CNBC Awards

Employee Engagement Strategy: Cara Meningkatkan Kinerja

Diterbitkan:

Banyak perusahaan menghadapi masalah serius karena karyawan merasa disengaged, sehingga produktivitas menurun dan risiko turnover meningkat. Inilah alasan employee engagement strategy menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar opsi tambahan.

Dengan strategi employee engagement yang baik, karyawan akan berperforma lebih baik dan kinerja karyawan juga akan terus meningkat. Di sisi lain, tanpa strategi employee engagement, performa karyawan dapat menurun yang dapat berdampak buruk ke performa perusahaan secara keseluruhan.

Untuk memaksimalkan kinerja karyawan, mari kita susun strategi employee engagement untuk mendapatkan hasil performa terbaik dari staff yang dimiliki. Simak artikel ini hingga akhir untuk mempelajari detailnya.

Key Takeaways

  • Employee engagement adalah tingkat komitmen emosional karyawan terhadap pekerjaannya dan tujuan perusahaan.
  • Strategi employee engagement dibangun melalui kepemimpinan suportif, pengembangan karir, kesejahteraan, komunikasi, apresiasi, dan teknologi.
  • Cara mengukur keberhasilan strategi employee engagement adalah dengan eNPS, turnover rate karyawan, tingkat absensi, hasil survei, dan metrik produktivitas.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Employee Engagement?

      Employee engagement atau keterlibatan karyawan sering disalahartikan sebagai kebahagiaan atau kepuasan kerja semata. Padahal, konsep ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dan berdampak langsung pada kinerja bisnis. Secara fundamental, employee engagement adalah tingkat komitmen emosional dan dedikasi yang dimiliki seorang karyawan terhadap perusahaan serta tujuannya.

      Ini bukan sekadar tentang menyelesaikan tugas, melainkan tentang seberapa besar karyawan peduli terhadap pekerjaan dan keberhasilan perusahaan. Karyawan yang benar-benar terlibat akan proaktif memberikan upaya terbaik mereka karena merasa memiliki tujuan yang sama dengan organisasi. Mereka adalah aset strategis yang mendorong inovasi dari dalam.

      Mengapa Strategi Employee Engagement Menjadi Prioritas Utama Bisnis Modern?

      Mengabaikan employee engagement sama artinya dengan membiarkan potensi pertumbuhan bisnis yang signifikan tidak termanfaatkan. Strategi yang terencana bukanlah program HR tambahan, melainkan investasi strategis yang memberikan keuntungan berlipat. Menurut studi oleh Gallup, perusahaan dengan tingkat keterlibatan tinggi secara konsisten mengungguli para pesaingnya.

      Data menunjukkan bahwa unit bisnis dengan karyawan yang sangat terlibat melaporkan profitabilitas 23% lebih tinggi dan produktivitas 18% lebih baik. Angka-angka ini membuktikan bahwa keterlibatan karyawan secara langsung mendorong hasil finansial yang superior. Hal ini menjadikan engagement sebagai metrik bisnis yang krusial, bukan sekadar metrik kepuasan.

      Dampak dari strategi yang efektif juga melampaui laporan keuangan. Ini adalah fondasi untuk membangun budaya kerja yang sehat, inovatif, dan tangguh. Perusahaan dengan karyawan terlibat cenderung memiliki tingkat retensi yang lebih baik, mengurangi biaya rekrutmen dan pelatihan karyawan baru secara signifikan, serta menarik lebih banyak talenta berkualitas.

      Pilar Utama dalam Membangun Strategi Employee Engagement yang Berkelanjutan

      Strategi employee engagement yang efektif tidak dibangun di atas program-program sporadis atau tunjangan sesaat. Sebaliknya, ia harus berdiri di atas pilar-pilar fundamental yang saling mendukung untuk menciptakan ekosistem kerja yang positif. Memahami setiap pilar ini akan memastikan bahwa upaya Anda memiliki dampak jangka panjang.

      Pilar-pilar ini mencakup segala hal mulai dari kepemimpinan, budaya, hingga cara perusahaan mendukung pertumbuhan setiap individu. Dengan memperkuat setiap pilar, Anda tidak hanya meningkatkan metrik keterlibatan, tetapi juga membangun organisasi yang lebih manusiawi. Mari kita telaah lebih dalam setiap komponen penting ini.

      A. Kepemimpinan yang mendukung dan budaya perusahaan yang positif

      Kepemimpinan adalah faktor penentu utama dalam membentuk tingkat keterlibatan karyawan di sebuah organisasi. Manajer dan pemimpin yang suportif, empatik, dan transparan menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa aman secara psikologis untuk menyuarakan ide dan kekhawatiran. Mereka tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga bertindak sebagai coach yang memberdayakan timnya untuk bertumbuh dan berhasil. Budaya perusahaan yang positif, yang menghargai kolaborasi, inklusivitas, dan rasa saling menghormati, adalah hasil langsung dari kepemimpinan yang efektif dan menjadi fondasi bagi semua inisiatif engagement lainnya.

      B. Peluang pengembangan karir dan pertumbuhan profesional

      Karyawan modern tidak lagi hanya mencari pekerjaan, tetapi mereka mencari jalur karir yang jelas. Memberikan peluang untuk pengembangan diri dan pertumbuhan profesional adalah salah satu pendorong keterlibatan yang paling kuat. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berinvestasi pada masa depan karyawannya, bukan hanya memanfaatkan keterampilan mereka saat ini. Program seperti pelatihan, upskilling, reskilling, dan jalur karir yang terstruktur memberikan karyawan tujuan yang jelas dan rasa kemajuan, yang secara signifikan meningkatkan motivasi dan loyalitas mereka terhadap perusahaan.

      C. Kesejahteraan dan keseimbangan kerja-hidup (Work-Life Balance)

      Di dunia kerja pasca-pandemi, kesejahteraan karyawan telah menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Karyawan yang merasa kelelahan (burnout) atau stres secara kronis tidak mungkin bisa memberikan kinerja terbaiknya. Pilar ini mencakup dukungan terhadap kesehatan mental dan fisik, serta penerapan kebijakan yang memungkinkan keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal. Kebijakan kerja yang fleksibel, program kesehatan, dan budaya yang tidak menuntut karyawan untuk selalu “on” adalah elemen kunci yang menunjukkan bahwa perusahaan peduli terhadap karyawannya sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya sebagai sumber daya.

      D. Komunikasi terbuka dan transparan

      Ketidakpastian dan kurangnya informasi adalah pembunuh utama dari keterlibatan karyawan. Komunikasi yang terbuka, jujur, dan dua arah membangun fondasi kepercayaan yang kuat antara manajemen dan karyawan. Ketika karyawan memahami visi perusahaan, tantangan yang dihadapi, dan bagaimana peran mereka berkontribusi pada gambaran besar, mereka akan merasa lebih terhubung dan memiliki rasa kepemilikan. Budaya di mana feedback diterima dengan baik, baik dari atas ke bawah maupun sebaliknya, memastikan bahwa setiap orang merasa didengar dan menjadi bagian dari solusi.

      E. Pengakuan dan apresiasi (Recognition and Appreciation)

      Setiap orang ingin merasa bahwa kontribusi mereka dihargai. Pengakuan dan apresiasi adalah cara yang sangat efektif namun sering diabaikan untuk meningkatkan moral dan keterlibatan. Pilar ini lebih dari sekadar bonus tahunan; ini tentang memberikan pengakuan yang tulus, spesifik, dan tepat waktu atas kerja keras dan pencapaian karyawan. Program pengakuan yang terstruktur, baik formal maupun informal, dapat secara dramatis meningkatkan motivasi dan memperkuat perilaku positif yang sejalan dengan nilai-nilai perusahaan.

      F. Peran teknologi sebagai enabler utama

      Dalam skala organisasi yang modern, mengelola semua pilar di atas secara manual adalah hal yang tidak efisien. Teknologi, khususnya platform HR yang terintegrasi, memainkan peran krusial sebagai enabler. Sistem ini membantu mengotomatisasi proses seperti survei keterlibatan, manajemen kinerja, pelacakan tujuan, dan program pengakuan. Dengan data yang terpusat dan analitik yang kuat, teknologi memungkinkan para pemimpin untuk membuat keputusan berbasis data, mempersonalisasi pengalaman karyawan, dan mengukur dampak dari setiap inisiatif engagement secara akurat.

      15 Strategi Employee Engagement Praktis untuk Diimplementasikan

      Setelah memahami pilar dasarnya, langkah selanjutnya adalah menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata. Teori tanpa eksekusi tidak akan memberikan hasil, sehingga diperlukan serangkaian strategi yang aplikatif dan terukur. Strategi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari interaksi manajer dengan tim hingga lingkungan kerja yang diciptakan.

      Penting untuk diingat bahwa tidak semua strategi akan memberikan dampak yang sama di setiap perusahaan. Kuncinya adalah memilih dan mengadaptasi strategi yang paling sesuai dengan budaya, skala, dan tujuan bisnis Anda. Berikut adalah 15 strategi praktis yang telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan karyawan.

      1. Latih Manajer untuk Menjadi Coach, Bukan Sekadar Bos
        Manajer memiliki dampak paling langsung terhadap pengalaman harian karyawan. Latih mereka untuk beralih dari gaya manajemen mikro menjadi seorang coach yang memberdayakan. Ajarkan mereka cara memberikan feedback konstruktif, mendengarkan secara aktif, dan membantu anggota tim mengatasi tantangan untuk mencapai tujuan karir mereka.
      2. Ciptakan Budaya Feedback yang Konstruktif dan Berkelanjutan
        Gantikan tinjauan kinerja tahunan yang kaku dengan budaya feedback berkelanjutan. Gunakan sesi one-on-one mingguan atau dua mingguan untuk membahas kemajuan, tantangan, dan memberikan umpan balik secara langsung. Ini membangun kepercayaan dan memungkinkan penyesuaian kinerja secara cepat.
      3. Terapkan Transparansi Radikal dalam Visi dan Kinerja Perusahaan
        Bagikan informasi tentang tujuan, tantangan, dan kinerja perusahaan secara terbuka kepada seluruh karyawan. Ketika karyawan memahami konteks bisnis, mereka akan merasa lebih terhubung dengan misi perusahaan. Transparansi ini juga menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap timnya.
      4. Buat Jalur Karir (Career Pathing) yang Jelas dan Terstruktur
        Karyawan yang melihat masa depan di perusahaan cenderung lebih terlibat. Bekerja sama dengan karyawan untuk memetakan jalur karir potensial mereka, lengkap dengan kompetensi yang perlu dikembangkan di setiap tahap. Ini memberikan mereka tujuan jangka panjang yang jelas.
      5. Sediakan Program Mentoring Lintas Departemen
        Hubungkan karyawan junior dengan pemimpin atau karyawan senior dari departemen yang berbeda. Program mentoring tidak hanya mempercepat pengembangan keterampilan, tetapi juga membangun jaringan internal yang kuat. Ini juga membantu menyebarkan pengetahuan dan budaya perusahaan secara organik.
      6. Investasikan pada Pelatihan Keterampilan (Upskilling & Reskilling)
        Dunia kerja terus berubah, dan karyawan ingin tetap relevan. Tawarkan akses ke kursus online, lokakarya, atau sertifikasi yang relevan dengan peran mereka saat ini dan di masa depan. Investasi ini menunjukkan bahwa perusahaan peduli terhadap pertumbuhan profesional mereka.
      7. Prioritaskan Kesejahteraan Mental dan Fisik Karyawan
        Kesejahteraan bukan lagi sekadar tunjangan, melainkan kebutuhan dasar. Sediakan akses mudah ke sumber daya kesehatan mental, adakan sesi mindfulness, dan dorong budaya kerja yang menghormati waktu istirahat. Karyawan yang sehat secara fisik dan mental akan lebih produktif dan terlibat.
      8. Tawarkan Fleksibilitas Kerja yang Bermakna                           
        Fleksibilitas bukan hanya tentang kerja dari rumah, tetapi tentang memberikan otonomi kepada karyawan untuk mengatur cara dan waktu mereka bekerja. Selama hasil tercapai, berikan kepercayaan kepada mereka untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ini adalah bentuk kepercayaan yang sangat dihargai.
      9. Bangun Program Pengakuan (Recognition Program) yang Spesifik dan Tepat Waktu
        Buat sistem yang memudahkan manajer dan rekan kerja untuk memberikan pengakuan atas pencapaian, sekecil apa pun itu. Pengakuan yang spesifik (“terima kasih telah membantu menyelesaikan masalah klien X”) jauh lebih berdampak daripada pujian umum. Lakukan ini secara konsisten, bukan hanya saat tinjauan kinerja.
      10. Sempurnakan Proses Onboarding untuk Karyawan Baru
        Kesan pertama sangat penting. Rancang proses onboarding yang terstruktur selama 90 hari pertama, yang tidak hanya mencakup pelatihan teknis tetapi juga pengenalan budaya perusahaan. Pastikan mereka memiliki seorang “buddy” atau mentor untuk membantu mereka beradaptasi.
      11. Sediakan Tools dan Teknologi yang Mendukung Produktivitas
        Tidak ada yang lebih membuat frustrasi daripada bekerja dengan alat yang lambat atau tidak efisien. Pastikan karyawan memiliki perangkat keras dan perangkat lunak yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Ini menunjukkan bahwa perusahaan menghargai waktu dan upaya mereka.
      12. Berdayakan Karyawan dengan Otonomi dan Rasa Kepemilikan
        Beri karyawan tanggung jawab atas proyek atau area kerja mereka dan biarkan mereka membuat keputusan. Otonomi menumbuhkan rasa kepemilikan dan akuntabilitas. Ini mengirimkan pesan bahwa Anda mempercayai penilaian dan kemampuan mereka.
      13. Perjelas Peran, Tanggung Jawab, dan Ekspektasi Kinerja
        Setiap karyawan harus tahu dengan jelas apa yang diharapkan dari mereka, bagaimana kesuksesan diukur, dan bagaimana peran mereka berkontribusi pada tujuan tim dan perusahaan. Kejelasan ini menghilangkan ambiguitas dan memungkinkan karyawan untuk fokus pada hal yang paling penting.
      14. Dorong Kolaborasi dan Pembangunan Hubungan Sosial
        Manusia adalah makhluk sosial. Fasilitasi kegiatan yang memungkinkan karyawan berinteraksi di luar konteks pekerjaan, seperti acara tim, klub minat, atau proyek sukarela. Hubungan yang kuat antar rekan kerja adalah perekat budaya perusahaan.
      15. Lakukan “Stay Interview” untuk Memahami Motivasi Karyawan Terbaik
        Jangan menunggu hingga exit interview untuk mengetahui apa yang salah. Lakukan “stay interview” secara berkala dengan karyawan berkinerja tinggi. Tanyakan apa yang membuat mereka bertahan, apa yang mereka sukai dari pekerjaan mereka, dan apa yang bisa diperbaiki.

      Study Case: Strategi Apple untuk Meningkatkan Employee Engagement

      Apple seperti yang banyak orang ketahui adalah salah satu perusahaan manufaktur smartphone dan mobile device terbesar di dunia. Dengan angka sales yang terus meningkat, Apple menjadi patokan dan pemimpin industri untuk banyak brand smartphone lainnya. Namun, yang perlu diketahui adalah kesuksesan Apple bukan hanya karena konsep dan ide mereka melainkan kinerja karyawan mereka yang tidak tersaingi.

      Mungkin Anda bertanya, bagaima Apple dapat memiliki karyawan-karyawan yang sangat produktif dan sangat berkontribusi untuk perusahaan mereka. Jawabannya cukup simple, mereka menggunakan strategi employee engagement yang efektif. Strategi employee engagement ini dapat dilihat dari titik seorang employee bekerja di Apple, mereka diberikan Iphone dan device-device dari Apple secara gratis. Aksi ini walaupun sederhana, memberikan karyawan rasa bahwa mereka di apresiasi sehingga kinerja dan semangat kerja mereka meningkat.

      Dengan karyawan yang semangat, sistem pengelolaan SDM yang canggih, dan kemampuan untuk mengidentifikasi talenta dengan efektif, tidak heran Apple berada di posisi mereka sekarang. Ini menjadi contoh bahwa employee engagement strategy dapat berperan besar terhadap performa dan keberhasilan suatu bisnis.

      Langkah-Langkah Implementasi Strategi Employee Engagement

      Memiliki daftar strategi adalah awal yang baik, namun eksekusi yang terstruktur adalah kunci keberhasilan. Banyak perusahaan gagal bukan karena kekurangan ide, melainkan karena tidak adanya rencana implementasi yang jelas dan terukur. Proses ini memerlukan pendekatan metodis yang dimulai dari pemahaman kondisi saat ini hingga evaluasi berkelanjutan.

      Pendekatan langkah-demi-langkah ini akan membantu Anda mengubah niat baik menjadi program yang terorganisir. Dengan mengikuti kerangka kerja ini, Anda dapat memastikan setiap sumber daya yang diinvestasikan memberikan hasil maksimal. Berikut adalah tahapan kunci untuk meluncurkan strategi employee engagement secara efektif.

      • Lakukan Asesmen Awal dengan Survei Keterlibatan
        Langkah pertama adalah memahami titik awal Anda. Gunakan survei anonim untuk mengukur tingkat keterlibatan saat ini dan mengidentifikasi area yang menjadi perhatian utama karyawan. Pastikan pertanyaan mencakup semua pilar engagement, dari kepemimpinan hingga kesejahteraan.
      • Analisis Data untuk Mengidentifikasi Area Prioritas
        Setelah data terkumpul, analisislah untuk menemukan tren dan pola. Area mana yang mendapat skor terendah? Departemen mana yang paling membutuhkan perhatian? Gunakan data ini untuk menentukan 2-3 area prioritas yang akan menjadi fokus utama Anda dalam 6-12 bulan ke depan.
      • Bentuk Tim Lintas Fungsi (Cross-Functional Team)
        Jangan bebankan semua tanggung jawab pada tim HR. Bentuk tim yang terdiri dari perwakilan berbagai departemen dan tingkatan jabatan. Tim ini akan membantu merancang inisiatif yang relevan dan menjadi duta perubahan di area masing-masing.
      • Rancang Rencana Aksi (Action Plan) yang Spesifik dan Terukur
        Untuk setiap area prioritas, buatlah rencana aksi yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART). Misalnya, jika masalahnya adalah kurangnya pengakuan, rencana aksinya bisa berupa “Meluncurkan platform pengakuan peer-to-peer pada Kuartal 3″.
      • Komunikasikan Strategi dan Rencana Aksi ke Seluruh Organisasi
        Transparansi adalah kunci. Komunikasikan hasil survei (baik dan buruk), area prioritas yang dipilih, dan rencana aksi yang akan dijalankan. Ini menunjukkan bahwa Anda mendengarkan dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan.
      • Lakukan Monitoring, Evaluasi, dan Iterasi Secara Berkala
        Employee engagement adalah proses yang berkelanjutan. Lakukan survei denyut (pulse survey) yang lebih singkat secara berkala (misalnya, setiap kuartal) untuk memantau kemajuan. Evaluasi efektivitas setiap inisiatif dan jangan ragu untuk menyesuaikan rencana aksi Anda berdasarkan feedback dan data terbaru.

      Cara Mengukur Keberhasilan Strategi Employee Engagement Anda

      Prinsip “apa yang tidak bisa diukur, tidak bisa ditingkatkan” sangat relevan dalam konteks employee engagement. Tanpa metrik yang jelas, upaya Anda hanya akan menjadi serangkaian aktivitas tanpa arah. Pengukuran yang efektif memungkinkan Anda untuk memvalidasi dampak dari inisiatif yang telah dijalankan.

      Mengukur keberhasilan bukan sekadar melakukan survei tahunan. Diperlukan kombinasi metrik kuantitatif dan kualitatif yang memberikan gambaran holistik tentang kesehatan organisasi Anda. Metrik-metrik ini harus dilacak secara konsisten untuk mengidentifikasi tren dan pola yang muncul, memungkinkan Anda membuat keputusan yang lebih cerdas.

      • Employee Net Promoter Score (eNPS)
        Ini adalah metrik sederhana namun kuat yang mengukur seberapa besar kemungkinan karyawan merekomendasikan perusahaan Anda sebagai tempat bekerja. Pertanyaan intinya adalah: “Pada skala 0-10, seberapa besar kemungkinan Anda merekomendasikan perusahaan ini sebagai tempat bekerja?” Skor eNPS memberikan gambaran cepat tentang sentimen karyawan secara keseluruhan.
      • Tingkat Retensi dan Angka Turnover Karyawan
        Salah satu indikator paling jelas dari keterlibatan adalah apakah karyawan memilih untuk bertahan. Lacak tingkat *turnover* (terutama *voluntary turnover* atau pengunduran diri sukarela) dari waktu ke waktu. Penurunan angka *turnover* adalah tanda kuat bahwa strategi Anda berhasil.
      • Tingkat Absensi (Absenteeism Rate)
        Karyawan yang tidak terlibat cenderung lebih sering absen. Pantau tingkat absensi yang tidak direncanakan di seluruh organisasi. Penurunan tingkat absensi dapat menunjukkan peningkatan kesejahteraan dan keterlibatan karyawan secara umum.
      • Analisis Hasil Survei Engagement Kualitatif
        Selain angka, perhatikan juga jawaban kualitatif dari survei. Komentar dan saran dari karyawan memberikan konteks yang sangat berharga di balik skor kuantitatif. Analisis tema yang sering muncul dapat mengungkapkan masalah spesifik yang perlu segera ditangani.
      • Metrik Produktivitas dan Kinerja Bisnis
        Hubungkan upaya engagement Anda dengan hasil bisnis yang nyata. Lacak metrik seperti produktivitas per karyawan, tingkat kepuasan pelanggan, atau pencapaian target penjualan. Menunjukkan korelasi antara peningkatan engagement dan perbaikan metrik bisnis adalah cara terbaik untuk membuktikan ROI dari strategi Anda.

      Kesimpulan

      Employee engagement strategy adalah perjalanan berkelanjutan yang membutuhkan komitmen seluruh organisasi. Strategi yang efektif lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan karyawan dan fondasi budaya yang kuat.

      Pengaruh dari employee engagement strategy tidak dapat dipungkiri dimana banyak bisnis-bisnis yang paling sukses di dunia memiliki budaya kerja yang baik karena employee engagement strategy yang efektif. Dengan strategi ini, bisnis dapat memaksimalkan performa dari karyawan mereka dan meningkatkan profit bisnis mereka.

      Setelah membaca artikel ini, susunlah employee engagement strategy untuk bisnis Anda agar kinerja karyawan perusahaan Anda lebih maksimal. Apabila Anda ingin bertanya mengenai employee engagement strategy, Anda dapat berkonsultasi gratis dengan tim kami.

      HRM

      Pertanyaan Seputar Employee Engagement Strategy

      • Apa perbedaan utama antara employee engagement dan employee satisfaction?

        Kepuasan (satisfaction) bersifat transaksional, berfokus pada gaji dan fasilitas, sementara keterlibatan (engagement) bersifat emosional, yaitu tentang komitmen karyawan terhadap tujuan perusahaan.

      • Seberapa sering perusahaan sebaiknya melakukan survei employee engagement?

        Selain survei tahunan yang komprehensif, sangat disarankan untuk melakukan survei denyut (pulse survey) yang lebih singkat setiap kuartal. Ini membantu memantau sentimen karyawan secara real-time dan merespons masalah dengan lebih cepat.

      • Apakah strategi ini juga berlaku untuk bisnis skala kecil (UKM)?

        Tentu saja. Prinsipnya tetap sama, meskipun implementasinya dapat disesuaikan dengan skala yang lebih sederhana. UKM justru bisa lebih cepat beradaptasi karena komunikasi yang lebih pendek dan budaya yang lebih mudah dibentuk.

      • Bagaimana cara menjaga employee engagement di lingkungan kerja remote?

        Di lingkungan remote, kuncinya adalah komunikasi yang terstruktur dan disengaja. Jadwalkan one-on-one rutin, manfaatkan alat kolaborasi digital, dan ciptakan ritual virtual untuk menjaga hubungan sosial dan memastikan setiap orang merasa tetap terhubung dengan tim dan perusahaan.

      • Bagaimana cara menjaga employee engagement di lingkungan kerja remote?

        Di lingkungan remote, kuncinya adalah komunikasi yang terstruktur dan disengaja. Jadwalkan one-on-one rutin, manfaatkan alat kolaborasi digital, dan ciptakan ritual virtual untuk menjaga hubungan sosial dan memastikan setiap orang merasa tetap terhubung dengan tim dan perusahaan.

      • Siapa yang paling bertanggung jawab atas employee engagement?

        Meskipun HR memfasilitasi program, tanggung jawab utama terletak pada manajer lini langsung. Manajer adalah pihak yang berinteraksi setiap hari dengan tim dan memiliki pengaruh terbesar terhadap pengalaman kerja mereka.

      Reno Wicaksana

      Senior Content Writer on HRIS

      Reno adalah HRM Specialist dan senior content writer dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri teknologi dan manajemen sumber daya manusia. Secara konsisten mengangkat topik artikel seputar performance management, rekrutmen dan pengembangan SDM, manajemen talenta, dan sistem HRIS untuk pengelolaan karyawan.

      Jessica adalah seorang pakar yang memiliki gelar Bachelor of Science (BSc) dalam Psychology dari University of London yang didukung oleh pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan dinamika organisasi. Latar belakang psikologi ini memberikan keahlian khusus dalam memahami motivasi karyawan, mengelola pengembangan talenta, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di dalam tim.. Selama sembilan tahun terakhir, Jessica mendalami bidang Human Resource Management, mengembangkan keahlian dalam strategi rekrutmen, pengelolaan kinerja, pengembangan organisasi, serta implementasi kebijakan HR yang mendukung budaya kerja positif dan pertumbuhan perusahaan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya