CNBC Awards
×

Kerja Lebih Tenang di Bulan Ramadan!

Diskon 20% untuk Semua Modul!*

Manfaatkan promo spesial ini dan pastikan bisnis tetap lancar selama Ramadan!

Sisa Waktu --:--:--

*hanya untuk 100 klaim pertama

Bagaimana Cara Menerapkan Workforce Planning yang Efektif?

Diterbitkan:

Tidak semua masalah HR muncul karena kurang orang. Ada kalanya tim Anda sudah penuh, tetapi target masih terasa berat karena pembagian kerja tidak rapi dan skill-nya tidak pas.

Maka, Anda harus melakukan workforce planning ketika masalah tersebut terjadi. Workforce planning berarti merencanakan jumlah dan kemampuan tenaga kerja yang dibutuhkan, sesuai target bisnis. Jadi, perusahaan bisa mengurangi lembur, mempercepat rekrutmen di posisi penting, dan menutup gap skill sebelum jadi masalah.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Kapan Workforce Planning Jadi Wajib?

      Ada saat di mana workforce planning menjadi wajib. Terutama ketika Anda mulai melihat tanda-tanda di bawah ini.

      1. Tim bertumbuh, tapi struktur menjadi berantakan

      Saat tim Anda bertambah, koordinasi biasanya ikut berubah. Pekerjaan yang dulu bisa selesai lewat komunikasi cepat mulai butuh pembagian peran yang lebih jelas, karena jumlah orang dan alur kerja sudah tidak sesederhana sebelumnya.

      Gejalanya terlihat saat jobdesk antar orang atau antar tim mulai tumpang tindih, penanggung jawab suatu tugas sering tidak jelas, dan pekerjaan bolak-balik karena saling tunggu keputusan. Tak jarang beberapa orang menjadi bottleneck karena hampir semua hal akhirnya bergantung pada mereka.

      2. Turnover tinggi di role penting

      Turnover menjadi alarm saat yang sering keluar adalah orang di posisi kunci, misalnya role yang pegang operasional inti, data, pelanggan, atau pengambilan keputusan. Kondisi ini membuat ritme kerja tim Anda mudah terganggu, meski total jumlah karyawan terlihat cukup.

      Apa yang akan terjadi berikutnya? Beban kerja meningkat di orang yang tersisa, pekerjaan jadi sangat bergantung pada 1–2 orang tertentu, dan serah-terima sering tidak rapi karena pergantian terlalu cepat.

      3. Peak season sering membuat lembur dan jadwal kacau

      Peak season wajar terjadi pada banyak bisnis, tetapi kondisi ini jadi tanda masalah saat setiap periode ramai selalu memicu kekacauan yang sama. Beban kerja naik, lalu jadwal dan kapasitas tim Anda tidak mampu mengimbanginya secara stabil.

      Seringnya, shift pegawai Anda biasanya berantakan dan sering ada perubahan jadwal mendadak. Bahkan, lembur pun sering terjadi ketika peak season atau pekerjaan yang tiba-tiba melunjak.

      4. Ekspansi cabang/proyek baru dalam 3-12 bulan

      Ekspansi atau proyek baru biasanya menambah kebutuhan tenaga kerja. Bukan hanya jumlah orang, tetapi juga peran, skill, dan pembagian tanggung jawab. Tanpa perencanaan yang rapi, persiapan sering terasa mepet dan memengaruhi tim yang sudah berjalan.

      Rencana ekspansi sudah ada, tetapi penanggung jawab peran dan kebutuhan timnya belum jelas, lalu tim terbaik ditarik ke proyek baru.

      Tak hanya itu, rekrutmen juga sering dilakukan mendekati go-live, pelatihan baru dimulai saat sudah hampir jalan, dan pekerjaan tambahan mendadak bermunculan seperti setup SOP, reporting, serta koordinasi lintas tim.

      5. Perubahan teknologi yang membuat skill lama usang

      Saat perusahaan Anda memakai sistem baru, otomatisasi, atau tools digital lain, cara kerja tim biasanya ikut berubah. Tantangan muncul ketika skill yang sebelumnya cukup, sekarang tidak lagi memadai untuk menjalankan proses baru dengan rapi.

      Adapun gejala yang muncul biasanya ketika error input meningkat dan tim Anda kembali ke cara manual karena merasa lebih cepat. Alhasil, datanya berceceran dan pegawai Anda harus berkali-kali follow up dan konfirmasi terkait pekerjaan yang seharusnya sudah selesai.

      Prinsip Utama Workforce Planning

      Setelah mengetahui kapan Anda harus melaksanakan workforce planning, Anda juga perlu tahu prinsip-prinsipnya. Hal tersebut supaya Anda tidak salah fokus dan bisa merencanakan jadwal dengan lebih efektif.

      1. Mulai dari setting target bisnis

      Workforce planning sebaiknya berangkat dari target yang ingin Anda capai, bukan dari asumsi tim Anda kurang orang. Misalnya, Anda ingin menurunkan waktu respons customer service jadi <2 menit. Artinya, kebutuhan tenaga kerja dilihat dari jumlah chat masuk per jam dan jam operasional.

      2. Fokus ke role yang paling berpengaruh ke pendapatan

      Tidak semua peran punya dampak yang sama. Karena itu, perencanaan tenaga kerja perlu mendahulukan role yang paling memengaruhi pendapatan atau proses inti yang menopang pendapatan.

      Misalnya, di toko retail, kasir dan staf replenishment lebih berdampak ke transaksi harian dibanding role back office tertentu, karena antrean dan stok kosong langsung menurunkan penjualan. Jadi, prioritaskan mengisi role tersebut.

      3. Hitung kapasitas karyawan dengan FTE

      Jumlah orang tidak selalu sama dengan kapasitas kerja. Alangkah baiknya jika Anda menghitung headcount menggunakan Full Time Equivalent (FTE). Sebagai contoh, Tim Anda terlihat 10 orang, tetapi 3 orang part-time dan 2 orang sering ditarik untuk tugas admin. Di lapangan, kapasitasnya tidak setara 10 orang full-time.

      4. Pakai pendekatan skill-based

      Seringkali yang Anda butuhkan adalah kemampuan dan keterampilan tertentu. Pendekatan skill-based membantu Anda menilai kecocokan tenaga kerja dari sisi kompetensi yang benar-benar dipakai di lapangan.

      Dengan prinsip ini, Anda tidak hanya bertanya butuh berapa orang, tetapi juga butuh orang yang bisa apa, terutama saat target, proses, atau sistem kerja berubah.

      5. Pilih strategi antara upskill, hire, outsource, atau otomatisasi

      Setelah kebutuhan dan gap terlihat, keputusan workforce tidak selalu harus berujung pada rekrutmen. Ada beberapa jalur yang bisa Anda pilih, tergantung urgensi, tingkat kesulitan skill, dan sifat pekerjaannya.

      Prinsip ini membuat keputusan lebih fleksibel. Ada kasus yang cukup diselesaikan lewat peningkatan kemampuan tim, ada yang perlu tenaga baru, ada yang lebih efisien lewat pihak ketiga, dan ada yang paling tepat lewat otomatisasi performance management software.

      Langkah Workforce Planning yang Efektif

      workforce-management-infografis

      Dalam perencanaan workforce management, Anda perlu memotret kondisi tim hari ini, lalu membandingkannya dengan kebutuhan kerja ke depan. Setelah itu, baru Anda susun rencana yang bisa dijalankan dan dievaluasi rutin.

      Di bawah ini urutannya. Anda bisa pakai untuk skala kecil (satu departemen) sampai skala besar (satu perusahaan), tinggal sesuaikan scope-nya.

      1. Tentukan scope dan timeframe plan Anda

      Mulailah dari batas yang jelas supaya perencanaan tidak melebar. Fokus dulu pada area yang paling berdampak ke operasional atau target bisnis.

      • Scope: satu departemen, satu lokasi, atau satu proses (misal: operasional toko, gudang, CS)
      • Jenis tenaga kerja: full-time, part-time, kontrak, outsource, per shift
      • Timeframe: 3 bulan / 6 bulan / 12 bulan (sesuaikan ritme bisnis)
      • Asumsi dasar: normal, peak season, atau ekspansi

      2. Petakan kondisi tim saat ini

      Pada tahap ini, Anda membuat baseline seperti kondisi tim sekarang seperti apa, kapasitasnya berapa, dan titik macetnya ada di mana.

      Hal yang biasanya dipetakan meliputi:

      • Struktur dan pembagian role (siapa pegang apa)
      • Headcount dan FTE per tim/shift
      • Beban kerja harian dan jam sibuk (bottleneck)
      • Overtime, absensi, dan shift yang sering bolong
      • Skill inti per role (cukup level dasar/menengah/mahir)

      3. Buat proyeksi demand tenaga kerja dari target bisnis

      Di sini Anda mengubah target menjadi beban kerja yang bisa dihitung. Anda bisa mulai dari beberapa pertanyaan sederhana:

      • Target apa yang ingin dicapai dalam periode plan? (penjualan, output, ekspansi)
      • Driver kerjanya apa? (transaksi per jam, order per hari, tiket CS, output produksi, jam operasional, jumlah shift)
      • Ada periode ramai atau perubahan proses yang berpengaruh?

      Output yang Anda cari adalah gambaran kebutuhan kapasitas per fungsi/shift dalam periode plan.

      4. Hitung supply internal

      Supply internal adalah kapasitas yang bisa Anda andalkan dari tim yang sudah ada, termasuk perubahan yang mungkin terjadi dalam periode tersebut.

      Hal yang perlu Anda perhitungkan adalah:

      • Karyawan yang ada sekarang (headcount + FTE)
      • Prediksi resign (turnover) dan absensi
      • Kontrak yang akan habis, cuti panjang, rotasi internal
      • Perubahan kapasitas karena training atau perpindahan role

      Tujuannya supaya kapasitas yang Anda pakai untuk perhitungan terasa realistis.

      5. Cek gap karyawan dan gap skill

      Tahap ini adalah inti workforce planning, yaitu membandingkan kebutuhan (demand) vs kapasitas (supply). Gap biasanya muncul dalam dua bentuk.

      • Gap kapasitas: kurang orang di tim tertentu, kurang coverage di shift tertentu, atau beban kerja tidak sebanding
      • Gap skill: orangnya ada, tetapi skill yang dibutuhkan belum cukup untuk target atau proses baru

      Data karyawan bisa Anda simpan dengan workforce management software.

      6. Susun action plan

      Setelah gap terlihat, Anda pilih strategi yang paling masuk akal untuk menutupnya. Bagian ini perlu jelas supaya bisa dieksekusi.

      Action plan yang rapi biasanya memuat:

      • Strategi: upskill / hire / outsource / otomatisasi
      • Prioritas: role kritikal dan deadline paling dekat
      • Timeline: kapan mulai dan kapan target selesai
      • PIC: siapa yang pegang (HR, operasional, finance)
      • Estimasi dampak biaya (kasar saja sudah cukup untuk mulai)

      7. Monitor hasil dan revisi tiap periode

      Anda perlu ritme review supaya plan tetap relevan saat kondisi bisnis berubah. Indikator yang umum dipantau adalah:

      • Progress hiring (posisi mana yang masih kosong, time-to-fill)
      • Overtime, absensi, turnover (naik atau turun)
      • Produktivitas/SLA (apakah target layanan/operasional tercapai)
      • Perkembangan skill (training selesai dan dampaknya terasa atau tidak)

      Kalau hasilnya melenceng, Anda perlu revisi angka demand, supply, atau strategi action plan dan melakukan performance management.

      Contoh Workforce Planning yang Efisien dalam Perusahaan

      unilever perusahaan

      Untuk membuat workforce planning yang baik, Anda perlu melihat contoh yang baik terlebih dahulu. Mari kita simak kisah dari Unilever berikut ini.

      Unilever memakai platform internal bernama Flex Experiences. Di sana, manajer memasang kebutuhan proyek, lalu karyawan yang skill-nya relevan bisa ikut membantu lintas tim atau lintas negara. Platform ini memakai AI untuk mempercepat proses matching orang ke proyek.

      Apa saja yang mereka lakukan di dalamnya?

      • Proyek dibuka sebagai kebutuhan singkat (misalnya butuh orang untuk bantu campaign, analisis data, perbaikan proses, atau dukungan operasional).
      • Karyawan bisa masuk ke proyek lintas fungsi tanpa harus pindah permanen dari role utamanya.
      • Sistem membantu mencocokkan kebutuhan proyek dengan skill karyawan, jadi pencarian orang yang pas tidak harus lewat jalur rekrutmen dulu.

      Saat pandemi, contoh ini sempat banyak dibahas karena hasilnya terlihat jelas. Deloitte mencatat Unilever memakai Flex Experiences untuk redeploy 8.000+ karyawan dan membuka 300.000 jam kerja dari mobilitas internal.

      Seperti contoh Unilever di atas, mereka menggunakan software HR yang terintegrasi untuk mengelola tenaga kerja mereka. Walaupun software HR adalah alat canggih yang bisa mengefisiensikan workflow tim Anda, Anda juga harus bijak dan mampu membagi tugas dan waktu dengan baik agar target tercapai.

      Pertanyaan Seputar Workforce Planning

      • Apa yang dimaksud dengan workforce planning?

        Workforce planning (perencanaan tenaga kerja) merupakan proses strategis yang memastikan perusahaan memiliki jumlah tenaga kerja yang tepat, dengan keterampilan serta kualifikasi sesuai, berada pada posisi yang tepat, dan tersedia pada waktu yang selaras dengan tujuan bisnis.

      • Apa arti work planning?

        Work planning (perencanaan kerja) mencakup penyusunan kerangka strategis yang menggambarkan tahapan, sasaran, peran, kebutuhan sumber daya, dan rentang waktu, agar penyelesaian proyek maupun pencapaian target bisnis berlangsung efisien sekaligus efektif.

      • Sebutkan 4 langkah perencanaan tenaga kerja?

        Empat tahapan kunci dalam perencanaan tenaga kerja meliputi peninjauan kondisi tenaga kerja sekaligus identifikasi kesenjangan, proyeksi kebutuhan SDM di masa mendatang, perumusan strategi tindak lanjut, serta penerapan dan penilaian rencana untuk memastikan tujuan perusahaan tercapai. 

      Reno Wicaksana

      Senior Content Writer on HRIS

      Reno adalah HRM Specialist dan senior content writer dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri teknologi dan manajemen sumber daya manusia. Secara konsisten mengangkat topik artikel seputar performance management, rekrutmen dan pengembangan SDM, manajemen talenta, dan sistem HRIS untuk pengelolaan karyawan.

      Jessica adalah seorang pakar yang memiliki gelar Bachelor of Science (BSc) dalam Psychology dari University of London yang didukung oleh pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan dinamika organisasi. Latar belakang psikologi ini memberikan keahlian khusus dalam memahami motivasi karyawan, mengelola pengembangan talenta, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di dalam tim.. Selama sembilan tahun terakhir, Jessica mendalami bidang Human Resource Management, mengembangkan keahlian dalam strategi rekrutmen, pengelolaan kinerja, pengembangan organisasi, serta implementasi kebijakan HR yang mendukung budaya kerja positif dan pertumbuhan perusahaan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya