Daftar Isi:
Siapa sebenarnya yang membaca laporan keuangan perusahaan, dan untuk keputusan apa? Angka akuntansi tidak dikonsumsi dengan cara yang sama oleh semua orang. Data yang dipakai direksi untuk menekan biaya bisa menjadi dasar bank menentukan plafon kredit, atau alasan investor menunda pendanaan.
Perbedaan kebutuhan inilah yang membuat pemakai informasi akuntansi perlu dipetakan secara jelas. Saat perusahaan memahami siapa pemakainya dan informasi apa yang mereka cari, laporan keuangan berubah dari sekadar kewajiban administrasi menjadi alat pengambilan keputusan yang tepat sasaran.
Key Takeaways
Memahami secara mendalam Klasifikasi Pemakai Informasi akuntansi yang terbagi menjadi pihak internal dan eksternal dengan kebutuhan data yang berbeda.
Penjelasan mendalam mengenai Klasifikasi Pemakai Informasi Akuntansi: Tinjauan Umum.
Penjelasan mendalam mengenai Pemakai Internal: Penggerak Roda Organisasi.
Penjelasan mendalam mengenai Pemakai Eksternal: Penilai dan Pengawas.
Konsep Dasar Informasi Akuntansi
Informasi akuntansi adalah data dan laporan yang merangkum kondisi keuangan bisnis mulai dari berapa aset yang dimiliki, utang yang harus dibayar, laba yang dihasilkan, sampai arus kas yang benar-benar masuk.
Informasi ini muncul dari proses pencatatan transaksi (penjualan, pembelian, gaji, pajak), pengelompokan akun, lalu disajikan dalam format laporan yang bisa dibaca oleh pihak yang membutuhkan.
Supaya berguna, informasi akuntansi perlu memenuhi dua hal praktis berikut:
- Relevan: angka dan detailnya memang dipakai untuk mengambil keputusan (misalnya: “bulan ini biaya logistik naik, perlu ganti vendor atau ubah rute”).
- Dapat dipercaya: pencatatannya konsisten, bukti transaksi jelas, dan angka tidak “dipoles” dengan cara yang menyesatkan.
Namun, informasi akuntansi jarang dipakai sendirian. Biasanya ia dipakai bareng data operasional seperti stok, produksi, penjualan, dan payroll supaya keputusan yang diambil tidak berdasar asumsi.
Klasifikasi Pemakai Informasi Akuntansi
Pemakai informasi akuntansi terbagi menjadi dua kelompok besar:
- Pemakai internal: orang di dalam perusahaan yang butuh data untuk mengatur operasional dan strategi.
- Pemakai eksternal: pihak di luar perusahaan yang butuh data untuk menilai kelayakan, risiko, atau kepatuhan.
Pembeda paling gampang:
- Internal biasanya butuh data lebih detail dan lebih sering (bahkan harian).
- Eksternal biasanya mengandalkan laporan formal (bulanan/kuartalan/tahunan) dan butuh konsistensi serta kredibilitas.
Pemakai Internal
Pemakai internal informasi akuntansi meliputi:
1) Manajemen Puncak (Direksi/CEO)
Mereka butuh ringkasan yang cepat dibaca untuk keputusan besar.
Biasanya mereka melihat:
- Tren pendapatan dan margin per bulan/kuartal (bukan cuma angka satu periode)
- Profitabilitas per unit bisnis (mis. cabang A vs cabang B)
- Biaya terbesar yang menyedot cashflow (logistik, gaji, sewa, bahan baku)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Cabang mana yang layak diperluas, mana yang harus ditutup?”
- “Produk mana yang tetap dipertahankan walau penjualannya kecil karena marginnya tinggi?”
2) Manajer Keuangan (Finance Manager/Controller)
Finance itu biasanya “pemilik” ritme uang. Fokus mereka bukan hanya laba, tapi kapan uang masuk dan kapan uang keluar.
Mereka biasanya memakai:
- Laporan arus kas untuk melihat cash runway dan jadwal pembayaran
- Aging piutang untuk menekan customer yang telat bayar
- Laporan hutang dagang untuk mengatur prioritas pembayaran vendor
Contoh keputusan yang nyata:
- “Mana invoice yang harus ditagih dulu supaya bisa bayar gaji minggu depan?”
- “Boleh kasih termin 30 hari ke customer baru atau harus DP?”
3) Manajer Pemasaran / Sales Lead
Tim marketing/sales butuh angka untuk memastikan strategi promosi tidak rugi.
Mereka biasanya butuh:
- Margin per produk/kategori (biar diskon tidak membunuh profit)
- Penjualan per channel (marketplace, toko, reseller, B2B)
- Biaya promosi vs kontribusi laba (mana campaign yang beneran menghasilkan)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Diskon 20% masih aman atau harus bundling supaya margin tetap jalan?”
- “Channel mana yang tinggi omzetnya tapi banyak retur dan bikin rugi?”
4) Manajer Produksi / Operasional
Di sini informasi akuntansi dipakai untuk membedah biaya produksi atau operasional. Mereka biasanya memantau:
- Biaya per unit (bahan baku, tenaga kerja, overhead)
- Scrap/waste cost (bahan terbuang, cacat produksi)
- Biaya downtime (mesin berhenti → output turun → biaya per unit naik)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Apakah lebih murah memperbaiki mesin tua atau investasi mesin baru?”
- “Kenapa biaya per unit naik padahal volume produksi sama?”
5) HR & Karyawan / Serikat Pekerja
Ini sering dilupakan, padahal mereka juga pemakai informasi (walau tidak sedetail manajemen).
Yang biasanya mereka cari:
- Stabilitas perusahaan (apakah bisnis sedang sehat atau ketat cashflow)
- Kemampuan bayar untuk bonus, insentif, kenaikan upah
- Konsistensi kebijakan (mis. pembayaran lembur dan tunjangan)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Apakah perusahaan realistis menjanjikan bonus tahunan?”
- Negosiasi upah berdasarkan kemampuan finansial yang terukur.
Pemakai Eksternal
Pemakai eksternal cenderung membuat keputusan yang “tegas”: danai / tidak danai, beri kredit / tidak, percaya / tidak. Karena itu mereka fokus pada risiko dan kredibilitas laporan.
1) Investor dan Calon Investor
Investor ingin tahu: bisnis ini bisa tumbuh atau tidak, dan profitnya sustainable atau tidak?
Mereka biasanya menilai:
- Tren laba dan margin (naik karena bisnis membaik atau hanya “sekali jalan”?)
- Arus kas operasi (laba boleh bagus, tapi kalau kas seret, risikonya tinggi)
- Struktur biaya (biaya marketing membengkak untuk mempertahankan penjualan)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Beli saham sekarang atau tunggu karena cashflow-nya negatif terus?”
- “Perusahaan tumbuh karena efisiensi atau karena ‘bakar uang’ promo?”
2) Kreditur / Bank / Pemberi Pinjaman
Bank lebih fokus ke: bisa bayar cicilan dan bunga atau tidak?
Yang biasanya dicek:
-
Likuiditas (kemampuan bayar kewajiban jangka pendek)
- Kemampuan bayar utang dari kas operasional (bukan dari “pinjam baru”)
- Pola piutang (apakah banyak customer menunggak?)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Limit kredit disetujui tapi tenor dipendekkan karena cashflow fluktuatif.”
- “Bunga dinaikkan karena risiko penagihan piutang tinggi.”
3) Pemasok (Supplier)
Supplier ingin kepastian pembayaran. Mereka sering pakai sinyal sederhana tapi tajam.
Yang biasanya mereka perhatikan:
- Riwayat pembayaran (sering telat atau lancar)
- Kondisi kas dan kemampuan bayar dalam 30–60 hari
- Skala pembelian (apakah order stabil atau naik turun ekstrem)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Tetap kasih termin 30 hari atau ubah jadi bayar di muka?”
- “Naikkan harga karena risiko keterlambatan pembayaran.”
4) Pelanggan B2B
Pelanggan besar tidak mau rantai pasoknya putus. Mereka butuh keyakinan bahwa vendor tidak “tiba-tiba hilang”.
Biasanya mereka butuh:
- Indikasi kelangsungan usaha (stabilitas operasi)
- Kemampuan memenuhi kontrak jangka panjang
- Sinyal kesehatan cashflow (karena cashflow buruk biasanya berdampak ke kualitas dan lead time)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Kontrak diperpanjang 2 tahun atau hanya 6 bulan dulu?”
- “Tambah vendor cadangan karena pemasok utama terlihat goyah.”
5) Pemerintah dan Regulator
Tujuannya jelas: pajak, kepatuhan, dan keterbukaan informasi (untuk perusahaan tertentu).
Biasanya digunakan untuk:
- Dasar perhitungan dan pemeriksaan pajak
- Audit kepatuhan pelaporan (untuk industri/entitas tertentu)
- Data statistik ekonomi (agregasi)
Contoh keputusan yang nyata:
- “Ada ketidakwajaran pada margin—minta klarifikasi dan dokumen pendukung.”
- “Perusahaan diwajibkan perbaiki pelaporan karena inkonsistensi.”
6) Masyarakat/LSM/Peneliti (untuk perusahaan besar)
Mereka menilai dampak perusahaan ke publik, terutama jika perusahaan besar, padat sumber daya, atau punya dampak lingkungan.
Yang dicari biasanya:
- Kontribusi ekonomi (tenaga kerja, pajak, program sosial)
- Transparansi aktivitas (termasuk laporan keberlanjutan jika tersedia)
- Konsistensi antara klaim publik dan kondisi nyata
Jenis Laporan Keuangan untuk Kebutuhan Berbeda
Tidak semua pemakai membutuhkan laporan yang sama. Akuntansi menyediakan berbagai jenis output untuk memenuhi kebutuhan informasi yang beragam ini.
- Laporan Posisi Keuangan (Neraca): Sangat krusial bagi kreditur dan pemasok untuk melihat aset yang dapat dijadikan jaminan dan kewajiban yang harus segera dilunasi.
- Laporan Laba Rugi Komprehensif: Menjadi fokus utama investor untuk melihat kinerja operasional dan margin keuntungan.
- Laporan Arus Kas: Digunakan oleh semua pihak untuk menilai “kesehatan riil” perusahaan, karena laba akuntansi bisa saja tidak tercermin dalam ketersediaan uang tunai.
- Laporan Perubahan Ekuitas: Penting bagi pemegang saham untuk melihat bagaimana laba ditahan dan setoran modal mengubah nilai kepemilikan mereka.
- Catatan atas Laporan Keuangan: Memberikan detail kualitatif dan pengungkapan kebijakan akuntansi yang sangat dibutuhkan oleh analis keuangan untuk memahami angka-angka di laporan utama.
Studi Kasus: Variasi Kebutuhan Informasi Antar Industri
Kebutuhan pemakai informasi akuntansi berubah tergantung karakter bisnisnya.
Industri Manufaktur
- Fokus internal: biaya per unit, varians produksi, waste/scrap
- Fokus eksternal: nilai persediaan (bahan baku, WIP, barang jadi) dan margin
Industri Ritel / E-Commerce
- Fokus internal: perputaran stok, margin per kategori, retur & diskon
- Fokus eksternal: cashflow operasional dan kualitas laba (bukan “laba di atas kertas”)
Industri Jasa
- Fokus internal: biaya tenaga kerja, utilisasi tim, margin proyek
- Fokus eksternal: stabilitas pendapatan kontrak dan arus kas (karena aset fisik biasanya kecil)
Kesimpulan
Pemakai informasi akuntansi terbagi dua: internal (direksi, finance, operasional) dan eksternal (investor, bank, pemasok, regulator). Karena itu, laporan yang dipakai tiap pihak juga beda fokus.
Direksi biasanya melihat tren margin dan unit bisnis paling menguntungkan, sementara finance menempel ke arus kas dan umur piutang untuk mencegah telat bayar. Bank mengecek likuiditas serta kemampuan bayar cicilan, sedangkan pemasok menilai apakah termin tetap aman atau harus bayar di muka.
Intinya, akuntansi bernilai saat angka bisa langsung diturunkan menjadi tindakan. Sesudah pemakai dan kebutuhannya jelas, perusahaan bisa menentukan laporan mana yang diprioritaskan, seberapa detail, dan seberapa sering diperbarui.
Frequently Asked Question
Pemakai internal meliputi pihak-pihak yang terlibat langsung dalam operasional perusahaan, seperti dewan direksi, manajer (keuangan, pemasaran, produksi), supervisor, dan karyawan. Mereka menggunakan data ini untuk perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan strategis sehari-hari.
Investor lebih fokus pada potensi keuntungan (profitabilitas), pertumbuhan jangka panjang, dan pembagian dividen. Sementara itu, kreditur lebih mengutamakan likuiditas dan solvabilitas perusahaan untuk memastikan kemampuan perusahaan dalam membayar kembali pokok utang beserta bunganya tepat waktu.
Pemerintah menggunakan informasi akuntansi untuk berbagai tujuan regulasi, terutama untuk penetapan besaran pajak yang terutang, pengawasan kepatuhan terhadap undang-undang pasar modal, serta penyusunan statistik ekonomi nasional.
Ya, karyawan dan serikat pekerja berkepentingan dengan informasi akuntansi untuk menilai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Hal ini berkaitan langsung dengan jaminan kelangsungan kerja, kemampuan perusahaan membayar gaji, bonus, serta manfaat pensiun.
Teknologi seperti software akuntansi berbasis cloud dan ERP memungkinkan pemakai internal mengakses data secara real-time untuk keputusan yang lebih cepat. Bagi pemakai eksternal, teknologi meningkatkan transparansi dan kemudahan akses terhadap laporan keuangan yang telah diaudit.







