CNBC Awards

Panduan ERP Data Migration yang Aman bagi Bisnis Anda

Diterbitkan:

Mengapa migrasi data ERP sering menjadi titik kegagalan dalam implementasi, meskipun sistem yang dipilih sudah tepat? Tanpa perencanaan yang matang, risiko kehilangan data atau kerusakan informasi dapat meningkat dan membuat proses perpindahan sistem terasa berisiko bagi banyak perusahaan.

Riset yang dikutip Experian dari Gartner menyebut 83% proyek data migration berakhir gagal atau melewati anggaran dan jadwal, sehingga risiko terbesar biasanya muncul saat eksekusi, bukan saat pemilihan sistem. Di sisi lain, Gartner juga mencatat dampak biaya dari kualitas data yang buruk mencapai rata-rata US$12,9 juta per tahun per organisasi, jadi perapihan data sebelum pindah sistem akan lebih menguntungkan.

Karena itu, persiapan perlu dibuat sederhana tapi disiplin. Mulailah dari langkah yang paling penting: audit data, rapikan dan samakan formatnya, lalu uji migrasi di lingkungan test. Setelah siap, tentukan cut-off, cek saldo dan beberapa sampel transaksi setelah go-live, serta amankan prosesnya lewat backup, pembatasan akses, dan transfer data yang aman.

Key Takeaways

  • ERP data migration adalah proses memindahkan dan membersihkan data dari sistem lama ke ERP baru agar operasional berjalan akurat sejak hari pertama.
  • Jenis data yang wajib dipindahkan mencakup master data, data transaksi aktif, dan ringkasan data historis agar sistem ERP baru dapat berjalan optimal dan tetap responsif.
  • Pilih perusahaan/partner migrasi data yang punya metodologi jelas, pengalaman di pengelolaan sistem ERP serupa, rencana validasi bersama key user, serta komitmen keamanan data (backup, kontrol akses, dan audit trail).

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Mengenal Pentingnya ERP Data Migration

      ERP data migration adalah proses memindahkan data dari sistem lama ke ERP baru. Praktiknya bukan sekadar memindahkan file, karena data biasanya perlu diekstrak, dirapikan, lalu dimuat kembali agar format dan strukturnya sesuai dengan sistem baru.

      Tahap ini menentukan apakah ERP baru bisa langsung dipakai dengan data yang akurat, atau justru membawa “masalah lama” yang mengganggu operasional.

      Bagaimana Proses Migrasi Data Berjalan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai?

      Migrasi data berbeda dari integrasi data. Integrasi berjalan terus antar sistem, sedangkan migrasi berarti perpindahan permanen ke platform baru.

      Umumnya, yang dipindahkan mencakup data master (misalnya pelanggan, daftar pemasok terpilih, item) dan data transaksi yang masih relevan untuk proses berjalan. Ruang lingkup perlu dibuat jelas supaya tim tidak menghabiskan waktu pada data duplikat, tidak lengkap, atau data yang sudah tidak digunakan.

      Jika migrasi data gagal, dampaknya bisa langsung terasa di bisnis, mulai dari operasional yang tersendat sampai biaya yang meningkat. Data stok yang tidak akurat dapat memicu salah pembelian dan keterlambatan pemenuhan pesanan.

      Di sisi keuangan, data piutang yang bermasalah dapat mengganggu penagihan dan meningkatkan risiko ketidaksesuaian saat audit. Karena itu, pada proyek implementasi ERP integritas data sebaiknya jadi prioritas sejak awal, bukan diperbaiki belakangan.

      Jenis Data yang Perlu Diprioritaskan Saat Pindah ke ERP Baru

      Dalam proyek implementasi ERP, memilah data sejak awal adalah keputusan penting. Tidak semua data 10 tahun lalu perlu ikut “pindah rumah”. Fokuskan pada data yang masih dipakai untuk operasional hari ini dan yang dibutuhkan untuk analisis ke depan.

      Di banyak proyek, pembagian data ke kategori yang jelas membuat proses pengecekan dan persetujuan user lebih cepat. Sebelum eksekusi dimulai, kelompokkan data ke tiga jenis berikut agar tim tidak bekerja tanpa arah.

      1. Master Data (Data Induk)

      Master data adalah data referensi yang dipakai lintas proses dan lintas departemen. Contohnya data pelanggan, vendor, chart of accounts (COA), daftar item, dan material produk.

      Akurasi master data sangat menentukan kualitas transaksi di ERP. Jika ada kesalahan di sini, dampaknya biasanya ikut menjalar ke banyak modul.

      2. Transactional Data (Data Transaksi)

      Data transaksi berisi aktivitas bisnis yang masih berjalan, seperti sales order yang masih open, purchase order yang belum selesai, dan invoice yang belum lunas.

      Penentuan cut-off perlu jelas agar saldo awal di ERP baru sesuai dengan posisi terakhir di sistem lama. Pindahkan yang aktif dan relevan saja supaya database tetap ringan dan mudah dikelola.

      3. Historical Data (Data Riwayat)

      Data historis sering jadi jebakan karena banyak perusahaan ingin memindahkan semuanya. Padahal, yang lebih aman biasanya memindahkan ringkasan saldo, lalu menyimpan detail transaksi lama sebagai arsip.

      Pendekatan ini menjaga ERP tetap responsif, tanpa mengorbankan kebutuhan audit, pelacakan, atau analisis historis bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

      Tantangan Umum dalam Proses Migrasi Data

      Migrasi data sering jadi tahap paling “menguras tenaga” dalam implementasi ERP, karena melibatkan kerja teknis sekaligus alur kerja bisnis. Banyak perusahaan baru menyadari kondisi data yang berantakan saat proses pengecekan dimulai. Kalau tantangannya sudah dipahami dari awal, rencana mitigasi bisa dibuat lebih realistis.

      Hambatan terbesar biasanya bukan di teknologinya, melainkan di kualitas data lama dan kesiapan tim internal. Persiapan yang kurang rapi dapat membuat jadwal go-live mundur cukup jauh. Berikut tantangan yang paling sering muncul.

      • Kualitas data yang buruk (dirty data)

      Data yang tidak konsisten, duplikat, atau tidak lengkap adalah sumber masalah utama. Memindahkan data “kotor” ke sistem baru hanya memindahkan masalah dengan tampilan yang lebih modern.

      Karena itu, data cleansing sebaiknya dilakukan sebelum proses migrasi dimulai, bukan sambil jalan saat timeline sudah mepet.

      • Perbedaan format dan struktur database

      Sistem lama sering punya struktur tabel dan penamaan kolom yang tidak sejalan dengan developer perangkat ERP modern, terutama yang berbasis cloud. Pekerjaan data mapping perlu detail agar data masuk ke tempat yang benar dan maknanya tidak berubah.

      Kesalahan mapping terlihat kecil di awal, tetapi efeknya bisa besar karena laporan dan dashboard menjadi tidak akurat.

      • Kesiapan tim internal dan minimnya validasi

      Tim operasional biasanya sudah sibuk dengan pekerjaan harian, jadi proses verifikasi data sering terasa seperti beban tambahan. Kalau key user tidak terlibat sejak awal, risiko salah data pasca go-live meningkat.

      Langkah Strategis Melakukan ERP Data Migration

      Migrasi data yang sukses biasanya bukan soal “alatnya paling canggih”, tapi soal prosesnya rapi dan konsisten. Vendor bisa membantu sisi teknis, tetapi pemilik data di internal tetap perlu terlibat agar konteks bisnisnya tidak salah terjemah.

      Pendekatan bertahap juga lebih aman. Setiap tahap perlu punya indikator “lulus” sebelum lanjut, supaya masalah ketahuan saat masih mudah diperbaiki.

      1) Audit dan penilaian data sumber

      Mulai dengan mendata semua sumber data yang dipakai saat ini. Tandai mana data yang masih valid, mana yang sudah tidak dipakai, dan mana yang duplikat.

      Hasil audit ini jadi dasar untuk menghitung effort pembersihan, sekaligus menentukan data apa yang memang perlu dibawa.

      2) Perencanaan dan pemetaan data (data mapping)

      Susun dokumen mapping antara field di sistem lama dan field di ERP baru. Tentukan juga aturan konversinya, misalnya format tanggal, kode mata uang, atau satuan ukuran.

      Dokumen ini akan jadi pegangan bersama untuk tim IT, konsultan, dan key user agar tidak ada interpretasi berbeda.

      3) Pembersihan data (data cleansing)

      Rapikan format penulisan, hapus data ganda, dan lengkapi data yang “bolong” sebelum proses impor. Tools sederhana seperti Excel cukup membantu, tetapi untuk data besar biasanya perlu skrip atau tooling khusus.

      Semakin bersih datanya, semakin kecil risiko error saat import dan semakin cepat user bisa validasi.

      4) Uji coba migrasi (mock migration)

      Lakukan simulasi migrasi di sandbox atau environment testing. Tujuannya untuk menemukan error format, pemetaan kompetensi karyawan yang keliru, atau logika yang tidak nyambung, tanpa mengganggu sistem produksi.

      Setelah itu, review hasilnya bersama user terkait supaya koreksi dilakukan sebelum migrasi final.

      5) Eksekusi migrasi final dan validasi

      Jalankan migrasi final saat aktivitas bisnis rendah, misalnya akhir pekan atau hari libur. Setelah data masuk, lakukan validasi saldo, sampling transaksi, dan pengecekan laporan kunci.

      Akhiri dengan sign-off dari masing-masing departemen sebagai tanda data sudah sesuai dan siap dipakai.

      Hal yang Perlu Anda Perhatikan untuk Memastikan Keamanan Data Saat Migrasi

      Saat data sedang dipindahkan, risiko paling besar biasanya ada di dua hal: kebocoran dan kerusakan data. Karena itu, keamanan perlu dipikirkan sejak perencanaan, bukan setelah terjadi masalah.

      Selain ancaman eksternal, human error juga sering jadi penyebab utama. Prosedur perlu jelas dan disiplin dijalankan.

      Backup data sebelum eksekusi

      Lakukan full backup dari sistem lama sebelum proses dimulai. Backup ini adalah “jaring pengaman” kalau terjadi error besar di tengah jalan.

      Pastikan juga prosedur restore sudah diuji, bukan hanya sekadar punya file backup.

      Pembatasan akses (access control)

      Saat migrasi, banyak pihak perlu mengakses data mentah. Namun, tidak semua orang perlu melihat seluruh data, apalagi mengubahnya. Pembagian akses berbasis peran membantu menjaga data tetap aman dan proses validasi tetap cepat.

      Berikut contoh pembagian akses yang ideal:

      Role Akses Data
      Project Manager Lihat semua data, tanpa hak edit
      Data Admin Edit master data saja
      Finance User Validasi data keuangan saja
      IT Support Akses penuh sementara (berdasarkan durasi/tiket)

      Fitur seperti Access-Level Matrix di HashMicro atau Role-Based Access Control (RBAC) di SAP dapat mengatur izin secara detail per user. Pastikan vendor ERP mampu membuat pembagian akses serupa sebelum migrasi dimulai.

      Enkripsi dan keamanan transfer data

      Gunakan jalur transfer yang aman dan enkripsi saat data dipindahkan antar server. Dengan enkripsi, data tetap sulit dibaca meski lalu lintas jaringan sempat terintersep.

      Selaraskan standar enkripsi dan protokol transfer dengan kebijakan keamanan IT internal agar tetap memenuhi kebutuhan compliance di tahun ini.

      Checklist Praktis untuk Migrasi Data ERP

      Migrasi data ERP bukan cuma urusan tim IT. Hasilnya akan terasa di operasional harian, laporan, dan cara tim mengambil keputusan setelah sistem baru dipakai. Kalau persiapannya rapi, migrasi bisa sekalian jadi momen untuk merapikan data dan menyamakan standar kerja antar divisi.

      Di lapangan, proses ini biasanya lebih lancar ketika ada metode implementasi yang jelas dan sistem yang sudah terintegrasi, sehingga proses pindah data dan validasi tidak mengganggu kerja harian terlalu banyak.

      Saat data sudah rapi dan konsisten, langkah transformasi berikutnya jadi lebih ringan karena tim bekerja dengan angka yang sama dan informasi yang bisa dipercaya. Mulai dari langkah kecil dulu: rapikan data inti, tetapkan cut-off, dan jalankan uji coba sebelum migrasi final. Berikut checklist yang dapat Anda perhatikan saat melakukan migrasi data ERP.

      Checklist berikut membantu Anda menilai kesiapan migrasi dari sisi data, proses, dan tim. Poin-poinnya disusun untuk mencegah masalah yang paling sering muncul, seperti data yang belum bersih, mapping yang keliru, validasi yang terlewat, atau go-live yang terganggu karena cut-off yang tidak jelas.


      PDF Icon
      Download ERP Data Migration Checklist (PDF)

      Pertanyaan Seputar ERP Data Migration

      • Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk migrasi data ERP?

        Waktu migrasi bervariasi tergantung volume dan kebersihan data, namun umumnya memakan waktu 1 hingga 3 bulan untuk perusahaan skala menengah.

      • Apakah semua data historis perlu dipindahkan ke sistem baru?

        Tidak disarankan memindahkan semua data historis; sebaiknya hanya pindahkan data saldo awal dan arsipkan data lama untuk menjaga performa sistem.

      • Bagaimana cara memastikan data tidak hilang saat migrasi?

        Lakukan backup data penuh sebelum proses dimulai dan jalankan validasi bertahap di lingkungan tes (sandbox) sebelum eksekusi final.

      Hendra Gunawan

      Hendra Gunawan - Senior Content Writer - ERP Specialist

      Hendra adalah ERP Specialist senior dengan pengalaman lebih dari 6 tahun dalam implementasi dan optimasi sistem ERP di berbagai industri. Ia berspesialisasi dalam menulis artikel seputar implementasi dan integrasi modul bisnis, sistem ERP untuk manajemen operasional, dan otomatisasi proses bisnis.

      William adalah seorang praktisi dengan gelar Bachelor of Computer Science dari Nanyang Technological University Singapore, dengan keahlian mendalam terkait teknologi informasi dan pengembangan sistem. Pengalaman awal dalam bidang teknologi menumbuhkan ketertarikannya terhadap solusi enterprise yang dapat mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis. Selama sepuluh tahun terakhir, William mendalami dunia sistem Enterprise Resource Planning (ERP), yang memperkuat keahliannya dalam arsitektur sistem, implementasi solusi bisnis terintegrasi, serta optimalisasi proses operasional melalui teknologi.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya