Driver scoring semakin banyak dipakai dalam operasional logistik dan transportasi untuk menilai performa pengemudi secara lebih terukur. Pendekatan ini membantu perusahaan memiliki acuan yang konsisten saat memantau keselamatan, efisiensi, dan kualitas layanan di lapangan.
Secara sederhana, driver scoring adalah sistem penilaian yang mengubah data perjalanan menjadi skor, berdasarkan indikator seperti pola akselerasi dan pengereman, kepatuhan rute, kecepatan, waktu idle, hingga ketepatan pengiriman.
Skor ini biasanya dihitung dari telematics, GPS, atau catatan operasional sehingga evaluasinya tidak hanya mengandalkan penilaian subjektif. Dengan skor yang jelas, perusahaan lebih mudah menetapkan standar, menyusun coaching yang tepat, dan memberi apresiasi berbasis kinerja.
Key Takeaways
Definisi Driver Scoring adalah metode evaluasi sistematis yang menggunakan data telematika untuk mengukur kinerja dan perilaku pengemudi secara objektif.
Penerapan sistem ini secara langsung berdampak pada Efisiensi Biaya melalui pengurangan konsumsi bahan bakar dan penurunan frekuensi perawatan kendaraan.
Driver scoring membantu analisis operasional armada dengan mengubah data perjalanan menjadi indikator untuk memetakan risiko dan peluang perbaikan proses.
Daftar Isi:
Definisi dan Konsep Dasar Driver Scoring
Driver scoring adalah metode penilaian kinerja pengemudi yang mengubah aktivitas berkendara dan data operasional menjadi skor yang mudah dibandingkan. Tujuannya bukan sekadar memberi nilai, tetapi membuat performa pengemudi bisa dipantau dengan standar yang konsisten.
Secara konsep, driver scoring bekerja dengan menetapkan indikator penilaian, lalu memberi bobot pada tiap indikator sesuai prioritas perusahaan. Data biasanya diambil dari GPS/telematics, sensor kendaraan, dashcam, atau catatan operasional seperti jadwal pengiriman dan kepatuhan rute.
Indikator yang dinilai umumnya mencakup dua sisi: keselamatan dan efisiensi layanan. Contohnya pola akselerasi dan pengereman, kejadian overspeed, penggunaan seatbelt (jika terdeteksi), waktu idle, ketepatan waktu, serta kepatuhan rute.
Manfaat Driver Scoring terhadap Efektivitas Operasional Armada
Driver scoring membantu perusahaan mengelola manajemen armada secara lebih terukur karena kinerja pengemudi tidak lagi dinilai berdasarkan asumsi atau laporan manual. Dengan indikator yang jelas, manajemen dapat memantau risiko, efisiensi, dan kualitas layanan secara konsisten di seluruh rute dan cabang.
1. Meningkatkan keselamatan dan menurunkan risiko insiden
Skor pengemudi memudahkan perusahaan mengidentifikasi pola berkendara berisiko, seperti speeding yang berulang atau manuver agresif. Temuan ini dapat ditindaklanjuti melalui coaching yang spesifik, pembaruan SOP, atau evaluasi rute, sehingga pencegahan lebih efektif dibanding menunggu insiden terjadi.
2. Menekan biaya operasional yang sulit terlihat
Perilaku berkendara memengaruhi konsumsi bahan bakar, frekuensi servis, serta umur komponen seperti rem dan ban. Driver scoring membantu memetakan pengemudi atau rute yang berpotensi boros, sehingga perbaikan dapat diarahkan pada sumber biaya yang paling signifikan.
3. Memperbaiki ketepatan waktu dan kualitas layanan
Ketika driver scoring memasukkan indikator kepatuhan rute dan ketepatan waktu, perusahaan bisa melihat akar penyebab keterlambatan secara lebih jelas.
Dampaknya, penjadwalan, dispatch, dan perencanaan rute dapat disesuaikan untuk menjaga SLA, terutama pada operasional last-mile atau distribusi multi-drop.
4. Membuat pembinaan pengemudi lebih objektif dan terarah
Skor memberi dasar yang lebih kuat untuk pembinaan karena yang dievaluasi adalah perilaku dan hasil, bukan opini. HR dan tim operasional juga lebih mudah merancang pelatihan, menetapkan target perbaikan, serta memantau progres dari minggu ke minggu.
5. Mendukung kepatuhan dan audit operasional
Data yang tercatat dari telematics, GPS, atau sistem armada membantu perusahaan menyiapkan bukti operasional saat dibutuhkan, misalnya untuk investigasi insiden atau evaluasi kepatuhan internal. Ini memperkuat kontrol dan akuntabilitas tanpa menambah beban administrasi manual.
6. Menjadi dasar insentif yang lebih adil
Driver scoring dapat dipakai sebagai komponen penilaian untuk insentif atau penghargaan, asalkan parameternya transparan dan konsisten. Dengan standar yang jelas, perusahaan dapat mendorong perilaku kerja yang diinginkan sekaligus menjaga motivasi pengemudi yang performanya stabil.
Metrik Utama dalam Penilaian Pengemudi
Agar driver scoring benar-benar efektif, metrik yang dipakai harus selaras dengan tujuan bisnis umumnya keselamatan dan efisiensi operasional. Sistem penilaian biasanya menggabungkan beberapa variabel sekaligus, lalu memberi bobot berbeda sesuai prioritas perusahaan.
Berikut metrik yang paling sering dipakai untuk membentuk profil skor pengemudi:
1. Kepatuhan kecepatan
Penilaian tidak hanya melihat apakah pengemudi melampaui batas kecepatan, tetapi juga durasi dan tingkat pelanggarannya. Pendekatan ini lebih akurat untuk mengukur risiko dan menghindari penalti berlebihan pada pelanggaran singkat.
2. Manuver berisiko per 100 km
Metrik ini mengukur frekuensi perilaku berkendara yang meningkatkan risiko, seperti pengereman mendadak, akselerasi agresif, dan tikungan tajam.
Agar adil, perhitungannya dinormalisasi menjadi jumlah kejadian per 100 km (atau per jam berkendara), sehingga pengemudi dengan rute lebih panjang atau kondisi lalu lintas tertentu tidak otomatis terlihat lebih buruk hanya karena menempuh jarak lebih jauh.
3. Idling di luar ambang batas
Idling dinilai berdasarkan durasi yang melewati batas wajar per stop atau per shift, bukan total idling semata. Cara ini membantu membedakan idling operasional dari idling yang dapat dikurangi.
4. Kepatuhan rute dan ketepatan waktu
Metrik ini menilai kesesuaian rute terhadap rencana perjalanan serta ketepatan waktu kedatangan/pengiriman. Indikator ini berpengaruh langsung pada kualitas layanan, efisiensi operasional, dan kontrol biaya.
Driver Scoring untuk Analisis Operasional Armada
Driver scoring dapat dipakai sebagai alat transportation analysis karena mengubah aktivitas lapangan menjadi data yang bisa dibandingkan dan ditindaklanjuti. Dengan begitu, evaluasi operasional tidak hanya berbasis laporan manual.
- Mengidentifikasi rute dan titik risiko: Skor membantu melihat rute mana yang konsisten memicu manuver berisiko, speeding, atau idling tinggi, sehingga perbaikan bisa difokuskan pada lokasi yang tepat.
- Membaca akar penyebab pemborosan biaya: Data skor dapat mengarah pada sumber biaya seperti konsumsi BBM berlebih, pola idling, serta indikasi keausan kendaraan yang dipicu gaya berkendara.
- Menilai konsistensi layanan dan kepatuhan SOP: Kepatuhan rute, ketepatan waktu, dan pola berhenti dapat dianalisis untuk memastikan pelaksanaan SOP berjalan seragam di semua driver dan cabang.
- Menentukan prioritas coaching berbasis data: Skor memudahkan pengelompokan pengemudi berdasarkan kebutuhan pembinaan, sehingga pelatihan lebih spesifik dan hasilnya lebih terukur.
Penerapan Driver Scoring di Berbagai Sektor Industri
Prinsip driver scoring sama, tetapi metrik dan bobotnya biasanya disesuaikan dengan kebutuhan tiap sektor. Perbedaannya dipengaruhi oleh standar layanan, risiko operasional, dan karakter pekerjaan di lapangan.
1. Logistik cold chain
Pada pengiriman produk sensitif, kondisi muatan sama pentingnya dengan ketepatan waktu. Karena itu, penilaian sering menekankan stabilitas berkendara, seperti minim pengereman mendadak dan tikungan tajam yang dapat memicu guncangan.
Studi kasus singkat:
Operator distribusi farmasi menggabungkan skor berkendara dengan data suhu reefer. Saat muncul deviasi suhu di rute tertentu, evaluasi menunjukkan pola berkendara agresif dan stop yang lebih lama. Setelah bobot stabilitas berkendara dinaikkan dan SOP stop diperjelas, komplain terkait kondisi produk berkurang.
2. Transportasi penumpang
Untuk bus dan taksi, kenyamanan penumpang menjadi indikator layanan yang paling terlihat. Manuver agresif biasanya diberi bobot lebih tinggi karena langsung memengaruhi pengalaman di dalam kabin.
Studi kasus singkat:
Operator shuttle bandara mengaitkan driver score dengan rating pelanggan per perjalanan. Mereka menemukan rating turun di rute tertentu bukan karena terlambat, tetapi karena gaya mengemudi saat mengejar jadwal. Setelah target waktu disesuaikan dan coaching dijalankan, skor kenyamanan dan rating pelanggan lebih stabil.
3. Konstruksi dan alat berat
Di konstruksi, fokus penilaian bergeser ke efisiensi penggunaan alat dan kontrol aset. Idling menjadi metrik penting karena berdampak besar pada konsumsi solar, sementara geofencing membantu memastikan alat beroperasi di zona yang semestinya.
Studi kasus singkat:
Kontraktor proyek menerapkan geofence dan batas idling per shift. Monitoring menunjukkan idling tinggi terjadi saat menunggu instruksi dan pergantian aktivitas. Setelah dispatch diperbaiki dan aturan engine-off diterapkan pada jeda tertentu, konsumsi solar lebih terkendali dan pergerakan alat di luar zona lebih cepat terdeteksi.
Kesimpulan
Di operasional transportasi yang semakin kompetitif dan sensitif terhadap biaya, driver scoring membantu perusahaan mengelola armada secara lebih terukur. Sistem ini mengubah aktivitas berkendara menjadi data, sehingga pola risiko dan peluang efisiensi bisa terlihat lebih jelas.
Dampaknya akan lebih terasa ketika data digunakan secara konsisten untuk pembinaan dan perbaikan proses. Skor yang dipahami dengan baik memudahkan perusahaan memberi apresiasi yang objektif, sekaligus menargetkan coaching pada area yang paling perlu ditingkatkan.
Jika Anda ingin menyusun program driver scoring yang sesuai dengan karakter armada dan target operasional, silakan jadwalkan konsultasi gratis. Pembahasan dapat mencakup metrik, bobot penilaian, serta alur implementasinya.
Frequently Asked Question
Driver scoring adalah metode evaluasi kinerja pengemudi menggunakan data telematika untuk mengukur perilaku berkendara seperti kecepatan, pengereman, dan kepatuhan aturan lalu lintas.
Dengan memantau perilaku agresif seperti akselerasi kasar dan speeding, perusahaan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 15-20% dan memperpanjang umur komponen kendaraan.
Tidak, jika diterapkan dengan kebijakan transparansi yang jelas. Fokus utamanya adalah keselamatan kerja dan keamanan aset, bukan memantau kehidupan pribadi pengemudi.
Umumnya membutuhkan perangkat GPS Tracker atau telematika yang terhubung ke port OBD-II atau CAN-bus kendaraan, serta perangkat lunak manajemen armada untuk analisis data.
Gunakan pendekatan gamifikasi dan sistem insentif (bonus) bagi pengemudi dengan skor terbaik, serta komunikasikan bahwa sistem ini bertujuan untuk melindungi mereka dari tuduhan kecelakaan yang salah.







