Dalam industri yang terus berubah, sebuah bisnis harus bisa beradaptasi dengan permintaan pasar. Perubahan tren dan fluktuasi supply chain memaksa perusahaan untuk bersikap fleksibel. Untuk memfasilitasi ini, Anda perlu menerapkan Agile Manufacturing.
Berbeda dengan model tradisional, metode ini menggunakan modul untuk memproduksi barang. Oleh karena itu, Anda harus memahami cara mengimplementasikan Agile Manufacturing dengan benar.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa itu Agile Manufacturing?
Agile Manufacturing adalah metode produksi yang memungkinkan perusahaan untuk merespons perubahan dengan cepat. Konsep ini mendorong bisnis untuk lebih fleksibel, mulai dari proses perencanaan hingga distribusi. Hal ini membuat sistem Anda kuat saat menghadapi perubahan mendadak, seperti lonjakan permintaan dan masalah supply chain.
Dalam metode ini, Anda mengukur seberapa cepat sistem Anda dapat beralih dari satu produk ke produk lainnya, tanpa membuang sumber daya. Ini membutuhkan integrasi mesin dengan smart technology dan pengelolaan tenaga kerja yang baik. Namun, untuk melakukannya dengan benar, Anda harus mulai dari pikiran Anda sendiri.
Agile vs. Lean Manufacturing
Banyak pebisnis yang menyamakan Agile Manufacturing dengan Lean Manufacturing. Padahal, keduanya memiliki fokus yang berbeda. Untuk memilih strategi yang pas, Anda perlu memahami perbedaannya:
| Aspek | Buku Stok Barang | Kartu Stok Barang |
|---|---|---|
| Fokus | Meningkatkan waktu respons | Mengurangi pemborosan dalam proses produksi, seperti produksi berlebihan dan waktu tunggu yang lama |
| Tujuan | Membantu bisnis beradaptasi dengan masalah dan perubahan mendadak | Membuat value stream yang efisien |
| Stok barang | Secukupnya, tetapi sistem ini menyimpan buffer stock di titik tertentu | Minimum, metode ini menggunakan sistem Just-In-Time (JIT) untuk mengurangi inventory costs |
| Cocok untuk | Produk dengan kondisi pasar yang berubah-ubah, seperti fast fashion | Produk dengan tingkat produksi tinggi dan permintaan pasar stabil, seperti mobil dan obat-obatan |
Namun, dalam praktiknya, banyak perusahaan yang menggabungkan kedua metode tersebut menjadi “Leagile”. Metode ini memanfaatkan efisiensi lean dalam proses hulu, dengan respons agile dalam proses hilir.
Cara Menerapkan Agile Manufacturing
Mengubah sistem dari model tradisional ke modern bukan hal yang mudah. Anda perlu merencanakannya dan mengimplementasikannya dengan baik. Berikut langkah-langkah untuk menerapkan Agile Manufacturing, tanpa mengganggu bisnis:
1. Audit sistem
Pertama, audit sistem Anda. Identifikasi area yang bermasalah dan rapikan SOP Anda. Selanjutnya, beritahu karyawan Anda tentang rencana ini. Semua staf Anda harus memiliki pemahaman yang sama untuk meminimalkan resistensi.
2. Integrasi sistem digital
Setelah itu, integrasikan sistem ERP ke pabrik Anda. Sistem ini akan menyimpan semua data di satu platform terpusat. Jadi, Anda hanya perlu melihat platform itu untuk mengidentifikasi masalah dan lonjakan permintaan dengan cepat.
3. Buat desain produk modular
Perbarui desain produk Anda agar modular. Sistem Anda harus bisa merakit produk menggunakan modul-modul yang dapat dipertukarkan. Dengan cara ini, Anda dapat mengurangi waktu setup mesin dan stok Work In Progress (WIP).
4. Integrasi supply chain
Bisnis Anda akan bermasalah jika Anda memiliki supply chain yang lambat. Oleh karena itu, Anda harus diversifikasi supplier Anda. Jangan hanya bergantung pada satu pemasok atau pemasok asing saja. Bekerja samalah dengan supplier lokal atau regional untuk mengurangi waktu tunggu.
5. Latih staf Anda
Setelah menerapkan sistem, jangan lupa untuk melatih staf Anda. Setiap pekerja harus bisa menggunakan mesin pabrik dengan baik. Hal ini akan mempermudah produksi ketika permintaan meningkat. Misalnya, pekerja di lini produksi A bisa dipindahkan ke lini produksi B jika permintaan produk B tiba-tiba naik.
Contoh Penerapan Agile Manufacturing
Menurut survei PwC, perusahaan yang agile mengungguli perusahaan sejenis sebesar 10%. Untuk memahami cara menerapkan Agile Manufacturing yang sesuai dengan bisnis Anda, Anda bisa melihat contoh dari beberapa industri:
1. Elektronik
Produk elektronik memiliki siklus hidup yang pendek. Untuk mengatasi masalah ini, pabrik elektronik akan menggunakan prinsip Agile Manufacturing. Mereka akan membuat prototype menggunakan 3D printing dan tim pengembangan produk akan memperbaikinya berdasarkan feedback.
2. Fast Fashion
Untuk mengikuti tren fashion yang selalu berubah, merek fast fashion menerapkan supply chain yang responsif. Mereka memproduksi sejumlah produk untuk menguji respon pasar. Jika responsnya positif, mereka akan meningkatkan produksi. Namun, mereka akan menghentikannya jika permintaan pasar rendah.
3. F&B
Di sektor F&B, perubahan tren dan regulasi memaksa pengusaha untuk bersikap fleksibel. Produsen makanan akan menggunakan mesin yang bisa memproduksi berbagai jenis dan ukuran produk. Hal ini mengurangi waktu henti (downtime) dan memastikan kepatuhan terhadap standar sanitasi.
4. Otomotif
Pabrik otomotif biasanya memproduksi lebih dari satu jenis kendaraan. Untuk menyederhanakan proses ini, mereka akan menggunakan desain kendaraan modular. Selain itu, mereka juga menggunakan Automated Guided Vehicles (AGV) untuk meningkatkan efisiensi bisnis.
Cara Mengukur Kinerja Sistem
Untuk memastikan sistem Anda berjalan dengan baik, Anda harus menilainya menggunakan metrik kinerja. Namun, metrik tradisional hanya berfokus pada volume produksi. Oleh karena itu, Anda harus menggunakan Key Performances Indicator (KPIs) berikut untuk menilainya secara menyeluruh:
1. Order-to-delivery lead time
Metrik ini mengukur waktu yang dibutuhkan bisnis untuk menerima dan mengirim pesanan ke pelanggan. Untuk menghitungnya, cukup kurangi tanggal mulai dengan tanggal selesai. Jika angka KPI Anda tinggi, itu berarti sistem Anda kurang responsif.
2. Overall Equipment Effectiveness (OEE)
Metrik ini mengukur kinerja mesin manufaktur. Dalam konteks ini, Anda harus mempertimbangkan frekuensi pergantian produk saat menganalisis OEE. Hal ini memastikan Anda dapat menghitung tingkat OEE Anda dengan akurat.
3. Process flexibility
Metrik ini mengukur kemampuan sistem untuk memproduksi berbagai macam produk dalam jumlah besar. Jika mesin Anda dapat melakukan ini tanpa meningkatkan biaya atau menunda pengiriman, itu berarti bisnis Anda agile.
4. Setup time
Metrik ini mengukur waktu antara akhir produksi produk A dan awal produksi produk B. Pastikan angka KPI Anda nol, karena ini memungkinkan Anda untuk memproduksi dalam jumlah kecil tanpa membuang jam kerja mesin.
Masalah Umum dalam Penerapan Agile Manufacturing
Meskipun metode ini meningkatkan operasional bisnis, banyak pengusaha yang menghadapi masalah saat menerapkannya. Untuk memastikan proses berjalan dengan lancar, Anda harus mengantisipasi masalah-masalah berikut:
1. Biaya implementasi
Anda perlu mengeluarkan modal yang besar untuk menata ulang sistem. Untuk menekan biaya ini, Anda harus menyusun roadmap yang bertahap. Fokuskan investasi awal pada area dengan pengembalian tercepat. Selanjutnya, gunakan keuntungan dari tahap sebelumnya untuk mendanai tahap berikutnya.
2. Masalah sistem lama
Jika pabrik Anda masih menggunakan mesin tua, Anda akan menanggung biaya yang besar saat menggantinya. Namun, Anda dapat mengurangi pengeluaran ini dengan mengintegrasikan smart technology, seperti sistem ERP. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan sensor IoT untuk mengekstrak data tanpa masalah.
3. Staf menolak sistem baru
Sistem yang terus berubah akan menurunkan moral staf Anda. Untuk mengatasi masalah ini, gunakan manajemen perubahan (change management) yang mempertimbangkan perasaan karyawan. Dengarkan pekerja Anda dan tunjukkan kalau sistem baru ini akan membantu mereka. Jangan lupa untuk melibatkan staf Anda sejak awal.
Cara Meningkatkan Sistem
Bagi bisnis yang telah menerapkan Agile Manufacturing dalam sistem mereka, langkah selanjutnya adalah memperbaruinya. Berikut beberapa update bermanfaat untuk sistem Anda:
1. Gunakan Sistem ERP dan MES
Gunakan ERP dan MES untuk mengelola sistem manufaktur Anda. Mereka memantau proses bisnis dan produksi secara real-time. Meskipun Anda dapat menggunakan salah satu dari kedua sistem ini saja, lebih baik Anda mengintegrasikan MES dengan ERP untuk meningkatkan efisiensi bisnis.
2. Integrasikan AI dan IoT
Integrasikan AI dan IoT ke dalam mesin Anda. AI dapat memprediksi permintaan menggunakan data, sementara sensor IoT dapat mencatat data secara real-time. Dengan kedua teknologi ini, Anda dapat mengambil keputusan bisnis berbasis data dan mengantisipasi permintaan di masa mendatang.
3. Pakai Digital Twins
Gunakan Digital Twins untuk mensimulasikan perubahan. Sebelum Anda mengubah lini produksi, uji tata letak dan alur kerja untuk menemukan konfigurasi yang paling optimal. Hal ini memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi potensi masalah tanpa mengganggu proses bisnis.
4. Terapkan ESG
Terapkan praktik ramah lingkungan di proses manufaktur Anda. Sebuah laporan dari J.P. Morgan menemukan kalau sustainability memiliki peran yang besar dalam menciptakan nilai jangka panjang. Dengan menerapkan ESG Framework, bisnis Anda dapat menghindari peningkatan biaya operasional dan masalah yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Kesimpulan
Untuk menjalankan bisnis yang fleksibel, Anda harus menerapkan Agile Manufacturing. Metode ini membantu perusahaan Anda beradaptasi dengan situasi yang tidak terduga, seperti perubahan regulasi dan peningkatan permintaan. Hal ini dapat memperlancar proses pengembangan dan peningkatan produk Anda.
Namun, jangan lupa untuk menyesuaikannya dengan bisnis Anda. Setiap industri memiliki kebutuhan unik masing-masing. Jika Anda coba memaksakan solusi dari satu industri ke industri yang lain, Anda hanya akan merugikan bisnis Anda.
Pertanyaan Seputar Agile Manufacturing
-
Apa itu desain modular dalam sistem manufaktur?
Desain modular adalah pendekatan yang membagi suatu produk menjadi beberapa unit atau ‘modul’. Melalui ini, bisnis dapat menukar atau menggunakan kembali modul-modul untuk membuat produk baru.
-
Apa keuntungan utama dari penerapan Agile Manufacturing?
Agile Manufacturing membuat bisnis Anda lebih fleksibel. Metode ini memungkinkan Anda untuk menanggapi perubahan pasar dengan cepat, sehingga memberi Anda waktu untuk memitigasi atau memanfaatkannya.
-
Kaizen itu Agile atau Lean Manufacturing?
Kaizen bukan Agile atau Lean Manufacturing. Melainkan, ini adalah pendekatan untuk meningkatkan dan memperbaiki sistem secara terus-menerus. Konsep ini digunakan untuk membuat perubahan kecil secara bertahap.



