CNBC Awards

Definisi, Tugas, dan Proses dari Purchasing

Diterbitkan:

Menurut The Hackett Group, tim procurement kelas dunia mampu mengendalikan hingga 93% dari total pengeluaran perusahaan, jauh di atas rata-rata industri yang hanya 64%. Angka ini merupakan bukti bahwa purchasing dapat menjadi penggerak utama efisiensi bisnis.

Namun di banyak perusahaan, proses purchasing masih berjalan dengan cara yang kurang terstandardisasi dan belum sepenuhnya terintegrasi sehingga koordinasi antar tim, konsistensi approval, dan visibilitas data belum optimal.

Purchasing yang dijalankan lewat strategi dan sistem yang tepat dapat membawa perubahan besar. Alur kerja yang rapi dan data yang transparan membantu perusahaan mengambil keputusan belanja lebih cepat dan akurat.

Key Takeaways

  • Purchasing penting untuk efisiensi operasional dan kendali biaya, tapi banyak bisnis masih terjebak proses manual yang lambat dan rawan kesalahan.
  • Tim kegiatan pembelian menangani seluruh proses pengadaan, dari identifikasi kebutuhan hingga evaluasi vendor
  • Approval lambat, sulit bandingkan vendor, serta minimnya data historis yang terdokumentasi dengan baik merupakan tantangan yang umum dihadapi.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Purchasing dalam Operasional Bisnis

      Purchasing atau kegiatan pembelian merupakan proses memperoleh barang atau jasa dari pihak luar yang diperlukan oleh perusahaan. Proses ini mencakup serangkaian aktivitas, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan, memilih vendor yang tepat, hingga menyelesaikan transaksi.

      Dalam kegiatan produksi, peran tim purchasing adalah menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas serta memastikan alat kerja dalam kondisi optimal. Selain itu, tim purchasing juga harus memastikan pengadaan sesuai anggaran dan kondisi keuangan.

      Perlu Anda ketahui pula bahwa proses purchasing juga mencakup seluruh aktivitas bisnis dari produksi sampai distribusi, tidak hanya terbatas satu aspek saja.

      Mengapa Purchasing Penting bagi Bisnis?

      Peran purchasing tidak hanya soal membeli barang, tetapi juga berperan penting dalam pengelolaan biaya dan kualitas sumber daya yang digunakan perusahaan. Beberapa alasan mengapa fungsi purchasing sangat penting bagi keberlangsungan bisnis:

      • Mendukung efisiensi biaya dan pemilihan barang atau jasa yang sesuai standar kualitas, termasuk memastikan satuan pengukuran produk tepat.
      • Menjaga kelangsungan produksi dan operasional dengan memastikan ketersediaan bahan tepat waktu.
      • Membantu menjalankan strategi bisnis jangka panjang dengan memilih supplier yang inovatif dan kompetitif.
      • Meningkatkan fleksibilitas perusahaan dalam merespons perubahan pasar dan kebutuhan pelanggan.

      Dengan kata lain, purchasing berperan besar dalam mendorong daya saing dan keberlanjutan bisnis.

      Tugas Divisi Purchasing

      Berikut ini adalah tugas utama tim purchasing dalam perusahaan yang mencakup seluruh proses pengadaan secara menyeluruh:

      1. Mengidentifikasi kebutuhan: Berkoordinasi dengan setiap divisi untuk mencatat jenis, jumlah, dan spesifikasi barang atau jasa yang dibutuhkan.
      2. Mengklasifikasikan jenis pembelian: Menentukan apakah kebutuhan bersifat jangka panjang, bulanan, atau just-in-time sesuai urgensi dan perencanaan operasional.
      3. Menganalisis biaya kepemilikan (TCO): Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap biaya total dari pembelian, termasuk harga, biaya pemeliharaan, dan masa pakai barang.
      4. Menyusun daftar vendor potensial: Membuat vendor list berdasarkan kredibilitas, kualitas produk, dan kemampuan memenuhi permintaan.
      5. Meminta dan membandingkan penawaran: Menghubungi supplier untuk mendapatkan penawaran harga, lalu menganalisis penawaran berdasarkan nilai terbaik dan kebutuhan.
      6. Melakukan negosiasi: Bernegosiasi dengan vendor mengenai harga, jadwal pengiriman, garansi, serta syarat pembayaran.
      7. Membuat purchase order (PO): Menyusun dokumen pemesanan resmi berisi detail produk/jasa, harga, dan syarat pengiriman sebagai acuan transaksi.
      8. Melakukan quality control: Memastikan barang/jasa yang diterima sesuai spesifikasi dan standar kualitas sebelum disimpan atau digunakan.
      9. Mengelola dokumen pengadaan: Menyimpan seluruh dokumen terkait proses pembelian untuk keperluan audit dan administrasi.
      10. Berkoordinasi dengan gudang dan keuangan: Menjamin kelancaran alur penerimaan barang serta memastikan proses pembayaran dilakukan tepat waktu sesuai kesepakatan.
      11. Menjaga hubungan baik dengan vendor: Melakukan evaluasi kinerja supplier secara berkala dan membina hubungan kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan.

      Alur Kerja Purchasing di Perusahaan

      proses purchasingAlur kerja proses purchasing umumnya menjadi acuan dalam penyusunan SOP purchasing yang terstruktur dan bisa diikuti oleh seluruh tim terkait. Berikut adalah alur kerja yang umum perusahaan jalankan:

      1. Pembuatan permintaan pembelian (Purchase Requisition)

      Proses dimulai dari unit atau divisi yang mengajukan permintaan kebutuhan barang atau jasa. Purchase requisition ini menjadi sinyal resmi kepada tim purchasing bahwa ada kebutuhan yang harus diproses, baik untuk kebutuhan operasional rutin, proyek tertentu, maupun pemeliharaan aset.

      2. Evaluasi kebutuhan

      Tim purchasing kemudian menganalisis permintaan yang masuk: apakah barang benar-benar dibutuhkan? Berapa banyak? Apa spesifikasinya? Dan bagaimana urgensinya? Dalam tahap ini, evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan anggaran, prioritas operasional, serta kelayakan pemakaian.

      3. Perencanaan pembelian

      Berdasarkan hasil evaluasi, tim purchasing menyusun rencana pembelian. Rencana ini mencakup jenis pembelian (rutin, jangka panjang, atau just-in-time), target vendor, serta estimasi waktu dan biaya.

      Untuk keputusan yang lebih rasional, banyak perusahaan juga menggunakan metode analisis seperti Total Cost of Ownership (TCO), guna melihat biaya keseluruhan di luar harga barang.

      4. Pemilihan vendor

      Vendor dipilih berdasarkan kualitas barang, harga, reputasi, kecepatan pengiriman, dan kepatuhan terhadap standar perusahaan. Faktor lokasi juga menjadi pertimbangan, karena pengiriman dari lokasi yang terlalu jauh dapat meningkatkan biaya dan risiko keterlambatan.

      5. Permintaan dan perbandingan penawaran

      Tim purchasing akan menghubungi beberapa vendor untuk meminta penawaran. Di sinilah proses seleksi lebih lanjut dilakukan; penawaran akan dibandingkan secara menyeluruh, mulai dari harga, ketentuan pengiriman, hingga layanan purna jual.

      6. Negosiasi

      Tahap ini krusial untuk mendapatkan kesepakatan terbaik. Selain soal harga, negosiasi juga mencakup jadwal pengiriman, metode pembayaran, garansi, dan hal-hal teknis lain. Negosiasi yang baik dapat mengurangi beban biaya dan menghindari miskomunikasi di kemudian hari.

      7. Pembuatan purchase order (PO)

      Setelah kesepakatan dicapai, tim purchasing akan membuat dokumen resmi berupa purchase order. Dokumen ini akan menjadi acuan transaksi antara perusahaan dan vendor, lengkap dengan rincian produk, jumlah, harga, dan syarat pengiriman.

      8. Penerimaan dan quality control

      Barang atau jasa yang datang akan diperiksa kesesuaiannya dengan PO. Bila ditemukan ketidaksesuaian, tim purchasing atau gudang akan mengoordinasikan proses retur atau komplain ke vendor.

      9. Evaluasi kinerja vendor

      Setelah proses selesai, perusahaan perlu melakukan penilaian terhadap kinerja vendor. Apakah barang dikirim tepat waktu? Apakah kualitasnya sesuai standar? Apakah komunikasi vendor responsif?

      Selain menyimpan dokumen, tim juga perlu menyiapkan laporan pembelian barang sebagai acuan audit dan evaluasi performa vendor.

      Dengan banyaknya tahapan dan potensi kendala di tiap proses, sistem purchasing otomatis menjadi solusi yang efektif.

      Jenis-jenis Purchasing dalam Bisnis

      Jenis-jenis Purchasing dalam BisnisTerdapat empat kategori utama dalam kegiatan purchasing, yaitu personal purchasing, mercantile purchasing, industrial purchasing, dan institutional purchasing.

      Berikut penjelasan singkat dari masing-masing jenis:

      1. Personal purchasing

      Personal purchasing merujuk pada pembelian yang dilakukan oleh individu untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jenis pembelian ini paling umum ditemui dan mencakup barang atau jasa yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

      2. Mercantile purchasing

      Jenis ini dilakukan oleh pelaku usaha seperti pengecer atau pedagang grosir yang membeli produk untuk dijual kembali. Tujuannya adalah memperoleh barang yang diminati pasar agar dapat mendatangkan keuntungan.

      Mercantile purchasing banyak diterapkan dalam sektor ritel menggunakan sistem pembelian retail yang membantu mengelola stok dan harga jual secara efisien.

      3. Industrial purchasing

      Industrial purchasing adalah pembelian bahan baku oleh perusahaan manufaktur untuk diolah menjadi produk jadi. Transaksi ini biasanya melibatkan pembelian dalam jumlah besar, dilakukan secara terjadwal, dan membutuhkan dokumen seperti faktur sebagai bukti pembayaran resmi.

      4. Institutional purchasing

      Pembelian jenis ini dilakukan oleh lembaga atau instansi pemerintah dengan tujuan melayani kepentingan publik. Prosesnya umumnya lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama karena melibatkan berbagai pihak dalam pengambilan keputusan.

      Tantangan Umum dalam Purchasing

      Dalam praktiknya, banyak perusahaan menghadapi tantangan seperti:

      • Proses approval yang lambat dan berbelit
      • Dokumen tercecer atau tidak terarsip rapi
      • Sulit membandingkan harga antar vendor
      • Keterlambatan pengiriman akibat miskomunikasi
      • Tidak adanya data historis pembelian yang terpusat

      Masalah-masalah ini bisa berdampak besar pada efisiensi operasional dan pengendalian biaya. Jika perusahaan Anda masih menggunakan cara manual, saatnya beralih ke proses pengadaan yang terintegrasi dan konsisten untuk menghindari kesalahan dan meningkatkan efisiensi.

      Kesimpulan

      Purchasing adalah proses strategis yang mendukung operasional, efisiensi biaya, dan pertumbuhan bisnis. Setiap langkahnya berperan penting dalam memastikan pengadaan berjalan optimal.

      Pengelolaan purchasing yang rapi membuka peluang efisiensi di setiap tahapan pengadaan, termasuk pemilihan vendor, kontrol harga, dan kepatuhan proses. Hasil akhirnya terasa pada visibilitas pengeluaran yang lebih jelas serta ruang penghematan yang lebih stabil.

      Procurement

      Pertanyaan Seputar Purchasing

      • Apa perbedaan antara purchasing dan procure-to-pay (P2P)?

        Purchasing hanya mencakup proses transaksi seperti membuat PO dan menerima barang. Sedangkan P2P (procure-to-pay) mencakup seluruh siklus pengadaan mulai dari permintaan hingga pembayaran. Sistem P2P memberikan kontrol keuangan yang lebih kuat, transparansi, dan penghematan biaya.

      • Apa itu e-procurement dan kenapa penting?

        E-procurement adalah penggunaan alat digital seperti PO otomatis, e-tendering, dan e-invoicing untuk mempercepat proses pengadaan. Manfaatnya meliputi visibilitas pengeluaran yang lebih baik, proses yang lebih cepat, risiko kesalahan lebih rendah, dan kepatuhan vendor yang meningkat.

      • Kenapa harus punya database pemasok terpusat daripada pakai spreadsheet?

        Database sourcing yang terpusat memudahkan manajemen vendor. Mulai dari menyimpan kontak, membandingkan penawaran, hingga menganalisis riwayat pembelian. Alhasil, proses pengambilan keputusan lebih efisien dibanding spreadsheet yang tersebar dan manual.

      • Apa itu invoice matching dalam proses procurement?

        Invoice matching adalah proses mencocokkan faktur vendor dengan PO dan bukti penerimaan barang untuk mencegah kesalahan pembayaran atau penipuan. Banyak perusahaan menggunakan metode pencocokan 2, 3, atau 4 langkah untuk memastikan akurasi dan kepatuhan audit.

      Jonathan Kurniawan

      Senior Content Writer

      Jonathan adalah seorang praktisi dalam bidang procurement, TMS, dan supply chain dengan pengalaman 5 tahun. Spesialis dalam mengulas topik seputar manajemen vendor, budget control procurement, otomatisasi proses pengadaan barang, dan analisis procurement. Tulisannya secara konsisten mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih strategis.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya