Pernahkah Anda berpikir apakah semua piutang di neraca benar-benar bisa ditagih? Nilai piutang besar sering terlihat sehat, tapi kenyataannya sebagian bisa jadi tidak realistis. Menilai aset lancar secara akurat adalah kunci keputusan finansial yang tepat.
Hal inilah yang dinamakan jurnal penghapusan piutang, yaitu pencatatan sistematis untuk menghapus piutang tak tertagih. Praktik ini menjaga laporan keuangan realistis, memengaruhi laba, likuiditas, dan kualitas keputusan manajemen secara menyeluruh.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Mengapa Penghapusan Piutang Perlu Dilakukan
Penghapusan piutang merupakan penyesuaian akuntansi untuk mengeluarkan piutang yang secara realistis tidak lagi dapat ditagih dari pembukuan. Proses ini, yang dikenal sebagai jurnal penghapusan piutang macet, bertujuan menjaga agar laporan keuangan mencerminkan nilai aset yang wajar. Di tengah proses ini, pencatatan yang tepat juga memungkinkan perusahaan menghitung rasio biaya operasional, sehingga efisiensi pengelolaan piutang dan pengeluaran bisa lebih terukur.
Tanpa penghapusan yang tepat waktu, piutang macet dapat menyebabkan:
- Nilai aset lancar menjadi overstated
- Laba bersih terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya
- Rasio keuangan tidak mencerminkan risiko yang ada
Selain berdampak pada laporan keuangan, piutang yang sudah tidak collectible juga membebani operasional karena terus menyerap waktu dan biaya penagihan tanpa hasil yang sepadan.
Metode Jurnal Penghapusan Piutang
Secara umum, terdapat dua metode yang digunakan dalam pencatatan penghapusan piutang, yaitu metode langsung dan metode cadangan.
1. Metode Langsung (Direct Write-Off)
Metode langsung mencatat beban kerugian piutang pada saat piutang benar-benar dinyatakan tidak tertagih. Pendekatan ini relatif sederhana, namun tidak mengikuti prinsip matching karena beban diakui di periode yang berbeda dengan pendapatan.
Metode ini umumnya digunakan oleh bisnis dengan volume piutang kecil dan risiko kredit yang tidak material.
2. Metode Cadangan (Allowance Method)
Metode cadangan mengharuskan perusahaan mengestimasi potensi piutang tidak tertagih di setiap akhir periode. Estimasi tersebut dicatat sebagai cadangan kerugian piutang yang mengurangi nilai piutang usaha di neraca.
Pendekatan ini lebih sesuai dengan PSAK karena beban diakui pada periode yang sama dengan pendapatan, sehingga laporan laba rugi menjadi lebih stabil dan nilai piutang mencerminkan net realizable value.
Dengan dukungan sistem akuntansi berbasis AI, proses estimasi dapat dilakukan secara lebih akurat dengan memanfaatkan data historis transaksi.
Contoh Kasus dan Jurnal Akuntansi
Untuk memahami penerapannya secara nyata, mari kita simulasikan sebuah skenario bisnis yang sering terjadi di lapangan. Anggaplah PT Sukses Makmur memiliki piutang kepada pelanggan sebesar Rp10.000.000 yang dipastikan macet pada tahun 2026. Berikut adalah perbandingan pencatatan jurnalnya berdasarkan kedua metode di atas.
Jurnal Metode Langsung
Pada metode ini, perusahaan langsung mendebit akun Beban Kerugian Piutang dan mengkredit Piutang Usaha saat keputusan penghapusan dibuat. Jurnalnya adalah: (Debit) Beban Kerugian Piutang Rp10.000.000 dan (Kredit) Piutang Usaha Rp10.000.000. Cara ini sangat instan tetapi bisa membuat laba periode berjalan terlihat anjlok secara tiba-tiba.
Jurnal Metode Cadangan
Pada metode ini, perusahaan sudah membentuk cadangan di akhir periode sebelumnya melalui jurnal penyesuaian: (Debit) Beban Kerugian Piutang dan (Kredit) Cadangan Kerugian Piutang. Saat piutang benar-benar dihapus, jurnalnya adalah: (Debit) Cadangan Kerugian Piutang Rp10.000.000 dan (Kredit) Piutang Usaha Rp10.000.000. Ini menjaga stabilitas beban pada laporan laba rugi.
Syarat Penghapusan Piutang Secara Fiskal (Pajak)
Penting untuk diingat bahwa Dirjen Pajak memiliki aturan ketat mengenai piutang yang boleh dibiayakan sebagai pengurang penghasilan bruto. Berdasarkan peraturan perpajakan di Indonesia (seperti PMK No. 74/2022), piutang tidak bisa dihapus sembarangan tanpa bukti administrasi yang valid. Anda harus memastikan kepatuhan ini agar tidak terjadi koreksi fiskal saat pelaporan SPT Tahunan.
Syarat utamanya meliputi piutang tersebut telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial dan telah menyerahkan daftar piutang tak tertagih kepada Direktorat Jenderal Pajak. Selain itu, kasus penagihan harus telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara. Alternatifnya, harus ada perjanjian tertulis mengenai penghapusan utang antara kreditur dan debitur.
Ambang Batas Aging Piutang yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua piutang yang melewati jatuh tempo harus langsung dihapus. Namun, piutang dengan usia tertentu perlu dievaluasi karena dapat memengaruhi kualitas aset dan arus kas perusahaan.
Dalam praktik umum, piutang dengan aging di atas 90 hari sering dijadikan titik evaluasi untuk menentukan langkah lanjutan, seperti pembentukan cadangan kerugian piutang atau pencatatan penghapusan piutang tak tertagih apabila risiko gagal bayar semakin tinggi. Analisis piutang ini juga membantu perencanaan dan penyesuaian anggaran produksi agar arus kas dan biaya operasional tetap seimbang.
Pendekatan berbasis umur piutang membantu manajemen mengambil keputusan yang lebih objektif dan menjaga agar nilai piutang yang tercatat tetap realistis.
Strategi Pencegahan Piutang Tidak Tertagih
Pencegahan piutang tak tertagih sebaiknya dilakukan sejak awal pemberian kredit kepada pelanggan. Strategi yang tepat dapat membantu menjaga arus kas dan mengurangi risiko bad debt.
Beberapa langkah yang umum diterapkan meliputi:
- Pemantauan umur piutang secara berkala.
- Penetapan limit kredit berdasarkan riwayat pembayaran.
- Pengingat pembayaran yang konsisten.
Dalam praktiknya, strategi pencegahan piutang akan lebih mudah dijalankan jika pencatatan keuangan dilakukan secara rapi dan konsisten. Pemantauan umur piutang, batas kredit, hingga status penagihan akan sulit optimal jika masih bergantung pada pencatatan manual.
Karena itu, banyak bisnis mulai mengandalkan software akuntansi untuk membantu memantau piutang secara terstruktur dan mengurangi risiko keterlambatan pembayaran tanpa mengganggu proses penjualan.
Kesimpulan
Penghapusan piutang diperlukan untuk menjaga agar laporan keuangan mencerminkan kondisi aset yang realistis dan dapat direalisasikan. Mempertahankan piutang yang sudah tidak tertagih berisiko menyesatkan penilaian terhadap laba, likuiditas, dan kesehatan keuangan perusahaan.
Pemilihan metode pencatatan yang tepat serta evaluasi umur piutang membantu mengurangi risiko piutang macet dan menjaga stabilitas keuangan. Jika Anda membutuhkan software akuntansi yang dapat membantu jurnal penghapusan piutang, hubungi tim kami untuk berkonsultasi gratis.
Pertanyaan Seputar Jurnal Penghapusan Piutang
-
Apa Bedanya Metode Langsung Dan Metode Cadangan?
Metode langsung mencatat beban saat piutang benar-benar macet, sedangkan metode cadangan mengestimasi kerugian di awal periode. Metode cadangan lebih sesuai dengan standar akuntansi karena mematuhi prinsip penandingan pendapatan dan beban.
-
Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Menghapus Piutang?
Penghapusan piutang sebaiknya dilakukan setelah semua upaya penagihan maksimal telah gagal dilakukan. Waktu yang tepat biasanya ditentukan oleh kebijakan internal perusahaan atau ketika ada bukti hukum ketidakmampuan bayar debitur.
-
Apa Syarat Agar Penghapusan Piutang Diakui Pajak?
Agar diakui sebagai biaya fiskal, penghapusan piutang harus memenuhi syarat dalam PMK No. 74/2022. Syaratnya meliputi pembebanan di laporan komersial, penyerahan perkara ke pengadilan/instansi pemerintah, atau adanya perjanjian tertulis penghapusan utang.
-
Apakah Piutang Yang Sudah Dihapus Bisa Ditagih Kembali?
Ya, piutang yang sudah dihapus masih bisa ditagih kembali jika kondisi keuangan debitur membaik. Jika pelunasan terjadi, perusahaan harus membuat jurnal pemulihan piutang (recovery entry) untuk mencatat penerimaan kas tersebut.





