CNBC Awards

Jurnal Retur Pembelian: Panduan Lengkap dan Contoh Pencatatan

Diterbitkan:

Pernahkah Anda berpikir bagaimana setiap barang yang dikembalikan dalam proses pengadaan memengaruhi keseluruhan alur keuangan perusahaan? Retur pembelian tidak sekadar pengembalian barang, tapi bagian dari pengelolaan data yang memengaruhi laporan dan transparansi finansial.

Hal inilah yang kita kenal sebagai jurnal retur pembelian, yaitu pencatatan sistematis atas barang yang dikembalikan ke pemasok. Praktik yang benar memastikan saldo utang, persediaan, dan laba rugi tetap akurat, sehingga memudahkan audit dan pengambilan keputusan bisnis.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Pengertian Jurnal Retur Pembelian dan Fungsinya

      Jurnal retur pembelian adalah pencatatan akuntansi yang dilakukan ketika pembeli mengembalikan barang kepada penjual karena kerusakan, cacat, atau ketidaksesuaian pesanan, yang berakibat pada pengurangan utang atau pengembalian kas.

      Retur pembelian atau purchase return merupakan transaksi pengembalian barang dagang dari pembeli ke pemasok atau vendor. Transaksi ini terjadi karena ketidaksesuaian spesifikasi, kerusakan fisik, atau cacat produksi. Pencatatan segera melalui sistem pencatatan retur supplier memastikan kewajiban pembayaran kepada vendor berkurang secara sah, sekaligus mendukung strategi manajemen pengeluaran perusahaan untuk memantau dan mengoptimalkan belanja operasional secara menyeluruh.

      Retur pembelian atau purchase return merupakan transaksi pengembalian barang dagang dari pembeli ke pemasok atau vendor. Transaksi ini terjadi karena ketidaksesuaian spesifikasi, kerusakan fisik, atau cacat produksi. Pencatatan segera melalui sistem pencatatan retur supplier memastikan kewajiban pembayaran kepada vendor berkurang secara sah yang sekaligus membantu dalam manajemen pengeluaran perusahaan secara efisien.

      Fungsi utama jurnal ini dalam akuntansi adalah untuk menyeimbangkan neraca keuangan perusahaan secara akurat. Pencatatan yang tepat akan mengurangi akun utang dagang di sisi kewajiban atau menambah kas jika pembelian dilakukan tunai. Selain itu, jurnal ini berfungsi menyesuaikan nilai persediaan barang dagang agar data stok fisik sesuai dengan data di sistem.

      Data Insight

      Menurut data National Retail Federation (2022), rata-rata inventory shrinkage di industri ritel mencapai 1,4-1,6% dari total nilai persediaan. Sebagian besar disebabkan oleh kesalahan administrasi dan pencatatan manual. Di Indonesia, tantangan ini diperparah dengan kompleksitas pelaporan e-Faktur ke DJP.

      Dokumen Penting dalam Proses Retur Pembelian

      Sebelum masuk ke teknis penjurnalan, Anda perlu memahami bahwa setiap retur harus memiliki landasan bukti transaksi yang sah. Tanpa dokumen pendukung yang valid, transaksi retur bisa dianggap tidak sah oleh auditor maupun otoritas pajak. Berikut adalah dua dokumen utama yang wajib Anda siapkan.

      1. Nota Debit (Debit Memo)

      Nota debit adalah dokumen formal yang dikirimkan oleh pembeli kepada penjual sebagai pemberitahuan bahwa akun utang penjual telah didebet (dikurangi). Dokumen ini wajib mencantumkan nomor invoice referensi, tanggal transaksi, dan alasan spesifik pengembalian barang. Keberadaan nota debit menjadi bukti otentik bagi tim keuangan untuk melakukan jurnal pengurangan utang usaha.

      2. Nota Retur Pajak (Untuk PKP)

      Bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP), menerbitkan Nota Retur Pajak adalah kewajiban mutlak sesuai regulasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dokumen ini berfungsi untuk mengurangi Pajak Masukan yang telah dikreditkan sebelumnya pada masa pajak terkait. Kelalaian dalam menerbitkan dokumen ini dapat menyebabkan sengketa perpajakan dan ketidaksesuaian data di e-Faktur.

      Checklist Kelengkapan Dokumen Sebelum Penjurnalan

      Dokumen Fungsi untuk Penjurnalan Checklist
      PO (Purchase Order) awal Referensi harga dan kuantitas yang disepakati
      Invoice/Faktur Pembelian asli Dasar nilai utang yang akan dikurangi
      Surat Jalan / Delivery Order Bukti penerimaan barang awal
      Berita Acara Pemeriksaan Barang Dokumentasi kondisi barang saat diterima
      Nota Debit Dasar pencatatan jurnal retur
      Nota Retur Pajak (jika PKP) Koreksi PPN Masukan di e-Faktur
      Konfirmasi tertulis dari vendor Bukti persetujuan retur diterima

      Contoh Pencatatan dan Simulasi Transaksi

      Bagian ini memandu Anda melakukan simulasi pencatatan transaksi sehari-hari. Skenario dibagi menjadi pembelian kredit, tunai, dan transaksi dengan PPN.

      1. Pengembalian Barang dari Pembelian Kredit

      PT Maju Jaya mengembalikan barang senilai Rp5.000.000 karena cacat kepada vendor. Barang dibeli secara kredit dan belum dibayar.

      Akun Debet Kredit
      Utang Dagang Rp5.000.000
      Persediaan Barang Dagang Rp5.000.000

      Logika: Utang berkurang (debet) karena kewajiban bayar vendor turun. Persediaan berkurang (kredit) karena barang keluar.

      2. Pengembalian Barang dari Pembelian Tunai

      Barang senilai Rp2.000.000 dikembalikan dan vendor mentransfer balik dananya ke rekening perusahaan.

      Akun Debet Kredit
      Kas / Bank Rp2.000.000
      Persediaan Barang Dagang Rp2.000.000

      Logika: Kas bertambah (debet) karena menerima refund. Persediaan berkurang (kredit) karena barang dikembalikan.

      3. Pencatatan Retur dengan PPN Masukan

      Transaksi yang melibatkan PPN memerlukan penyesuaian pada akun Pajak Masukan. Nilai barang retur Rp10.000.000 dengan PPN 11%, total pengurangan utang Rp11.100.000.

      Akun Debet Kredit
      Utang Dagang Rp11.100.000
      Persediaan Barang Dagang Rp10.000.000
      PPN Masukan Rp1.100.000

      Penting: Jangan lupa menerbitkan Nota Retur Pajak agar PPN Masukan yang dikreditkan di SPT dapat dikurangi.

      Perbedaan Metode Perpetual dan Periodik

      Metode perpetual mencatat retur dengan langsung mengurangi akun Persediaan, sedangkan metode periodik menggunakan akun sementara Retur Pembelian yang baru disesuaikan di akhir periode.

      Pendekatan pencatatan inventaris sangat mempengaruhi akun yang digunakan dalam jurnal retur pembelian Anda. Pada metode periodik (fisik), retur dicatat dalam akun “Retur Pembelian dan Pengurangan Harga” yang terpisah dari stok. Sebaliknya, metode perpetual langsung mengkredit akun “Persediaan Barang Dagang” setiap kali terjadi retur, memberikan gambaran nilai aset yang lebih real-time.

      Berdasarkan pengalaman saya menangani klien ritel modern, metode perpetual jauh lebih disarankan untuk bisnis dengan volume transaksi tinggi. Metode ini memungkinkan Anda melacak saldo persediaan setiap saat tanpa menunggu stock opname akhir bulan. Penggunaan aplikasi pencatatan transaksi keuangan sangat membantu penerapan metode perpetual ini secara otomatis, yang mempermudah proses jurnal penghapusan piutang tak tertagih yang terkait dengan penjualan dan retur barang.

      Kapan Metode Perpetual Lebih Tepat Dibandingkan dengan Metode Periodik?

      Metode perpetual mengakui retur secara langsung dengan mengurangi akun persediaan, sementara metode periodik mencatat retur di akun sementara “Retur Pembelian”, yang baru disesuaikan pada akhir periode.

      Pendekatan dalam pencatatan inventaris memengaruhi akun yang digunakan untuk mencatat transaksi retur. Dalam metode periodik (fisik), retur dicatat dalam akun “Retur Pembelian dan Pengurangan Harga”, yang terpisah dari stok. Sebaliknya, metode perpetual langsung mengkredit akun “Persediaan Barang Dagang” setiap kali terjadi pengembalian barang, memberikan gambaran nilai aset yang lebih up-to-date.

      Pertimbangkan untuk menggunakan metode perpetual jika bisnis Anda memiliki volume transaksi yang tinggi atau banyak SKU. Metode ini memungkinkan pelacakan saldo persediaan secara real-time tanpa menunggu stock opname di akhir bulan. Penggunaan sistem akuntansi terintegrasi dapat membantu penerapan metode perpetual ini secara otomatis.

      Penerapan Pencatatan Terintegrasi oleh Perusahaan-perusahaan Besar di Indonesia

      Menurut studi akademis dan publikasi dari ResearchGate (2013-2024), penerapan sistem terintegrasi dalam pencatatan persediaan dan transaksi terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional. Berikut adalah dua contoh studi kasus dari perusahaan manufaktur besar di Indonesia yang berhasil memanfaatkan sistem terintegrasi:

      1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk

      Latar Belakang: Sebagai produsen mie instan terbesar di dunia dengan 14 pabrik dan lebih dari 8 miliar paket produk yang diproduksi setiap tahunnya, Indofood menghadapi tantangan yang signifikan dalam pengelolaan persediaan dan transaksi antar divisi.

      Solusi: Indofood mengimplementasikan sistem yang mencakup modul Financial Accounting (FI), Material Management (MM), dan Sales & Distribution (SD). Sistem ini diintegrasikan dengan manajemen rantai pasokan dan business intelligence.

      Hasil: Setiap transaksi retur yang terjadi di gudang manapun otomatis tersinkronisasi dengan sistem pusat. Hal ini memungkinkan pemeliharaan kondisi persediaan yang optimal di gudang, sekaligus memastikan kebutuhan produksi seluruh varian produk dapat terpenuhi.

      2. PT Unilever Indonesia Tbk

      Latar Belakang: Sebelum implementasi sistem terintegrasi, Unilever global mengoperasikan lebih dari 250 sistem ERP berbeda di 190 negara, yang memproses sekitar 30.000 transaksi per menit. Fragmentasi sistem ini menyulitkan konsolidasi data keuangan di tingkat global.

      Solusi: Pada tahun 2009, Unilever Indonesia beralih ke sistem akuntansi terintegrasi. Secara global, Unilever mengonsolidasikan 250 sistem menjadi 4 instance ERP.

      Hasil: Waktu untuk menutup buku bulanan berkurang signifikan, dari 3 hari menjadi hanya 1 hari. Implementasi software akuntansi pada 4 instance global memakan 16 minggu, dengan sistem baru yang mampu memproses hingga 60.000 transaksi per menit, termasuk pencatatan jurnal pengembalian barang ke supplier secara otomatis, serta mempermudah pengelolaan account suspense untuk transaksi yang belum jelas alokasinya.

      Kesimpulan

      Jurnal retur pembelian mencatat pengembalian barang ke supplier akibat kerusakan, ketidaksesuaian, atau cacat produksi. Pencatatan yang tepat menjaga saldo utang, persediaan, dan laporan keuangan tetap akurat serta memudahkan audit dan pengambilan keputusan bisnis.

      Penerapan metode perpetual dan sistem terintegrasi membuat retur tercatat real-time, mengurangi kesalahan manual, dan meningkatkan efisiensi operasional. Jika Anda membutuhkan software akuntansi yang dapat mengotomatisasi jurnal retur pembelian, hubungi tim kami untuk berkonsultasi gratis.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Jurnal Retur Pembelian

      • Apa Perbedaan Retur Pembelian Dan Pengurangan Harga?

        Retur pembelian adalah pengembalian fisik barang kepada penjual karena ketidaksesuaian atau kerusakan. Sedangkan pengurangan harga adalah potongan harga yang diberikan penjual kepada pembeli atas barang cacat yang tetap diterima pembeli, tanpa pengembalian fisik barang.

      • Apakah Retur Pembelian Mengurangi Harga Pokok Penjualan (HPP)

        Secara tidak langsung, ya. Retur pembelian mengurangi nilai Pembelian Bersih dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan. Penurunan nilai pembelian bersih ini pada akhirnya akan menurunkan total HPP jika variabel lain dianggap konstan.

      • Apa Saldo Normal Akun Retur Pembelian?

        Saldo normal akun Retur Pembelian adalah Kredit (K). Hal ini karena akun ini bersifat kontra atau pengurang terhadap akun Pembelian yang memiliki saldo normal Debet (D) dalam metode pencatatan periodik.

      • Bagaimana Perlakuan Akuntansi Jika Barang Yang Diretur Rusak?

        Jika barang rusak diretur, maka pencatatannya mengurangi utang dagang dan persediaan barang dagang. Namun, jika barang rusak tersebut tidak bisa diretur dan dimusnahkan, maka nilainya harus dibebankan sebagai kerugian kerusakan barang atau beban lain-lain.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya