Service Level Agreement (SLA) kerap dianggap sekadar dokumen formalitas, padahal fungsinya jauh lebih strategis. SLA adalah kontrak yang mengatur standar layanan, lengkap dengan metrik dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Dengan SLA, ekspektasi antara klien dan penyedia jasa jadi lebih sinkron. Selain itu, SLA juga membantu meningkatkan akuntabilitas dan transparansi kerja sama bisnis.
Namun tanpa SLA yang jelas dan terukur, layanan bisa melenceng dari harapan, menimbulkan konflik, dan memperburuk reputasi. Karena itu, memahami cara menyusun dan menerapkan service level agreement yang efektif adalah langkah penting bagi setiap bisnis yang ingin berkembang secara profesional.
Daftar Isi:
Key Takeaways
|
Apa Itu Service Level Agreement (SLA)?
Pada intinya, Service Level Agreement (SLA) adalah sebuah kontrak yang mendefinisikan tingkat layanan yang diharapkan oleh pelanggan dari penyedia jasa. Dokumen ini mengubah janji-janji abstrak menjadi komitmen yang konkret dan terukur, termasuk saat layanan melibatkan vendor dan proses seperti pengadaan berbasis AI. SLA berfungsi untuk mengukur kinerja, menetapkan tanggung jawab, dan menentukan konsekuensi jika standar tidak terpenuhi.
Anggap saja SLA sebagai peta jalan untuk hubungan kerja, di mana setiap pihak tahu persis rute yang harus ditempuh. Dokumen ini menghilangkan area abu-abu yang sering menjadi sumber konflik dan kekecewaan. Dengan adanya SLA, diskusi tidak lagi berkisar pada asumsi, tetapi beralih ke data dan fakta yang objektif.
Mengapa SLA Menjadi Elemen Krusial bagi Bisnis Modern?
Di tengah operasional yang makin cepat, SLA membantu bisnis bekerja dengan standar yang sama, bukan asumsi. Tanpa kerangka yang jelas, evaluasi layanan cenderung subjektif dan eskalasi masalah bisa lebih lama karena tidak ada tolok ukur bersama.
SLA berfungsi sebagai tulang punggung operasional yang memastikan semua roda penggerak bisnis berputar sesuai ritme yang diharapkan. Ini adalah instrumen strategis yang fundamental untuk menyelaraskan harapan antara penyedia layanan dan klien. Dengan begitu, kedua belah pihak memiliki pemahaman yang sama tentang standar kinerja dan hasil yang diharapkan.
1. Menetapkan ekspektasi yang jelas dan terukur
SLA mengubah janji kualitatif menjadi target kuantitatif yang tidak ambigu, seperti uptime server 99,9% atau waktu respons tiket dukungan maksimal 30 menit. Kejelasan ini memastikan kedua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai apa yang dianggap layanan yang berhasil. Hal ini secara drastis mengurangi potensi kesalahpahaman dan frustrasi dari ekspektasi yang tidak selaras.
2. Meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan pelanggan
Dengan target kinerja yang jelas, tim internal memiliki standar konkret yang harus mereka penuhi secara konsisten. SLA mendorong budaya keunggulan dan akuntabilitas karena kinerja dapat diukur secara objektif. Ketika kualitas layanan terjaga, hal ini berdampak langsung pada peningkatan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
3. Melindungi kedua belah pihak secara hukum
SLA berfungsi sebagai dokumen hukum yang mengikat dan memberikan perlindungan formal bagi semua pihak. Bagi pelanggan, SLA memastikan adanya jalan untuk kompensasi jika layanan di bawah standar yang dijanjikan. Di sisi lain, dokumen ini juga melindungi penyedia layanan dari klaim yang tidak wajar dan di luar lingkup tanggung jawab.
4. Menjadi dasar evaluasi kinerja vendor
Bagi perusahaan yang menggunakan jasa dari berbagai vendor, SLA menyediakan alat ukur yang objektif untuk evaluasi kinerja. Data dari pemantauan SLA memungkinkan manajer membuat keputusan berbasis data, seperti melanjutkan kontrak atau mencari penyedia alternatif. Tanpa SLA, evaluasi kinerja vendor seringkali menjadi subjektif dan tidak konsisten.
5. Meningkatkan komunikasi dan transparansi internal
Selain untuk hubungan eksternal, SLA juga sangat efektif bila diterapkan secara internal antar departemen, dikenal sebagai Operational Level Agreement (OLA). Misalnya, OLA antara tim pemasaran dan penjualan mendefinisikan kualitas dan kuantitas prospek yang harus diserahkan. Hal ini mendorong transparansi, meningkatkan kolaborasi, dan memastikan setiap departemen bertanggung jawab.
Komponen Utama yang Wajib Ada dalam Service Level Agreement
Efektivitas sebuah SLA sangat bergantung pada kelengkapan dan kejelasan komponen di dalamnya. Sebuah SLA yang efektif haruslah komprehensif, merinci setiap aspek penting dari hubungan layanan. Melewatkan salah satu komponen kunci dapat menciptakan celah untuk ambiguitas dan potensi konflik di masa depan.
Menurut laporan dari Gartner, kejelasan metrik dan konsekuensi adalah dua faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah SLA. Oleh karena itu, penting untuk memastikan setiap elemen disusun dengan cermat. Berikut adalah komponen-komponen esensial yang tidak boleh terlewatkan saat Anda menyusun sebuah dokumen SLA.
1. Deskripsi layanan (Service Description)
Bagian ini harus secara spesifik menjelaskan layanan apa yang akan disediakan, termasuk semua fitur dan cakupannya. Penting juga untuk mendefinisikan apa saja yang tidak termasuk dalam layanan untuk menghindari asumsi yang salah. Semakin rinci deskripsi layanan, semakin kecil kemungkinan terjadinya perselisihan mengenai ruang lingkup pekerjaan.
2. Metrik kinerja dan KPI (Key Performance Indicators)
Ini adalah jantung dari setiap SLA karena membuat layanan menjadi terukur secara objektif. Metrik yang umum digunakan meliputi ketersediaan layanan (uptime), waktu respons (response time), dan tingkat penyelesaian masalah. Setiap metrik harus memiliki target yang jelas, realistis, dan disepakati bersama oleh kedua belah pihak.
3. Periode dan waktu layanan
Komponen ini mendefinisikan durasi kontrak, jam operasional layanan, serta hari-hari di mana layanan tersedia. Kejelasan dalam hal ini sangat penting, terutama untuk layanan dukungan teknis atau pelanggan. Pelanggan perlu tahu kapan mereka dapat mengharapkan respons dan bantuan dari penyedia layanan.
4. Tanggung jawab pihak terkait
Dalam SLA, pembagian tanggung jawab perlu ditulis jelas agar tidak terjadi saling lempar tugas. Ini mencakup siapa yang menyetujui layanan, memantau kinerja, dan menindaklanjuti pelanggaran. Kejelasan ini penting terutama saat SLA bersinggungan dengan alur PO dan invoice agar proses operasional dan finansial tetap selaras.
5. Prosedur pelaporan dan eskalasi
Bagian ini menjelaskan bagaimana kinerja layanan akan dipantau dan dilaporkan, termasuk format dan frekuensi laporan. Selain itu, harus ada jalur eskalasi yang jelas untuk menangani masalah yang tidak terselesaikan. Ini menetapkan siapa yang harus dihubungi dan dalam jangka waktu berapa lama respons harus diberikan.
6. Klausul penalti dan kompensasi
Untuk memberikan kekuatan pada SLA, harus ada konsekuensi yang jelas jika penyedia layanan gagal memenuhi metrik. Ini bisa berupa kredit layanan, potongan harga, atau bentuk kompensasi finansial lainnya. Klausul ini memastikan penyedia layanan memiliki insentif kuat untuk menjaga kualitas layanannya.
7. Ketentuan pembatalan (Termination Clause)
Komponen ini merinci kondisi di mana salah satu pihak dapat mengakhiri perjanjian sebelum masa kontrak berakhir. Ini biasanya mencakup pelanggaran berat yang berulang atau kegagalan terus-menerus untuk memenuhi standar. Adanya klausul ini memberikan jalan keluar yang jelas dan terstruktur jika kemitraan tidak lagi dapat dipertahankan.
Di Indonesia, SLA sebaiknya ditulis sebagai perjanjian yang sah sesuai syarat Pasal 1320 KUH Perdata. Pastikan ada ruang lingkup, tanggung jawab, eskalasi, dan pemutusan kerja sama. Jika layanan mengakses data pelanggan, tambahkan klausul kerahasiaan dan keamanan sesuai UU PDP 27/2022
Mengenal Berbagai Jenis Service Level Agreement
SLA bukanlah dokumen satu ukuran untuk semua, karena terdapat beberapa jenis yang dirancang untuk skenario bisnis yang berbeda. Memahami jenis-jenis ini akan membantu perusahaan memilih struktur perjanjian yang paling sesuai dengan model bisnis mereka. Berikut adalah tiga jenis utama SLA yang paling umum digunakan di dunia industri saat ini.
Pemilihan jenis SLA yang tepat sangat bergantung pada sifat layanan, keragaman pelanggan, dan kompleksitas organisasi. Memahami perbedaan di antara ketiganya memungkinkan perusahaan merancang perjanjian yang paling relevan dan efisien. Mari kita lihat lebih dekat masing-masing jenisnya.
1. Customer-based SLA (SLA Berbasis Pelanggan)
Jenis SLA ini adalah perjanjian yang dibuat khusus untuk satu pelanggan atau kelompok pelanggan tertentu. Ini mencakup semua layanan yang mereka gunakan, sehingga sangat personal dan dapat disesuaikan sepenuhnya. Namun, jenis ini menjadi kurang efisien jika penyedia layanan memiliki banyak pelanggan dengan kebutuhan berbeda.
2. Service-based SLA (SLA Berbasis Layanan)
Dalam model ini, satu SLA standar berlaku untuk semua pelanggan yang menggunakan layanan yang sama. Misalnya, perusahaan penyedia internet mungkin memiliki satu SLA untuk paket bisnis mereka. Pendekatan ini sangat menyederhanakan proses karena hanya satu dokumen yang perlu dikelola untuk satu jenis layanan.
3. Multi-level SLA (SLA Multi-Tingkat)
Jenis ini adalah yang paling kompleks, menggabungkan beberapa tingkatan perjanjian ke dalam satu kerangka kerja. Biasanya terdiri dari tiga tingkatan: Level Korporat (berlaku untuk semua pelanggan), Level Pelanggan (untuk kelompok pelanggan tertentu), dan Level Layanan (untuk layanan spesifik). Ini memberikan fleksibilitas dan detail dalam satu dokumen terpadu.
4. Internal SLA (Operational Level Agreement – OLA)
Meskipun sering disebut OLA, ini adalah bentuk SLA yang berlaku di dalam sebuah organisasi antar departemen. OLA menetapkan komitmen layanan dari satu departemen ke departemen lainnya. Tujuannya adalah memastikan setiap bagian dari organisasi bekerja secara sinergis untuk memenuhi SLA eksternal.
Panduan Praktis Menyusun SLA yang Efektif (Step-by-Step)
Menyusun SLA dari awal bisa terasa menakutkan, terutama bagi mereka yang belum pernah melakukannya. Namun, dengan pendekatan yang sistematis, prosesnya dapat menjadi jauh lebih mudah dikelola. Panduan ini akan memecah proses penyusunan SLA menjadi langkah-langkah praktis yang dapat diikuti oleh setiap manajer.
Mengikuti panduan langkah demi langkah berikut akan membantu Anda menciptakan dokumen SLA yang kuat, adil, dan fungsional. Pastikan untuk melibatkan semua pemangku kepentingan dalam setiap tahapannya. Dengan begitu, hasil akhirnya akan benar-benar mencerminkan kesepakatan bersama.
- Langkah 1: Definisikan tujuan dan ruang lingkup layananLangkah pertama adalah mengadakan pertemuan dengan pemangku kepentingan untuk memahami tujuan dari layanan ini. Buat daftar semua layanan yang akan diberikan, dan yang lebih penting, buat daftar apa saja yang tidak termasuk. Kejelasan di tahap awal ini akan mencegah penambahan lingkup pekerjaan yang tidak terkendali di masa depan.
- Langkah 2: Tentukan metrik (KPI) yang relevan dan realistisPilih metrik yang paling mencerminkan kualitas layanan dari sudut pandang pelanggan. Pastikan metrik tersebut dapat diukur secara konsisten dan akurat. Hindari melacak terlalu banyak metrik yang tidak relevan, dan fokus pada 3-5 KPI utama yang benar-benar penting.
- Langkah 3: Tetapkan baseline kinerja awalSebelum berkomitmen pada target tertentu, penting untuk mengukur kinerja saat ini untuk menetapkan sebuah baseline. Jika ini adalah layanan baru, jalankan periode uji coba untuk mengumpulkan data kinerja awal. Baseline ini akan menjadi dasar yang realistis untuk menetapkan target KPI dalam SLA.
- Langkah 4: Rancang struktur pelaporan dan komunikasi
Pelaporan SLA sebaiknya berbasis data yang konsisten dan mudah diverifikasi. Jika masih mengandalkan input manual, risiko keterlambatan dan human error akan meningkat. Karena itu, banyak perusahaan mulai memanfaatkan otomasi baca PO untuk memastikan data pendukung SLA tercatat akurat dan siap diaudit.
- Langkah 5: Negosiasikan klausul penalti dan insentifDiskusikan dan sepakati konsekuensi yang adil jika layanan tidak memenuhi standar, seperti kredit layanan atau diskon. Di sisi lain, pertimbangkan juga untuk menambahkan klausul insentif jika penyedia layanan secara konsisten melebihi target. Sistem penghargaan dan konsekuensi akan memotivasi kinerja yang lebih baik.
- Langkah 6: Lakukan review dan dapatkan persetujuan hukumSetelah draf SLA selesai, sebarkan kepada semua pemangku kepentingan untuk ditinjau. Setelah semua pihak internal setuju, sangat penting untuk meminta tim hukum meninjau dokumen tersebut. Langkah ini memastikan bahwa perjanjian tersebut kuat secara hukum dan tidak memiliki celah yang merugikan.
Optimalkan Pemantauan SLA dengan Sistem Terintegrasi
Menyusun SLA hanyalah setengah dari pekerjaan, karena tantangan sebenarnya terletak pada pemantauan dan pengelolaannya. Mengandalkan proses manual dengan spreadsheet sangat tidak efisien dan rentan terhadap kesalahan. Di sinilah peran teknologi, khususnya sistem manajemen bisnis terpusat, menjadi sangat krusial.
Mengelola SLA secara manual dapat menyebabkan pelanggaran yang tidak terdeteksi dan merusak hubungan dengan pelanggan. Untuk mengatasi ini, perusahaan modern beralih ke solusi teknologi terintegrasi yang mengotomatiskan pemantauan SLA. Ini memberikan visibilitas penuh dan memastikan akuntabilitas di seluruh proses.
Sistem pengadaan yang terintegrasi memusatkan data layanan, vendor, dan KPI untuk memantau target SLA secara konsisten. Sistem dapat memberi notifikasi saat ambang hampir terlewati dan menyiapkan laporan audit-ready untuk evaluasi kontrak. Integrasi pembelian dan keuangan merapikan tindak lanjut kompensasi.
Kesimpulan
Service Level Agreement membantu memastikan kualitas layanan tetap terukur dan konsisten, terutama saat bisnis bergantung pada banyak tim dan vendor. Kerangka ini membuat ekspektasi lebih jelas, akuntabilitas lebih kuat, dan evaluasi kinerja bisa dilakukan secara objektif berbasis metrik.
Melalui penyusunan yang rapi seperti penetapan KPI, alur eskalasi, serta klausul kompensasi, SLA dapat menjadi alat kontrol operasional yang praktis, bukan sekadar dokumen formal. Dukungan sistem terintegrasi juga membantu memusatkan pelaporan dan mempermudah pemantauan agar kepatuhan layanan lebih terjaga.
Agar penerapan SLA berjalan sesuai kebutuhan bisnis, perusahaan dapat memulainya dengan diskusi bersama tim yang berpengalaman. Sesi konsultasi gratis dapat membantu memetakan kondisi layanan saat ini dan menentukan metrik serta proses monitoring yang paling relevan.
Pertanyaan Seputar Service Level Agreement
-
Apa perbedaan utama antara SLA dan Kontrak?|Apa perbedaan antara SLA, KPI, dan OLA?
SLA adalah jenis kontrak yang spesifik, berfokus pada pengukuran standar kinerja layanan secara kuantitatif, sementara kontrak biasa mungkin hanya mencakup syarat umum.
-
Siapa yang bertanggung jawab untuk membuat SLA di perusahaan?
KPI adalah metrik untuk mengukur kinerja. SLA adalah perjanjian eksternal dengan pelanggan yang berisi KPI. OLA adalah perjanjian internal antar departemen untuk mendukung pencapaian SLA.
-
Bisakah SLA diterapkan untuk tim internal?
SLA sebaiknya ditinjau setidaknya setahun sekali, atau setiap kali ada perubahan signifikan pada layanan untuk memastikan relevansinya.|Ya, ini disebut OLA. Contohnya, OLA antara departemen HR dan Keuangan, di mana HR berkomitmen menyerahkan data penggajian paling lambat tanggal 25 setiap bulan.
-
Seberapa sering sebuah SLA harus ditinjau (review)?
Pembuatan SLA adalah upaya kolaboratif, biasanya dipimpin oleh manajer layanan atau operasional, namun melibatkan masukan dari tim penjualan, teknis, hukum, dan negosiasi dengan pelanggan.





