Days Payable Outstanding (DPO) adalah salah satu metrik keuangan yang sering muncul dalam laporan arus kas, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh. Padahal, indikator ini berperan penting dalam menunjukkan bagaimana bisnis mengelola kewajiban pembayaran kepada pemasok.
Secara sederhana, DPO menggambarkan rata-rata waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk melunasi utang usaha. Angka ini membantu kita melihat keseimbangan antara menjaga likuiditas dan mempertahankan hubungan baik dengan vendor.
Dalam praktiknya, DPO bukan sekadar soal “semakin lama semakin baik” atau sebaliknya. Nilai DPO yang ideal sangat bergantung pada model bisnis, industri, dan strategi pengelolaan kas yang diterapkan.
Karena itu, sebelum menggunakan DPO sebagai dasar pengambilan keputusan, kita perlu memahami cara menghitungnya, cara membacanya, serta konteks penggunaannya dalam operasional bisnis sehari-hari.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Days Payable Outstanding (DPO)?
Days Payable Outstanding (DPO) adalah metrik yang menunjukkan rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar kewajiban kepada pemasok setelah menerima barang atau jasa. DPO menjadi salah satu indikator penting dalam analisis manajemen modal kerja.
DPO biasanya dianalisis bersama metrik lain seperti Days Sales Outstanding (DSO) dan Days Inventory Outstanding (DIO) untuk melihat seberapa efisien siklus kas perusahaan berjalan.
Cara Menghitung Days Payable Outstanding (DPO)
Dalam menghitung DPO, perusahaan perlu mengetahui jumlah hari yang dibutuhkan untuk melunasi faktur utang kepada pemasok atas pembelian kredit. Dalam neraca, utang dagang mencerminkan saldo kewajiban yang belum dibayar meskipun barang atau jasa sudah diterima.
Selama pemasok menunggu pembayaran, dana masih berada di tangan perusahaan dan dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Semakin lama pembayaran ditunda, semakin lama perusahaan memegang kas, yang berpotensi meningkatkan arus kas bebas (free cash flow) dan likuiditas jangka pendek.
Karena utang dagang termasuk arus kas masuk operasional, banyak perusahaan berupaya menjaga DPO tetap optimal. Namun, DPO yang terlalu tinggi tidak selalu menguntungkan. Keterlambatan pembayaran berisiko merusak hubungan dengan pemasok dan dapat menyebabkan syarat kredit yang lebih ketat di masa depan.
Menghitung hari kerja berbayar (DPO) perusahaan adalah proses dua langkah:
- Tahap 1: Mulailah dengan mengambil saldo hutang dagang rata-rata (atau akhir) perusahaan dan membaginya dengan harga pokok penjualan (COGS).
- Langkah 2: Dari situ, langkah selanjutnya adalah mengalikan angka tersebut dengan 365 hari.
Rumus Menghitung Days Payable Outstanding (DPO)
Days payable outstanding atau DPO merupakan rasio finansial yang menghitung rata-rata waktu perusahaan dalam membayar hutang. Cara untuk menghitung atau menemukan DPO adalah dengan membandingkan harga pokok, utang usaha dan juga sisa hari sebelum tiba jatuh tempo pembayaran tagihan.
Maka dari itu rumus atau formula untuk menghitung days payable outstanding adalah sebagai berikut:
Atau
Yang mana
Jika kita lihat dari rumus, dapat kita tarik 3 komponen penting dalam perhitungan DPO:
- Utang Usaha: Jumlah utang perusahaan pada pihak kreditur karena adanya pembelian yang Anda lakukan secara kredit.
- Harga Pokok Penjualan: Harga yang ditentukan oleh perusahaan yang mana mencakup proses produksi hingga produk siap jual. Ini termasuk biaya langsung, seperti biaya peralatan, bahan baku, sewa, dan biaya lainnya yang secara langsung berdampak pada produksi.
- Jumlah Hari: Hari yang tersisa hingga jatuh tempo utang perusahaan.
Contoh Penerapan Days Payable Outstanding (DPO) Bagi Perusahaan
Untuk memahami bagaimana DPO bekerja dalam praktik, kita bisa melihat contoh dari beberapa perusahaan besar dengan model bisnis yang berbeda. Dari sini terlihat bahwa nilai DPO tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya utang dagang, tetapi juga oleh strategi operasional dan kebijakan pembayaran yang diterapkan masing-masing perusahaan.
- Walmart (WMT)
Walmart memiliki utang dagang sebesar $49,1 miliar dan harga pokok penjualan (COGS) sebesar $420,3 miliar pada tahun fiskal yang berakhir 31 Januari 2021. Dengan menggunakan periode 365 hari, perhitungan DPO Walmart berada di angka 42,7 hari. Hal ini menunjukkan bahwa Walmart rata-rata membayar pemasok sekitar 43 hari setelah menerima tagihan, yang mencerminkan pengelolaan kewajiban yang cukup seimbang antara likuiditas dan hubungan dengan vendor. - Microsoft (MSFT)
Microsoft mencatat utang dagang sebesar $2,8 miliar dengan COGS sebesar $41,3 miliar pada tahun fiskal 2021. Dari perhitungan tersebut, DPO Microsoft berada di angka 24,7 hari. Artinya, Microsoft cenderung membayar kewajiban kepada pemasok lebih cepat, sekitar 25 hari, yang mencerminkan kebijakan pembayaran yang lebih konservatif dan fokus pada stabilitas hubungan dengan mitra bisnis. - Amazon (AMZN)
Berbeda dengan dua perusahaan sebelumnya, Amazon memiliki utang dagang sebesar $72,5 miliar dan COGS sebesar $233,3 miliar pada tahun fiskal 2020. Perhitungan ini menghasilkan DPO yang sangat tinggi, yaitu 113,4 hari. Tingginya DPO Amazon berkaitan erat dengan model bisnis marketplace, di mana sebagian besar penjualan berasal dari penjual pihak ketiga. Dalam skema ini, Amazon menerima dana penjualan lebih awal, sementara pembayaran kepada penjual dilakukan secara berkala, sehingga perusahaan dapat menahan kas lebih lama dalam siklus operasionalnya.
Dalam praktiknya, menjaga DPO tetap ideal membutuhkan visibilitas yang baik terhadap utang dagang dan arus kas. Dukungan sistem akuntansi yang terstruktur membantu perusahaan memahami posisi kewajiban secara lebih menyeluruh, sehingga pengambilan keputusan pembayaran dapat dilakukan dengan lebih terukur dan konsisten.
Faktor-Faktor Penentu Days Payable Outstanding (DPO)
Beberapa hal dapat memengaruhi tinggi rendahnya Days Payable Outstanding (DPO) pada perusahaan. Berikut faktor-faktor yang perlu diperhatikan:
1. Kebijakan kredit pemasok
Setiap pemasok memiliki kebijakan kredit berbeda yang memengaruhi jangka waktu pembayaran. Semakin panjang tenor kredit yang diberikan, maka semakin tinggi nilai DPO perusahaan. Sebaliknya, jika pemasok menuntut pembayaran lebih cepat, DPO akan cenderung lebih rendah.
2. Kondisi keuangan perusahaan
Perusahaan dengan arus kas sehat biasanya mampu melunasi kewajiban lebih cepat. Hal ini menurunkan nilai DPO karena pembayaran dilakukan tepat waktu. Sebaliknya, jika keuangan kurang stabil, perusahaan bisa memperpanjang waktu pembayaran sehingga DPO meningkat.
3. Jenis industri
Setiap industri memiliki standar pembayaran yang berbeda sesuai dengan karakteristik bisnisnya. Industri manufaktur misalnya, sering kali memiliki DPO lebih panjang karena kebutuhan modal kerja besar. Sedangkan pada industri ritel, pembayaran cenderung lebih singkat.
4. Negosiasi dengan pemasok
Kemampuan perusahaan dalam bernegosiasi akan sangat menentukan fleksibilitas pembayaran. Perusahaan yang berhasil menjalin hubungan baik dengan pemasok bisa memperoleh syarat pembayaran lebih longgar. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan nilai DPO.
5. Strategi manajemen kas
Beberapa perusahaan memilih menunda pembayaran tagihan agar dana dapat digunakan lebih lama untuk kebutuhan operasional lain. Strategi ini memang dapat meningkatkan likuiditas jangka pendek, namun berisiko merusak reputasi bila pembayaran terlalu lama ditunda.
Mengapa Penting Penggunaan Days Payable Outstanding (DPO) Bagi Perusahaan?
Days payable outstanding ini penting Anda gunakan dalam manajemen keuangan perusahaan Anda. Karena pembayaran kepada pemasok dapat mempengaruhi likuiditas keuangan perusahaan Anda. Jika Anda membayar lebih cepat berarti lebih banyak uang keluar. Dan jika itu tidak Anda iimbangi dengan posisi kas atau kas masuk yang memadai, hal tersebut dapat mengarah pada masalah arus kas.
Analis saham dan para investor mengamati dengan seksama rasio ini guna menilai likuiditas perusahaan, bersama dengan metrik keuangan lainnya. Sedangkan, manajemen menggunakan rasio ini untuk dijadikan dasar dalam membuat keputusan penting seperti modal kerja serta apakah perlu ganti pemasok atau tidak.
Kemudian, DPO juga dapat Anda gunakan untuk menghitung siklus konversi kas (cash conversion cycle). Konversi kas ini adalah metrik untuk mengukur berapa lama perusahaan bisa menghasilkan kas, dihitung dengan memperhatikan berapa hari rata-rata menjual inventaris (Days Inventory Outstanding), menagih piutang (Days Sales Outstanding/DSO), dan membayar tagihan (Days Payable Outstanding/DPO).
Kesimpulan
Secara umum, Days Payable Outstanding (DPO) berperan sebagai indikator untuk melihat seberapa efektif perusahaan mengelola kewajiban pembayaran kepada pemasok. Melalui perhitungan DPO, perusahaan dapat memahami rata-rata waktu pelunasan utang usaha serta menilai dampaknya terhadap arus kas dan stabilitas operasional.
Dengan memahami dan memantau DPO secara tepat, perusahaan dapat menyesuaikan strategi pembayaran sesuai dengan model bisnis dan kondisi keuangan yang dimiliki. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara likuiditas yang sehat dan hubungan kerja sama yang berkelanjutan dengan pemasok.
Sebagai langkah lanjutan, perusahaan juga dapat mempertimbangkan konsultasi gratis untuk memahami kondisi pengelolaan utang dan arus kas secara lebih menyeluruh. Melalui diskusi ini, Anda bisa mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai strategi pembayaran yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, tanpa harus langsung mengambil keputusan besar.
Pertanyaan Seputar Days Payable Outstanding (DPO)
-
Apa itu Days Payable Outstanding?
Days Payable Outstanding (DPO) adalah rasio keuangan yang menunjukkan rata-rata waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar utang kepada pemasok.
-
Bagaimana cara menghitung DPO?
DPO dihitung dengan membagi rata-rata utang usaha dengan harga pokok penjualan per hari, sehingga menghasilkan estimasi jumlah hari untuk melunasi utang.
-
Bagaimana cara menghitung jumlah hari utang yang belum dibayar?
Jumlah hari utang yang belum dibayar dapat dihitung dengan formula DPO, yaitu Rata-rata Utang Usaha / (Harga Pokok Penjualan / Jumlah Hari).







