Mark up sering dipakai sebagai patokan cepat untuk menentukan harga jual, terutama saat bisnis ingin menjaga laba tetap konsisten. Secara sederhana, mark up adalah selisih antara biaya dan harga jual yang dihitung berbasis biaya.
Namun, angka yang terlihat aman belum tentu benar kalau komponen biayanya belum lengkap. Karena itu, perhitungan mark up sebaiknya memasukkan biaya produksi, overhead, hingga biaya yang melekat pada proses penjualan.
Bagian berikut membahas cara menentukan mark up yang realistis, rumus yang tepat, dan contoh penerapannya. Di akhir, ada pembahasan singkat yang membedakan sistem ini dari margin laba kotor supaya tidak tertukar.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Mark Up dalam Strategi Harga Penjualan
Mark up adalah tambahan nilai di atas biaya untuk membentuk harga jual, jadi bisnis punya ruang laba yang jelas per unit. Dalam strategi harga, mark up dipakai sebagai aturan yang konsisten. Biasanya biaya dihitung per unit, target keuntungan ditetapkan, lalu hasilnya dicek apakah masih masuk akal di pasar.
Unique value-nya ada di cara membaca hasilnya: kalau harga jadi terlalu tinggi, solusinya tidak selalu menurunkan mark up. Kadang biaya belum lengkap, atau value produk perlu diperkuat (bundling, ukuran, layanan) agar harga tetap pantas.
Sebaliknya, kalau mark up terlalu kecil, bisnis harus memastikan masih ada ruang promo dan kenaikan biaya, supaya margin tidak habis diam-diam.
Dasar Biaya untuk Mark Up
Sebelum menetapkan mark up, perusahaan perlu memastikan bahwa biaya yang dijadikan dasar perhitungan sudah mencerminkan seluruh pengeluaran yang benar-benar melekat pada produk.
1. Biaya bahan dan kemasan
Komponen pertama adalah biaya yang paling mudah ditelusuri, yaitu bahan baku utama, bahan pendukung, serta kemasan. Sebagai ilustrasi, jika biaya bahan untuk satu produk sebesar Rp18.000 dan kemasannya Rp2.000, maka biaya dasar pada tahap ini menjadi Rp20.000 per unit.
2. Biaya produksi yang terkait langsung
Selanjutnya, masukkan biaya produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk, seperti gas, bahan pendukung tambahan, atau tenaga kerja produksi yang memang dihitung per unit. Misalnya, jika biaya produksi terkait langsung rata-rata Rp1.500 per unit, maka total biaya per unit meningkat menjadi Rp21.500.
3. Biaya operasional yang melekat pada produk
Banyak perhitungan mark up menjadi kurang akurat karena biaya operasional yang melekat pada produk tidak ikut dimasukkan, seperti ongkos kirim bahan baku masuk, biaya penyimpanan, dan waste yang terjadi secara rutin.
Cara yang lebih rapi adalah menghitungnya sebagai rata-rata per unit per periode; sebagai contoh, jika rata-rata ongkir, penyimpanan, dan waste setara Rp2.500 per unit, maka total biaya per unit menjadi Rp24.000.
4. Biaya per platform penjualan
Produk yang sama dapat memiliki biaya berbeda tergantung di sistem penjualannya, terutama bila ada komisi platform, biaya layanan, atau potongan pembayaran.
Misalnya, jika penjualan melalui layanan delivery menambah biaya komisi dan layanan sekitar Rp4.000 per unit, maka biaya efektif per unit pada platform tersebut menjadi Rp28.000, meskipun biaya produksinya tetap Rp24.000.
5. Nilai tambah yang sering diabaikan
Agar mark up tidak menimbulkan selisih margin yang tidak terdeteksi, perusahaan sebaiknya menetapkan dasar biaya dan mark up per kanal penjualan, bukan satu angka untuk semua kanal.
Dengan cara ini, harga jual dapat tetap konsisten terhadap struktur biaya masing-masing kanal, dan evaluasi laba menjadi lebih akurat.
Cara Menentukan Target Laba dengan Mark Up
Agar dapat melakukan hal ini dengan baik, maka perusahaan harus dapat melakukan beberapa kegiatan penting.
1. Tetapkan target laba berdasarkan peran produk
Target laba sebaiknya tidak disamaratakan untuk semua produk karena karakter tiap produk berbeda. Misalnya produk volume tinggi umumnya memakai mark up lebih moderat dibanding produk bernilai tambah tinggi.
2. Uji hasil harga terhadap batas pasar
Setelah target laba ditetapkan, uji harga hasil perhitungan terhadap rentang harga kompetitor dan produk substitusi yang paling dekat. Misalnya biaya per unit Rp24.000 dengan target mark up 40% menghasilkan harga Rp33.600; angka ini perlu dipastikan masih masuk rentang harga kategori yang sama di pasar.
3. Sesuaikan dengan value, bukan hanya persentase
Jika harga terlalu tinggi, perusahaan tidak selalu perlu menurunkan target laba; penyesuaian dapat dilakukan lewat bundling, peningkatan kualitas, atau penyesuaian ukuran agar harga terasa sepadan. Jika harga terlalu rendah, perusahaan perlu mengecek kelengkapan biaya dan memastikan masih ada ruang untuk diskon dan kenaikan biaya.
4. Menghitung biaya operasional
Ketiga, setelah perusahaan menentukan sasaran untuk menjual produk-produknya, mereka dapat melakukan penghitungan biaya operasional dalam berjualan.
Setelah melakukan penghitungan, perusahaan dapat menjumlahkan keseluruhan biaya pembelian barang dengan biaya operasional yang telah terhitung. Dari hal tersebut, perusahaan baru dapat melakukan penentuan terkait seberapa besar kenaikan biaya yang ditetapkan pada barang.
5. Menentukan target pengembangan
Terakhir, perusahaan perlu menetapkan target pengembangan yang jelas agar kebijakan mark up tidak hanya mengejar laba jangka pendek, tetapi juga mendukung rencana bisnis ke depan.
Target bisa berupa penambahan kapasitas produksi, pembukaan kanal penjualan baru, peningkatan kualitas produk, atau investasi pada peralatan dan sistem kerja.
Setelah targetnya ditentukan, mark up dapat diterapkan secara lebih terarah pada produk yang paling relevan untuk mendanai pengembangan tersebut.
Rumus Menghitung Mark Up
Besaran mark up umumnya ditentukan berdasarkan target laba yang ingin dicapai, dengan biaya sebagai dasar perhitungannya. Karena itu, perusahaan perlu memastikan biaya yang digunakan sudah lengkap sebelum menghitung mark up.
Rumus
Persentase MU = (MU / Biaya) x 100%
MU = Harga Jual – Biaya
Setelah menggunakan rumus tersebut, perusahaan juga dapat mengetahui persentase dari mark up yang telah mereka terapkan dengan menggunakan rumus di bawah ini:
Persentase MU = MU / Biaya x 100
Contoh
Donald menjual paket burger seharga Rp40.000 dengan biaya produksi Rp30.000 per porsi (termasuk bahan, persiapan, dan penyimpanan). Mark up dihitung sebagai berikut:
MU = 40.000 − 30.000 = 10.000
Persentase mark up = (10.000 / 30.000) × 100% = 33,3%
Dengan demikian, persentase mark up yang diterapkan Donald adalah sekitar 33,3%.
Perbedaan Mark Up dan Margin Laba Kotor
Istilah mark up dan margin laba kotor memang sering tertukar karena sama-sama membahas selisih antara harga jual dan biaya. Namun, keduanya berbeda pada dasar perhitungannya, sehingga hasil persentasenya juga tidak akan sama.
Mark up menghitung selisih (Harga Jual − Biaya) sebagai persentase dari biaya, dengan rumus (Harga Jual − Biaya) / Biaya × 100%.
Sementara itu, margin laba kotor menghitung selisih yang sama sebagai persentase dari harga jual, yaitu (Harga Jual − Biaya) / Harga Jual × 100%. Karena pembaginya berbeda, mark up 40% tidak otomatis berarti margin laba kotor 40%.
Kesimpulan
Mark up adalah selisih antara biaya dan harga jual yang digunakan perusahaan untuk membentuk harga sekaligus menjaga target laba tetap realistis. Agar hasilnya akurat, perusahaan perlu menghitung biaya secara lengkap, menetapkan target laba yang masuk akal, dan menguji harga terhadap kondisi pasar serta produk substitusi.
Dalam praktiknya, banyak pelaku usaha juga mulai memakai accounting software untuk pencatatan biaya, memantau perubahan komponen cost, dan mengevaluasi dampaknya ke laba secara lebih konsisten. Dengan data yang rapi, keputusan mark up bisa ditinjau ulang secara terukur saat biaya atau strategi penjualan berubah.
Pertanyaan Seputar Markup
-
Apa itu mark up?
Mark up adalah peningkatan harga yang ditambahkan pada biaya suatu produk untuk menentukan harga jualnya. Strategi ini digunakan untuk memastikan perusahaan memperoleh keuntungan dari setiap penjualan.
-
Mengapa penting untuk menerapkan strategi mark up yang tepat?
Strategi mark up yang tepat membantu perusahaan menetapkan harga jual yang kompetitif, memastikan keuntungan yang sehat, dan menghindari kerugian akibat penetapan harga yang terlalu rendah atau tinggi.





