PPIC (Production Planning and Inventory Control) bekerja dengan dua fokus utama. Pertama adalah menyusun rencana produksi, dan kedua, mengendalikan persediaan agar keduanya bergerak sinkron. Semua aktivitas itu biasanya dituangkan dalam dokumentasi yang memuat jadwal, kebutuhan material, stok, serta rekap realisasi.
Dokumentasi PPIC yang rapi memudahkan tim membaca posisi kerja hari ini dan arah kerja periode berikutnya dalam satu alur. Karena itu, format laporan PPIC dan rumus yang digunakan perlu konsisten agar angka dapat dibandingkan antar periode.
Pembahasan berikut memberikan contoh laporan PPIC dari komponen dasar sampai rumus yang sering dipakai, lalu ditutup dengan ilustrasi sederhana untuk memudahkan penerapan.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Pengertian Laporan PPIC
PPIC (Production Planning & Inventory Control) adalah fungsi yang menjaga rencana produksi tetap selaras dengan ketersediaan material dan kondisi persediaan. Tim PPIC biasanya bekerja di titik temu antara Sales/Planning, Gudang, Produksi, dan Purchasing supaya jadwal produksi bisa selaras antar tim.
Laporan PPIC adalah rangkuman kerja yang dipakai untuk mendetailkan apa yang diproduksi, kapan diproduksi, dan bahan apa yang harus siap di tanggal tertentu. Dokumen ini menunjukkan posisi progres produksi, stok tersedia, kebutuhan material, serta deviasi rencana vs realisasi.
Umumnya, laporan PPIC memuat jadwal produksi (plan), kebutuhan material (MRP), status stok bahan baku dan barang jadi, data dari laporan biaya produksi, serta ringkasan performa seperti output, reject, downtime, atau pemakaian material.
Output yang Wajib Ada dalam Laporan PPIC
Output laporan PPIC di bawah ini adalah komponen yang paling sering dibutuhkan di pabrik, yaitu:
1. Rencana produksi yang sudah pasti (Plan vs Due Date)
Output ini berupa daftar produk, kuantitas, dan tanggal target selesai yang sudah disepakati sebagai prioritas. Agar lebih actionable, cantumkan urutan produksi per line/mesin atau minimal status prioritas (tinggi–sedang–rendah) supaya produksi tidak menebak urutannya.
2. Kebutuhan material yang bisa dieksekusi (MRP)
Bukan sekadar nominal saja, tetapi tenggat waktu dan apa yang kurang juga harus ada di laporan PPIC. Idealnya ada kolom kebutuhan total, stok tersedia, kebutuhan bersih (net requirement), serta tanggal material harus tersedia di produksi agar purchasing dan gudang bisa bergerak dengan acuan yang sama.
3. Daftar material kritis (Critical Items List)
Output ini menonjolkan item yang berpotensi menahan jadwal, biasanya material dengan lead time panjang, stok tipis, atau sering terlambat. Bentuknya cukup ringkas dan memuat nama item, gap, tanggal dibutuhkan, dan owner tindak lanjut (purchasing/warehouse) agar tidak ada item tanpa penanggung jawab.
4. Status persediaan ringkas (Raw material, WIP, dan barang jadi)
PPIC perlu ringkasan stok yang relevan untuk keputusan produksi, bukan seluruh kartu stok. Minimal tampilkan stok bahan baku utama, WIP yang sedang berjalan, serta stok barang jadi yang siap kirim, sehingga perencanaan tidak terputus antara produksi dan pemenuhan order.
5. Rencana kapasitas dan beban kerja (Capacity vs Load)
Output ini menunjukkan apakah rencana produksi realistis dibanding kapasitas mesin dan tenaga kerja. Cukup tampilkan kapasitas per line/shift, beban produksi, serta indikasi overload/underload supaya tim bisa memutuskan penyesuaian: tambah shift, alihkan line, atau ubah urutan produksi.
6. Ringkasan realisasi dan deviasi (Actual vs Plan)
Laporan PPIC yang dipakai harian perlu menampilkan realisasi output dan selisihnya dari rencana, termasuk alasan singkat jika ada deviasi. Contohnya, output kurang karena downtime, material terlambat, atau reject naik. Cukup tulis satu baris alasan yang konsisten agar mudah ditelusuri.
7. Daftar aksi dan keputusan (Action Log)
Bagian ini melengkapi laporan PPIC. Isinya singkat, mulai dari apa yang diputuskan hari ini (reschedule, substitusi material, transfer stok), siapa PIC-nya, dan target selesai agar keputusan tidak hilang saat laporan berganti periode.
Format dalam Laporan PPIC
Bagian ini akan membahas format kunci yang ada dalam Laporan Production Planning & Inventory Control (PPIC). Kami akan menjelaskan pentingnya data bahan baku dalam laporan PPIC dan bagaimana penggunaan data ini dapat mempengaruhi efisiensi produksi.
Selain itu, kami juga akan membahas peran scheduling produksi dalam laporan PPIC dan bagaimana pengaruhnya terhadap supply chain perusahaan.
1. Data Bahan Baku dan Penggunaannya
Data bahan baku adalah salah satu elemen kunci dalam laporan PPIC. Informasi mengenai jenis bahan baku yang digunakan, kuantitas yang diperlukan, dan waktu pengadaan sangat penting untuk merencanakan jadwal produksi yang efisien.
Dengan memantau dan memanfaatkan data bahan baku dengan baik, perusahaan dapat mengoptimalkan persediaan, menghindari kekurangan bahan baku, dan mengurangi biaya produksi yang tidak perlu.
2. Penjadwalan Produksi dan Pengaruhnya terhadap Supply Chain
Penjadwalan produksi adalah elemen penting dalam laporan PPIC yang mempengaruhi efisiensi dan kelancaran supply chain perusahaan.
Melalui perencanaan dan penjadwalan produksi yang tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya, mengurangi waktu tunggu, dan meminimalkan biaya produksi.
Penjadwalan produksi yang efisien juga dapat mengurangi lead time dan memastikan ketersediaan produk tepat waktu, sehingga mempengaruhi kinerja keseluruhan supply chain.
Rumus dalam Laporan PPIC
Ada beberapa rumus yang dapat Anda gunakan untuk membuat laporan PPIC.
1. Memprediksi Permintaan Pelanggan (Demand Forecast)
Sebelum mulai merencanakan produksi, Anda perlu memperkirakan seberapa banyak produk yang akan dipesan pelanggan. Ada dua metode umum yang sering digunakan:
- Moving Average Forecast: Menghitung rata-rata penjualan dari beberapa periode terakhir untuk memprediksi kebutuhan ke depan. Cocok untuk meratakan fluktuasi jangka pendek, tapi semua periode dianggap sama penting.
- Exponential Smoothing Forecast: Memperbarui prediksi dengan memberi bobot lebih besar pada data penjualan terbaru. (Catatan: Nilai smoothing factor (α) antara 0 sampai 1. Semakin besar α, semakin cepat prediksi menyesuaikan tren baru.)
2. Aggregate Planning
Setelah mengetahui estimasi permintaan, langkah berikutnya adalah merencanakan berapa banyak yang harus diproduksi dan berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan.
- Production Rate (Laju Produksi): Menghitung jumlah unit yang perlu diproduksi setiap periode untuk memenuhi permintaan.
Rumus:
- Workforce Size (Jumlah Tenaga Kerja): Menentukan jumlah pekerja yang dibutuhkan berdasarkan kapasitas produksi per pekerja.
Rumus:
Mengapa langkah ini penting? Langkah ini memastikan kapasitas produksi cukup tanpa membuang biaya untuk tenaga kerja atau produksi berlebih.
3. Menghitung Kebutuhan Material (MRP)
Produksi tidak bisa berjalan tanpa bahan baku. di langkah ini, Anda menghitung apa, berapa banyak, dan kapan bahan baku dibutuhkan.
- Net Requirements (Kebutuhan Bersih): Menentukan kebutuhan material aktual dengan memperhitungkan stok yang ada dan safety stock.
- Planned Order Releases: Menentukan kapan harus memesan bahan baku supaya datang tepat waktu untuk produksi. Dengan catatan, admin PPIC bukan hanya sekadar menambahkan lead time secara angka, terapi perlu menghitung mundur dari jadwal produksi.
4. Mengelola Persediaan (Inventory Management)
Setelah produksi, stok harus tetap terkontrol; tidak boleh terlalu banyak, tapi juga tidak boleh kehabisan.
- Economic Order Quantity (EOQ): Menghitung jumlah pemesanan optimal untuk meminimalkan biaya pemesanan dan penyimpanan.
Rumus:
di mana:
D = Permintaan tahunan
S = Biaya pemesanan per pesanan
H = Biaya penyimpanan per unit per tahun
- Reorder Point (ROP): Menentukan titik stok minimum saat Anda perlu melakukan pemesanan ulang.
Ilustrasi Praktis: Studi Kasus Dokumentasi PPIC
Dalam bagian ini, kita akan melihat lebih lanjut tentang contoh laporan Production Planning & Inventory Control (PPIC) dan bagaimana laporan ini dapat memberikan wawasan mendalam tentang perencanaan produksi dan pengendalian inventaris.
Kami akan menggambarkan berbagai elemen yang ada dalam laporan PPIC dan bagaimana informasi ini dapat digunakan untuk mengoptimalkan operasi produksi perusahaan.
Laporan PPIC biasanya terdiri dari beberapa bagian penting yang memberikan gambaran lengkap tentang kegiatan produksi dan pengelolaan inventaris. Kami akan mengilustrasikan contoh laporan PPIC dan komponennya dengan perusahaan ABC yang membuat laporan periode Juli 2024:
1. Ringkasan eksekutif
Laporan ini mencakup analisis perencanaan produksi, status persediaan, serta performa produksi selama bulan Juli 2024. Tujuan utama laporan ini adalah untuk mengevaluasi efisiensi produksi, mengidentifikasi masalah dalam rantai pasokan, dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan.
2. Perencanaan produksi
2.1. Target produksi dan realisasi produksi
| Produk | Target Produksi (unit) | Realisasi Produksi (unit) | Persentase Realisasi (%) |
|---|---|---|---|
| Produk A | 10,000 | 9,800 | 98% |
| Produk B | 8,000 | 7,600 | 95% |
| Produk C | 12,000 | 11,500 | 95.83% |
| Produk D | 5,000 | 4,800 | 96% |
| Total | 35,000 | 33,700 | 96.29% |
2.2. Analisis kesenjangan
- Produk A: Keterlambatan pengiriman bahan baku.
- Produk B: Kendala teknis pada mesin produksi.
- Produk C: Tingginya tingkat reject karena masalah kualitas.
- Produk D: Keterbatasan tenaga kerja pada shift malam.
3. Status persediaan
3.1. Persediaan bahan baku (dalam kg)
| Bahan Baku | Stok Awal | Penerimaan | Penggunaan | Stok Akhir | Minimum Stok | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Bahan A | 500 | 300 | 700 | 100 | 200 | Restock |
| Bahan B | 400 | 250 | 500 | 150 | 100 | Cukup |
| Bahan C | 300 | 150 | 400 | 500 | 150 | Restock |
| Bahan D | 200 | 200 | 350 | 500 | 100 | Restock |
3.2. Persediaan barang jadi (dalam unit)
| Produk | Stok Awal | Penerimaan | Penggunaan | Stok Akhir | Minimum Stok | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Produk A | 100 | 980 | 850 | 230 | 200 | Cukup |
| Produk B | 120 | 760 | 700 | 180 | 150 | Cukup |
| Produk C | 150 | 115 | 100 | 300 | 200 | Cukup |
| Produk D | 800 | 480 | 450 | 110 | 100 | Cukup |
4. Performa produksi
4.1. Efisiensi produksi
| Parameter | Nilai Aktual | Target | Deviasi |
|---|---|---|---|
| Tingkat Reject (%) | 5 | 3 | +2 |
| Waktu Henti (jam) | 50 | 30 | +20 |
| Utilisasi Mesin (%) | 85 | 90 | -5 |
Laporan PPIC bulan Juli 2024 menunjukkan bahwa meskipun target produksi hampir tercapai, masih terdapat beberapa area yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal manajemen bahan baku, perawatan mesin, dan kontrol kualitas.
Ingin mencoba membuat contoh laporan PPIC Anda sendiri? Klik tombol berikut untuk mengetahui simulasi pembuatan laporannya.
Input Data Produksi
Laporan Produksi
| Tanggal | Produk | Rencana | Realisasi | Selisih | Bahan Terpakai | Efisiensi |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Total | 0 | 0 | 0 | |||
Rekomendasi yang diberikan diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi dan mengoptimalkan persediaan di bulan-bulan berikutnya.
Anda dapat membaca artikel lain terkait software khusus untuk PPIC untuk mendapatkan rekomendasi terbaik yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda. Artikel tersebut menyediakan berbagai pilihan aplikasi untuk Anda.
Siapa yang Membutuhkan Sistem Dokumentasi PPIC?
Tidak semua perusahaan manufaktur membutuhkan kompleksitas dokumentasi PPIC yang sama. Berikut panduan untuk menentukan tingkat kebutuhan berdasarkan karakteristik operasional:
- Skala Kecil (< 50 karyawan produksi) Perusahaan dengan lini produksi tunggal dan variasi produk terbatas biasanya cukup dengan dokumentasi sederhana berbasis spreadsheet. Fokus utama ada pada pencatatan stok bahan baku dan jadwal produksi mingguan.
- Skala Menengah (50-200 karyawan produksi) Pada skala ini, koordinasi antar departemen mulai kompleks. Dokumentasi PPIC perlu mencakup forecasting, MRP, dan monitoring kapasitas mesin. Sistem terintegrasi mulai memberikan nilai signifikan untuk menghindari miscommunication.
- Skala Besar (> 200 karyawan produksi) Perusahaan dengan multiple plant, ratusan SKU, dan supply chain multi-tier memerlukan sistem PPIC yang fully automated dengan real-time visibility. Dokumentasi manual sudah tidak efisien dan berisiko tinggi terhadap human error.
Studi Mini: Implementasi PPIC di Industri Tekstil Jawa Barat
Industri tekstil di Jawa Barat—khususnya di koridor Bandung-Majalaya—menghadapi tantangan unik dalam perencanaan produksi. Fluktuasi permintaan yang tinggi menjelang Lebaran dan musim sekolah memaksa tim PPIC bekerja dengan lead time yang ketat.
Berdasarkan pola yang umum ditemui di industri ini:
- Peak season membutuhkan peningkatan kapasitas 40-60% dari baseline
- Lead time pengadaan bahan impor (cotton, polyester) berkisar 45-60 hari
- Safety stock idealnya mencakup 2-3 minggu kebutuhan produksi peak
Dokumentasi PPIC yang efektif di sektor ini perlu mengakomodasi seasonal planning dengan horizon 6-12 bulan ke depan, bukan hanya perencanaan bulanan seperti yang umum di industri lain.
Kriteria Memilih Pendekatan Dokumentasi PPIC
Sebelum memutuskan apakah akan menggunakan sistem manual, semi-otomatis, atau fully automated, pertimbangkan faktor-faktor berikut:
| Faktor | Manual/Spreadsheet | Sistem Terintegrasi |
|---|---|---|
| Volume transaksi harian | < 50 | > 50 |
| Jumlah SKU aktif | < 100 | > 100 |
| Kompleksitas BOM | Single-level | Multi-level |
| Kebutuhan traceability | Rendah | Tinggi |
| Budget implementasi | Terbatas | Tersedia |
| Timeline ROI yang diharapkan | > 2 tahu | < 1 tahun |
Keputusan ini sebaiknya didasarkan pada analisis cost-benefit yang mempertimbangkan tidak hanya biaya software, tetapi juga opportunity cost dari inefisiensi operasional yang terjadi dengan sistem saat ini.
Kesimpulan
Memahami struktur dan komponen dokumentasi PPIC memberikan fondasi untuk mengidentifikasi bottleneck dalam proses perencanaan produksi Anda saat ini. Dari contoh yang telah dibahas, terlihat bahwa dokumentasi yang baik mencakup tidak hanya data historis, tetapi juga analisis kesenjangan dan rekomendasi perbaikan.
Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi sejauh mana proses dokumentasi yang ada sudah memenuhi kebutuhan operasional. Apakah data yang tercatat cukup granular untuk pengambilan keputusan, dan apakah ada celah koordinasi antar departemen yang perlu ditutup.
Untuk perusahaan yang mempertimbangkan transisi ke sistem terintegrasi, pastikan untuk melakukan assessment kebutuhan terlebih dahulu agar investasi yang dilakukan sesuai dengan skala dan kompleksitas operasional yang sebenarnya.
Pertanyaan Seputar Laporan PPIC
-
Apa contoh laporan PPIC?
Contoh laporan PPIC dapat berisi informasi tentang permintaan pelanggan, perkiraan permintaan, penggunaan bahan baku, jadwal produksi, dan inventaris produk. Laporan ini memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana merencanakan produksi dan mengatur inventaris dengan efisien.
-
Bagaimana software ERP HashMicro dapat membantu dalam pembuatan laporan PPIC?
Software ERP HashMicro memiliki fitur yang dapat mengoptimalkan pembuatan laporan PPIC. Software ini mampu mengintegrasikan data yang diperlukan dalam laporan PPIC, termasuk data bahan baku, jadwal produksi, dan inventaris produk. Penggunaan software ini membantu meningkatkan akurasi, efisiensi, dan ketepatan waktu penyusunan laporan PPIC.
-
Mengapa laporan PPIC penting dalam perencanaan produksi dan pengendalian inventaris?
Laporan PPIC penting dalam perencanaan produksi dan pengendalian inventaris karena memberikan wawasan yang mendalam tentang kebutuhan produksi, penggunaan bahan baku, dan pembuatan jadwal produksi. Memahami contoh laporan PPIC membantu perusahaan meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi biaya, dan memaksimalkan produktivitas.








