CNBC Awards

Cost Overrun Adalah: Penyebab & Strategi Mencegahnya

Diterbitkan:

Apakah margin keuntungan proyek selalu tergerus karena rendahnya penjualan, atau justru karena biaya yang melampaui rencana awal? Dalam manajemen proyek, cost overrun adalah kondisi ketika pengeluaran aktual melebihi anggaran yang telah ditetapkan sejak tahap perencanaan.

Cost overrun dapat muncul pada berbagai skala proyek dan lintas industri, baik proyek konstruksi, infrastruktur, maupun teknologi. Faktor seperti perubahan spesifikasi, estimasi biaya yang kurang akurat, serta kendala operasional sering menjadi penyebab utamanya.

Kondisi ini berdampak langsung pada profitabilitas, arus kas, dan keberlanjutan proyek secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman yang objektif mengenai cost overrun menjadi elemen penting dalam pengendalian keuangan dan pengambilan keputusan proyek.

Key Takeaways

  • Cost overrun adalah kondisi di mana biaya aktual pelaksanaan proyek melebihi anggaran yang telah direncanakan sehingga menurunkan margin keuntungan perusahaan.
  • Faktor penyebab utama pembengkakan biaya meliputi estimasi anggaran yang tidak akurat, hingga fluktuasi ekonomi eksternal.
  • Sistem manajemen konstruksi digital dengan fitur S-Curve dan pengelolaan anggaran yang presisi membantu kontraktor memantau progres dan mengendalikan pembengkakan biaya proyek secara real-time.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu Cost Overrun? Definisi dan Konteks Bisnis

      Cost overrun adalah kondisi di mana biaya aktual pelaksanaan proyek melebihi anggaran yang telah direncanakan (budgeted cost), yang secara langsung menurunkan margin keuntungan perusahaan.

      Penting bagi kita untuk membedakan antara cost overrun dengan cost escalation agar penanganannya tepat sasaran. Overrun biasanya disebabkan oleh inefisiensi internal atau kesalahan perencanaan, sedangkan escalation lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti inflasi pasar. Memahami perbedaan ini adalah langkah awal untuk mengidentifikasi jenis biaya yang paling rentan membengkak di bawah ini.

      1. Biaya langsung (direct cost)

      Biaya langsung adalah komponen pengeluaran yang berkontribusi secara fisik terhadap hasil akhir proyek atau produksi. Pembengkakan pada kategori ini sering terjadi pada harga bahan baku (material), upah tenaga kerja harian, serta biaya sewa alat berat.

      2. Biaya tidak langsung (indirect cost)

      Biaya tidak langsung atau biaya overhead seringkali luput dari pengawasan ketat karena tidak terlihat secara fisik pada produk akhir. Biaya ini mencakup gaji manajemen proyek, biaya administrasi kantor, tagihan utilitas situs, hingga biaya legal dan perizinan.

      Faktor Utama Penyebab Terjadinya Cost Overrun

      Faktor Utama Penyebab Terjadinya Cost OverrunFaktor penyebab utama cost overrun meliputi estimasi anggaran yang tidak akurat, perubahan lingkup kerja (scope creep), manajemen sumber daya yang buruk, dan fluktuasi ekonomi eksternal.

      Berikut adalah bedah mendalam mengenai penyebab spesifik yang paling sering terjadi di lapangan.

      1. Estimasi anggaran yang tidak akurat

      Kesalahan fatal sering terjadi pada tahap penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) awal yang terlalu rendah atau tidak realistis. Underestimation ini biasanya terjadi karena kurangnya data referensi yang akurat atau keinginan untuk memenangkan tender dengan harga terendah. Akibatnya, anggaran yang tersedia tidak cukup untuk menutupi biaya riil saat proyek berjalan.

      2. Perubahan lingkup proyek (scope creep)

      Scope creep adalah fenomena di mana fitur, tugas, atau hasil kerja bertambah di tengah jalan tanpa penyesuaian anggaran resmi. Hal ini sering terjadi akibat permintaan klien yang tidak terdokumentasi dengan baik atau kurangnya ketegasan manajer proyek. Penggunaan solusi sistem digital bagi kontraktor dapat membantu mengelola perubahan ini melalui fitur Variation Order yang sistematis.

      3. Fluktuasi harga material dan ekonomi

      Faktor eksternal seperti kenaikan harga bahan baku yang mendadak atau perubahan nilai tukar mata uang sangat mempengaruhi biaya proyek. Kelangkaan pasokan (supply shortage) juga dapat memaksa perusahaan membeli material dengan harga premium demi mengejar jadwal. Risiko ini harus dimitigasi dengan kontrak harga tetap atau cadangan dana kontinjensi.

      4. Manajemen jadwal yang buruk

      Keterlambatan jadwal (schedule slippage) secara otomatis akan meningkatkan biaya overhead dan tenaga kerja secara signifikan. Selain itu, inefisiensi penggunaan alat berat yang menganggur (idle time) juga berkontribusi pada pemborosan biaya sewa. Sinkronisasi antara jadwal kerja dan alokasi sumber daya adalah kunci efisiensi biaya.

      Dampak Signifikan Cost Overrun bagi Perusahaan

      Dampak cost overrun mencakup erosi margin keuntungan, gangguan arus kas (cash flow), hilangnya kepercayaan investor atau klien, hingga potensi kebangkrutan bisnis.

      Selain kerugian materi, dampak jangka panjang non-finansial juga sangat merugikan reputasi profesional perusahaan Anda. Reputasi yang tercoreng akibat kegagalan mengelola anggaran akan menyulitkan perusahaan mendapatkan proyek baru atau kepercayaan dari bank. Klien akan meragukan kapabilitas manajemen Anda dalam menangani proyek-proyek strategis di masa depan.

      Cara Menghitung Cost Overrun dalam Proyek

      Perhitungan dasar dilakukan dengan membandingkan Biaya Aktual dengan Biaya Anggaran, menggunakan rumus:

      (Biaya Aktual – Biaya Anggaran) / Biaya Anggaran x 100%.

      Rumus sederhana di atas memberikan gambaran persentase seberapa jauh penyimpangan biaya telah terjadi dari rencana awal. Misalnya, jika anggaran awal adalah Rp1 Miliar dan biaya aktual mencapai Rp1,2 Miliar, maka terjadi cost overrun sebesar 20%. Angka ini menjadi indikator merah bagi manajemen untuk segera melakukan audit dan evaluasi.

      Untuk analisis yang lebih mendalam, metode Earned Value Management (EVM) menawarkan indikator yang lebih presisi. Variabel seperti Cost Variance (CV) dan Cost Performance Index (CPI) dapat menunjukkan kesehatan proyek secara real-time. Nilai CPI di bawah 1 menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada nilai pekerjaan yang diselesaikan.

      Strategi Efektif Mencegah Cost Overrun

      Strategi pencegahan meliputi perencanaan mendalam, penggunaan Kurva S untuk monitoring, manajemen risiko proaktif, dan digitalisasi sistem pengawasan biaya.

      Berikut adalah langkah-langkah taktis dan teknis yang bisa segera diterapkan oleh manajemen perusahaan Anda.

      1. Implementasi kurva S (S-Curve)

      Grafik Kurva S adalah alat vital untuk membandingkan rencana (plan) versus aktual (actual) secara visual dan intuitif. Dengan kurva ini, deviasi antara progres fisik dan penyerapan biaya dapat terlihat secara instan. Ini memungkinkan manajer untuk segera melakukan intervensi jika garis aktual mulai menjauh dari garis rencana.

      2. Manajemen risiko dan dana kontinjensi

      Mengalokasikan dana cadangan (contingency fund) yang memadai adalah jaring pengaman finansial yang sangat penting. Lakukan penilaian risiko secara berkala untuk mengidentifikasi potensi biaya tak terduga. Dana ini tidak boleh dianggap sebagai anggaran tambahan, melainkan cadangan khusus untuk situasi darurat yang terukur.

      3. Digitalisasi dengan software manajemen proyek

      Beralih dari spreadsheet manual ke sistem terintegrasi adalah langkah transformasi digital yang krusial di tahun 2026. Penggunaan construction software memungkinkan otomatisasi pelacakan biaya, persetujuan anggaran, dan laporan progres. Sistem ini meminimalisir human error dan manipulasi data yang sering terjadi pada pelaporan manual.

      Pemanfaatan Teknologi untuk Meningkatkan Akurasi Anggaran dan Progres Proyek

      Teknologi berperan penting dalam meningkatkan akurasi perencanaan serta pengendalian biaya proyek melalui integrasi data secara real-time. Dengan sistem yang terpusat, perusahaan dapat memantau realisasi anggaran, progres pekerjaan, dan potensi deviasi biaya sejak tahap awal pelaksanaan proyek.

      Pendekatan ini diterapkan oleh Decorient, yang memanfaatkan sistem konstruksi terintegrasi untuk pengendalian biaya proyek guna menyederhanakan proses operasional bisnisnya. Melalui satu platform, Decorient dapat mengelola RAB, jadwal proyek, penggunaan sumber daya, serta mencatat setiap perubahan lingkup pekerjaan secara sistematis.

      Visibilitas yang lebih baik terhadap aktivitas lapangan dan pembaruan anggaran membantu perusahaan menjaga konsistensi data, meningkatkan akurasi pengambilan keputusan, serta mengendalikan risiko pembengkakan biaya secara lebih terukur dan berbasis data.

      Kesimpulan

      Cost overrun adalah risiko nyata yang dapat mengancam kelangsungan bisnis jika tidak dikelola dengan strategi yang tepat dan disiplin tinggi. Kombinasi antara perencanaan yang matang, manajemen risiko yang proaktif, serta penggunaan teknologi yang andal adalah kunci untuk menjaga proyek tetap berada dalam jalur anggaran.

      Tanpa pengawasan yang memadai, inefisiensi dan biaya tak terduga dapat menggerus profitabilitas proyek secara signifikan. Untuk membantu mengevaluasi kebutuhan dan strategi pengendalian biaya yang lebih tepat, perusahaan dapat memanfaatkan sesi diskusi awal dengan penyedia solusi yang relevan.

      HashConstructionSuite

      Pertanyaan Tentang Cost Overrun

      • Apa perbedaan cost overrun dan cost escalation?

        Cost overrun disebabkan oleh inefisiensi internal atau kesalahan perencanaan, sedangkan cost escalation disebabkan oleh faktor eksternal seperti inflasi pasar.

      • Bagaimana cara mendeteksi cost overrun sejak dini?

        Gunakan kurva S untuk membandingkan rencana vs aktual secara berkala dan pantau Cost Performance Index (CPI) dalam metode EVM.

      • Apakah software ERP bisa menghilangkan risiko cost overrun sepenuhnya?

        Software ERP tidak menghilangkan risiko 100%, namun memberikan data real-time dan kontrol yang memungkinkan mitigasi risiko secara drastis sebelum menjadi masalah besar.

      Kinan Eliana

      Content Writer

      Kinan telah berpengalaman selama 3 tahun di bidang content writing untuk industri manufaktur, konstruksi, dan retail. Ia secara konsisten mengulas topik terkait proses operasional bisnis manufaktur, manajemen omnichannel, manajemen proyek, serta implementasi teknologi digital untuk proses bisnis.

      William adalah seorang praktisi dengan gelar Bachelor of Computer Science dari Nanyang Technological University Singapore, dengan keahlian mendalam terkait teknologi informasi dan pengembangan sistem. Pengalaman awal dalam bidang teknologi menumbuhkan ketertarikannya terhadap solusi enterprise yang dapat mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis. Selama sepuluh tahun terakhir, William mendalami dunia sistem Enterprise Resource Planning (ERP), yang memperkuat keahliannya dalam arsitektur sistem, implementasi solusi bisnis terintegrasi, serta optimalisasi proses operasional melalui teknologi.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya