifikan.
5. Mengalahkan kompetitor secara cerdas
Dynamic pricing membantu bisnis memantau harga pasar dan menyesuaikan harga secara proaktif. Perusahaan bisa menawarkan harga lebih menarik tanpa mengorbankan keuntungan. Strategi ini memberi keunggulan kompetitif dalam menarik pelanggan di pasar yang padat.
Contoh Penerapan Dynamic Pricing Pada Berbagai Bisnis

1. E-commerce
Toko online sering mengubah harga berdasarkan waktu kunjungan, perangkat yang pelanggan gunakan, atau riwayat pencariannya. Sistem akuntansi ini memungkinkan penawaran harga yang lebih personal dan kompetitif. Hasilnya, pelanggan merasa mendapatkan nilai lebih dan lebih terdorong untuk membeli.
2. Transportasi online
Layanan ride-hailing seperti Gojek atau Grab menaikkan tarif saat jam sibuk atau saat permintaan melonjak. Harga otomatis disesuaikan untuk menyeimbangkan permintaan dan ketersediaan pengemudi. Strategi ini juga mendorong lebih banyak driver untuk aktif saat dibutuhkan.
3. Industri perhotelan
Hotel menggunakan dynamic pricing untuk menetapkan tarif kamar berdasarkan musim liburan, hari dalam minggu, atau tingkat okupansi. Harga dapat berubah dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Dengan strategi ini, hotel dapat memaksimalkan pendapatan dari kamar yang tersedia.
Studi kasus
Sebuah hotel bintang empat yang berlokasi di kawasan wisata mengalami fluktuasi tingkat hunian kamar sepanjang tahun. Pada musim liburan dan akhir pekan, permintaan kamar meningkat tajam, sementara pada hari kerja dan low season tingkat okupansi cenderung rendah.
Sebelumnya, hotel menetapkan tarif kamar secara statis sehingga potensi pendapatan tidak optimal, terutama saat permintaan tinggi.
Manajemen hotel menerapkan strategi dynamic pricing dengan memanfaatkan sistem revenue management berbasis data. Sistem ini menyesuaikan harga kamar secara otomatis berdasarkan beberapa faktor, seperti:
- Musim liburan dan non-liburan
- Hari dalam minggu (weekday dan weekend)
- Tingkat okupansi real-time
- Pola pemesanan historis dan tren permintaan
Strategi ini memungkinkan hotel menyeimbangkan antara tingkat hunian dan optimalisasi pendapatan, sehingga setelah enam bulan penerapan dynamic pricing, hotel mencatat hasil yang signifikan yaitu pendapatan per kamar (RevPAR) meningkat hingga 18% dan tingkat okupansi kamar menjadi lebih stabil sepanjang tahun.
4. Maskapai penerbangan
Tiket pesawat biasanya lebih mahal saat musim liburan, akhir pekan, atau saat kursi hampir habis. Sistem pemesanan otomatis menyesuaikan harga berdasarkan permintaan dan waktu pembelian. Ini membantu maskapai mengelola kapasitas dan keuntungan dengan lebih efektif.
5. Hiburan dan event
Harga tiket konser, bioskop, atau pertandingan olahraga dapat berubah tergantung seberapa dekat acara dimulai atau tingkat pemesanan. Semakin tinggi permintaan, semakin tinggi pula harga tiket. Model ini menciptakan rasa urgensi dan meningkatkan pendapatan dari penjualan tiket.
Kekurangan Dalam Penerapan Fleksibilitas Harga

Terdapat beberapa tantangan yang bisa menghambat efektivitasnya, dan perlu Anda waspadai agar tidak membawa celah kerugian. Berikut adalah beberapa kekurangan dynamic price yang wajib Anda ketahui:
1. Harga yang terlalu sering berubah
Apabila Anda tidak menganalisis dinamika harga dengan benar, maka penetapannya dapat menjadi sangat sulit. Tanpa data yang akurat dan software akuntansi terintegrasi, Anda bisa kesulitan untuk menyesuaikan harga sesuai dengan kondisi pasar yang terus berubah.
2. Ketidakpastian atas loyalitas pelanggan
Harga yang terlalu sering berubah dapat membuat pelanggan merasa tidak lagi relevan untuk menggunakan produk atau jasa perusahaan Anda. Ini bisa menurunkan loyalitas pelanggan dan mempengaruhi reputasi jangka panjang perusahaan.
3. Kompleksitas dalam pengelolaan proses internal
Pengelolaan harga yang fleksibel membutuhkan koordinasi yang lebih rumit, terutama dalam hal stok dan keuangan. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa menyebabkan kekurangan barang atau kesalahan dalam pencatatan transaksi.
Cara Menerapkan Dynamic Pricing pada Bisnis dengan Resiko Minimal
Menerapkan dynamic pricing pada bisnis membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang perilaku pelanggan dan kondisi pasar yang selalu berubah. Berikut adalah langkah-langkah untuk mengimplementasikan dynamic pricing yang efektif dan minimal potensi kerugian:
- Analisis data pelanggan untuk memahami kebiasaan dan preferensi mereka.
- Gunakan software akuntansi otomatis yang dapat menyesuaikan harga secara dinamis berdasarkan algoritma dan data real-time.
- Tentukan variabel penetapan harga, seperti permintaan pasar, waktu, dan ketersediaan produk.
- Pantau perubahan pasar secara real-time untuk memahami pergeseran permintaan dan tren yang sedang berlangsung.
- Lakukan eksperimen dengan berbagai strategi harga untuk melihat mana yang paling efektif.
- Berikan harga yang adil dan transparan untuk pelanggan agar kepercayaan konsumen terhadap produk Anda meningkat.
Kesimpulan
Dynamic pricing adalah strategi yang efektif untuk memaksimalkan pendapatan dan responsif terhadap perubahan pasar. Dengan menyesuaikan harga berdasarkan berbagai faktor seperti waktu, permintaan, dan segmen pelanggan, bisnis dapat mengoptimalkan keuntungan mereka.
Banyaknya faktor tersebut membuat pentingnya penerapan dynamic pricing yang lebih efektif dengan penggunaan sistem yang terintegrasi dan otomatis.
Pertanyaan Seputar Dynamic Pricing
-
Apa yang dimaksud dengan harga dinamis?
Harga dinamis adalah strategi penetapan harga yang berubah-ubah berdasarkan permintaan pasar, waktu, atau faktor lainnya. Harga ini berubah sesuai data real-time untuk memaksimalkan keuntungan. Dengan begitu, harga tetap relevan dengan kondisi pasar.
-
Mengapa menggunakan dynamic pricing strategy?
Dynamic pricing membantu perusahaan memaksimalkan pendapatan dengan menyesuaikan harga berdasarkan permintaan. Ini memungkinkan bisnis untuk mengoptimalkan penjualan pada waktu yang tepat. Selain itu, strategi ini memberikan keuntungan kompetitif di pasar yang dinamis.
-
Apa contoh perusahaan yang menetapkan metode dynamic pricing?
Maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia menggunakan dynamic pricing untuk menyesuaikan harga tiket berdasarkan permintaan dan waktu pemesanan. Layanan ride-hailing seperti Grab juga mengimplementasikan harga dinamis tergantung pada kondisi lalu lintas.






