CNBC Awards
×

Kerja Lebih Tenang di Bulan Ramadan!

Diskon 20% untuk Semua Modul!*

Manfaatkan promo spesial ini dan pastikan bisnis tetap lancar selama Ramadan!

Sisa Waktu --:--:--

*hanya untuk 100 klaim pertama

Memahami Cara Menghitung Gaji Karyawan Bulanan & Prorata

Diterbitkan:

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) tahun 2024, perselisihan hubungan industrial yang dilaporkan mencapai 7.540 kasus, dengan isu pengupahan sebagai salah satu pemicunya. Ini menunjukkan cara menghitung gaji karyawan masih menjadi perhatian dalam praktik ketenagakerjaan.

Perhitungan gaji tidak selalu bersifat sederhana, terutama ketika karyawan tidak bekerja penuh dalam satu bulan. Kondisi seperti karyawan baru masuk, resign di tengah periode, atau perubahan status kerja membuat perusahaan perlu menerapkan perhitungan gaji secara prorata.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai cara menghitung gaji karyawan bulanan dan prorata menjadi penting. Dengan metode perhitungan yang jelas, proses penggajian dapat dilakukan secara lebih konsisten dan mudah dipahami oleh semua pihak.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Peraturan UU yang Mengatur Gaji Karyawan

      Sebelum memahami cara menghitung gaji karyawan, penting untuk mengetahui dasar hukum yang mengatur pembayaran gaji di Indonesia. Peraturan perundang-undangan ini menjadi pedoman bagi perusahaan untuk memastikan pengelolaan gaji sesuai dengan standar yang ditetapkan.

      Dikutip dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), regulasi mengenai gaji karyawan diatur dalam Peraturan Pemerintahan Nomor 36 tahun 2021. Regulasi ini mengatur kebijakan pengupahan yang mencakup penetapan upah berdasarkan waktu atau hasil, struktur dan skala upah, upah minimum, perlindungan upah, serta sanksi administratif dan peran dewan pengupahan.

      Adapun, sanksi administratif yang akan diterima jika perusahaan mengabaikan kewajibannya dapat berupa teguran tertulis, pembatasan kegiatan usaha, penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi, hingga pembekuan kegiatan usaha.

      Cara Menentukan Gaji Karyawan 

      Menentukan besaran gaji yang nantinya akan diterima karyawan memang tidak bisa dikatakan mudah, tetapi tetap bisa Anda lakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Di bawah ini kami sajikan beberapa faktor yang bisa menjadi bahan pertimbangan Anda menentukan gaji karyawan: 

      1. Mengacu pada peraturan perundang-undangan

      Hal pertama dan yang paling penting untuk Anda lakukan dalam menentukan gaji karyawan adalah memastikan penghitungan gaji sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti upah minimum provinsi (UMP) atau kabupaten/kota (UMK). Hal ini penting untuk melindungi hak karyawan dan menjaga kepatuhan hukum.

      2. Pertimbangkan struktur dan skala upah

      Selanjutnya, Anda dapat menentukan struktur gaji berdasarkan jabatan, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, serta tanggung jawab yang nantinya akan diemban oleh calon karyawan. Struktur dan skala upah ini harus ditetapkan secara transparan dan adil untuk mencegah ketidakpuasan di antara karyawan.

      3. Evaluasi standar industri

      Untuk membantu Anda menentukan gaji, Anda bisa membandingkan upah yang ditawarkan dengan standar pasar atau industri dengan posisi yang serupa. Penyesuaian ini membantu perusahaan tetap kompetitif dalam menarik dan mempertahankan karyawan berkualitas.

      4. Pertimbangkan kompetensi yang dimiliki karyawan 

      Dalam proses perekrutan karyawan, Anda pasti sudah mengetahui riwayat pengalaman professional pelamar. Hal ini juga bisa menjadi variabel yang membantu Anda menentukan besaran upah.

      5. Perhitungkan beban kerja dan risiko

      Untuk pekerjaan dengan tingkat risiko atau beban kerja tinggi, berikan kompensasi tambahan sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap tanggung jawab yang lebih besar.  Penyesuaian ini tidak hanya meningkatkan motivasi karyawan, tetapi juga membantu perusahaan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten di posisi-posisi yang krusial.

      6. Masukkan komponen pendukung gaji

      Terakhir, hal yang perlu Anda perhatikan dalam menentukan gaji adalah menyertakan komponen pendukung seperti tunjangan makan, transportasi, kesehatan, atau bonus kinerja. Komponen ini memberikan insentif tambahan untuk meningkatkan produktivitas karyawan.

      Kehadiran software payroll untuk perhitugan gaji bisa membantu perusahaan dalam menentukan gaji setiap karyawannya karena perhitungan dilakukan secara otomatis dan cepat dibandingkan perhitungan manual.

      Cara Menghitung Gaji Karyawan Bulanan Tetap dan Tidak Tetap dan Contohnya 

      Menghitung gaji karyawan bulanan memerlukan pemahaman tentang status karyawan, yaitu apakah mereka karyawan tetap atau tidak tetap. Berikut adalah penjelasan cara menghitung kedua jenis gaji tersebut:

      1. Gaji karyawan bulanan tetap

      Karyawan tetap biasanya memiliki gaji pokok yang dibayarkan setiap bulan, dengan komponen tambahan seperti tunjangan, potongan, dan bonus. Perhitungan gaji karyawan tetap dilakukan berdasarkan kontrak kerja dan struktur dan skala upah perusahaan, termasuk tingkatan gaji yang adil sesuai posisi.

      Rumus Umum:

      Contoh Perhitungan:

      • Gaji Pokok: Rp6.000.000
      • Tunjangan Transportasi: Rp500.000
      • Tunjangan Makan: Rp500.000
      • Potongan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan: Rp300.000

      Perhitungan gaji

      Karyawan tetap akan menerima gaji bersih sebesar Rp6.700.000 dalam sebulan.

      2. Gaji karyawan bulanan tidak tetap

      Karyawan tidak tetap dihitung berdasarkan jam kerja, jumlah hari kerja, atau hasil produksi. Perhitungan gaji ini lebih fleksibel, bergantung pada kebijakan perusahaan.

      Rumus Umum (Berbasis Hari Kerja):

      perhitungan gaji karyawan

      Rumus Umum (Berbasis Hasil):

      Perhitungan Gaji Karyawan

      Contoh Perhitungan (Berbasis Hari Kerja):

      • Upah Harian: Rp200.000
      • Jumlah Hari Kerja dalam Sebulan: 20 hari

      Gaji=200.000×20=Rp4.000.000

      Contoh Perhitungan (Berbasis Hasil Produksi):

      • Jumlah Produksi: 50 unit
      • Upah Per Unit: Rp50.000

      Gaji=50×50.000=Rp2.500.000

      Cara Menghitung Gaji Prorata dan Contohnya 

      Gaji prorata adalah gaji yang dihitung secara proporsional berdasarkan jumlah hari kerja seorang karyawan dalam periode tertentu, seperti karyawan baru yang mulai bekerja di tengah bulan atau karyawan yang mengambil cuti tidak berbayar. 

      Berikut langkah-langkah cara menghitung gaji prorata:

      1. Tentukan gaji bulanan karyawan

      Sebelum melakukan perhitungan gaji prorata, Anda harus mengetahui terlebih dahulu besaran gaji bulanan karyawan. Contohnya, Andi memiliki jumlah besaran upah bulanan sebesar Rp6.000.000, maka angka ini akan menjadi dasar perhitungan.

      2. Hitung jumlah hari kerja dalam sebulan

      Selanjutnya, Anda harus menghitung jumlah hari kerja yang dipenuhi oleh karyawan dalam bulan tersebut. Biasanya, perusahaan menggunakan jumlah hari kalender (30 atau 31 hari) atau hari kerja efektif (22 hari kerja dalam sebulan) sebagai acuan.

      3. Tentukan jumlah hari kerja yang dijalani karyawan

      Hitung jumlah hari kerja yang dijalani karyawan dalam bulan tersebut. Misalnya, jika Andai mulai bekerja pada tanggal 15 bulan itu, maka karyawan hanya bekerja selama 16 hari dalam bulan dengan 31 hari.

      4. Gunakan rumus gaji prorata

      Untuk melakukan penghitungan gaji prorata, Anda bisa menggunakan rumus di bawah ini:

      Perhitungan Gaji Karyawan

      5. Contoh perhitungan

      Berikut kami sajikan contoh dari perhitungan gaji prorata yang bisa Anda contoh

      • Gaji Bulanan: Rp6.000.000
      • Jumlah Hari Kalender: 31 hari
      • Jumlah Hari Kerja Karyawan: 16 hari

      Pengelolaan Gaji Karyawan

      Dengan demikian, gaji prorata yang diterima Andi dalam bulan itu adalah Rp3.096.774.

      Bagaimana Menentukan Jumlah Hari Kerja yang Paling Tepat untuk Payroll

      Menentukan jumlah hari kerja dalam payroll bukan sekadar memilih angka 30, 31, atau 22 hari. Keputusan ini berkaitan langsung dengan konsistensi perhitungan gaji, terutama saat perusahaan menerapkan sistem prorata untuk karyawan yang masuk atau keluar di tengah bulan.

      Berikut beberapa pendekatan yang umum digunakan beserta pertimbangannya:

      1. Menggunakan hari kalender (30 atau 31 Hari)

      Sebagian perusahaan menggunakan total hari dalam satu bulan kalender sebagai dasar perhitungan. Artinya, gaji bulanan dibagi 30 atau 31 hari, lalu dikalikan dengan jumlah hari kerja efektif karyawan.

      Pendekatan ini sering dipilih karena lebih sederhana dan konsisten setiap bulan. Namun, metode ini kurang mempertimbangkan jumlah hari kerja aktual, terutama jika terdapat banyak hari libur nasional atau kebijakan lima hari kerja.

      2. Menggunakan hari kerja efektif (Misalnya 22 atau 23 Hari)

      Metode ini menghitung gaji berdasarkan jumlah hari kerja aktual dalam satu bulan. Jika perusahaan menerapkan sistem lima hari kerja per minggu, rata-rata hari kerja efektif berkisar 20–23 hari, tergantung kalender dan hari libur.

      Pendekatan ini lebih mencerminkan aktivitas kerja nyata. Namun, perusahaan perlu memastikan jumlah hari kerja dihitung secara konsisten dan terdokumentasi agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi.

      3. Menyesuaikan dengan sistem shift atau pola kerja khusus

      Untuk perusahaan dengan sistem shift, manufaktur, atau operasional 24 jam, jumlah hari kerja bisa berbeda antar divisi. Dalam kondisi ini, dasar perhitungan payroll sebaiknya mengacu pada jadwal kerja individu dan juga cuti karyawan yang diambil, bukan hanya kalender umum perusahaan.

      Penyesuaian ini membantu menjaga keadilan dalam perhitungan gaji, terutama saat menghitung prorata atau lembur.

      Tips Mengelola Perhitungan Gaji Karyawan yang Efisien dan Efektif 

      Berikut di bawah ini adalah beberapa tips pengelolaan gaji karyawan yang bisa Anda terapkan agar berjalan secara efisien 

      1. Terapkan struktur dan skala upah yang jelas

      Struktur dan skala upah yang transparan sangat penting untuk menciptakan keadilan di antara karyawan. Penetapan ini harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti jabatan, tingkat pengalaman, tanggung jawab, dan standar industri. 

      Dengan adanya struktur yang jelas, karyawan dapat memahami dasar perhitungan gaji mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan terhadap manajemen perusahaan yang mengelola upah yang mereka terima.

      2. Catat absensi dan lembur dengan akurat

      Pencatatan absensi dan lembur yang akurat sangat penting untuk memastikan bahwa gaji karyawan Anda dapat terhitung dengan benar. Menggunakan sistem absensi digital atau perangkat biometrik yang terintegrasi dengan software penggajian dapat meminimalkan risiko kesalahan dan manipulasi data. 

      Dengan data absensi yang tepat, Anda dapat selangkah lebih mudah dalam menghitung dan mengelola gaji, lembur, atau potongan yang berkaitan dengan jumlah kerja setiap individu karyawan.

      3. Komunikasikan kebijakan penggajian dengan jelas

      Komunikasi yang lancar adalah kunci utama dalam produktivitas bisnis, salah satunya adalah pengelolaan gaji. Agar pengelolaan gaji bisa lebih tepat, Anda perlu berkomunikasi dengan karyawan agar mereka memahami bagaimana gaji mereka dihitung dan komponen apa saja yang memengaruhinya. 

      Adapun, komunikasi yang dilakukan antara manajemen dan karyawan harus mencakup pembahasan mengenai penjelasan tentang tunjangan, bonus, potongan, atau pajak, membantu mencegah kesalahpahaman dan konflik.

      4. Sediakan laporan penggajian yang transparan

      Slip gaji yang rinci dan transparan adalah salah satu cara untuk menunjukkan profesionalisme perusahaan. Slip ini harus mencakup semua komponen gaji, seperti gaji pokok, tunjangan, potongan, dan pajak, sehingga karyawan dapat memahami setiap detail perhitungan. Dengan laporan yang jelas, perusahaan dapat menghindari pertanyaan atau keluhan terkait penggajian.

      5. Gunakan software penggajian otomatis

      cara menghitung gaji

      Menggunakan software penggajian otomatis membantu perusahaan menyederhanakan proses perhitungan gaji, termasuk komponen pajak, tunjangan, potongan, dan lembur. Dengan sistem yang terotomatisasi, proses penggajian dapat dilakukan lebih konsisten dan efisien.

      Salah satu klien HashMicro, McDonald’s, memanfaatkan platform pengelolaan SDM terpadu untuk menyatukan data karyawan, absensi, dan penggajian dalam satu alur yang konsisten. Pendekatan ini juga banyak diterapkan oleh perusahaan di Indonesia agar data lintas fungsi tetap selaras dan mudah ditelusuri.

      Expert's Review

      “Pengelolaan gaji yang efisien berawal dari struktur upah yang jelas, pencatatan kerja yang akurat, serta dukungan sistem yang membantu proses penggajian berjalan konsisten.”

      — Jessica Chandra, B.Sc., Senior HR Manager

      Studi Kasus Perhitungan Gaji Bulanan & Prorata di Perusahaan Manufaktur

      Untuk memahami cara menghitung gaji bulanan dan prorata secara lebih nyata, berikut contoh kasus yang sering terjadi di perusahaan manufaktur skala besar seperti PT Astra International Tbk, yang memiliki ribuan karyawan dengan sistem kerja dan tanggal masuk yang bervariasi.

      Contoh kasus 1: Perhitungan gaji bulanan penuh

      Seorang karyawan produksi memiliki detail sebagai berikut:

      • Gaji pokok: Rp6.000.000
      • Tunjangan tetap: Rp1.000.000
      • Hari kerja dalam 1 bulan: 22 hari

      Karena karyawan bekerja penuh selama satu bulan tanpa absensi, maka perhitungannya adalah:

      Gaji Bulanan = Gaji Pokok + Tunjangan Tetap
      = Rp6.000.000 + Rp1.000.000 = Rp7.000.000

      Tidak ada penyesuaian prorata karena karyawan bekerja penuh sejak awal hingga akhir bulan.

      Contoh kasus 2: Perhitungan gaji prorata masuk tengah bulan

      Karyawan lain mulai bekerja pada tanggal 10, dengan ketentuan berikut:

      • Gaji pokok: Rp6.000.000
      • Tunjangan tetap: Rp1.000.000
      • Total hari kerja bulan tersebut: 22 hari
      • Hari kerja efektif sejak tanggal masuk: 14 hari

      Langkah perhitungannya:

      1. Hitung gaji harian
        (Rp6.000.000 + Rp1.000.000) ÷ 22 hari = Rp318.182 per hari
      2. Hitung gaji prorata
        Rp318.182 × 14 hari = Rp4.454.548

      Nominal inilah yang dibayarkan pada bulan pertama karena karyawan tidak bekerja penuh satu periode.

      Kesimpulan 

      Perhitungan gaji karyawan, baik bulanan maupun prorata, memerlukan pemahaman yang tepat agar hasilnya konsisten dan transparan. Dengan metode yang jelas, perusahaan dapat meminimalkan kesalahan administrasi sekaligus menjaga kejelasan hak karyawan.

      Dalam praktiknya, pengelolaan penggajian sering kali berkaitan dengan sistem pencatatan data karyawan dan absensi. Untuk memahami pendekatan yang paling sesuai, perusahaan dapat memulai diskusi awal tanpa biaya guna meninjau alur pengelolaan SDM dan penggajian yang sedang berjalan.

      Pada akhirnya, perhitungan gaji yang rapi dan terstruktur membantu mendukung operasional perusahaan secara keseluruhan. Jika dibutuhkan, perusahaan juga dapat memanfaatkan konsultasi gratis untuk mengecek apakah alur payroll yang digunakan sudah konsisten dan siap diterapkan.

      Pertanyaan Seputar Cara Menghitung Gaji Karyawan

      • Apa itu biaya prorata?

        Biaya prorata adalah biaya yang dihitung secara proporsional berdasarkan penggunaan, durasi, atau bagian tertentu dari suatu periode. Metode ini sering digunakan untuk membagi biaya secara adil, seperti dalam penghitungan gaji karyawan yang bekerja sebagian bulan, alokasi biaya sewa, atau tagihan utilitas yang hanya digunakan sebagian waktu.

      • Apa itu cut off gaji?

        Cut off gaji adalah batas waktu atau periode akhir pengumpulan data kehadiran, lembur, dan komponen lainnya yang digunakan untuk menghitung gaji karyawan dalam satu siklus penggajian.

      • Payroll itu apa?

        Payroll adalah proses pengelolaan pembayaran gaji karyawan yang mencakup perhitungan gaji pokok, tunjangan, potongan, pajak, hingga bonus. Payroll juga melibatkan pencatatan data kehadiran, lembur, dan absensi untuk memastikan setiap karyawan menerima gaji yang sesuai.

      Reno Wicaksana

      Senior Content Writer on HRIS

      Reno adalah HRM Specialist dan senior content writer dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri teknologi dan manajemen sumber daya manusia. Secara konsisten mengangkat topik artikel seputar performance management, rekrutmen dan pengembangan SDM, manajemen talenta, dan sistem HRIS untuk pengelolaan karyawan.

      Jessica adalah seorang pakar yang memiliki gelar Bachelor of Science (BSc) dalam Psychology dari University of London yang didukung oleh pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan dinamika organisasi. Latar belakang psikologi ini memberikan keahlian khusus dalam memahami motivasi karyawan, mengelola pengembangan talenta, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di dalam tim.. Selama sembilan tahun terakhir, Jessica mendalami bidang Human Resource Management, mengembangkan keahlian dalam strategi rekrutmen, pengelolaan kinerja, pengembangan organisasi, serta implementasi kebijakan HR yang mendukung budaya kerja positif dan pertumbuhan perusahaan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya