Dalam praktiknya, proses rekrutmen jarang berjalan singkat. Untuk posisi tertentu, perusahaan bisa membutuhkan beberapa minggu hingga lebih dari satu bulan sampai kandidat menerima penawaran, dan dampaknya sering baru terasa ketika kebutuhan tim mulai tertunda.
KPI rekrutmen hadir sebagai salah satu bentuk KPI untuk HR perusahaan sekaligus alat bantu untuk membaca proses tersebut secara lebih jujur. Melalui data seperti durasi perekrutan, biaya yang dikeluarkan, hingga respons kandidat terhadap penawaran kerja, tim HR dapat melihat pola yang sebelumnya luput dari perhatian.
Dengan cara ini, evaluasi kinerja HR tidak lagi bergantung pada asumsi atau kebiasaan lama. Proses rekrutmen bisa dilihat apa adanya, lalu diperbaiki secara bertahap sesuai kebutuhan organisasi.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Bagaimana KPI Rekrutmen Digunakan dalam Aktivitas HR?
Dalam proses rekrutmen, KPI berfungsi sebagai alat bantu untuk membaca apa yang sebenarnya terjadi di balik aktivitas hiring sehari-hari. Melalui metrik yang terukur, HR dapat melihat apakah proses perekrutan berjalan efisien atau justru tersendat di tahap tertentu, baik dari sisi waktu, biaya, maupun hasil rekrutmen.
Penggunaan KPI juga membantu HR keluar dari penilaian yang bersifat asumtif. Data rekrutmen yang dikumpulkan secara konsisten memberi gambaran yang lebih objektif tentang kebutuhan bisnis dan performa tim rekrutmen, sehingga keputusan yang diambil tidak lagi sekadar berdasarkan kebiasaan, tetapi pada kondisi nyata di lapangan.
Aspek KPI Rekrutmen yang Perlu Diperhatikan HR
Perlu diingat bahwa tidak semua KPI rekrutmen perlu dipantau bersamaan. HR perlu memprioritaskan aspek yang paling relevan, seperti efisiensi waktu, biaya, dan kualitas kandidat, agar evaluasi tetap fokus dan berdampak.
1. Melihat Kecepatan Rekrutmen dari Proses yang Berjalan
Metrik kecepatan rekrutmen membantu HR melihat seberapa cepat posisi terisi tanpa mengorbankan kualitas. Efisiensi berarti meminimalkan hambatan di tiap tahapan seleksi, karena posisi yang terlalu lama kosong dapat memengaruhi beban kerja dan produktivitas tim.
Mari kita bedah metrik waktu yang paling sering disalahartikan namun sangat vital perbedaannya:
-
Waktu yang dibutuhkan hingga posisi terisi
Metrik ini melihat rentang waktu sejak lowongan disetujui hingga kandidat menerima tawaran kerja. Angka yang dihasilkan sering digunakan untuk membantu perencanaan tenaga kerja dan memperkirakan kapan kebutuhan tim dapat terpenuhi.
Menurut laporan SHRM, jumlah hari dari kandidat melamar hingga menerima tawaran, rata-rata sekitar 24–44 hari, tergantung kondisi pasar dan jenis pekerjaan. Semakin lama durasinya, semakin besar potensi dampak ke operasional.
-
Durasi seleksi dari sisi kandidat
Berbeda dari metrik sebelumnya, fokus di sini adalah pengalaman kandidat sejak melamar hingga menerima offering. Metrik ini memberi gambaran seberapa cepat tim rekrutmen memproses pelamar yang masuk. Proses yang terlalu panjang sering kali berujung pada kandidat mengundurkan diri.
-
Titik proses yang paling sering menghambat
Alih-alih melihat rekrutmen secara keseluruhan, metrik ini digunakan untuk memecah proses ke tiap tahapan. Dari sini, HR bisa melihat apakah hambatan terjadi di screening awal, interview user, atau pengambilan keputusan akhir. Insight ini biasanya jadi dasar perbaikan proses.
2. Fokus pada Pengelolaan Biaya Rekrutmen
Metrik biaya rekrutmen membantu HR menilai efisiensi penggunaan anggaran dalam memperoleh talenta baru. Menurut SHRM, rata-rata biaya perekrutan bisa sekitar USD 4.700 per karyawan. Hal tersebut membuat indikator seperti biaya pengeluaran untuk rekrutmen menjadi acuan utama.
-
Cost per hire
Metrik ini menghitung rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk merekrut satu karyawan baru. Rumusnya adalah total biaya rekrutmen (internal + eksternal) dibagi jumlah karyawan yang direkrut. Komponen biaya mencakup iklan lowongan, biaya agensi, hingga gaji tim rekruter.
-
Sourcing channel cost
Analisis ini melacak biaya yang dikeluarkan untuk setiap platform lowongan kerja atau agensi eksternal. Tujuannya adalah menentukan saluran mana yang memberikan Return on Investment (ROI) terbaik. Anda dapat menghentikan pengeluaran pada saluran yang tidak menghasilkan kandidat berkualitas.
3. Menilai Kualitas Hasil Rekrutmen
Metrik kualitas rekrutmen digunakan untuk menilai dampak jangka panjang dari proses hiring, terutama kontribusi dan retensi karyawan. Meski hasilnya tidak langsung terlihat, kualitas tetap dapat diukur melalui indikator kuantitatif yang relevan.
Dalam sebagian organisasi, angka ini bisa mencapai ±17%, dan bahkan sampai ±40% dari turnover terjadi pada tahun pertama kerja, menandakan tantangan pada kecocokan pekerjaan atau onboarding.
-
Quality of hire (kualitas karyawan baru)
Metrik ini mengukur kualitas karyawan baru dengan melihat kombinasi kinerja awal dan tingkat retensi. Dalam beberapa kasus, penilaian juga mencakup umpan balik dari atasan langsung. Nilai yang tinggi menunjukkan proses seleksi berhasil menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan tim.
-
First-year attrition rate (tingkat perputaran tahun pertama)
Indikator ini menunjukkan persentase karyawan baru yang keluar sebelum satu tahun masa kerja. Angka yang tinggi sering menjadi sinyal adanya ketidaksesuaian dalam proses seleksi atau onboarding. Memantau metrik ini membantu HR mengurangi risiko rekrutmen ulang yang berulang.
-
Hiring manager satisfaction (kepuasan manajer perekrut)
Metrik ini melihat sejauh mana manajer merasa kandidat yang direkrut sesuai dengan ekspektasi. Penilaiannya biasanya dilakukan melalui survei internal setelah proses rekrutmen selesai. Masukan ini penting untuk menyelaraskan kebutuhan user dengan proses rekrutmen ke depan.
4. Membaca Efektivitas Saluran Rekrutmen
Metrik funnel rekrutmen membantu HR memahami alur kandidat dari awal hingga akhir proses seleksi, termasuk efektivitas setiap sumber pelamar. Dengan data ini, HR dapat memfokuskan upaya pada saluran yang benar-benar menghasilkan kandidat berkualitas.
-
Source of hire (sumber perekrutan)
Identifikasi asal saluran kandidat yang berhasil diterima sangat penting untuk alokasi budget iklan yang cerdas. Sumber bisa berasal dari LinkedIn, Job Portal, atau Referensi Karyawan. Data ini membantu Anda berinvestasi pada platform yang terbukti menghasilkan karyawan terbaik.
-
Applicant to interview ratio (rasio pelamar ke wawancara)
Perbandingan jumlah pelamar yang masuk dengan yang lolos ke tahap wawancara menunjukkan kualitas penyaringan awal. Jika rasionya terlalu rendah, mungkin kriteria job description Anda kurang jelas atau terlalu ketat. Menurut studi dari SHRM, rasio yang sehat membantu efisiensi waktu pewawancara.
-
Offer acceptance rate (tingkat penerimaan tawaran)
Metrik ini menunjukkan seberapa banyak kandidat yang menerima tawaran dibandingkan dengan total offering yang diberikan. Angka yang rendah sering mengindikasikan adanya ketidaksesuaian ekspektasi, baik dari sisi kompensasi, peran, maupun daya tarik perusahaan.
Mengelola KPI Rekrutmen dengan Pendekatan yang Lebih Sistematis
Pendekatan sistematis membantu HR mengelola KPI rekrutmen secara lebih konsisten dan mengurangi kesalahan akibat pencatatan manual. Otomatisasi data membuat proses evaluasi berjalan lebih efisien.
Pelacakan KPI melalui sistem terintegrasi memungkinkan HR mendapatkan insight penting seperti persentase kandidat yang lolos, secara real-time tanpa rekap berulang. Dengan data yang tersaji lebih rapi, proses pengambilan keputusan pun menjadi lebih terarah.
1. Otomatisasi screening CV
Fitur screening otomatis membantu menyaring ribuan CV dalam hitungan detik berdasarkan kata kunci tertentu. Teknologi ini secara drastis menurunkan Time to Hire dengan mengeliminasi kandidat yang tidak memenuhi syarat administrasi. Tim HR bisa langsung fokus mewawancarai kandidat yang paling relevan.
2. Portal lowongan terintegrasi
Memiliki portal karir yang terintegrasi memungkinkan Anda melacak efektivitas setiap saluran lowongan dalam satu dasbor. Anda dapat melihat dari mana pelamar terbaik berasal secara real-time. Hal ini memudahkan keputusan alokasi anggaran iklan lowongan kerja.
3. Tes psikologi & kompetensi online
Fitur tes terintegrasi sangat penting untuk menyaring kualitas kandidat secara objektif sebelum masuk ke tahap wawancara. Anda dapat menggunakan rekomendasi cloud HCM software yang memiliki modul tes psikometrik bawaan. Ini memastikan kandidat memiliki kompetensi teknis dan kepribadian yang sesuai.
Studi Kasus Buma Perindahindo
Untuk menghadapi peningkatan kebutuhan tenaga kerja, Buma Perindahindo menata ulang proses rekrutmen dengan menetapkan KPI utama seperti durasi pengisian posisi, efektivitas sumber kandidat, dan pergerakan kandidat di tiap tahap seleksi.
Pendekatan ini diterapkan selama sekitar 6 bulan dengan alur rekrutmen yang lebih terstruktur. Setiap tahap, mulai dari pembukaan lowongan hingga penawaran kerja, dipantau menggunakan indikator waktu dan rasio kandidat.
Hasilnya, Buma Perindahindo mencatat penurunan waktu pengisian posisi sekitar 20–25% dan berkurangnya kandidat yang gugur di tahap akhir. Proses rekrutmen menjadi lebih konsisten dan keputusan dapat diambil berdasarkan data yang terpantau.
Kesimpulan
Pelacakan KPI rekrutmen membantu HR memahami proses perekrutan dari sisi kecepatan, biaya, dan kualitas kandidat. Dengan fokus pada metrik yang relevan, evaluasi rekrutmen dapat dilakukan secara lebih terarah dan konsisten.
Pemanfaatan teknologi memudahkan pengumpulan serta pembacaan data, sehingga tim HR dapat lebih fokus pada pengambilan keputusan. Evaluasi yang dilakukan secara berkala juga membantu menjaga keselarasan strategi rekrutmen dengan kebutuhan bisnis.
Untuk mendukung analisis yang lebih optimal, perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan sistem yang memantau KPI rekrutmen secara terstruktur. Konsultasi awal juga dapat membantu menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisasi.
Pertanyaan Seputar KPI Rekrutmen
-
Apa perbedaan utama antara Time to Fill dan Time to Hire?
Time to Fill mengukur waktu dari pembukaan lowongan hingga posisi terisi, sedangkan Time to Hire mengukur waktu dari kandidat melamar hingga menerima tawaran.
-
Berapa standar cost per hire yang ideal di Indonesia?
Biaya ini sangat bervariasi tergantung industri dan level jabatan, namun umumnya berkisar antara 1-3 kali gaji bulanan posisi tersebut.
-
Mengapa quality of hire dianggap sebagai metrik yang paling sulit diukur?
Karena metrik ini bersifat subjektif dan membutuhkan waktu lama (biasanya setahun) untuk melihat performa dan retensi karyawan secara nyata.
-
Apakah sistem HRIS bisa otomatis menghitung KPI rekrutmen?
Ya, sistem HRIS modern seperti HashMicro dapat melacak dan menghitung KPI rekrutmen secara otomatis dan menyajikannya dalam dashboard real-time.
-
Bagaimana cara meningkatkan offer acceptance rate yang rendah?
Tinjau kembali paket kompensasi dan benefit Anda, serta pastikan proses penawaran dilakukan dengan cepat dan personal.







