CNBC Awards

Forecast Barang: Jenis dan Peran Strategisnya dalam Bisnis

Diterbitkan:

McKinsey mencatat bahwa AI dapat menurunkan level inventory sebesar 20–30% melalui peningkatan demand forecasting barang, seperti dynamic segmentation dan machine learning, serta optimasi inventory dengan tools yang lebih efisien.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas prediksi dan cara bisnis menerjemahkannya ke keputusan stok memang berdampak langsung ke kebutuhan persediaan.

Bagian berikut merangkum konsep forecast barang, pilihan metode yang umum dipakai, strategi peningkatan akurasi, serta contoh penerapannya.

Key Takeaways

  • Forecast barang adalah proses memprediksi kebutuhan produk di masa depan berdasarkan data historis dan tren pasar agar stok terkelola dengan efisien.
  • Metode forecast barang sederhana cocok untuk demand stabil, sementara demand seasonal butuh metode yang lebih mengakomodasi.
  • Akurasi forecast naik signifikan ketika SKU disegmentasi (ABC/XYZ) dan ada evaluasi error (MAPE/WAPE).

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa itu Forecast Barang?

      Forecast barang adalah perkiraan kebutuhan stok di masa depan berdasarkan data penjualan, tren pasar, dan pola permintaan pelanggan. Proses ini dilakukan dengan menganalisis data historis dan faktor eksternal untuk menentukan jumlah barang yang tepat agar operasional lebih efisien.

      Tujuan utama forecast barang adalah memastikan ketersediaan stok yang cukup untuk memenuhi permintaan tanpa kelebihan dan mengurangi risiko kehabisan stok yang bisa mengganggu penjualan serta mengoptimalkan modal kerja.

      Selain berperan dalam pengelolaan inventaris, forecast barang juga menjadi alat penting dalam pengambilan keputusan strategis bisnis sehingga bisnis dapat meningkatkan layanan pelanggan sekaligus mengoptimalkan biaya operasional.

      Sumber Data yang Dipakai untuk Forecast Barang

      Forecast barang yang rapi hampir selalu dimulai dari data yang siap pakai. Di bawah ini sumber data yang paling umum dipakai tim inventory untuk menyusun forecast.

      1. Histori penjualan per SKU dan per kanal

      Data transaksi penjualan jadi fondasi utama untuk melihat pola permintaan. Idealnya dipisah per SKU, per cabang/gudang, serta per kanal (offline, marketplace, B2B) karena ritmenya sering berbeda.

      2. Kalender promosi dan perubahan harga

      Promo bundling, diskon periode tertentu, cashback, sampai price change biasanya mengubah demand secara signifikan. Data ini penting supaya lonjakan permintaan tidak terbaca sebagai tren normal dan tidak menyesatkan forecast periode berikutnya.

      3. Data stockout dan lost sales

      Saat stok habis, penjualan tercatat nol, padahal demand bisa saja tetap ada. Catatan stockout (tanggal/jam, SKU, lokasi) membantu tim memperkirakan demand yang hilang agar baseline forecast tidak turun karena data ‘nol’ yang misleading.

      4. Lead time supplier dan reliabilitas pengiriman

      Forecast dipakai untuk menentukan kapan order harus dibuat, jadi data lead time wajib masuk. Selain rata-rata lead time, catat juga variasinya (sering molor atau tidak) untuk menentukan safety stock yang realistis.

      5. Data inventory on-hand, inbound, dan reserve

      Jumlah stok tersedia, stok dalam perjalanan, serta stok yang sudah di-reserve untuk sales order memengaruhi keputusan replenishment. Data ini membantu tim membedakan kebutuhan order karena demand versus order karena stok tersangkut.

      6. Retur, refund, dan barang rusak

      Retur bisa kembali jadi stok layak jual, atau masuk kategori reject. Kalau retur tinggi dan tidak dipisahkan statusnya, sales forecasting bisa meleset karena supply yang terlihat naik, padahal yang layak jual tidak bertambah.

      7. Pola musiman dan event operasional

      Musim liburan, Ramadan, tahun ajaran baru, sampai event industri (pameran, campaign brand) sering membentuk pola berulang. Data musiman yang dicatat rapi memudahkan pemilihan metode (misalnya seasonal model) dan penentuan stok untuk periode puncak.

      8. Rencana bisnis: target penjualan, ekspansi, dan perubahan assortment

      Launch produk baru, stop produk lama, buka cabang baru, atau perubahan paket bundling perlu masuk sebagai catatan asumsi. Ini biasanya datang dari tim sales/marketing/operational planning agar forecast tidak hanya mengikuti pola masa lalu.

      Metode Forecast Barang yang Tepat untuk Setiap Pola Permintaan

      Berikut adalah beberapa metode forecasting yang umum yang dapat Anda gunakan dalam pengelolaan stok:

      1. Pola permintaan stabil dan volume relatif rata

      Untuk SKU dengan penjualan yang cenderung konsisten dari periode ke periode, metode seperti moving average atau exponential smoothing (simple) biasanya cukup.

      Moving average cocok saat Anda ingin membaca pola dari beberapa periode terakhir (3–6 periode), sedangkan smoothing lebih enak dipakai kalau ingin data terbaru punya pengaruh lebih besar.

      2. Ada tren naik atau turun yang konsisten

      Kalau permintaan terlihat meningkat atau menurun secara bertahap, pakai exponential smoothing dengan komponen tren (Holt) atau regresi linier agar proyeksi mengikuti arah pergerakannya.

      Supaya hasilnya tidak bias, pastikan histori datanya cukup panjang dan ada catatan perubahan harga atau promo yang bisa mengubah pola permintaan.

      3. Musiman dan berulang tiap periode

      Untuk demand yang sering naik di momen tertentu seperti Ramadan, liburan, atau back-to-school, metode seasonal time-series (keluarga ARIMA/seasonal model) lebih relevan karena bisa menangkap pola musiman.

      Pada tahap eksekusi, data promo dan event sebaiknya dicatat jelas supaya baseline permintaan tidak tercampur dengan efek campaign.

      4. Demand lumpy (jarang laku, tetapi sekali laku bisa besar)

      Pada SKU seperti sparepart, item proyek, atau barang slow-moving, pendekatan intermittent demand lebih cocok karena fokusnya ada di pola permintaan yang tidak rutin. Praktiknya sering dimulai dari klasifikasi SKU lalu diturunkan ke aturan reorder, termasuk minimum order, service level, dan safety stock yang disesuaikan dengan variasi lead time.

      5. Produk baru atau data historis minim

      Untuk SKU baru atau saat masuk channel baru, forecast biasanya dimulai dari judgment/Delphi lalu dibandingkan dengan produk analog yang punya karakter permintaan mirip. Setelah transaksi mulai terkumpul, update forecast secara berkala (misalnya mingguan) agar asumsi awal cepat terkoreksi dan lebih dekat dengan demand aktual.

      Banyak faktor eksternal yang memengaruhi demand
      Kalau permintaan sangat dipengaruhi harga, promo, musim, channel, atau perbedaan lokasi, gunakan regresi atau model berbasis variabel supaya faktor-faktor tersebut masuk ke perhitungan.

      Berikut ringkasan metode forecast barang yang umum digunakan untuk memprediksi kebutuhan stok secara lebih akurat:

      Metode Forecast Penjelasan Singkat
      Moving Average Menghitung rata-rata penjualan dari beberapa periode sebelumnya, cocok untuk tren stabil.
      Exponential Smoothing Memberi bobot lebih pada data terbaru, ideal untuk tren naik/turun bertahap.
      Regresi Linier Menghubungkan permintaan dengan variabel lain seperti harga atau promosi.
      ARIMA Menganalisis tren dan musiman dalam data deret waktu untuk prediksi jangka menengah.
      Delphi Method Berdasarkan opini para ahli melalui diskusi berulang, cocok untuk produk baru.

      Strategi Membuat Forecast Barang Lebih Akurat

      infografis

      Setelah mengetahui metode forecasting yang pas, Anda juga perlu mengetahui bagaimana mengimplementasinya dengan tepat dan tidak asal-asalan.

      1. Rapikan data historis per SKU dan per lokasi

      Pastikan histori penjualan tersimpan rapi per SKU, per cabang/gudang, dan per kanal penjualan. Pakai periode yang cukup representatif agar pola mingguan dan bulanan kebaca, termasuk perubahan saat musim tertentu.

      2. Catat promo, perubahan harga, dan event operasional

      Kalender promo, bundling, diskon periode, serta price change perlu masuk sebagai catatan data. Anda bisa membedakan demand normal dengan lonjakan akibat campaign, jadi forecast periode berikutnya tetap realistis.

      3. Pisahkan demand dengan penjualan yang terhambat stockout

      Saat stok kosong, penjualan bisa terlihat turun padahal permintaan masih ada. Simpan data stockout (tanggal, durasi, SKU, lokasi) agar baseline forecast tidak ikut turun karena angka penjualan ‘nol’ yang sebenarnya bukan demand nol.

      4. Masukkan data lead time dan variasinya

      Forecast dipakai untuk menentukan kapan order dibuat, jadi lead time supplier perlu dihitung dan dipantau per pemasok. Selain rata-rata lead time, catat juga variasinya supaya safety stock dan reorder point bisa dihitung lebih masuk akal.

      5. Gunakan segmentasi SKU untuk menentukan tingkat ketelitian

      Terapkan analisis ABC agar item prioritas (A) diforecast dengan perhatian lebih detail, termasuk review lebih sering dan parameter yang lebih ketat. Item B dan C bisa memakai pendekatan yang lebih sederhana selama tetap ada batas minimum stok.

      6. Tetapkan metrik evaluasi dan jadwal review

      Tentukan metrik evaluasi forecast yang dipakai secara konsisten (mis. MAPE atau WAPE), lalu review rutin per periode. Dengan cara ini, tim bisa tahu metode mana yang paling mendekati realisasi untuk tiap kategori SKU.

      7. Uji metode per kategori SKU

      Metode yang cocok untuk demand stabil belum tentu cocok untuk musiman atau lumpy demand. Uji beberapa opsi per kategori, lalu pilih yang paling konsisten performanya berdasarkan hasil evaluasi.

      8. Satukan input lintas tim

      Libatkan sales, marketing, operasional, dan finance untuk mengisi asumsi yang berdampak langsung ke demand, seperti target campaign dan perubahan assortment. Catatan dari tim ini sebaiknya ditulis sebagai asumsi, bukan menggantikan data historis.

      Pendekatan ini mencerminkan prinsip continuous improvement untuk memastikan sistem forecasting tetap presisi dan adaptif.

      Cara Menghitung Forecast Barang

      Forecast barang bisa dihitung dengan beberapa cara sederhana. Metode yang dipilih biasanya mengikuti pola demand: ada yang stabil, ada yang pelan-pelan naik, ada juga yang dipengaruhi banyak faktor.

      Di bawah ini beberapa metode yang paling sering dipakai, lengkap dengan contoh hitungnya.

      1. Metode moving average

      Moving average menghitung rata-rata permintaan dari beberapa periode terakhir. Cara ini cocok kalau demand cenderung stabil dan fluktuasinya tidak ekstrem.

      Forecast = (Jumlah permintaan dalam n periode terakhir) / n

      Contoh:
      Jika penjualan selama 3 bulan terakhir adalah 100, 120, dan 110 unit, maka:

      Forecast = (100 + 120 + 110) / 3 = 110 unit

      Angka 110 unit bisa dipakai sebagai estimasi kebutuhan bulan berikutnya. Metode ini praktis, tapi responsnya lebih lambat saat tren berubah cepat.

      2. Metode exponential smoothing

      Exponential smoothing memberi bobot lebih besar pada data terbaru. Metode ini enak dipakai kalau demand bergerak pelan, misalnya perlahan naik atau perlahan turun.

       Forecast= α × Permintaan terbaru + (1 − α) × Forecast sebelumnya

      Keterangan:

      • α = smoothing constant (0 < α < 1)
      • Forecast = proyeksi untuk periode saat ini
      • Permintaan terbaru = data permintaan aktual periode terakhir
      • Forecast sebelumnya = hasil peramalan periode sebelumnya

      Contoh:
      Jika permintaan terbaru adalah 120 unit, forecast sebelumnya 115 unit, dan α = 0.3:

      Forecast = 0.3 × 120 + 0.7 × 115 = 116.5 unit

      Exponential smoothing ideal untuk produk yang mengalami pertumbuhan atau penurunan bertahap, serta digunakan secara luas karena efisiensinya dalam pembaruan data.

      3. Metode regresi linier

      Regresi linier dipakai saat demand punya tren yang cukup konsisten, misalnya naik seiring waktu, atau dipengaruhi faktor tertentu seperti promosi dan harga. Metode ini membantu membaca hubungan antara variabel dan membuat proyeksi yang lebih terarah.

      Y = a + bX

      Keterangan:

      • Y = permintaan yang diproyeksikan
      • a = permintaan awal
      • b = kenaikan rata-rata per periode
      • X = periode waktu

      Nilai a dan b biasanya dihitung dari data historis, dan praktiknya sering dibantu Excel. Metode ini cocok untuk tren yang relatif rapi dan tidak terlalu acak.

      4. Penambahan safety stock (stok pengaman)

      Setelah punya angka forecast, stok pengaman dipakai untuk berjaga kalau ada keterlambatan supplier atau lonjakan demand. Tujuannya sederhana: operasional tetap jalan meski ada deviasi.

      Safety Stock = (Maksimum Lead Time − Rata-rata Lead Time) × Rata-rata Permintaan Harian

      Contoh:
      Jika lead time maksimum 6 hari, rata-rata lead time 3 hari, dan permintaan harian 20 unit:

      Safety Stock = (6 − 3) × 20 = 60 unit

      5. Total kebutuhan stok

      Total stok yang disiapkan biasanya gabungan dari forecast dan safety stock. Angka ini bisa dipakai sebagai dasar rencana pemesanan.

      Total Stok = Forecast + Safety Stock

      Contoh:

      • Forecast = 110 unit
      • Safety Stock = 60 unit

      Total Stok = 110 + 60 = 170 unit

      Dari sini, tim bisa menentukan forecast order, seperti berapa yang perlu dipesan, dan kapan waktu pesan yang paling aman.

      Contoh Forecast Barang

      Agar konsep forecasting barang lebih mudah untuk Anda pahami, berikut adalah contoh perhitungan sederhana menggunakan metode moving average dan exponential smoothing. Contoh ini dapat membantu pelaku usaha kecil maupun menengah dalam mengambil keputusan pengadaan berdasarkan data historis yang tersedia.

      Contoh 1: menggunakan metode moving average

      Misalkan sebuah toko memiliki data penjualan produk A selama empat bulan terakhir:

      Periode Unit
      Januari 100
      Februari 120
      Maret 110
      April 130
      Total 460

       

      Untuk menghitung forecast bulan Mei menggunakan metode 3-period moving average, ambil rata-rata dari tiga bulan terakhir (Februari–April):

      Forecast Mei = (120 + 110 + 130) / 3 = 360 / 3 = 120 unit

      Artinya, estimasi kebutuhan stok produk A untuk bulan Mei adalah 120 unit. Jika toko memiliki sistem pengadaan rutin bulanan, angka ini bisa menjadi dasar untuk pemesanan.

      Contoh 2: menggunakan metode exponential smoothing

      Gunakan data yang sama, namun kali ini menggunakan metode exponential smoothing.

      Asumsikan:

      • Forecast April = 115 unit (dari periode sebelumnya)
      • Permintaan April = 130 unit
      • α (alpha) = 0.3

      Forecast Mei = (0.3 × 130) + (0.7 × 115) = 39 + 80.5 = 119.5 unit

      Dengan pembulatan, forecast untuk Mei adalah 120 unit. Nilai ini sangat mirip dengan hasil moving average, namun metode exponential smoothing lebih responsif terhadap perubahan tren.

      Contoh 3: Menambahkan Safety Stock

      Misalnya, toko menghadapi ketidakpastian dalam waktu pengiriman barang dari supplier.

      • Lead time maksimum: 7 hari
      • Rata-rata lead time: 5 hari
      • Permintaan harian rata-rata: 25 unit

      Safety Stock = (7 − 5) × 25 = 50 unit

      Total kebutuhan stok

      Jika mengambil forecast dari metode moving average, maka hasilnya adalah 120 unit dan safety stock yang dibutuhkan sebanyak 50 unit, maka:

      Total Kebutuhan Stok = 120 + 50 = 170 unit

      Jadi, untuk memastikan ketersediaan barang dan menghindari kehabisan stok, toko disarankan untuk memiliki 170 unit produk A selama bulan Mei.

      Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa forecasting merupakan proses terukur yang dapat membantu pengusaha dalam menyusun strategi pengadaan, mengurangi biaya penyimpanan, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

      Bahkan, jika terintegrasi dengan software inventory, perhitungan seperti ini bisa Anda lakukan secara otomatis dengan tingkat akurasi yang tinggi.

      Kesimpulan

      Forecast barang membantu bisnis menentukan kebutuhan stok berdasarkan pola permintaan, lead time, dan momen musiman yang relevan. Dengan perencanaan yang rapi, tim bisa menjaga ketersediaan barang lebih konsisten tanpa menumpuk persediaan yang tidak perlu.

      Akurasi forecast juga berpengaruh langsung ke biaya penyimpanan, ketepatan pengadaan, dan kelancaran operasional harian. Karena itu, penting untuk memakai data yang bersih, memilih metode yang sesuai pola permintaan, lalu mengevaluasi hasilnya secara rutin.

      Jika volume SKU sudah banyak atau prosesnya melibatkan beberapa lokasi, pertimbangkan penggunaan tools yang memudahkan pencatatan, pembaruan data, dan kontrol parameter stok. Yang terpenting, forecasting perlu diperlakukan sebagai proses yang terus disempurnakan.

      Inventory_Definisi

      Pertanyaan Seputar Forecast Barang

      Apa saja hal yang harus dipertimbangkan saat melakukan forecasting barang?


      +
      Lihat jawaban
      Saat forecasting barang, penting untuk mempertimbangkan data penjualan sebelumnya, tren pasar, pola musiman, kondisi ekonomi, dan kapasitas produksi. Selain itu, perhatikan juga faktor persaingan dan keandalan rantai pasokan. Pemilihan metode forecasting yang tepat juga sangat menentukan akurasi prediksi.

      Mengapa forecast barang penting dalam dunia perdagangan?


      +
      Lihat jawaban
      Forecast barang membantu bisnis mengelola stok dengan tepat dan mencegah kelebihan atau kekurangan barang. Dengan penerapan forecast yang akurat, perusahaan dapat merencanakan produksi dan pengadaan secara efisien, menjaga kepuasan pelanggan, serta meningkatkan profitabilitas dan daya saing di pasar.

      Apa risiko yang terjadi jika forecast barang tidak akurat?


      +
      Lihat jawaban
      Forecast yang tidak akurat bisa menyebabkan overstock yang mengikat modal dan meningkatkan biaya penyimpanan, serta stockout yang membuat pelanggan kecewa dan kehilangan penjualan. Selain itu, perencanaan produksi dan operasi menjadi tidak optimal, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian dan gangguan bisnis.

      Jessica Wijaya

      Senior Content Writer

      Selama lebih dari 5 tahun sebagai Senior Content Writer, Jessica telah menulis topik yang mengulas tentang bidang inventory dan warehouse management. Keahliannya mencakup penulisan artikel manajemen stok dan persediaan, perencanaan kebutuhan, multi-warehouse management, dan integrasi sistem digital untuk pengelolaan barang.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya