Cost of product dipakai untuk menjawab satu pertanyaan yang praktis: berapa biaya produksi yang “masuk” ke satu produk sebelum dijual. Angka ini biasanya jadi acuan saat tim menentukan harga, mengecek margin, dan membandingkan biaya antar periode.
Biayanya terbentuk dari tiga kelompok yang paling sering muncul di pabrik, yaitu bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Overhead di sini mencakup biaya yang mendukung proses produksi, seperti listrik, perawatan mesin, sewa fasilitas produksi, sampai depresiasi mesin.
Agar perhitungannya tidak meleset, perusahaan perlu memastikan sumber datanya rapi dari titik awal. Contohnya, pemakaian bahan harus tercatat saat material keluar ke produksi, jam kerja operator tercatat sesuai work order, dan overhead dicatat per periode lalu dialokasikan dengan dasar yang konsisten.
Kalau alurnya jelas, cost of product bisa ditelusuri sampai level SKU, batch, atau work order, sehingga penyebab kenaikan biaya lebih cepat ditemukan.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Membaca Biaya per Unit lewat Cost of Product
Cost of product bisa dipakai sebagai peta biaya per SKU, jadi tim tahu berapa biaya yang benar-benar melekat pada satu produk, satu batch, atau satu work order. Angka ini membantu menghitung biaya per unit secara konsisten dan jadi dasar saat melakukan review margin.
Perhitungannya mengikuti alur produksi yang terjadi di lapangan. Data yang biasanya dikumpulkan mencakup material yang dikonsumsi, jam kerja operator yang tercatat di proses, dan resource pabrik yang dipakai seperti jam mesin, utilitas, perawatan, serta depresiasi.
Struktur pencatatan ini sebaiknya selaras dengan anggaran produksi agar deviasi biaya bisa ditelusuri ke aktivitas dan periode yang tepat.
Baca Juga: Manfaat Sistem Produksi untuk Perkembangan Perusahaan Manfaktur
Komponen Cost of Product yang Biasa Ditemui
Dalam manufaktur, biaya produk umumnya terbagi menjadi tiga kelompok utama.
1. Biaya bahan baku langsung (Direct Material)
Biaya bahan baku adalah seluruh pengeluaran untuk memperoleh material utama yang akan menjadi bagian dari produk jadi. Sumbernya bisa dari pembelian lokal, impor, atau material hasil proses internal (misalnya material yang perlu dipotong/diolah dulu sebelum dipakai produksi).
Yang sering membuat biaya bahan baku melonjak adalah biaya yang membuat bahan siap dipakai produksi, misalnya:
- harga beli material sesuai invoice
- ongkos angkut & handling (bongkar-muat, forklift, packing)
- biaya gudang terkait penerimaan dan penyimpanan material
- pajak/PPN sesuai ketentuan dan dokumen pembelian
2. Biaya tenaga kerja langsung (Direct Labour)
Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya untuk pekerja yang kontribusinya bisa ditelusuri langsung ke aktivitas produksi. Contohnya operator mesin, assembler, atau bagian finishing yang jam kerjanya memang melekat pada proses pembuatan barang.
Komponen yang umumnya masuk direct labour bukan hanya gaji pokok, tetapi juga biaya kompensasi yang terkait langsung dengan pekerja produksi, seperti:
- gaji dan upah lembur
- tunjangan produksi/shift
- komponen jaminan/asuransi tertentu (sesuai kebijakan perusahaan)
3. Biaya overhead pabrik (Manufacturing Overhead)
Overhead pabrik adalah biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Biaya ini tetap perlu dialokasikan ke produk agar biaya produk realistis.
Overhead sering jadi sumber selisih terbesar karena sifatnya tidak selalu bisa ditelusuri per unit secara langsung.
Contoh overhead pabrik yang umum:
- listrik, air, dan utilitas pabrik
- pemeliharaan & perbaikan mesin
- depresiasi mesin/peralatan
- sewa pabrik dan biaya fasilitas produksi
- gaji tenaga kerja tidak langsung (QC, maintenance, supervisor produksi tertentu)
- bahan penolong produksi (pelumas, consumables, alat bantu kecil)
Baca juga: Sistem Manufaktur: Cara Memilih dan Manfaatnya Bagi Perusahaan Anda
Kesalahan yang Membuat Cost of Product Meleset
Apa saja yang membuat cost per product tidak sesuai perkiraan Anda?
1. Biaya salah masuk kategori sejak awal
Ini sering terjadi saat biaya yang jelas-jelas terkait produksi justru tercatat sebagai biaya operasional.
Misalnya, biaya listrik pabrik Rp120 juta dan maintenance mesin Rp35 juta masuk ke “beban kantor”, sehingga biaya produk per unit terlihat lebih rendah dari kondisi sebenarnya saat dipakai untuk pricing.
2. Transaksi pemakaian bahan terlambat dicatat
Kalau material sudah dipakai di lantai produksi, cost sebenarnya sudah terbentuk, tetapi angka di sistem belum bergerak.
Contohnya, 500 kg bahan baku sudah dipakai untuk batch minggu terakhir, namun transaksi issue baru diposting awal bulan depan, sehingga bulan ini cost per unit terlihat hemat, lalu bulan depan tiba-tiba naik tanpa perubahan proses.
3. Pembagian overhead ke produk tidak konsisten
Overhead perlu dibagi ke produk memakai dasar yang tetap. Misalnya, bulan ini overhead Rp300 juta dibagi berdasarkan 10.000 jam mesin, lalu bulan depan dibagi berdasarkan jumlah unit produksi.
Hasil biaya per unit akan berubah karena basisnya berubah, bukan karena operasionalnya benar-benar berubah.
4. Scrap dan rework tidak punya jalur pencatatan yang jelas
Scrap biasanya muncul sebagai selisih stok atau penurunan yield, tetapi biayanya perlu transisi di tempat yang bisa ditelusuri.
Misalnya, ada reject 2% pada produk tertentu karena masalah sealing. Namun, biaya material dan tenaga kerja tambahan tidak dicatat sebagai rework, sehingga cost produk terlihat normal padahal margin sebenarnya sudah tergerus.
5. Work order belum ditutup dengan benar
WIP naik bukan masalah kalau memang prosesnya belum selesai, tetapi sering terjadi karena pencatatan selesai produksi tidak dilakukan.
Misalnya, biaya Rp180 juta sudah masuk ke work order, produknya sudah selesai dan masuk gudang, tetapi transfer ke finished goods belum diposting, sehingga biaya tertahan di WIP.
Bagaimana Cara Menghitung Cost of Product?
Perhitungan cost of product berfungsi sebagai acuan untuk mengetahui nilai dari harga pokok produksi. Cara menghitungnya adalah dengan beberapa tahapan berikut:
- Menentukan biaya tetap
- Menentukan pengeluaran biaya variabel
- Anda jumlah biaya tetap dan biaya variabel, lalu bagi hasilnya dengan total biaya dan jumlah hasil barang. Hasilnya akan menjadi biaya rata-rata per unit
Berikut adalah rumus yang Anda perlukan untuk menghitung besaran biaya produksi:
1. Menghitung bahan baku
Saldo awal bahan baku + biaya pembelian bahan baku – saldo akhir bahan baku
2. Menghitung biaya produksi
Material yang Anda gunakan + biaya pegawai langsung + biaya overhead produksi
3. Menentukan harga pokok produksi
Total seluruh biaya produksi + saldo awal persediaan barang proses produksi – saldo akhir persedian barang proses produksi
4. Menghitung harga pokok penjualan (HPP)
Harga pokok produksi + jumlah persediaan barang awal – jumlah persediaan barang akhir, yang bisa dilakukan manual ataupun menggunakan sistem manufaktur terintegrasi dengan sistem akuntansi.
Contoh dari Perhitungan Cost of Product
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses pengolahan produk pada perusahaan manufaktur hingga siap dipasarkan.
Berikut contoh perhitungan biaya produksi pada industri makanan kaleng dengan output sarden kaleng.
Dalam satu bulan, perusahaan memproduksi 5.000 pack sarden dengan rincian biaya sebagai berikut:
- Pembelian bahan baku: Rp 25.000.000
- Tenaga kerja langsung: Rp 7.000.000
- Sewa pabrik: Rp 3.000.000
- Total biaya produksi: Rp 35.000.000
Selanjutnya, biaya produksi per unit dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah produk:
Rp 35.000.000 ÷ 5.000 = Rp 7.000 per unit
Setelah biaya produksi per unit diketahui, perusahaan dapat menetapkan harga jual dengan menambahkan persentase keuntungan (margin).
Misalnya, perusahaan menetapkan keuntungan sebesar 40% dari biaya produksi per unit, maka:
- Harga jual per unit = Rp 7.000 + (40% × Rp 7.000)
- Harga jual per unit = Rp 7.000 + Rp 2.800 = Rp 9.800
Checklist Sederhana Cost Per Product
Checklist Data untuk Cost of Product
Gunakan daftar ini sebelum closing biaya produksi atau sebelum memutuskan harga jual per SKU/batch.
Print-friendly
10–15 menit review
jika 3+ poin masih belum yakin, angka cost per unit biasanya belum aman dipakai untuk pricing review.
Varians & Alokasi
Kesimpulan
Angka cost of product akan paling berguna kalau bisa ditarik sampai ke sumbernya di lapangan, misalnya pemakaian material per batch, jam kerja per proses, dan pemakaian resource pabrik.
Dari situ, Anda bisa membaca biaya per unit dengan lebih konsisten untuk kebutuhan review margin dan evaluasi proses.
Agar hasilnya stabil dari periode ke periode, fokuskan perbaikan pada disiplin pencatatan (cut-off, pencatatan issue material, status work order) dan konsistensi alokasi overhead. Dengan kebiasaan ini, setiap perubahan angka punya penjelasan yang jelas dan lebih mudah ditindaklanjuti.
Pertanyaan Seputar Cost of Product
-
Apa Itu Cost of Product?
Cost of product atau biaya produksi adalah biaya yang suatu perusahaan keluarkan selama proses manufaktur atau pengelolaan dengan tujuan menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Perhitungan biaya produksi mulai dari awal pengolahan hingga barang jadi atau setengah jadi.
-
Bagaimana Cara Menghitung Cost of Product?
Menentukan biaya tetap, Menentukan pengeluaran biaya variabel, dan Menjumlahkan biaya tetap dan biaya variabel, lalu hasilnya dibagi dengan total biaya dan jumlah barang yang dihasilkan. Hasilnya akan menjadi biaya rata-rata per unit








