CNBC Awards

Meningkatkan Efisiensi Pengadaan dengan Agile Procurement

Diterbitkan:

Pernahkah Anda merasa bahwa proses pengadaan barang di perusahaan berjalan terlalu lambat dibandingkan dengan perubahan harga pasar yang begitu dinamis? Konsep agile procurement atau pengadaan tangkas mulai diadopsi oleh berbagai organisasi global.

Agile procurement mempercepat proses pembelian dalam mengelola rantai pasok. Tim pengadaan kini dapat bekerja lebih kolaboratif, responsif terhadap risiko, dan fokus pada penciptaan nilai tambah.

Selain itu, pengadaan tidak lagi bergantung pada siklus tender panjang untuk setiap kebutuhan. Prosesnya dipecah menjadi langkah-langkah singkat yang jelas, sehingga tim bisa menguji opsi pemasok lebih cepat.

Key Takeaways

  • Agile procurement menerapkan prinsip Agile untuk membuat proses pengadaan lebih cepat dan adaptif.
  • Penerapan pendekatan pengadaan adaptif bermanfaat untuk meningkatkan kecepatan ke pasar, mitigasi risiko lebih cepat, meningkatkan kualitas, dan mengefisiensikan biaya.
  • Operasional ini dapat menghadapi tantangan seperti resistensi budaya, kepatuhan dan regulasi, serta keterbatasan teknologi.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Mengenal Konsep Dasar Agile Procurement

      Agile procurement adalah penerapan filosofi dan nilai Agile yang populer dalam pengembangan perangkat lunak ke dalam proses pengadaan dan manajemen rantai pasok.

      Jika pengadaan tradisional sering kali bersifat linear, kaku, dan berbasis pada spesifikasi yang sudah ditetapkan di awal (sering disebut metode Waterfall), pengadaan agile justru bersifat iteratif, kolaboratif, dan adaptif.

      Dalam model tradisional, tim pengadaan biasanya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyusun dokumen Request for Proposal (RFP) yang sangat rinci, menunggu penawaran, mengevaluasi, dan kemudian memilih vendor.

      Proses ini berasumsi bahwa kita mengetahui semua jawaban dan solusi di awal proyek. Namun, dalam dunia yang penuh ketidakpastian (VUCA), asumsi ini sering kali salah.

      Agile procurement membalikkan paradigma ini dengan fokus pada kemitraan awal dengan pemasok untuk menemukan solusi bersama, bukan sekadar membeli barang berdasarkan spesifikasi kaku.

      Manfaat Strategis Mengadopsi Pengadaan Berbasis Data

      Mengadopsi agile procurement berfokus pada cara perusahaan merespons perubahan dengan lebih cepat. Berikut adalah manfaat langsung bagi bisnis:

      1. Kecepatan ke pasar (time-to-market)

      Kecepatan ke pasar meningkat karena agile procurement mempersingkat siklus pengadaan dari berbulan-bulan menjadi minggu atau hari lewat lokakarya kolaboratif, sehingga proyek bisa dimulai lebih cepat.

      2. Peningkatan kualitas dan inovasi

      Kualitas dan inovasi ikut terdorong karena pemasok dilibatkan sejak awal untuk memberi masukan dan solusi. Oleh karena itu, proses ini sering memunculkan ide yang lebih efisien dan inovatif.

      3. Mitigasi risiko yang lebih baik

      Pendekatan iteratif memungkinkan perusahaan untuk menguji kinerja pemasok dalam skala kecil sebelum berkomitmen pada kontrak jangka panjang yang besar. Jika terjadi masalah, hal itu dapat diidentifikasi dan diperbaiki dengan cepat, atau hubungan kerja dapat diakhiri tanpa kerugian besar.

      4. Efisiensi biaya melalui pengurangan limbah

      Agile memangkas proses yang tidak perlu sehingga biaya operasional turun dan perencanaan persediaan lebih akurat. Dampaknya terlihat dari optimalisasi metode pengukuran efisiensi stok untuk menjaga ketersediaan tanpa penumpukan inventaris.

      Langkah-Langkah Implementasi Agile Procurement

      Transisi menuju sistem yang lebih tangkas tidak terjadi dalam semalam. Ini memerlukan perencanaan matang dan eksekusi bertahap. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk mengimplementasikannya di organisasi Anda.

      1. Penilaian kesiapan dan perubahan mindset

      Mulai dengan menilai kesiapan budaya organisasi, terutama dukungan manajemen untuk keputusan yang lebih terdesentralisasi. Lakukan pelatihan agile untuk tim pengadaan dan stakeholder agar mindset bergeser dari gatekeeper menjadi fasilitator nilai.

      2. Pembentukan tim lintas fungsi

      Bentuk tim lintas fungsi untuk menangani kategori pengeluaran atau proyek tertentu. Beri otonomi mengambil keputusan taktis selama tetap sesuai batas anggaran dan risiko yang disepakati.

      3. Implementasi lean-agile sourcing

      Gunakan Lean-Agile Procurement Canvas sebagai pengganti RFP tebal. Undang beberapa pemasok ke lokakarya 1–2 hari untuk menyusun solusi, proposal, dan draf kontrak bersama tanpa proses bolak-balik berbulan-bulan.

      Penting juga untuk memanfaatkan teknologi yang mendukung transparansi. Penggunaan standar pengadaan elektronik atau sistem e-procurement yang fleksibel dapat membantu memfasilitasi proses ini, memastikan bahwa meskipun prosesnya cepat, jejak audit dan kepatuhan tetap terjaga.

      4. Eksekusi kontrak berbasis sprint

      Setelah vendor terpilih, pantau kontrak lewat sprint 2–4 minggu dan lakukan review rutin atas pengiriman serta kinerja. Jika hasilnya belum sesuai, lakukan penyesuaian segera sebelum lanjut.

      Expert's Review

      “Kalau pemasok hanya diajak saat negosiasi harga, peluang inovasi sering lewat begitu saja. Agile procurement membuka ruang kolaborasi sejak awal”

      — Anandia Denisha, MBA, Regional Manager

      Tantangan Operasional Procurement Kolaboratif dan Solusi Efektifnya

      Meskipun menawarkan banyak manfaat, penerapan agile procurement tidak lepas dari hambatan. Mengidentifikasi tantangan ini sejak dini adalah kunci keberhasilan transformasi.

      1. Resistensi budaya dan kebiasaan lama

      Banyak profesional pengadaan yang sudah terbiasa dengan pola kerja terstruktur dan merasa tidak nyaman dengan ambiguitas dalam metode agile. Mereka mungkin merasa kehilangan kendali.

      Maka, solusinya adalah melalui manajemen perubahan (change management) yang empatik. Tunjukkan kemenangan-kemenangan kecil (quick wins) dari proyek percontohan untuk membuktikan bahwa metode ini efektif dan aman.

      2. Kepatuhan dan regulasi (compliance)

      Sering kali ada anggapan bahwa “agile” berarti “tanpa aturan” atau “melanggar prosedur”. Agile tetap harus patuh pada regulasi, terutama di sektor publik atau industri yang diatur ketat.

      Kuncinya adalah mendokumentasikan keputusan secara real-time. Pastikan setiap langkah, meskipun cepat, memiliki jejak digital yang jelas. Penggunaan sistem yang otomatis dapat membantu mencatat setiap persetujuan dan perubahan tanpa memperlambat kerja manusia.

      Pengelolaan dokumentasi serah terima barang yang akurat dan digital memastikan bahwa kecepatan pengadaan tidak mengorbankan akurasi verifikasi barang yang diterima, sehingga pembayaran ke vendor dapat diproses tanpa sengketa.

      3. Keterbatasan teknologi

      Sistem ERP atau procurement lama (legacy systems) sering kali didesain untuk proses linear yang kaku. Memaksa sistem ini bekerja secara agile bisa menyulitkan.

      Perusahaan mungkin perlu mempertimbangkan untuk mengadopsi lapisan teknologi tambahan atau beralih ke solusi cloud-based modern yang dirancang untuk fleksibilitas dan kolaborasi real-time.

      Memilih Pendekatan Pengadaan Agile Lean atau Tradisional

      Sering kali terjadi kebingungan antara konsep Agile, Lean, dan Tradisional. Berikut adalah perbandingan mendalam untuk memperjelas posisi masing-masing metodologi.

      1. Fokus utama

      • Tradisional: Fokus pada kepatuhan biaya (cost compliance), standardisasi, dan pencegahan risiko melalui kontrol ketat. Cocok untuk pembelian komoditas stabil dengan risiko rendah.
      • Lean: Fokus pada penghilangan pemborosan (waste) dalam proses. Tujuannya adalah efisiensi alur kerja. Lean sangat baik untuk proses transaksional yang berulang.
      • Agile: Fokus pada adaptabilitas dan responsivitas terhadap perubahan. Tujuannya adalah efektivitas dalam situasi yang tidak pasti. Sangat cocok untuk pengadaan strategis, proyek kompleks, atau kemitraan inovasi.

      2. Hubungan dengan pemasok

      Dalam model tradisional, hubungan sering kali bersifat transaksional dan terkadang adversarial (menekan harga serendah mungkin). Lean memandang pemasok sebagai bagian dari aliran nilai yang harus dioptimalkan.

      Agile memandang pemasok sebagai mitra kolaboratif yang integral dalam tim pengembangan solusi. Dalam agile, transparansi data antara pembeli dan pemasok sangat tinggi.

      3. Dokumentasi dan kontrak

      Kontrak tradisional bersifat kaku dengan ruang lingkup (scope) yang terkunci. Perubahan ruang lingkup memerlukan proses Change Request yang rumit.

      Kontrak agile sering kali menggunakan model “Time and Materials” atau “Target Cost”. Ini memungkinkan perubahan prioritas di tengah jalan tanpa harus merombak seluruh kontrak legal.

      Peran Teknologi dalam Mendukung Agile Procurement

      Mustahil menjalankan pengadaan yang benar-benar tangkas hanya dengan mengandalkan spreadsheet manual dan email. Teknologi berperan sebagai enabler utama yang memungkinkan transparansi data dan kecepatan komunikasi.

      1. Automasi dan kecerdasan buatan (AI)

      Automasi menangani pekerjaan rutin seperti pembuatan PO, verifikasi invoice, dan pembaruan data vendor sehingga tim bisa fokus ke strategi dan negosiasi. AI membantu memberi sinyal lebih awal dan merekomendasikan opsi pemasok saat kondisi pasokan berubah.

      2. Platform kolaborasi berbasis cloud

      Platform cloud membuat tim internal dan pemasok bekerja di data yang sama dalam satu sistem. Perubahan spesifikasi, jadwal, dan status approval bisa dipantau dan disepakati secara real-time tanpa bolak-balik email.

      3. Analitik data real-time

      Dasbor real-time memberi gambaran cepat soal pengeluaran, performa vendor, dan tren kebutuhan agar keputusan lebih tepat. Dengan data yang selalu terbaru, tim bisa menyesuaikan strategi tanpa menunggu laporan manual.

      Arah Baru Pengadaan di Era Bisnis Modern

      arah baru pengadaan di era bisnis modern

      Melihat ke depan, agile procurement akan berevolusi menjadi standar norma baru, bukan lagi sekadar opsi alternatif. Beberapa tren kunci yang akan membentuk masa depan pengadaan meliputi:

      1. Ekosistem pemasok yang terhubung

      Rantai pasok akan berubah menjadi jaringan yang saling terhubung, bukan lagi alur linear. Kecepatan pengadaan makin ditentukan oleh kelancaran arus data dari hulu ke hilir.

      2. Keberlanjutan (sustainability) sebagai pendorong agilitas

      Tuntutan ESG membuat tim pengadaan perlu cepat menyesuaikan pilihan material dan pemasok. Pendekatan agile memudahkan perubahan itu tanpa mengacaukan alur operasional.

      3. Human-centric procurement

      Teknologi mengurus data dan otomatisasi, manusia fokus pada negosiasi dan relasi pemasok. Soft skills menjadi pembeda untuk keputusan yang lebih strategis.

      Model Pengadaan Adaptif di Berbagai Sektor Industri

      Meski berawal dari dunia teknologi, pendekatan agile relevan untuk pengadaan di berbagai sektor. Fleksibilitasnya bisa disesuaikan dengan karakter rantai pasok tiap industri dan kebutuhan operasional yang berbeda.

      1. Sektor manufaktur dan produksi

      Di manufaktur, pendekatan agile membantu pengadaan tetap selaras dengan ritme JIT dan lean dengan memantau kebutuhan material secara lebih rutin. Fokusnya biasanya pada portofolio pemasok dan review berkala agar keputusan sourcing bisa cepat saat kondisi pasar berubah.

      2. Ritel dan e-commerce

      Strategi ini membuat pengadaan lebih responsif terhadap tren dengan pembelian awal dalam batch kecil untuk uji pasar. Jika performanya bagus, scaling dilakukan cepat sehingga stok tetap sehat dan perputaran barang lebih terjaga.

      3. Distribusi dan logistik

      Agile membantu menjaga layanan tetap stabil lewat evaluasi vendor dan kontrak yang lebih fleksibel. Saat volume atau area pengiriman berubah, tim bisa menambah kapasitas melalui vendor tambahan tanpa proses panjang.

      Langkah Implementasi Taktis dan Pengukuran Kinerja

      Mengubah organisasi pengadaan menjadi agile tidak terjadi dalam semalam. Diperlukan peta jalan yang jelas dan terukur agar transisi tidak menimbulkan kekacauan operasional. Berikut adalah panduan langkah demi langkah beserta metrik keberhasilan yang relevan.

      1. Pembentukan tim lintas fungsi (cross-functional squads)

      Bentuk squad kecil berisi procurement, user bisnis, legal, dan finance agar keputusan taktis bisa diambil cepat dengan peran yang jelas. Gunakan kanban untuk melacak progres dan menjaga koordinasi tetap rapi.

      Aktivitas Kunci:

      • Menetapkan Product Owner untuk setiap kategori pengadaan.
      • Melakukan sesi Daily Stand-up singkat (15 menit) untuk membahas hambatan.
      • Menggunakan papan visual (Kanban board) untuk melacak status negosiasi dan kontrak.

      2. Eksekusi sourcing sprints

      Ubah tender panjang menjadi sprint pendek dengan output yang spesifik, misalnya riset pasar dan shortlist vendor terlebih dulu. Libatkan pemasok atau supplier lebih awal lewat sesi kolaboratif agar solusi cepat terlihat.

      3. Metrik dan KPI agile procurement

      Ukur agile procurement lewat kecepatan dan kualitas, bukan hanya cost savings. Fokus pada cycle time to contract, cost of delay, inovasi pemasok, kepuasan stakeholder, dan efisiensi proses.

      Berikut adalah tabel indikator kinerja yang disarankan:

      • Cycle Time to Contract: Mengukur waktu rata-rata dari identifikasi kebutuhan hingga penandatanganan kesepakatan kerja sama. Targetnya adalah pengurangan waktu siklus sebesar 30-50%.
      • Cost of Delay: Menghitung potensi kerugian finansial atau peluang yang hilang setiap kali keputusan pengadaan tertunda. Metrik ini membantu memprioritaskan tugas dalam backlog.
      • Supplier Innovation Rate: Jumlah ide atau perbaikan proses yang diusulkan oleh pemasok dan berhasil diimplementasikan. Ini mengukur kualitas kolaborasi.
      • Stakeholder Satisfaction Score (NPS): Survei berkala kepada pengguna internal tentang kepuasan mereka terhadap kecepatan dan kualitas layanan pengadaan.
      • Process Efficiency Ratio: Perbandingan antara waktu kerja produktif (negosiasi, strategi) dengan waktu administrasi (paperwork). Agile bertujuan meminimalkan waktu administrasi.

      Jebakan Umum dan Strategi Mitigasi Risiko

      Transisi menuju agile procurement sering kali menghadapi hambatan. Mengetahui potensi kegagalan ini sejak awal akan membantu pemimpin perusahaan mempersiapkan strategi mitigasi yang efektif.

      1. Konflik kepatuhan dan audit

      Masalah: Tim audit dan kepatuhan sering melihat metode agile sebagai sesuatu yang “sembrono” karena kurangnya dokumentasi formal yang tebal di awal proses. Mereka mungkin menganggap kecepatan sebagai risiko terhadap transparansi.

      Mitigasi: Libatkan tim audit sejak awal dan tetapkan minimum viable compliance yang tetap patuh tanpa memperlambat proses. Gunakan sistem digital/ERP untuk mencatat audit trail otomatis agar dokumentasi terbentuk tanpa kerja manual.

      2. Scope creep (perluasan ruang lingkup)

      Masalah: Karena sifatnya yang fleksibel, pemangku kepentingan sering kali terus menambahkan persyaratan baru di tengah jalan tanpa mempertimbangkan dampak biaya dan waktu, dengan dalih “kita kan sedang agile”.

      Mitigasi: Terapkan backlog management yang ketat dengan prinsip trade-off, setiap tambahan harus diimbangi pengurangan prioritas lain. Scrum Master atau fasilitator menjaga disiplin ini.

      3. Ketidaksiapan pemasok

      Masalah: Tidak semua pemasok siap bekerja dengan metode agile. Pemasok tradisional mungkin bingung jika tidak diberikan spesifikasi yang sangat rinci dan tetap (fixed specs).

      Mitigasi: Edukasi vendor strategis tentang manfaatnya, seperti ekspektasi lebih jelas dan proses pembayaran lebih cepat. Mulai dari pilot kecil dengan vendor paling inovatif sebelum diperluas.

      Strategi Lanjutan untuk Proses Pengadaan yang Skalabel

      Bagi organisasi yang telah berhasil menerapkan dasar-dasar agile procurement, langkah selanjutnya adalah meningkatkan maturitas proses untuk dampak yang lebih besar.

      1. Penerapan lean-agile procurement (LAP) canvas

      LAP canvas menyederhanakan proses pengadaan dengan memusatkan fokus pada kebutuhan utama, nilai yang ingin dicapai, dan peran pemasok sejak awal. Pendekatan ini mendorong diskusi yang lebih cepat dan selaras tanpa bergantung pada dokumen panjang.

      2. Integrasi teknologi ERP dan AI

      ERP yang terintegrasi dengan AI membantu tim pengadaan mengakses data real-time dan membaca pola lebih awal. Dengan dukungan ini, keputusan dapat diambil lebih responsif tanpa menunggu proses manual yang berlapis.

      Kesimpulan

      Agile procurement adalah cara kerja pengadaan yang lebih lincah mengikuti kebutuhan bisnis yang cepat berubah. Fokusnya bukan sekadar dokumen, tapi hasil yang memberi nilai nyata untuk operasional.

      Pendekatan ini menekankan kolaborasi antar tim dan pemasok agar keputusan bisa diambil lebih cepat tanpa kehilangan kontrol. Kuncinya ada pada aturan yang jelas, data yang rapi, dan koordinasi yang jalan.

      Penerapannya tidak harus langsung besar, bisa dimulai dari proses yang paling sering memakan waktu. Setelah itu, evaluasi hasilnya dan perbaiki bertahap sampai alurnya benar-benar cocok dengan ritme perusahaan.

      Procurement

      Pertanyaan Seputar Agile Procurement

      • Apa perbedaan utama antara agile procurement dan pengadaan tradisional?

        Perbedaan utamanya terletak pada pendekatan proses dan waktu. Pengadaan tradisional bersifat linear, kaku, dan berbasis spesifikasi awal yang detail (waterfall), sedangkan agile procurement bersifat iteratif, kolaboratif, dan fleksibel terhadap perubahan kebutuhan selama proses berlangsung.

      • Apakah agile procurement cocok untuk semua jenis pembelian?

        Tidak selalu. Agile procurement paling efektif untuk pengadaan strategis, proyek kompleks, atau situasi di mana solusi belum sepenuhnya jelas (seperti pembelian teknologi atau jasa kreatif). Untuk pembelian komoditas rutin dengan spesifikasi standar, metode tradisional atau lean mungkin masih lebih efisien.

      • Bagaimana cara menjaga kepatuhan (compliance) dalam proses agile?

        Kepatuhan dijaga dengan mendokumentasikan setiap keputusan secara real-time menggunakan sistem digital. Agile tidak berarti mengabaikan aturan, tetapi mempercepat alur keputusan. Transparansi data dan jejak audit digital memastikan bahwa meskipun prosesnya cepat, standar regulasi tetap terpenuhi.

      Jonathan Kurniawan

      Senior Content Writer

      Jonathan adalah seorang praktisi dalam bidang procurement, TMS, dan supply chain dengan pengalaman 5 tahun. Spesialis dalam mengulas topik seputar manajemen vendor, budget control procurement, otomatisasi proses pengadaan barang, dan analisis procurement. Tulisannya secara konsisten mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih strategis.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya