Enterprise Performance Management atau EPM adalah strategi manajemen untuk meningkatkan efisiensi bisnis dengan menyatukan seluruh komponen seperti faktor keuangan, kondisi penjualan, rencana usaha, dan kinerja karyawan agar memiliki visi yang sama dan semua performa tersebut berkembang.
Sederhananya, EPM menerjemahkan data operasional usaha Anda menjadi insight dan juga hal-hal yang bisa diukur dengan lebih mudah. Ini merupakan sendi utama dari strategi bisnis dalam menghadapi segala dinamika pasar dan fluktuasi keuangan perusahaan Anda agar bisnis tetap bisa bertahan.
Untuk memahami apa itu EPM, artikel ini akan mengajak Anda untuk mengetahui pengertian dari EPM, siklus, serta langkah-langkah menjadikannya sebagai budaya manajemen bagi bisnis Anda.
Key Takeaways
Manajemen kinerja perusahaan adalah strategi untuk menyatukan, baik divisi ataupun perusahaan, agar target perusahaan dapat lebih mudah digapai.
Agility sangat dibutuhkan perusahaan ketika menghadapi masa genting pada bisnis. Di sinilah peran EPM menentukan kelincahan perusahaan dalam menghadapi masalah.
Integrasi EPM dengan ERP akan mempercepat proses analisis serta pemberian insight mengenai kondisi kesehatan bisnis atau prediksi usaha ke depannya.
Daftar Isi:
Mengenali Apa Itu EPM
Manajemen kinerja perusahaan atau biasa disingkat EPM merupakan strategi bisnis untuk membuat seluruh komponen dalam bisnis tidak bergerak sendiri-sendiri untuk mencapai objektif perusahaan.
Peran EPM dalam bisnis bukan hanya sekadar laporan kinerja perusahaan, tetapi harus dianggap sebagai tulang punggung dalam menentukan alur kerja perusahaan dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis ke depannya.
Meski kerap disamakan dengan ERP (Enterprise Resources Planning), sebenarnya EPM merupakan bagian berbeda dari bisnis. ERP hanya berfokus pada eksekusi operasional perusahaan dan menyimpan seluruh record kegiatan, sedangkan manajemen kinerja memberikan rekomendasi cara mengelola bisnis berdasarkan situasi dan kondisi yang bisa berubah dalam waktu dekat.
EPM tidak bisa menggantikan ERP karena perannya saja sudah berbeda. Sebaliknya, justru EPM bisa diintegrasikan dengan sistem ERP perusahaan Anda. Contoh sederhananya, setiap transaksi yang dilakukan dan dicatat dalam sistem ERP dapat diterjemahkan oleh EPM menjadi data yang mudah dianalisis.
Apa Saja Siklus EPM?
Perlu diingat bahwa siklus EPM berbeda dari siklus ERP, meskipun seringkali dikaitkan karena EPM juga merupakan bentuk manajemen bisnis. Siklus dari EPM berfokus pada proses perencanaan yang matang dan prediktif untuk mengantisipasi gangguan bisnis di masa depan.
Untuk lebih memahami tiap siklusnya, Anda dapat mempelajari siklus utama EPM secara lebih detail berikut ini:
- Penetapan arah bisnis (strategic modeling): Tahap di mana Anda sebagai owner bisnis menentukan arah bisnis berikut dengan target usaha dan skenario risikonya untuk menetapkan fondasi awal harus bagaimana bisnis dalam berkembang.
- Perencanaan detail setiap komponen bisnis (detailed planning): Di tahap ini, Anda merencanakan segala kebutuhan perusahaan seperti anggaran, budget forecast, bahkan material yang diperlukan berdasarkan proyeksi perkembangan bisnis dalam strategic modeling.
- Konsolidasi data rencana dengan tiap departemen: Setelah data dibuat, berikutnya yaitu mencocokkan data (terutama data keuangan) dengan keadaan tiap departemen perusahaan Anda (misalnya tim produksi, IT, finance, atau HR) untuk melihat apakah rencana tersebut bisa dijalankan atau tidak.
- Eksekusi dan pemantauan performa divisi (performance monitoring): Sampai tahap ini, manajemen tiap departemen perusahaan Anda akan memantau kinerja kerja karyawan per divisi dan output yang diberikan; apakah sudah sesuai KPI (Key Performance Indicator) dan rencana bisa mengantisipasi masalah yang terjadi.
- Analisis hasil performa departemen: Setelah seluruh departemen menjalankan job description masing-masing selama periode yang telah ditentukan dengan mengikuti workflow dan rencana bisnis yang sudah ditetapkan di awal, keseluruhan output akan dianalisis. Laporan masalah juga dikaji untuk mengetahui masalah apa yang menghambat output untuk menentukan strategi bisnis baru.
Setelah mengikuti siklus EPM di atas, perusahaan Anda dapat menjadi lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dan anomali pada bisnis. SOP (Standar Operasional Perusahaan) yang baik ialah SOP yang bisa mengikuti arus bisnis.
Manfaat dari Menerapkan EPM untuk Bisnis
EPM adalah bagian dari perencanaan bisnis. Meski dampaknya tidak langsung terasa dalam perkembangan usaha Anda, penting untuk menerapkan EPM bagi perusahaan Anda karena EPM memiliki sejumlah manfaat tidak langsung berikut:
- Perencanaan mengikuti visi misi usaha: EPM membantu perusahaan Anda agar perencanaan tiap departemen tidak terpencar dan dijadikan satu mengikuti visi misi perusahaan. Perencanaan yang saling terintegrasi membuat antisipasi masalah lebih lancar.
- Pengambilan keputusan menjadi lebih tepat guna: Dengan melihat data kondisi setiap divisi perusahaan, Anda dapat mengambil keputusan menyesuaikan dengan kebutuhan tiap departemen dengan juga menyesuaikan keputusan tersebut dengan objektif bisnis.
-
Membuat profit perusahaan stabil:
Profitabilitas perusahaan menjadi lebih stabil dan meningkat berkat pengambilan keputusan bisnis yang baik, misalnya keputusan produksi berhasil memenuhi angka permintaan suatu produk yang laku.
- Meningkatkan kelincahan (agility) bisnis jika keadaan berubah: EPM yang baik dan fleksibel menjadi acuan bisnis ketika menghadapi gangguan tidak terduga, misalnya profit loss. Perusahaan dapat dengan cekatan (agile) dalam menentukan strategi untuk mencegah hal itu berdampak lebih berat.
- Proses penutupan keuangan dapat dilakukan lebih cepat: Karena EPM menyatukan seluruh departemen dengan SOP yang sama, maka proses pelaporan keuangan tidak tumpang tindih dan dapat dipercaya, menjamin penutupan keuangan (financial close) lebih cepat untuk satu periode.
Setelah mengetahui ragam manfaat dari EPM, berikutnya Anda bisa mempelajari cara menerapkan EPM yang baik.
Cara Menerapkan EPM dengan Efektif
Menjadikan EPM sebagai budaya manajemen perusahaan Anda memerlukan penyesuaian dan langkah yang tepat agar EPM menjadi fondasi manajemen yang kuat. Berikut merupakan cara-cara dari menerapkan EPM:
1. Tetapkan arah strategis dengan jelas
Arah strategis yang jelas dan sama memungkinkan seluruh departemen bisa mencapai visi misi perusahaan yang sama. Maka itu, pikirkan baik-baik tujuan perusahaan Anda dalam operasional bisnis sebagai acuan awal seluruh karyawan Anda.
2. Hubungkan KPI dengan target perusahaan
Budaya EPM dapat terbentuk ketika target pekerjaan tidak berhenti di level direksi, melainkan berjalan di seluruh lapisan karyawan. Tiap departemen perlu menyesuaikan KPI dengan tepat agar bisa sejalan dengan target perusahaan.
Usaha kerja sekecil apapun di setiap departemen akan langsung memengaruhi keberhasilan target perusahaan.
3. Buat data yang konsisten antar departemen
Jika antar divisi perusahaan memakai acuan data dan metrik angka target yang berbeda-beda, maka manajemen performa tidak dapat dilakukan dengan efektif.
Untuk menghindari EPM yang terhambat, pastikan untuk membuat satu data atau metrik angka sebagai acuan dasar target perusahaan yang dapat digunakan seluruh departemen perusahaan Anda.
4. Integrasikan EPM dengan ERP
Agar metrik, target, atau insight pada EPM menjadi lebih akurat, integrasi dengan sistem ERP sangat penting karena ERP menyajikan informasi langsung terkait flow operasional bisnis; secara tidak langsung memberitahu apakah kondisi bisnis Anda sedang sehat atau tidak.
Dari informasi yang disajikan, EPM akan mengolahnya menjadi data dan metrik yang lebih mudah dipahami, sehingga mempercepat proses implementasi EPM pada seluruh lapisan kantor.
5. Bentuk pengelolaan lintas departemen dan pusat acuannya
Budaya manajemen performa bisa terhalang hanya karena manajemen tiap divisi menganggap EPM merupakan pekerjaan satu departemen saja.
Dengan menetapkan regulasi dan menyosialisasikan bahwa EPM adalah tanggung jawab seluruh divisi, maka inisiatif manajemen akan tumbuh, menjamin pelaksanaan EPM dengan baik dan saling berkaitan.
6. Berinvestasilah pada in change management
Investasi in change management membantu perusahaan tetap bertahan meskipun siklus pasaran atau internal perusahaan berubah. Anda bisa melakukan pelatihan pada pemangku kepentingan perusahaan mengenai ritme kerja, SOP, potensi risiko dari setiap pekerjaan, sampai fluktuasi market yang dapat menguntungkan atau mengancam bisnis.
Dengan in change management investation, manajemen perusahaan Anda akan lebih siap menghadapi berbagai macam dinamika kantor.
7. Jadikan review kinerja sebagai kebiasaan rutin
Yang terakhir tetapi sering dianggap remeh yaitu review atau evaluasi kerja. Meski dampaknya tidak langsung terlihat signifikan, review ini penting untuk meninjau kembali apakah EPM yang Anda terapkan pada perusahaan sudah berhasil meningkatkan output pada tiap departemen.
Jika ada hambatan, Anda dapat langsung mengenali penyebabnya untuk memperbaiki EPM agar lebih sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Setelah memperhatikan langkah-langkah di atas, Anda dapat coba menerapkannya secara perlahan dan konsisten.
Kesimpulan
Kinerja perusahaan sangat bergantung pada EPM, yang di mana akan membuat kinerja seluruh divisi kantor mampu menyesuaikan dengan kebutuhan bisnis secara relevan. Relevansi ini sangat bergantung pada seberapa matang EPM direncanakan dan dieksekusi.
Penting bagi manajemen perusahaan Anda untuk mengembangkan acuan berdasarkan EPM yang disesuaikan dari EPM bisnis Anda. Jaga komunikasi dengan seluruh manajer departemen agar jika ada saran mengenai pengembangan EPM dapat Anda terapkan demi kelangsungan bisnis yang lebih optimal.
FAQ Seputar EPM
-
Apa perbedaan antara ERP dan EPM?
ERP mengambil peran dalam mengeksekusi tugas-tugas perusahaan seperti pembuatan invoice, update status kas perusahaan, serta supply chain gudang. EPM lebih menekankan pada strategi bisnis dengan menganalisis kinerja bisnis melalui metode seperti budgeting, forecasting, dan reporting.
-
Apa itu proyek EPM?
EPM untuk proyek adalah peran manajemen performa untuk memastikan arus kas proyek tetap terjaga sampai proyek selesai. EPM ini juga berguna dalam memantau kinerja dan kemajuan proyek.
-
Apa saja pekerjaan EPM?
EPM mengambil peran sebagai fungsi strategi perusahaan, seperti: budgeting, konsolidasi keuangan, analisis kinerja, dan scenario modeling untuk menyiapkan strategi usaha yang lebih tepat.
-
Siapa yang membutuhkan EPM?
Divisi keuangan paling membutuhkan EPM untuk keperluan perencanaan, budgeting, serta analisis risiko keuangan untuk menjaga kelangsungan bisnis, tetapi hal ini tidak terbatas pada keuangan saja. Divisi seperti HR atau supply chain juga membutuhkan EPM baik untuk menjaga kinerja karyawan atau mengoptimalkan pengadaan barang yang tidak kalah penting bagi bisnis.






