CNBC Awards

Strategi Employee Satisfaction Survey untuk Retensi Talenta

Diterbitkan:

Sebagai pemilik perusahaan atau manajer, menjaga kepuasan dan kesejahteraan karyawan penting untuk menopang produktivitas dan kinerja perusahaan. Salah satu cara yang efektif untuk mengukurnya adalah melalui employee satisfaction survey, terutama karena tidak semua karyawan nyaman menyampaikan keluhan secara terbuka.

Menariknya, data menunjukkan banyak karyawan merasa puas, tetapi itu bukan berarti risikonya otomatis hilang. Dalam hasil survei PwC yang dirilis Juni 2023, 75% karyawan di Indonesia mengaku puas dengan pekerjaan mereka saat ini.

Employee satisfaction survey membantu membaca kondisi tim lebih awal, bukan saat masalah sudah terlanjur membesar. Apakah selama ini masukan karyawan sudah tertampung dengan rapi? Berikutnya, artikel ini membahas cara menyusun survei, menjalankannya, dan menindaklanjuti hasilnya.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Mengapa Employee Satisfaction Survey Krusial?

      Employee satisfaction survey adalah survei untuk melihat tingkat kepuasan karyawan dan menangkap area perbaikan lebih cepat. Kepuasan berbeda dari engagement; kepuasan terkait fasilitas dan kompensasi, sedangkan engagement terkait motivasi dan rasa memiliki. Jika dilakukan rutin, survei ini membantu mendeteksi risiko turnover lebih awal.

      1. Mendeteksi Potensi Turnover Sejak Dini

      Tingginya angka turnover sering kali berakar pada masalah-masalah kecil yang terakumulasi dan tidak terdeteksi oleh manajemen. Survei kepuasan membuka saluran komunikasi bagi karyawan untuk menyuarakan keluhan yang mungkin selama ini terpendam. Hal ini memungkinkan HR untuk bertindak proaktif, bukan reaktif.

      2. Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Kerja

      Karyawan yang puas dengan lingkungan kerjanya terbukti memiliki produktivitas dan kualitas output yang jauh lebih baik. Sebaliknya, ketidakpuasan sering bermanifestasi dalam bentuk penurunan kinerja, sering mangkir, atau sikap pasif. Survei membantu Anda menemukan hambatan yang mengganggu produktivitas mereka.

      3. Membangun Budaya Perusahaan yang Terbuka

      Pelaksanaan survei secara rutin mengirimkan sinyal positif bahwa suara karyawan didengar dan dihargai oleh perusahaan. Ini membangun rasa percaya (trust) yang kuat antara staf dan manajemen, fondasi utama budaya kerja sehat. Keterbukaan ini akan mendorong loyalitas jangka panjang.

      Indikator Kepuasan Karyawan Apa Saja yang Perlu Diukur?

      Indikator survei kepuasan karyawan umumnya mencakup kompensasi, hubungan kerja, pengembangan karier, serta keseimbangan hidup dan kerja. Agar hasilnya bisa ditindaklanjuti, susun pertanyaan yang spesifik dengan kombinasi skala angka dan masukan terbuka, sehingga kondisi tim lebih jelas dan prioritas perbaikan lebih mudah ditentukan.

      1. Kompensasi dan Tunjangan (Compensation & Benefits)

      Indikator ini menilai apakah gaji, bonus, dan benefit terasa adil dibanding beban kerja. Ketidakpuasan di area ini sering jadi alasan karyawan mulai mempertimbangkan pindah. Contohnya adalah gaji dan tunjangan di perusahaan ini terasa sepadan dengan tanggung jawab pekerjaan.

      2. Hubungan dengan Manajemen dan Rekan Kerja

      Bagian ini melihat kualitas komunikasi, dukungan atasan, dan kerja sama tim dalam keseharian. Kalau relasi kerja kurang sehat, masalah kecil biasanya cepat membesar. Contohnya adalah komunikasi dengan atasan jelas dan pembagian tugas di tim terasa adil.

      3. Peluang Pengembangan Karir (Career Growth)

      Survei perlu menangkap apakah perusahaan memberi ruang berkembang lewat pelatihan dan jenjang karier yang jelas. Ketika arah karier terasa buntu, risiko turnover cenderung naik. Contohnya adalah perusahaan menyediakan kesempatan pelatihan dan jalur pengembangan karier yang jelas.

      4. Beban Kerja dan Work-Life Balance

      Indikator ini menilai apakah gaji, bonus, dan benefit terasa adil dibanding beban kerja, dan datanya bisa dirapikan lewat aplikasi hr terintegrasi. Contohnya adalah gaji dan tunjangan terasa sepadan dengan tanggung jawab pekerjaan dan Benefit yang diberikan sudah sesuai kebutuhan.

      Apa Saja Tahapan dalam Menyusun Survei Kepuasan yang Efektif?

      Langkah Strategis Menyusun Survei yang Efektif

      Penyusunan survei perlu dimulai dari tujuan yang jelas, pertanyaan yang netral, anonimitas yang ditegaskan, dan waktu pelaksanaan yang tepat. Tanpa metode yang aman, karyawan cenderung memberi jawaban normatif karena merasa bisa terlacak, sehingga hasil survei tidak benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya.

      1. Menentukan Tujuan dan Frekuensi Survei

      Anda perlu memutuskan apakah akan melakukan survei tahunan yang mendalam atau pulse survey yang singkat namun sering. Survei tahunan cocok untuk evaluasi menyeluruh, sedangkan pulse survey efektif untuk memantau isu spesifik secara real-time. Kombinasi keduanya seringkali memberikan hasil terbaik.

      2. Merancang Pertanyaan yang Objektif

      Hindari pertanyaan menggiring (leading questions) yang bisa membiaskan hasil data yang Anda peroleh. Gunakan skala Likert (1-5 atau 1-10) untuk data kuantitatif, dan sediakan kolom esai untuk opini kualitatif. Pertanyaan harus spesifik, mudah dipahami, dan relevan dengan kondisi perusahaan.

      3. Menjamin Anonimitas Responden

      Kerahasiaan adalah kunci utama untuk mendapatkan umpan balik yang jujur dan autentik dari karyawan. Tegaskan dalam pengantar survei bahwa identitas responden tidak akan dilacak atau dipublikasikan. Gunakan platform pihak ketiga seperti Google Forms, SurveyMonkey, atau Typeform, atau software khusus, untuk membantu menjaga anonimitas dan keamanan data survei.

      Contoh Pertanyaan Survei Berdasarkan Kategori

      Agar hasilnya menyeluruh, pertanyaan sebaiknya mencakup kepemimpinan, budaya kerja, dan eNPS. Susun pertanyaan yang jelas, tidak bermakna ganda, dan langsung ke inti, lalu sesuaikan dengan budaya serta kebutuhan perusahaan agar data yang terkumpul benar-benar bisa ditindaklanjuti, bukan sekadar jawaban “ya” atau “tidak”.

      1. Pertanyaan Terkait Manajemen

      Contoh: “Apakah atasan langsung Anda memberikan umpan balik yang konstruktif secara rutin?” atau “Seberapa transparan komunikasi manajemen terkait tujuan perusahaan?”. Pertanyaan ini membantu mengukur efektivitas kepemimpinan di level manajerial.

      2. Pertanyaan Terkait Budaya Kerja

      Contoh: “Apakah Anda merasa nyaman menyampaikan ide atau pendapat berbeda di dalam tim?” atau “Apakah fasilitas kantor mendukung produktivitas kerja Anda?”. Ini mengukur kesehatan lingkungan kerja dan inklusivitas dalam tim.

      3. Pertanyaan eNPS (Kepuasan Menyeluruh)

      Contoh: “Pada skala 0-10, seberapa besar kemungkinan Anda merekomendasikan perusahaan ini sebagai tempat kerja kepada teman Anda?”. Skor ini adalah indikator paling sederhana namun kuat untuk mengukur loyalitas karyawan secara keseluruhan.

      Cara Menganalisis Data dan Menindaklanjuti Hasil

      Setelah survei terkumpul, data perlu disegmentasi, dibahas untuk menemukan akar masalah, lalu ditindaklanjuti lewat rencana perbaikan yang jelas dan dipantau progresnya. Jika hasil hanya disimpan tanpa aksi, karyawan bisa merasa suaranya diabaikan dan kepercayaan justru menurun.

      1. Identifikasi Pola dan Tren Data

      Baca data dengan membandingkan hasil antar departemen, level jabatan, atau masa kerja karyawan. Cari tahu apakah ketidakpuasan bersifat sistemik di seluruh perusahaan atau hanya terjadi di divisi tertentu. Penggunaan platform HRM sangat membantu dalam visualisasi tren ini.

      2. Diskusi Terbuka dan Feedback Session

      Presentasikan hasil survei, baik positif maupun negatif, kepada karyawan dalam sesi town hall. Ajak mereka berdiskusi untuk mencari solusi bersama atas masalah yang ditemukan. Transparansi ini akan meningkatkan rasa memiliki karyawan terhadap solusi yang dihasilkan.

      3. Menyusun Rencana Aksi Konkret

      Buatlah timeline perbaikan yang jelas, tunjuk penanggung jawab (PIC), dan monitor progres perubahan secara berkala. Pastikan setiap keluhan utama memiliki rencana mitigasi yang nyata. Komunikasikan setiap kemajuan perbaikan kepada seluruh karyawan.

      Bagaimana Software HR Berperan dalam Otomatisasi Survei?

      Software HR modern membuat survei lebih rapi karena penyebaran, kerahasiaan respon, dan rekap hasil bisa dikelola lebih cepat dalam satu alur. Dibanding cara manual lewat kertas atau spreadsheet yang memakan waktu dan rawan salah input, sistem HR menyimpan data lebih terstruktur sehingga laporan lebih mudah ditarik dan langsung siap ditindaklanjuti.

      1. Otomatisasi Distribusi Data

      Fitur seperti Employee Announcement atau portal karyawan memudahkan distribusi kuesioner digital secara massal. Sistem juga dapat mengirimkan pengingat otomatis bagi karyawan yang belum mengisi, meningkatkan tingkat partisipasi tanpa menambah beban admin.

      2. Analisis Data Real-Time

      Kemampuan pelaporan otomatis dapat menyajikan data survei dalam bentuk grafik visual yang mudah dipahami manajemen. Anda tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengolah data mentah di Excel. Keputusan bisa diambil lebih cepat berdasarkan data real-time.

      3. Integrasi dengan Manajemen Talenta

      Hasil survei dapat dikaitkan dengan modul manajemen talenta untuk melihat korelasi antara kepuasan kerja dengan pencapaian KPI. Ini membantu HR melihat apakah karyawan yang bahagia benar-benar lebih produktif. Analisis holistik ini penting untuk strategi SDM jangka panjang.

      Studi Kasus Pancaran Group Meningkatkan Efisiensi HR dengan HRIS

      Pancaran Group merupakan perusahaan yang bergerak di transportasi darat dan laut, logistik, pembuatan kapal, energi, hingga pertambangan, sehingga membutuhkan pengelolaan SDM yang rapi di banyak unit kerja. Untuk menyatukan data karyawan yang sebelumnya tersebar, Pancaran Group menerapkan HRIS HashMicro agar seluruh tim mengacu pada satu sumber informasi yang sama.

      Hasilnya, proses administrasi seperti pembaruan data, absensi, dan pengajuan cuti berjalan lebih cepat dan konsisten, sementara koordinasi antara HR dan para leader menjadi lebih lancar. Pelaporan juga lebih mudah ditelusuri, sehingga tim dapat fokus pada perencanaan kebutuhan tenaga kerja dan peningkatan kinerja.

      Kesimpulan

      Employee satisfaction survey membantu perusahaan melihat kondisi karyawan dengan lebih objektif, tidak hanya mengandalkan asumsi atau obrolan sesaat. Jika dilakukan dengan rapi, survei ini bisa menangkap tanda ketidakpuasan lebih awal sebelum berdampak ke turnover atau turunnya produktivitas.

      Agar hasilnya berguna, survei perlu punya tujuan yang jelas, pertanyaan yang netral, dan anonimitas yang terjaga. Yang tidak kalah penting, hasilnya harus ditindaklanjuti dengan langkah perbaikan yang nyata.

      Nilai survei ada pada konsistensi menindaklanjuti temuan dari waktu ke waktu. Konsultasikan kebutuhan perusahaan agar pendekatannya terasa pas dan mudah dijalankan.

      HRM

      Pertanyaan Seputar Employee Satisfaction Survey

      • Seberapa sering perusahaan harus melakukan survei kepuasan karyawan?

        Idealnya, survei besar dilakukan setahun sekali, dilengkapi dengan pulse survey yang lebih singkat setiap 3-6 bulan untuk memantau isu spesifik secara berkala.

      • Apakah survei kepuasan karyawan harus selalu anonim?

        Ya, anonimitas sangat disarankan untuk mendorong karyawan memberikan jawaban yang jujur dan objektif tanpa rasa takut akan dampak negatif terhadap karir mereka.

      • Apa indikator paling penting dalam survei kepuasan kerja?

        Indikator utama meliputi kompensasi dan tunjangan, hubungan dengan manajemen, peluang pengembangan karir, serta keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).

      Reno Wicaksana

      Senior Content Writer on HRIS

      Reno adalah HRM Specialist dan senior content writer dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri teknologi dan manajemen sumber daya manusia. Secara konsisten mengangkat topik artikel seputar performance management, rekrutmen dan pengembangan SDM, manajemen talenta, dan sistem HRIS untuk pengelolaan karyawan.

      Jessica adalah seorang pakar yang memiliki gelar Bachelor of Science (BSc) dalam Psychology dari University of London yang didukung oleh pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan dinamika organisasi. Latar belakang psikologi ini memberikan keahlian khusus dalam memahami motivasi karyawan, mengelola pengembangan talenta, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di dalam tim.. Selama sembilan tahun terakhir, Jessica mendalami bidang Human Resource Management, mengembangkan keahlian dalam strategi rekrutmen, pengelolaan kinerja, pengembangan organisasi, serta implementasi kebijakan HR yang mendukung budaya kerja positif dan pertumbuhan perusahaan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya