CNBC Awards

Menguasai Incremental Cost agar Profit Meningkat

Diterbitkan:

Bayangkan sebuah skenario klasik: Seorang klien besar datang dengan pesanan masif, namun mereka meminta harga di bawah standar Anda. Haruskah Anda menerimanya demi volume penjualan, atau menolaknya karena takut rugi?

Kebanyakan pebisnis terjebak dalam keraguan karena mereka melihat laporan keuangan secara agregat (total). Padahal, kunci keputusan ini bukan pada total biaya saat ini, melainkan pada Incremental Cost: biaya tambahan riil yang muncul hanya jika Anda mengambil pesanan tersebut.

Yang sering terjadi, perusahaan terjebak dalam dua kesalahan fatal: menolak pesanan yang sebenarnya sangat menguntungkan, atau menerima proyek yang justru menguras cash flow secara diam-diam.

Key Takeaways

  • Incremental cost adalah total biaya tambahan yang akan dikeluarkan perusahaan jika memproduksi satu unit tambahan atau mengambil keputusan bisnis tertentu.
  • Incremental cost berfokus pada selisih biaya yang muncul akibat sebuah keputusan spesifik.
  • Penghitungan keputusan menguntungkan yang akurat membantu perusahaan memanfaatkan kapasitas menganggur untuk menghasilkan pendapatan tambahan.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Kapan Incremental Cost Lebih Relevan daripada Marginal Cost

      Meskipun kedua konsep ini sama-sama melihat tambahan biaya akibat perubahan aktivitas, perbedaan mendasarnya terletak pada skala perubahan (satu unit vs. satu keputusan besar) dan jenis biaya yang dilibatkan (hanya variabel vs. variabel + biaya tetap tertentu).

      Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat perbandingannya secara langsung:

      Marginal Cost

      Marginal cost melihat perubahan biaya saat produksi ditambah satu unit. Contohnya, biaya bahan dan tenaga kerja untuk memproduksi 1 unit produk tambahan.

      Analisis ini cocok untuk menilai efisiensi biaya per unit, tetapi sering kurang membantu saat keputusan dibuat dalam skala tertentu.

      Incremental Cost

      Incremental cost melihat perubahan total biaya akibat sebuah keputusan. Misalnya, perusahaan menerima pesanan khusus 1.000 unit dengan harga lebih rendah.

      Biaya yang dianalisis bukan satu unit, melainkan seluruh biaya tambahan seperti bahan baku, tenaga kerja lembur, dan penggunaan mesin selama pesanan tersebut diproduksi.

      Perbedaan Utama dalam Praktik

      Jika biaya tambahan untuk memproduksi 1.000 unit masih lebih rendah daripada pendapatan dari pesanan tersebut, keputusan tersebut layak dijalankan meskipun margin per unit terlihat kecil.

      Inilah mengapa incremental cost lebih relevan dalam keputusan manajerial, karena menunjukkan dampak finansial nyata dari sebuah keputusan, bukan sekadar efisiensi di atas kertas.

      Perbedaannya dapat kita lihat dari tabel berikut.

      Fitur Pembeda Marginal Cost
      (Biaya Marjinal)
      Incremental Cost
      (Biaya Inkremental)
      Fokus Utama Biaya untuk memproduksi satu unit tambahan berikutnya. Total biaya tambahan akibat sebuah keputusan manajerial atau pemilihan alternatif.
      Skala Perubahan Sangat mikro / granular (per unit). Agregat / makro (per batch, per proyek, atau per divisi).
      Komponen Biaya Hampir seluruhnya terdiri dari biaya variabel murni. Mencakup biaya variabel ditambah biaya tetap baru yang muncul khusus karena keputusan tersebut.
      Kegunaan Teori Ekonomi Mikro: Untuk menentukan titik efisiensi produksi optimal (MC = MR). Akuntansi Manajerial: Untuk pengambilan keputusan taktis (pesanan khusus, beli vs buat sendiri).

      Rumus Perhitungan Incremental Cost

      Tantangan terbesar dalam menghitung Incremental Cost bukanlah pada matematikanya, melainkan pada ketajaman analisis dalam memilah biaya.

      Anda harus mampu memisahkan mana biaya yang “terpengaruh oleh keputusan” dan mana biaya yang “tetap ada” (Sunk Cost).

      1. Rumus Utama

      Secara matematis, rumusnya adalah selisih antara dua skenario:

      Rumus Utama Incremental Cost


      IC = Total Cost(B) - Total Cost(A)

      IC = Incremental Cost

      (A) = Skenario Saat Ini (Bisnis Normal)

      (B) = Skenario Baru (Setelah Perubahan/Keputusan)

      Golden Rule Decision Making

      Revenue > IC
      Terima: Laba Bersih akan meningkat.
      Revenue < IC
      Tolak: Mengurangi profitabilitas total.

      Catatan Penting: Hanya masukkan Biaya Relevan ke dalam perhitungan ini. Biaya yang tidak berubah di kedua skenario harus diabaikan agar hasil analisis tidak bias.

      2. Langkah-Langkah Praktis Perhitungan

      Setelah mengetahui rumusnya, Anda bisa memulai menghitung incremental cost perusahaan Anda.

      Langkah 1: Filter Biaya Relevan (The Sieve)

      Pilahlah biaya yang akan berubah secara langsung jika keputusan dieksekusi.

      • Termasuk (Relevan): Bahan baku tambahan, lembur tenaga kerja, listrik mesin extra, hingga biaya sewa alat tambahan.
      • Abaikan (Irrelevant/Sunk Cost): Gaji CEO, biaya sewa kantor pusat, atau penyusutan gedung yang sudah terjadi. Biaya ini tetap keluar meskipun Anda menambah produksi atau tidak.

      Langkah 2: Kelompokkan Biaya Inkremental

      Identifikasi dua jenis tambahan biaya yang mungkin muncul:

      • Variable Incremental: Biaya yang naik seiring jumlah unit (misal: bahan baku).
      • Fixed Incremental: Biaya tetap yang muncul hanya jika keputusan diambil (misal: biaya izin ekspor tambahan untuk pesanan luar negeri).

      Langkah 3: Hitung “The Delta” (Selisih)

      Hitung total biaya di Skenario A (Bisnis seperti biasa) dan Skenario B (Setelah keputusan diambil). Selisihnya adalah angka yang Anda cari.

      Contoh Incremental Cost dalam Bisnis

      Untuk benar-benar memahami perbedaannya, bayangkan pabrik Anda saat ini memproduksi 1.000 kursi per bulan.

      Skenario 1: Perspektif Marginal Cost

      Seorang ekonom di perusahaan Anda bertanya: “Berapa biaya yang kita keluarkan jika kita memproduksi kursi ke-1.001?”

      Anda menghitung biaya kayu, kain, dan upah buruh langsung untuk satu kursi itu saja.

      Misalnya: Rp 150.000.

      Ini merupakan biaya marginal. Biaya tetap seperti sewa pabrik atau gaji manajer tidak dihitung karena satu kursi tambahan tidak mengubah biaya tersebut.

      Skenario 2: Perspektif Incremental Cost (Pengambilan Keputusan)

      Seorang manajer penjualan datang dengan tawaran: “Ada klien mau pesan khusus 500 kursi tambahan bulan ini, tapi kita harus menyewa gudang sementara dan menambah satu supervisor kontrak.”

      Sebagai manajer keuangan, Anda menghitung Incremental Cost dari keputusan menerima pesanan ini:

      • Pertama biaya Variabel (500 kursi x Rp 150.000) = Rp 75.000.000
      • Kedua biaya Tetap Baru (Sewa gudang sementara) = Rp 5.000.000
      • Ketiga biaya Tetap Baru (Gaji supervisor kontrak) = Rp 3.000.000
      • Total Incremental Cost = Rp 83.000.000

      Kunci Perbedaannya: Perhatikan bahwa dalam perhitungan Incremental Cost, ada biaya tetap baru (sewa gudang & supervisor) yang ikut dihitung.

      Biaya ini tidak akan ada jika Anda tidak mengambil keputusan tersebut. Marginal cost tidak pernah melihat biaya tetap jenis ini karena skalanya terlalu kecil.

      Klasifikasi Biaya dalam Incremental Cost

      klasifikasi-incremental-cost

      Dalam analisis inkremental, musuh utama Anda bukanlah angka yang salah, melainkan biaya yang tidak relevan. Gunakan panduan berikut untuk memilah komponen biaya Anda:

      1. Komponen yang Wajib Masuk (Relevant Costs)

      Hanya masukkan biaya yang berubah karena keputusan tersebut (Avoidable Costs):

      • Variable Costs: Bahan baku, tenaga kerja langsung, dan komisi penjualan.
      • Semi-variable Costs: Listrik mesin atau utilitas yang naik karena jam operasional bertambah.
      • Incremental Fixed Costs: Biaya tetap baru yang muncul khusus hanya jika proyek diambil (misal: menyewa mesin khusus atau membayar lisensi software tambahan).

      2. Komponen yang Harus Diabaikan (Irrelevant Costs)

      Jangan biarkan angka-angka ini mengaburkan logika pengambilan keputusan Anda:

      • Sunk Costs: Biaya yang sudah terjadi di masa lalu dan tidak bisa ditarik kembali (misal: biaya riset, biaya konsultan tahun lalu).
      • Committed Costs: Biaya yang sudah terikat kontrak jangka panjang dan tetap harus dibayar apa pun pilihannya (misal: sewa gedung tahunan atau gaji manajemen pusat).

      3 Kesalahan Fatal dalam Menghitung Incremental Cost

      Seringkali, laporan keuangan yang terlihat rapi secara akuntansi justru menyesatkan secara manajerial. Berikut adalah jebakan yang harus Anda hindari:

      1. Jebakan Alokasi Overhead (The Accounting Trap)

      Kesalahan: Memasukkan alokasi biaya kantor pusat atau gaji direksi ke dalam unit produksi tambahan.

      Dampaknya adalah biaya inkremental terlihat membengkak secara artifisial. Anda mungkin menolak pesanan yang sebenarnya menguntungkan hanya karena “beban kantor pusat” terlihat naik di atas kertas, padahal secara riil, kas yang keluar tidak berubah.

      Jika biaya tetap korporat tidak naik saat Anda menambah produksi, jangan masukkan ke dalam perhitungan inkremental.

      2. “The Invisible Cost” (Opportunity Cost)

      Letak kesalahannya adalah menganggap kapasitas yang menganggur tidak memiliki biaya.

      Akibatnya, ketika Anda menerima pesanan baru yang menggunakan kapasitas mesin yang seharusnya bisa digunakan untuk produk lain dengan margin lebih tinggi, maka selisih keuntungan yang hilang tersebut adalah biaya.

      Rumus Sederhana: Jika Anda mengorbankan Proyek A demi Proyek B, maka profit dari Proyek A adalah Incremental Cost bagi Proyek B.

      3. Estimasi Kapasitas yang Terlalu Optimis

      Katakanlah Anda mengabaikan step-costs atau lonjakan biaya saat mendekati kapasitas penuh. Awalnya, memproduksi 100 unit tambahan mungkin murah jika mesin masih menganggur.

      Namun, unit ke-101 mungkin memerlukan lembur staf atau pemeliharaan mesin darurat. Tanpa data kapasitas yang akurat, Anda akan terjebak pada cost estimation yang terlalu rendah.

      Mengelola Incremental Cost dengan Bantuan Teknologi

      Masalah utama perhitungan manual adalah data yang terisolasi atau siloed data antar departemen. Tim produksi mungkin memiliki data penggunaan bahan baku yang berbeda dengan tim keuangan.

      Untuk efisiensi maksimal, penggunaan sistem pembukuan digital yang praktis sangat disarankan. Berikut adalah bagaimana teknologi membantu Anda:

      1. Otomatisasi COGS & Analisis Variansi

      Sistem modern mampu menghitung Harga Pokok Penjualan (COGS) secara otomatis setiap kali terjadi pergerakan stok.

      • Tanpa Rekapitulasi Manual: Anda tidak perlu menunggu laporan akhir bulan untuk mengetahui biaya variabel.
      • Deteksi Tren Instan: Jika harga bahan baku dari supplier naik secara tiba-tiba, sistem akan langsung memperbarui data biaya variabel Anda, sehingga perhitungan Incremental Cost untuk pesanan baru tetap akurat.

      2. Simulasi Skenario Bisnis (What-If Analysis)

      Teknologi memungkinkan Anda melakukan simulasi sebelum keputusan diambil. Dengan beberapa klik, Anda bisa membandingkan:

      • Skenario A: Tetap dengan kapasitas produksi saat ini.
      • Skenario B: Menambah shift malam (menghitung lembur dan tambahan listrik).

      Hasilnya, sistem akan langsung menyajikan selisih biaya (incremental cost) dan memprediksi dampaknya terhadap arus kas.

      3. Visibilitas Margin Kontribusi Real-Time

      Sistem yang terintegrasi dapat menyajikan Laporan Laba Rugi Usaha per proyek atau per pesanan secara instan.

      Anda bisa melihat Margin Kontribusi dari setiap pesanan khusus.

      Hasilnya akan membantu manajer menjawab pertanyaan kritis dalam hitungan detik: “Jika kita ambil pesanan 5.000 unit dari klien ini dengan diskon 10%, apakah kita masih untung setelah menghitung biaya tambahan?”

      Banyak perusahaan di Indonesia menggunakan sejumlah software akuntansi terintegrasi untuk menghitung dan menganalisis berbagai macam biaya, termasuk pula incremental cost.

      Kesimpulan

      Mengelola incremental cost bukan hanya soal menghitung angka, tetapi juga tentang pengambilan keputusan yang cerdas dalam menghadapi dinamika bisnis yang terus berubah. Dengan memisahkan biaya yang relevan secara akurat, perusahaan dapat merencanakan langkah strategis yang lebih efektif.

      Penting untuk mengurangi risiko kesalahan manusia dan bias yang muncul dari pengolahan data manual. Oleh karena itu, pemanfaatan sistem yang menyediakan visibilitas biaya secara real-time menjadi hal yang esensial untuk memastikan setiap keputusan berbasis data yang akurat.

      Jika Anda siap mengoptimalkan struktur biaya perusahaan, langkah pertama adalah memahami dan memanfaatkan alat yang tepat untuk memberi Anda wawasan yang lebih mendalam dan memungkinkan keputusan yang lebih efisien.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Incremental Cost

      • Apakah biaya tetap bisa menjadi incremental cost?

        Bisa, jika keputusan bisnis tersebut mengharuskan penambahan kapasitas tetap baru secara spesifik, seperti menyewa gudang tambahan hanya untuk pesanan tersebut.

      • Kapan waktu terbaik menggunakan analisis incremental cost?

        Analisis ini paling efektif digunakan saat menghadapi keputusan jangka pendek seperti menerima pesanan khusus, memproduksi sendiri atau outsourcing, dan menjual produk setengah jadi atau memprosesnya lebih lanjut.

      • Apa bedanya incremental cost dengan opportunity cost?

        Incremental cost adalah biaya nyata yang keluar dari kas perusahaan, sedangkan opportunity cost adalah potensi pendapatan yang hilang karena memilih satu opsi dibanding opsi lainnya.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya