CNBC Awards

Panduan Maintenance Request untuk Tim Operasional yang Lebih Sigap

Diterbitkan:

Pernahkah Anda mengirim permintaan perbaikan, tetapi tindak lanjutnya tidak jelas sampai akhirnya masalahnya membesar? Dalam operasional harian, maintenance request sering jadi titik awal yang menentukan apakah kerusakan cepat tertangani atau justru berubah menjadi downtime yang mahal.

Di banyak perusahaan, prosesnya masih mengandalkan chat, kertas, atau spreadsheet yang berpindah tangan. Akibatnya, informasi kerusakan mudah terlewat, prioritas penanganan tidak konsisten, dan histori perawatan sulit ditelusuri saat dibutuhkan.

Seiring volume permintaan meningkat, tantangan ini makin terasa karena tim maintenance harus memilah laporan satu per satu sambil tetap mengejar target waktu perbaikan. Pada akhirnya, biaya perbaikan darurat naik, sementara aset lebih cepat kehilangan umur ekonomisnya karena perawatan tidak terjadwal rapi.

Karena itu, alur maintenance request perlu ditata dengan sistem yang lebih terstruktur, mulai dari pencatatan, penentuan prioritas, sampai pelacakan status perbaikan.

Key Takeaways

  • Maintenance request adalah pemicu awal proses pemeliharaan yang memastikan setiap kerusakan tercatat dan ditindaklanjuti secara terstruktur.
  • Pengelompokan maintenance request menjadi darurat, rutin–korektif, dan preventif membantu teknisi memprioritaskan perbaikan sesuai tingkat urgensi aset.
  • Cara manual bikin maintenance lambat karena data mudah hilang, histori aset sulit dilacak, dan komunikasi tidak terpusat dalam maintenance request.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Maintenance Request sebagai Titik Awal Perawatan Aset

      Maintenance request adalah dokumen formal atau digital yang diajukan pengguna aset untuk melaporkan kerusakan atau kebutuhan perawatan sebelum dikonversi menjadi perintah kerja. Dalam transformasi digital manajemen aset, proses ini menjadi lebih terstruktur karena seluruh permintaan tercatat dan mudah ditelusuri.

      Maintenance request berfungsi sebagai pemicu awal dalam siklus pemeliharaan aset di sebuah perusahaan. Dokumen ini menjembatani komunikasi antara pengguna aset di lapangan dengan tim teknisi yang bertanggung jawab. Tanpa adanya permintaan yang tercatat, tim pemeliharaan tidak akan memiliki dasar untuk bertindak atau memprioritaskan pekerjaan mereka.

      Dalam praktiknya, permintaan ini tidak hanya berisi keluhan kerusakan, tetapi juga data awal untuk diagnosis masalah. Informasi yang akurat pada tahap ini sangat menentukan kecepatan penanganan teknisi. Pengelolaan permintaan yang baik akan mencegah penumpukan pekerjaan yang tidak terkendali.

      Maintenance Request vs Work Order Jangan Sampai Ketukar

      Banyak praktisi operasional yang masih sering tertukar antara maintenance request dengan work order. Maintenance request adalah notifikasi atau permohonan yang dibuat oleh staf non-teknis saat menemukan masalah pada aset. Sifatnya masih berupa laporan yang membutuhkan validasi dari manajer terkait.

      Sebaliknya, dengan sistem manajemen aset yang baik akan mengonversi permintaan tersebut menjadi work order setelah disetujui. Work order adalah perintah kerja resmi yang berisi instruksi teknis, alokasi teknisi, dan estimasi biaya. Memahami perbedaan ini penting agar alur birokrasi perbaikan tidak terhambat.

      Urutan Prioritas Maintenance Request yang Paling Praktis

      Jenis maintenance request umumnya dibagi menjadi Emergency (darurat), Routine/Corrective (perbaikan standar), dan Preventive (pencegahan/rutin). Masing-masing kategori membutuhkan target respons dan penyelesaian yang berbeda agar teknisi tidak salah fokus dan downtime bisa ditekan.

      1) Emergency Request (Permintaan Darurat)

      Permintaan ini muncul saat kerusakan berpotensi mengancam keselamatan kerja atau menghentikan operasi/produksi total, seperti kebocoran pipa gas atau server utama down.
      Target waktu penanganan: respons maksimal 15–30 menit, lalu penanganan awal dimulai ≤ 1 jam (stabilisasi dulu, perbaikan total mengikuti tingkat kerusakan).

      2) Routine & Corrective Request (Permintaan Rutin/Perbaikan Standar)

      Kategori ini mencakup masalah yang mengganggu, namun tidak menghentikan operasional secara total, misalnya AC kurang dingin atau kursi kantor rusak.
      Target waktu penanganan: respons maksimal 1×24 jam, lalu diselesaikan 2–7 hari kerja tergantung antrean, ketersediaan teknisi, dan spare part.

      3) Preventive Maintenance Request (Permintaan Preventif)

      Permintaan ini biasanya dipicu oleh jadwal atau sistem, bukan karena kerusakan yang terlihat. Tujuannya melakukan inspeksi atau penggantian komponen sebelum terjadi kegagalan.
      Target waktu pelaksanaan: dijadwalkan mingguan/bulanan/kuartalan sesuai jenis aset, dengan toleransi keterlambatan maksimal 3–7 hari dari jadwal agar tetap efektif mencegah breakdown.

      Biar Tidak Hilang Ini Tahapan Maintenance Request yang Benar

      Alur kerja dimulai dari pengajuan user, peninjauan manajer, persetujuan (approval), konversi menjadi work order, pelaksanaan perbaikan, hingga verifikasi penyelesaian.

      Memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baku untuk alur permintaan adalah fondasi efisiensi tim umum. Alur yang berantakan sering kali menyebabkan permintaan hilang atau dikerjakan ganda oleh teknisi berbeda. Sistem yang terstruktur memastikan setiap laporan memiliki status yang jelas dan dapat dilacak.

      Transparansi dalam alur kerja juga meningkatkan kepercayaan antara pengguna aset dan tim pemeliharaan. Pelapor dapat mengetahui sampai di mana status laporan mereka diproses. Berikut adalah tahapan standar yang perlu diterapkan dalam bisnis modern.

      1. Tahap Pengajuan (Submission)

      Proses dimulai saat karyawan mengisi formulir permintaan melalui portal atau aplikasi yang disediakan. Kelengkapan data seperti foto kerusakan dan lokasi aset sangat krusial di tahap ini. Kemudahan akses pengajuan akan mendorong karyawan untuk lebih proaktif melapor.

      2. Review dan Approval

      Manajer pemeliharaan akan meninjau validitas laporan untuk menyaring duplikasi atau kesalahan informasi. Pada tahap ini, manajer juga menentukan apakah perbaikan dilakukan internal atau butuh vendor luar. Persetujuan harus dilakukan cepat agar tidak terjadi bottleneck.

      3. Eksekusi dan Verifikasi

      Setelah disetujui, teknisi akan melakukan perbaikan sesuai instruksi kerja. Proses tidak berhenti saat perbaikan selesai, melainkan harus ada verifikasi dari pelapor. Hal ini untuk memastikan standar kualitas perbaikan telah terpenuhi.

      Kenapa Cara Manual Bikin Maintenance Jadi Lambat

      Pengelolaan manual sering menyebabkan hilangnya data, respon lambat, kesulitan pelacakan histori aset, dan komunikasi yang tidak terpusat antar departemen.

      Banyak perusahaan masih terjebak dengan pencatatan manual yang rentan kesalahan. Formulir kertas mudah hilang atau rusak, menyebabkan permintaan perbaikan tidak pernah sampai ke tangan teknisi. Hal ini menciptakan friksi antar departemen dan menurunkan produktivitas karyawan.

      Selain itu, data historis aset menjadi sulit untuk dianalisis jika tersimpan dalam tumpukan berkas fisik. Manajemen akan kesulitan menentukan apakah sebuah mesin sebaiknya diperbaiki terus-menerus atau sudah waktunya diganti baru. Ketiadaan data yang terpusat adalah hambatan terbesar dalam efisiensi biaya aset.

      Tanpa sistem terpusat, status perbaikan sering kali harus ditanyakan berulang kali melalui pesan pribadi. Ini membuang waktu produktif baik bagi pelapor maupun teknisi yang harus menjawab pertanyaan sama. Informasi teknis juga sering terdistorsi saat berpindah dari satu orang ke orang lain.

      Standarisasi Form, Prioritas, dan Jejak Audit Maintenance

      Agar maintenance request tidak jadi lempar-lemparan, langkah pertama adalah membuat standar yang bisa dipakai semua orang, bukan sekadar kebiasaan per departemen. Praktiknya selaras dengan prinsip asset management yang menekankan konsistensi proses, pengendalian risiko, dan keputusan berbasis data.

      Standar yang perlu Anda tetapkan:

      • Kode prioritas + SLA (misalnya Emergency respon 15–30 menit, Corrective 2–7 hari kerja, Preventive sesuai jadwal). Ini menjaga teknisi fokus pada aset kritis lebih dulu dan mencegah backlog kacau.

      • Status yang baku (Submitted → Reviewed → Approved → Work Order → In Progress → Verified → Closed) supaya tidak ada permintaan hilang atau dobel dikerjakan.

      • Jejak audit (siapa submit, siapa approve, kapan mulai-selesai, apa tindakan, biaya, dan spare part) karena dokumentasi yang terkontrol adalah fondasi proses yang dapat dipertanggungjawabkan.

      Form maintenance request sebaiknya berisi apa saja:

      • Identitas aset: nama aset, asset tag/ID, lokasi, dan unit/departemen pemilik

      • Deskripsi masalah: gejala, dampak ke operasi, tingkat urgensi, kapan mulai terjadi

      • Bukti awal: foto/video, angka meter (jika relevan), kondisi lingkungan (misalnya panas, bocor, getaran)

      • Risiko & keselamatan: potensi bahaya, apakah butuh shutdown/isolasi area

      • Kontak pelapor + jam akses aset: siapa yang bisa dihubungi dan kapan aset bisa diperiksa

      Kalau Anda ingin prosesnya lebih cepat, QR code/asset tag di lapangan membantu mengunci identitas aset dan mengurangi salah input, yang juga sering direkomendasikan sebagai praktik baik dalam work management.

      Saatnya Alur Perbaikan Lebih Rapi dan Mudah Dilacak

      Pengelolaan maintenance request yang rapi membantu perusahaan menjaga produktivitas dan menekan biaya operasional aset. Saat setiap permintaan tercatat dengan jelas, diprioritaskan sesuai urgensi, dan mudah dilacak statusnya, tim pemeliharaan bisa bekerja lebih fokus tanpa komunikasi bolak-balik yang menghabiskan waktu.

      Penerapan modul manajemen aset membantu menata alur permintaan perawatan dan mengonversinya menjadi work order terstruktur. Pemantauan histori perawatan dalam satu sistem mempercepat koordinasi tim dan menekan risiko downtime akibat permintaan yang terlewat.

      Jika Anda ingin menerapkan alur serupa, mulailah dari standarisasi formulir permintaan, penentuan prioritas, serta pelacakan progres perbaikan yang transparan. Ajukan konsultasi gratis untuk memetakan kebutuhan dan alur kerja pemeliharaan aset di operasional Anda agar lebih efisien dan mudah diaudit.

      Pertanyaan Seputar Maintenance Request

      • Apa bedanya maintenance request dengan purchase request?

        Maintenance request fokus pada perbaikan atau perawatan aset yang sudah ada, sedangkan purchase request adalah permintaan untuk membeli barang atau aset baru.

      • Siapa yang berhak mengajukan maintenance request?

        Idealnya, seluruh karyawan yang menggunakan atau melihat aset perusahaan berhak mengajukan permintaan, namun validasi tetap berada di tangan manajer fasilitas.

      • Berapa lama standar waktu respon untuk maintenance request?

        Waktu respon tergantung prioritas; untuk emergency biasanya 1-4 jam, sedangkan untuk routine bisa 24-48 jam sesuai SLA perusahaan.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya