CNBC Awards

Cara Alokasi Joint Cost untuk Produk Gabungan

Diterbitkan:

Satu proses produksi bisa menghasilkan beberapa produk sekaligus, tapi biaya di awalnya tercampur jadi satu. Di titik ini, tantangan terbesar biasanya bukan menghitung total biaya, melainkan membaginya secara masuk akal ke tiap produk.

Joint cost dipakai untuk menata biaya gabungan sebelum produk terpisah di split-off point. Penentuan alokasi yang rapi membantu tim melihat HPP per produk dengan lebih jelas, terutama saat harga jual, volume, dan biaya lanjutan tiap produk tidak sama.

Di praktiknya, metode alokasi perlu mengikuti karakter proses produksi dan data yang tersedia, bukan sekadar ikut metode yang paling populer. Begitu pilih metodenya, barulah perhitungan dan pelaporan jadi konsisten dari periode ke periode.

Key Takeaways

  • Joint cost berasal dari proses produksi gabungan yang menghasilkan beberapa produk, sedangkan common cost timbul dari penggunaan sumber daya bersama untuk produk terpisah.
  • Joint cost adalah biaya produksi gabungan sebelum titik pemisahan yang harus dialokasikan agar pembukuan laporan keuangan dan strategi harga tetap akurat.
  • Biaya ini muncul secara alami dari proses produksi tunggal yang menghasilkan beberapa produk secara serentak.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Peran Joint Cost dalam Akuntansi Biaya

      Joint cost adalah total biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead yang dikeluarkan dalam satu proses produksi gabungan sebelum mencapai titik pemisahan (split-off point) menjadi produk-produk yang berbeda.

      Di industri manufaktur, misalnya, joint cost sering kali menjadi area abu-abu yang membingungkan. Biaya ini muncul secara alami dari proses produksi tunggal yang menghasilkan beberapa produk secara bersamaan, atau yang kita kenal sebagai produk gabungan (joint products). Artinya, biaya ini tidak dapat dilacak atau dibebankan secara langsung ke satu produk spesifik sebelum produk tersebut terpisah secara fisik.

      Urgensi pemahaman ini sangat tinggi bagi manajemen level atas karena kesalahan alokasi dapat mendistorsi laporan laba rugi secara signifikan.

      Dalam survei manufaktur di UK, 86,7% responden mengaku memakai product cost sering atau setiap saat untuk keputusan, dan 54,6% memakainya setiap saat

      Untuk memahami konsep ini secara utuh, kita perlu membedah elemen utama yang membentuk strukturnya. Mari kita mulai dengan memahami titik krusial di mana biaya ini mulai bisa dipisahkan.

      1. Konsep Titik Pisah (Split-Off Point)

      Split-off point adalah momen kritis dalam lini produksi di mana produk-produk gabungan mulai dapat diidentifikasi sebagai unit individu yang terpisah. Sebelum mencapai titik ini, seluruh biaya produksi dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pemahaman yang tepat mengenai titik ini sangat penting untuk menentukan kapan alokasi biaya harus mulai diterapkan secara spesifik.

      2. Perbedaan Produk Utama dan Produk Sampingan

      Dalam proses gabungan, output yang dihasilkan biasanya terbagi menjadi produk utama (main product) dan produk sampingan (by-product). Produk utama memiliki nilai jual yang signifikan dan menjadi tujuan utama operasi perusahaan, sedangkan produk sampingan memiliki nilai yang relatif rendah. Perlakuan akuntansi untuk kedua jenis produk ini berbeda, di mana alokasi joint cost umumnya difokuskan pada produk utama saja.

      Perbedaan Fundamental Antara Joint Cost dan Common Cost

      Joint cost muncul dari satu proses produksi yang menghasilkan beberapa produk fisik tak terelakkan, sedangkan common cost adalah biaya penggunaan fasilitas bersama untuk produk yang sebenarnya bisa diproduksi terpisah.

      Banyak praktisi bisnis masih sering tertukar antara joint cost (biaya bersama) dan common cost (biaya bergabung). Joint cost bersifat fundamental dan fisik; misalnya dalam penyulingan minyak mentah yang pasti menghasilkan bensin, solar, dan aspal. Anda tidak bisa memproduksi bensin tanpa menghasilkan produk lainnya dalam proses tersebut.

      Sebaliknya, common cost lebih berkaitan dengan penggunaan sumber daya bersama. Contoh paling mudah adalah biaya sewa gedung pabrik yang digunakan untuk memproduksi sepatu dan tas. Sepatu dan tas bisa diproduksi di tempat berbeda, namun disatukan untuk efisiensi, sehingga biaya sewanya menjadi common cost yang dialokasikan berdasarkan pemicu biaya (cost driver).

      4 Metode Alokasi Joint Cost yang Paling Efektif

      infografis-joint-cost

      Empat metode utama adalah Metode Satuan Fisik, Metode Nilai Jual pada Titik Pisah, Metode Nilai Realisasi Bersih (NRV), dan Metode Rata-Rata Tertimbang.

      1. Metode Satuan Fisik (Physical Units Method)

      Joint cost dialokasikan berdasarkan proporsi unit fisik yang dihasilkan (kg, liter, unit, dll), tanpa melihat harga jual.

      Rumus umum:

      Alokasi biaya produk = (Unit produk ÷ Total unit semua produk) × Total joint cost

      Contoh angka:

      Total joint cost: Rp100.000.000

      Output:

      • Produk A: 600 kg
      • Produk B: 400 kg
      • Total unit = 1.000 kg

      Alokasi:

      • Produk A = (600 ÷ 1.000) × 100.000.000 = Rp60.000.000
      • Produk B = (400 ÷ 1.000) × 100.000.000 = Rp40.000.000

      Catatan penting: Metode ini objektif dan simpel, tapi bisa misleading kalau nilai jual Produk A & B jauh beda.

      2. Metode Nilai Jual pada Titik Pisah

      Biaya dialokasikan berdasarkan proporsi nilai jual masing-masing produk di titik pisah (sebelum proses lanjutan).

      Rumus umum:

      Alokasi biaya produk = (Nilai jual produk ÷ Total nilai jual) × Total joint cost

      Contoh angka:

      Total joint cost: Rp100.000.000

      Nilai jual di titik pisah:

      • Produk A: Rp300.000.000
      • Produk B: Rp200.000.000
      • Total nilai jual = Rp500.000.000

      Alokasi:

      • Produk A = (300.000.000 ÷ 500.000.000) × 100.000.000 = Rp60.000.000
      • Produk B = (200.000.000 ÷ 500.000.000) × 100.000.000 = Rp40.000.000

      Produk yang memiliki nilai pasar lebih tinggi akan menanggung porsi biaya yang lebih besar, sehingga margin laba kotor antar produk cenderung lebih konsisten.

      3. Metode Nilai Realisasi Bersih (NRV)

      Metode NRV digunakan ketika produk memerlukan proses tambahan setelah titik pisah sebelum siap untuk dijual ke pasar.

      Rumus NRV:

      • NRV = Harga jual akhir – Biaya proses lanjutan
      • Alokasi biaya = (NRV produk ÷ Total NRV) × Total joint cost

      Metode ini memberikan gambaran profitabilitas yang lebih realistis untuk produk kompleks yang membutuhkan finishing lebih lanjut.

      4. Metode Rata-Rata Tertimbang

      Metode ini menggunakan faktor pembobot (seperti tingkat kesulitan produksi, waktu, atau kompleksitas) yang dikalikan dengan unit fisik, seoerti di bawah ini.

      Unit fisik × bobot kompleksitas (waktu, effort, risiko keuangan, dll).

      Rumus umum:

      • Unit tertimbang = Unit fisik × Faktor bobot
      • Alokasi biaya = (Unit tertimbang produk ÷ Total unit tertimbang) × Total joint cost

      Dengan pembobotan, alokasi biaya menjadi lebih adil bagi produk yang membutuhkan sumber daya lebih intensif meskipun volumenya kecil.

      Berikut ringkasan rumusnya.

      Metode Dasar Alokasi Cocok Digunakan Kelemahan Utama
      Satuan Fisik Jumlah unit (kg, liter, unit) Produk homogen & nilai jual setara Tidak mencerminkan nilai ekonomi
      Nilai Jual Titik Pisah Nilai pasar saat split-off Produk langsung dijual Butuh data harga pasar akurat
      NRV Nilai jual akhir – biaya lanjutan Produk perlu proses tambahan Estimasi biaya lanjutan harus presisi
      Rata-Rata Tertimbang Unit × faktor kompleksitas Produk beda tingkat kesulitan Bobot bisa subjektif

      Studi Kasus Penerapan Joint Cost pada Industri Pengolahan Kayu

      Dalam industri kayu, satu batang pohon (biaya bersama) diolah menjadi papan kayu (produk utama) dan serbuk gergaji (produk sampingan) yang biayanya harus dipisahkan secara proporsional.

      Mari kita lihat skenario nyata dalam industri pengolahan kayu gelondongan (logging) di Indonesia.

      Sebuah perusahaan memproses satu batang pohon besar dengan total biaya penebangan dan pengangkutan sebesar Rp10.000.000 hingga sampai di pabrik. Proses pembelahan menghasilkan papan kayu kualitas A, kayu lapis grade B, dan serbuk gergaji sebagai residu.

      Menggunakan metode Nilai Jual pada Titik Pisah, perusahaan mengalokasikan Rp10.000.000 tersebut ke papan kayu dan kayu lapis berdasarkan harga pasar mereka saat itu.

      Misalnya, jika nilai pasar papan kayu mencakup 70% dari total nilai output, maka Rp7.000.000 akan dialokasikan ke produk tersebut. Sementara itu, serbuk gergaji mungkin hanya dicatat sebagai pendapatan lain-lain tanpa alokasi biaya produksi yang signifikan.

      Dampak Kesalahan Perhitungan Joint Cost terhadap Keputusan Bisnis

      Kesalahan hitung dapat menyebabkan penetapan harga jual yang tidak kompetitif (terlalu mahal/murah) dan kesalahan strategi dalam mempertahankan atau menghentikan lini produk.

      Risiko fatal menanti jika manajemen salah dalam menerapkan metode alokasi biaya ini. Kesalahan perhitungan dapat menyebabkan over-budget pada satu produk dan under-budget pada produk lainnya.

      Akibatnya, Anda mungkin menetapkan harga jual yang terlalu tinggi sehingga kalah saing, atau terlalu murah sehingga menggerus margin keuntungan tanpa disadari.

      Dampak jangka panjangnya akan sangat terasa pada strategi portofolio produk perusahaan Anda. Data biaya yang tidak akurat dapat menyesatkan manajemen untuk menghentikan produksi suatu produk yang sebenarnya menguntungkan. Oleh karena itu, penggunaan aplikasi keuangan bisnis yang terintegrasi menjadi sangat krusial untuk validitas data.

      Mengoptimalkan Joint Cost dengan Teknologi

      Pengelolaan joint cost membutuhkan ketelitian karena satu proses dapat menghasilkan beberapa produk atau output sekaligus. Ketika kompleksitas bisnis meningkat, perhitungan biaya menjadi semakin sulit jika masih dilakukan secara manual.

      Pendekatan manual berisiko menimbulkan kesalahan pencatatan dan keterlambatan laporan. Selain itu, data biaya sering kali terpisah dari informasi operasional lainnya, sehingga menyulitkan analisis profitabilitas dan pengambilan keputusan.

      Dengan bantuan berbagai macam software akuntansi di Indonesia, banyak perusahaan dapat mengelola joint cost dalam neraca saldo mereka secara lebih sistematis, sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan.

      Otomatisasi perhitungan dan integrasi data membantu menjaga konsistensi alokasi biaya, meningkatkan transparansi, serta mendukung keputusan bisnis berbasis data yang lebih akurat.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Joint Cost

      • Apa perbedaan utama antara joint product dan by-product?

        Joint product adalah produk utama dengan nilai jual tinggi, sedangkan by-product adalah produk sampingan dengan nilai jual rendah yang muncul insidental.

      • Apakah joint cost dapat dihindari dalam proses produksi?

        Tidak, joint cost tidak dapat dihindari karena merupakan biaya alami dari proses produksi terpadu sebelum produk terpisah secara fisik.

      • Bagaimana cara mencatat joint cost dalam laporan keuangan?

        Joint cost tidak dicatat sebagai akun biaya tersendiri, melainkan dialokasikan ke dalam nilai persediaan masing-masing produk di neraca.

      • Mengapa biaya pemasaran tidak termasuk dalam joint cost?

        Karena biaya pemasaran terjadi setelah proses produksi selesai dan produk sudah terpisah, sehingga termasuk dalam biaya periode (period cost), bukan biaya produksi.

      • Kapan sebaiknya menggunakan metode Net Realizable Value (NRV)?

        Metode NRV sebaiknya digunakan ketika produk memerlukan proses tambahan yang signifikan setelah titik pisah sebelum bisa dijual ke pasar.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya